Oleh:
A.Kohar Ibrahim
JEJAK langkah dipercepat. Meski tak ada orang menunggunya pulang ke rumah. Seusai mengutarakan kuliah di Fakultasnya. Dia bergegas bukan lantaran khawatir telah terjadi apa-apa, apa pula waswas. Sebaliknyalah.
Wajahnya sumringah sudah sejak membuka pintu depan, lantas masuk ruang tamu berdekorasi sejumlah lukisan karya kekasihnya. Dan akhirnya langsung ke ruang mungil yang terang kena sinar matahari.
Tak dihiraukannya laptop pun PC yang terletak di atas meja kecil dekat jendela kaca. Dia langsung duduk terduduk di atas kursi yang terasa begitu pas menghadapi meja kayu gaya Betawi. Dan tapak tangannya begitu saja spontan menjamah mesin-tik kecil mungil warna merah marong merk Korona. Jamahannya sebegitu rupa seperti sedang membelai sang mesin penuh mesra. Sudah tersisipkan sehelai kertas yang nampak agak kekuningan. Tapi masih kosong. Masih bersih. Masih belum kena garapan tulisan. Kecuali judul : “Sorang Puan Perawan”.
“Gila!” desisnya, nyaris teriak keras. Bukan lantaran kesal, melainkan takjub berbaur haru-gembira. Seketika tercenung terus saja menatap kertas putih yang tersisip di mesin-tik klasik Korona itu. “Sekarang bulan Juni, sudah hampir sewindu judul itu tertulis.”
Iya. Dia terus tercenung seperti lagi asyik menyegar ingatan seberapa waktu lalu. Hampir delapan tahun lamanya. Dia ingat sekali, judul itu bukan ide aslinya, bukan pula sentuhan ujung jari jemarinya sendiri. Tapi oleh seseorang. Seorang lanang yang jika di luar waktu berdinas, kesukaannya menunggang kuda. Mengenakan busana sederhana berupa celana hitam panjang komprang, kaos oblong merah dan kemeja atau jaket hitam pula. Berambut ikal agak gondrong yang sesekali dikenakan peci hitam; seringkali terlingkar ikat kepala kain batik larik larik klasik. Raut-muka-nya tidak bundar juga tidak segi-empat, agak lonjong. Sepasang matanya agak sipit. Hidungnya tak mancung tak bisa pula dikatakan pesek. Bibirnya memang agak tebal: belah atasnya seperti bukit. Hanya ketika sedang berpikir serius bentuknya agak nonjol kedepan. Seperti seketika duduk di atas kursi di belakang meja-tulis menghadapi mesin-tik Korona itulah. Hanya berubah seketika pula mendengar teguran perempuannya: “Kenapa tidak ringkas saja, cukup sepatah kata: Gadis. Atau: Perawan ?”
Dia menoleh seperti terkejutkan oleh pertanyaan seseorang yang mendadak berdiri di sisi sebelah kanannya. Bibirnya seketika menjembul. Bergerak-gerak sepintas, lantas bilang, juga dengan nada penuh keyakinan sepertinya sudah disiapkan. Untuk menangkis.
“Gadis?” ujar tanyanya. Menegaskan setelah mengulang ulang: “Gadis? Tapi yang akan kutulis bukan anak-kemarin. Bukan bocah yang masih bau-kencur.”
“Perawan – itu saja. Gimana?” tanya sang perempuan itu mengulang dengan tenang. Tapi nampak baginya agak menggoncang konsentrasinya.
“Perawan?” ujar tanyanya balik. Dengan nada lebih menegas. “Tokoh yang akan kulukiskan bukan ABG. Bukan pula dalam arti masih gadis belaka. Melainkan seorang perempuan yang sudah menikah tapi….”
Seketika suaranya terhenti. Keduanya saling menatap dengan pandang mata tajam namun penuh kelembutan. Lantaran cepat saling mengerti. Saling memahami. Iya. Lantaran sudah entah keseberapa kalinya soal perawan keperawanan ini jadi bahan pembicaraan mereka. Untuk saling makna memaknakannya. Malah bukan hanya memahami maknanya, melainkan juga menguji rasa merasakannya. Rasa keindahan yang menggetari jiwaraganya. Sampai satu sama lain menitikkan air-mata. Sampai diapun menitik airmata lebih-lebih lagi. Dan sang lelaki pun berbisik mesra. “Aku bangga dan bahagia dikau mampu menjaga marwah sedemikian rupa,” bisiknya.
Bisikan dalam pelukan yang secara lumrah mendapat balasan: “Aku hanya mau memberikan pada seorang lelaki yang aku cintai. Lelaki kekasih yang menikahiku.”
Dan dia, sang lelaki itu, beritikad untuk suatu waktu menuangkannya dalam halaman tulisan berkisah. Menghasilkan salah sebuah buah pena mengabadikan daya dan gaya pikiran serta imajinasinya. Meskipun baru sebuah judulnya saja. Namun sang perempuan itu yakin, bahwa segenap isi yang hendak dituangkan sudah tersediakan. Hanya mendadak tertunda seketika. Ketika datang rekan-rekan dari Media yang mengkonfirmasi keberangkatan grupnya meliput Perang Irak yang baru saja meledak dalam bulan Maret 2003.
Ketika perempuan itu melepasnya berangkat bersama grup Media di bandara udara, sedetik seketika itu sang lelaki sempat berbisik dengan nada romantik. Seperti seorang perjaka saja layaknya: “Kita lanjutkan sepulang menunaikan tugas, yah? Sampai berhasil….”
Meskipun sudah menyiapkan pikiran akan segala kemungkinan terjadi, sebagai resiko kegiatan yang dijalankan, tak pernah sampai pada point yang paling mengejutkan. Paling tidak diharapkan. Dari sekian ratus ribu korban jiwa dalam perang intervensi sekutu Inggris-Amerika di Irak itu adalah sang lelaki yang dikasihsayanginya sendiri. Lelaki yang baru saja menikahinya.
Dengan mudah bisa diperkirakan betapalah berat beban duka-cita yang ditanggungnya. Selama bertahun-tahun. Kadang kala begitu berat rasanya hingga prilakunya seperti orang linglung.
Namun bagaimanapun, tak urung ada kekuatan batin yang bisa melolos-luluskan jiwa-raga dari jebakan duka-nestapa. Lolos dari sergapan keputus-asaan. Kekuatan itu tumbuh dari keyakinan saling meyakinkan dalam cita cinta kasih sayang. Dari saling percaya dan pemahaman akan makna yang baginya mendasar. Yakni terutama sekali perihal menjaga marwah sebagai perempuan yang layak selayaknya. Perihal soal yang bisa menjadi persoalan besar. Karena baginya memang soal besar lagi mendasar.
Keyakinan dan kepercayaan serta pemahaman lelaki yang dikasih-sayanginya itulah, menurut insting keperempuannya yang akan dituangkan dalam tulisan suaminya. Meskipun baru sebatas judul sahaja.
GILA ! Sekarang sudah hampir sewindu lamanya — desis perempuan itu lagi, sembari menatapi mesin-tik Korona. Lebih tepatnya, pandang sepasang mata, mata hati mata pikirannya tertumpu pada sehelai kertas yang tersisipkan. Kertas tanah garapan tulisan yang masih kosong, masih bersih, kecuali tertanam sebaris kata: Sorang Puan Perawan.
Seketika jari jemarinya mulai menari-nari sembari menatapi halaman kertas kosong dan bersih itu, tak terasa butir-butir air bening mengalir dari sepasang mata membasahi pipinya. Namun demikian tak mengalahkan melainkan malah menguatkan itikadnya. Itikad merampungkan tugas mulia: – menjadikan sebuah judul Sorang Puan Perawan berisi kisah sebenar-benarnya.
“Akulah Puan – sang perempuan itu – pengaku sekaligus pelaku dan pengisi kisah ini,” demikian baris kata-kata terakhir menutup kisah yang dengan rasa bangga dan lega dirampungkannya. ***
(29 Januari 2012)
*
Catatan:
Cerpen Judul Sorang Puan Perawan oleh A.Kohar Ibrahim ini disiar pertama Facebook 30 Januari 2012.
Biodata :
A.KOHAR IBRAHIM
Kelahiran Jakarta 1942. Penulis Pelukis tamatan Akademi Senirupa Brussel Belgia (1972-1979).
Aktivitas-kreativitas sebagai jurnalis dan penulis sejak tahun 1950-an. Karya tulis tersiar di media massa seperti Bintang Timur, Bintang Minggu, Warta Bhakti, Harian Rakyat & Minggu, Majalah Zaman Baru (dpp Rivai Apin dan S. Anantaguna).
1989-1999 Editor Majalah Seni dan Sastra KREASI terbitan Stichting Budaya, Amsterdam, Holland.
Sejak zaman Reformasi berkas berkas tulisannya tersiar sebar beberapa media massa. Antara lain: Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Sijori Pos, Batam Pos, Majalah Budaya 12 (Dewan Kesenian Kepri, Tanjungpinang), Gema Mitra Swakarsa (Batam).
Sebagai essayis, berkas berkas essay sosio-budayanya antara lain:
(1).Sekitar Tempuling – Telaah Buku Kumpulan Sajak “Tempuling” karya Ruda K Liamsi. Semula disiar Harian Batam Pos, kemudian diterbitkan dalam bentuk buku oleh Yayasan Sagang, Pekanbaru 2004.
(2).Dari Puncak Sang Pahlawan Nasional Sastra Kepulauan Riau – termaktub dalam buku Identitas Budaya Kepri - kumpulan essay bersama, terbitan Dewan Kesenian Kepri Tanjungpinang 2005.
(3).Kepri Pulau Cinta Kasih – buku kumpulan essay bersama Lisya Anggraini, terbitan Tititk Cahaya Elka, Batam 2006.
(4).Sekitar Polemik Pramoedya-Lekra vs Manikebu, buku kumpulan essay terbitan Titik Cahaya Elka, Batam, 2009.
Berkas berkas essay yang disiar Harian Batam Pos, tapi belum sempat diterbitkan dalam bentuk buku, seperti antara lain: “Catatan Dari Brussels” (40 essay); “Sekitar Tembok Berlin – Lagu Manusia Dalam Perang Dingin Yang Panas” (30-an essay). ACI: “Sekitar Prahara Budak Budaya” (25 essay).
Baik yang sudah maupun belum dibukukan, daftar berkas berkas naskah prosa dan puisinya masih panjang; berkas berkas Nota Puitika nya sudah melebihi 500-an. Disiar via sejumlah media internet, antara lain: Situs Sastra Nusantara Cybersastra.Net; ABE-Kreasi Multiply Site; Facebook; ACI – Art-Culture-Indonesia; Apresiasi Sastra (Apsas); Apresiasi Puisi; World Culture dll.
Lebih lanjut bisa disimak lacak di: http://16j42.multiply.com/journal/item/635/tag/biodata/; http://artscad.com/@/AKoharIbrahim/;
Dan dilacak dengan menggunakan mesin pencarian Google dan atau Yahoo.
*
AKI


Recent Comments