Aku Yang Gaptek hehehehe

pagi diaryku…..

nyenyak ga’ tidurmu semalam…pastinya donk…kan ga’ aku gangguin hehehhehe….

kalau aku sih ga bisa nyenyak…banyak penyebabnya

pertama, gara-gara batuk yang belum sembuh-sembuh

kedua, boboknya kemaleman gara-gara masih jilid proposal

ketiga, ni yang paling parah, gara-gara jengkel n frustasi mikirin catridge epsonku yang bocor karena sembarangan kutusuk “maklum GAPTEK”

ceritanya gini :

tinta hitam printerku habis, padahal aku butuh banget untuk print proposal yang harus selesai hari ini (temen-temen udah pada teriak minta…..”ga sopan kan” hehehehe)….ya udah dengan pedenya aku beli tinta dan bermaksud mengisi tinta sendiri. waktu catridge kubuka aku langsung bingung cari lubang buat nyuntikin tinta (kebiasaan isi tinta printer merk canon), nha.. karena ga’ ketemu ntu lubang, ya.. aku maen tusuk-tusuk aja, walhasil catridgeku langsung bocor dan tinta tumpah ke baju “hiks”. sampe sekarang printerku belum bisa dipakai. akhirnya semalam ngeprint deh di warnet. untung yang empunya warnet baik banget. aku dikasih diskon gede-gedean hahahahahhaha.

hikmah yang bisa aku ambil dari kejadian semalem

“JANGAN PERNAH SOK TAHU KALAU EMANG GA’ TAU”……OK…

diary, udah dulu yaa, aku mau kerja. ni dah dimintain data lagi….

dadadadadadadadada…………………………

muachhhh….!!!!!  :)

Hai Sobatku Tercinta “my diary”

Assalamu’alaikum

hai sobatku tercinta, apa kabarmu hari ini. maaf ya udah lama aku tak mengunjungi dan mengisi lembar halamanmu “sok sibuk hehehehe”

aktifitasku selama ini se biasa-biasa aja (udah gak berkutat ama jagung lagi) tapi ganti  berkutat dengan anak-anak di taman baca yang sedang kukelola. nha di sini yang asyik. tiap hari aku bisa bermain dan bercanda dengan mereka. sangat menyenangkan walaupun kadang ada juga yang bandel dan nyebelin, tapi disintulah letak kenikmatannya.

dunia anak menurutku dunia yang paling indah. dunia dengan emosi yang paling murni tanpa tendensi. dunia yang  penuh dengan warna-warni seindah pelangi. memang ada pertengkaran tapi pertengkaran yang indah, kecurangan yang indah, dan yang paling penting adalah tawa dan tangis mereka begitu tulus. (aih, jadi pengen kecil lagi hehehehe)

ups, udah dulu ya diary….ntar dilanjut lagi……kerja dulu….

daaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………….muachhhhhhh…:)

PUISI-PUISI PALESTINA DAN LIBANON (1)

PUISI-PUISI PALESTINA DAN LIBANON (1)

Abdul Hadi W. M.

Mahmud Darwish

BANGGA DAN MURKA

Kampung halamanku! Bagai rajawali kau
Menukik lewat jeriji sel
Paruh runcingmu mencucuk mataku!
Di ambang ajal, yang kumiliki
Adalah rasa bangga dan murka.
Kuwariskan jantungku
Biar ditanamnya jadi pohon kayu
Dahiku, tempat unggas bertengger
Tak pantas aku jadi kobaran api
Kampung halamanku!
Kami lahir dan besar dalam lukamu
Dan makan buah dari pepohonmu
Seraya memandang lahirnya fajar
Wahai rajawali yang terbelenggu
Wahai maut yang dicari sejak dulu
Paruh runcingmu masih membenam di mataku
Serasa pedang menyala
Tak pantas aku jadi sayap anggunmu
Di ambang ajal, milikku
Hanya rasa bangga dan murka

KEPADA IBUKU

Aku merasakan kerinduan ibuku
dan bau harum kopinya
serta semua yang ia sayangi
Anak kecil membesar dalam diriku
hari demi hari
Dan aku begitu mencintai diriku
sebab jika aku mati
aku akan malu disebabkan air mata ibuku
Jika suatu kali aku kembali
jadikan aku kerudung bulu matamu
Selubungi tulang belulangku dengan tetumbuhan
karena sorga ada di telapak kaki ibu

Kembalikan kepadaku bintang-bintang masa kecilku
supaya aku bisa berhimpun
Dengan burung-burung kecil
dalam perjalanan pulang
ke sarang di mana engkau menanti

BURUNG TAK BERKELEPAK

Anak-anak kami berserakan
Tanpa rumah, tanpa sandal
hilang, semua jalan menuju kesesatan
padam, dalam derita dan kemiskinan
Demi mereka, demi masa depan mereka
aku belajar berjuang!

Hingga musim bunga mereka kembalih
hingga mereka pulang dengan keranjang
berisi segala jenis hasil tanaman
Karena itu matahari teruntuk anak-anak
teruntuk hari esok, teruntuk kebenaran
dan angan-angan

Samir al-Qasem

JIKA KAU

Jika kau
Rabunkan mataku
Jahit bibirku
Cerca nafasku
Belenggu deritaku
Palsukan uangku
Cabut senyum anakku
Dirikan tembok seribu
Pakukan mataku di situ
Jika begitu
Kita akan terus berkelahi
Sehabis-habis
Kelahi

DARAH DI TELAPAK TANGAN

Tuan-tuan!
Biarkan mulut beruk berputar-putar
menurut maunya!
Ayo!
Akan kuhancurkan jembatan dunia
Darahku mengalir pucat
Hatiku terdampar di lumpur janji-janji

Hai tuan-tuan dari segala penjuru!
Biar maluku berubah jadi wabah penyakit
dukaku menjelma ular berbisa

Hai sandal hitam berkilat
dari segenap pelosok dunia!
Pembalasanku lebih besar
dari suaraku dan usia pengecut
dan diriku…kekuatanku
hanya sepasang tangan.

Ali Ahmad Said

BARAT DAN TIMUR

Ada sesuatu yang membentang
sepanjang jalan kuburan sejarah
Sesuatu yang dibuat indah serta dipiara pula
Memikul anaknya di pundak yang diracuni minyak
Dengan seorang pedagang yang mulutnya berbisa
menyanyikan lagu mengerikan

Di situ Timur mirip seorang bocah
Yang mengemis dan menjerit minta tolong
dengan Barat sebagai tuannya yang tak merasa pernah bersalah
Peta kini berubah
Seluruh dunia menjelma kobaran api
Dan dalam abunya
Timur dan Barat berkumpul
Satu liang kubur.

Said Aql

SUMBER

Manusia adalah Isa Almasih, putra dari negeri Timur
Semua ini terjadi di kota suci Yerusalem
Manusia tak bisa berhenti seinci pun dalam perjalanannya
Menuju Yang Gaib, Yang Tak Dikenal, begitulah nasibnya
Manusia mestilah melangkah ke depan, begituan ribuan ombak
Mengalun tanpa mengacuhkan pantai
Jika ada kawasan baru untuk hidup dijumpai
Akan muncul pula persoalan baru baginya
Pikiran lantas menjelma tindakan
Dan inilah yang terjadi di Antiosa
Sesudahnya pikiran sarat dengan ilmu pengetahuan dan politik
Di dalamnya gagasan Yunani dan pelaksanaan hukum ala Romawi
Jika Timur memberi anaknya kepada Barat, itu wajar
Jika Timur menerima kembali ssuatu dari Barat
Itu hanya pernyataan saling memberi antar keluarga
Perjalanan inipun khatam begitu tiba di tahap menentukan
Sumber segera menyebar dan meluas ke seluruh dunia
Sumber itu mengandung segala pancuran dari sumber pertama
Mereka bertemu dan bersatu dalam Islam.

Fauzi Makluf

NYANYIAN BUDAK

Aku adalah budak
Budak hidup dan mati
Sejak buaianhingga liang kubur
Jalan memaksaku luntang lantung

Apa saja yang dilakukan budak
Selalu salah dan melanggar hukum
Undang-undang ditulis untuk si kuat
Yang lemah dibiarkan kebingungan

Yang kuat mencelupkan pena
Ke dalam genangan darah si lemah
Penglihatan kelabu orang-orang malang
Menengadah ke angkasa

Aku budak bagi nasib:
Tubuhnya yang kurus menyemburkan kegembiraan
Dan meramalkan sakit akan mencincang
Mencekik jantungku penuh rasa takut

Aku budak bagi zaman ini
Bagi peradaban kini
Aku buta kepada isinya yang gemerlapan
Tapi bersorak dicincang-cincang

Aku budak bagi kemakmuran dunia
Andilku adalah kerja dengan upah rendah
Apa milikku selain erangan
Di bawah telapak kaki penindasan?

Aku budak bagi namaku:
Telah kutebus itu dengan tubuh dan nyawa
Namun yang beroleh kemasyhuran
Selamanya adalah si tamak

Aku budak bagi cintaku
Kubelai ia dalam hatiku penuh harapan
Hingga kobaran api menyala
Mengirim kutukan neraka

Lihat, dalam cengkraman perbudakan
Kucucurkan darah hingga bersimbah
Khayalan telah menyesatkan aku
Menyesatkan aku

Abdul Hadi W. M.

Mengeja Indonesia

Oleh : Moh. Ghufron Cholid

Indonesia
Aku mengeja
Sebelum kau merdeka
Bunga-bunga tak ragu gugur
Demi menghadiahkan sinar
Karena cinta
Sudah merasuk sukma

Indonesia
Aku mengeja
Setelah kau merdeka
Langit-langit saling mendaki bukit
Lupa pada lembah-lembah yang telah menyangga menahan sakit
Karena surga sendiri
Sudah menjadi motto diri

Kini
Aku mengeja
Antara sebelum dan setelah kau merdeka
Nusantara akan saling berpeluk mesra
Setelah kita mengubur perihluka bersama
Sepanjang masa berganti rasa

Al-Amien, 23 Juli 2010

Puisi di Mata Adinda

– Cerpen Lia Salsabila –

KURANG LEBIH 10 jam aku terantuk-antuk di atas mobil menuju Dusun Jampit, di kaki Gunung Ijen. Dataran tinggi yang berada di batas wilayah antara Bondowoso dengan Banyuwangi itu berjarak ratusan kilometer dari tempat aku dilahirkan.

Kini jalanan yang aku lalui sepenuhnya jalan makadam, setelah mobil yang aku sewa berbelok arah, langsung ke Jampit. Selain menanjak dan menikung tajam, di sisi kiri kanan jalan terdapat tebing terjal dan jurang dalam. Kurang lebih dua jam, akhirnya aku melihat atap-atap rumah berjajar rapi. Meski dari anyaman bambu, namun terlihat nyaman dan asri.

Aku telah berada di Dusun Jampit. Setelah membayar ongkos mobil yang kusewa dari Bondowoso, aku bergegas menuju rumah terdekat. “Permisi. Ada orang di dalam?!” teriakku sambil mengetuk pintu sebuah rumah. Menunggu sekian menit, akhirnya aku mendengar langkah kaki dari samping rumah.

“Mencari siapa, Mas?” tanya sesosok perempuan setengah baya padaku.

“Rumah Pak Rusdi di sebelah mana ya, Bu?” aku balik bertanya.

“Mari saya antar, Mas,” jawab ibu itu sambil berjalan melewatiku, menyusuri jalan dusun yang dari tanah. Tanpa banyak bicara aku pun mengekor di belakangnya. Cukup lama kami berjalan, dan aku agak kewalahan dengan barang bawaanku yang lumayan banyak. Maklumlah aku akan cukup lama di dusun ini untuk mengabdi sebagai seorang dokter.

Sambil berjalan mataku mengawasi kondisi sekeliling. Di kejauhan tampak sebuah gedung kecil yang cukup mencolok karena berada di antara rumah-rumah bambu. Tak berapa lama, akhirnya ibu itu berhenti berjalan. “Ini rumah Pak Rusdi, Mas. Sepertinya dia tidak ada di rumah.” Si ibu menengok ke samping rumah yang tampak sepi.

“Terimakasih, Bu. Tidak apa-apa. Saya akan tunggu Pak Rusdi di sini,” kataku pada ibu yang semula tampak sedikit bingung. Dia kemudian bergegas melangkah meninggalkan aku setelah mengangguk dan tersenyum.

Setelah satu jam menunggu, sekitar jam 18.00 WIB Pak Rusdi datang bersama istrinya. Dia agak terkejut dan bingung menatapku. Namun, kemudian ia langsung tersenyum lebar. “Dokter Angga, kan?” tanyanya sambil menjabat tanganku.

“Iya, Pak. Saya Angga. Panggil Angga saja, Pak,” jawabku sambil tersenyum dan juga mengangguk ke istri Pak Rusdi. “Saya pikir Mas Angga masih besok datangnya. Mari. Mari, Mas. Silahkan masuk dulu ke dalam,” ajak Pak Rusdi ramah. “Mungkin lain kali saja, Pak.” Aku sedikit rikuh untuk bertamu di saat malam menjelang. Khawatir kalau merepotkan Bapak dan Ibu Rusdi.

“Kalau tidak keberatan, saya ingin diantar langsung ke tempat di mana saya tinggal,” lanjutku.

“O, baiklah kalau begitu. Sebentar saya ambil kuncinya dulu di dalam.” Pak Rusdi bergegas masuk ke dalam rumah. Sejenak, dia sudah kembali lagi di hadapanku.

“Mari, Mas. Silahkan. Biar saya saja yang bawa kopernya,” kata Pak Rusdi sambil mengambil alih koper di tanganku. Kami berjalan beriringan dalam diam. Sekitar 10 menit, kami sampai di depan sebuah bangunan. Ternyata itu bangunan yang tadi aku lihat.

“Mas Angga nanti tinggal di puskesmas ini?” kata Pak Rusdi sambil membuka pintu. “Harap dimaklumi, Mas. Puskesmas di dusun tak sebesar yang di kecamatan. Di belakang ada sebuah kamar yang bisa Mas Angga tempati. Hanya puskesmas ini yang terbuat dari batu bata. Makanya saya tidak punya pilihan lain, kecuali menempatkan Mas Angga di kamar ini,” lanjut Pak Rusdi panjang lebar.

“Tidak ada masalah, Pak. Yang penting tempatnya bersih,” jawabku tersenyum.

“Baiklah, Mas. Saya tinggal dulu kalau begitu. Mungkin Mas butuh istirahat setelah perjalanan jauh.”

“Terimakasih banyak, Pak,” jawabku, melangkah mengantar Pak Rusdi ke pintu depan.

Setelah beliau pergi, aku berbenah dan membersihkan diri. Lalu makan malam sekedarnya dari makanan bawaanku. Selesai semuanya, kurebahkan tubuh yang teramat lelah di pembaringan. Sepersekian menit akupun terlelap dengan nyenyaknya tanpa menikmati sepotong mimpi pun.

Esoknya aku bangun pagi-pagi sekali. Istirahat semalaman membuat lelahku hilang dan tenagaku pulih kembali. Setelah mandi dan berpakaian, aku menuju rumah Pak Rusdi. Meski sinar mentari mulai menghangat, sisa embun tampak masih menggantung di rerumput dan dedaunan. Pepohonan menghijau, berjejer hingga ke lembah-lembah yang jauh. Sesampai di halaman rumah pemuka dusun itu, aku disambut senyum istrinya, Bu Rusdi. Khas senyum orang dusun, begitu ramah dan bersahabat, dan juga sangat menentramkan. Tiba-tiba aku jadi rindu ibu. “Ya Tuhan, baru sehari di sini aku sudah begini. Bagaimana aku akan menjalani kehidupan setahun ke depan di sini,” rintihku dalam hati.

Bu Rusdi mempersilahkan aku masuk. Ternyata Pak Rusdi sudah menungguku di meja makan. Kami bertiga pun sarapan bersama. Baru aku tahu kalau Pak Rusdi punya dua anak dan keduanya telah menikah. Mereka tinggal di Kecamatan Sempol, sekitar 30 km dari Dusun Jampit. Selesai sarapan aku dan Pak Rusdi mengobrol di ruang tamu.

“Bisakah Pak Rusdi menceritakan secara singkat tentang Dusun Jampit ini?” tanyaku membuka percakapan.

“Saya ceritakan garis besarnya saja,” Pak Rusdi mengawali.

“Dusun ini terletak di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Jumlah penduduk sekitar 800 orang dengan 335 kepala keluarga. Sebagian menjadi petani. Sebagian lagi sebagai buruh di perkebunan kopi. Di sini hanya ada satu gedung sekolah dasar. SMP ada di Kecamatan Sempol dan SMU di Kota Bondowoso,” cerita Pak Rusdi ringkas.“Oh ya, hampir lupa. Sebuah gedung puskesmas pembantu baru satu tahun ini berdiri, dan sekarang Mas Angga tempati,” Pak Rusdi tersenyum.

“Bagaimana tingkat pendidikan dan kesehatan di dusun ini. Pak?” tanyaku lagi.

“Iya, seperti saya katakan tadi, di dusun ini hanya ada sekolah dasar. Sekolah lanjutan sangat jauh dari sini. Dengan kondisi ekonomi masyarakatnya, dapat ditebak bahwa sangat kecil kemungkinan anak-anak bisa bersekolah tinggi. Rata-rata mereka hanya tamatan SD. Paling mujur bisa SMP atau pondok pesantren. Jadi, iya, seperti itulah, Mas. Kondisi kesehatan juga tidak terlalu bagus. Setahun yang lalu dusun ini pernah kena wabah muntaber. Banyak yang meninggal karena tidak mampu bertahan saat dibawa ke puskesmas di Sempol. Karena alasan itulah maka puskesmas pembantu dibangun di sini. Namun setelah satu tahun berdiri, baru Mas Angga dokter yang mau bertugas di sini. Saya sangat bang……”

“Pak Dhe…! Tolong, Pak Dhe…! Tolong, Pak Dhe Rusdi….! Tolong…!!” Belum sempat Pak Rusdi menyelesaikan kalimatnya terdengar teriakan seorang wanita dari kejauhan. Tak lama berselang wanita itu masuk ke dalam rumah sambil terengah dan berkata tersendat-sendat.

“Tole… To..le, Pak Dhe…To..le.” “Tole kenapa, Din?” tanya Pak Rusdi tak sabar sambil menyodorkan minuman ke wanita yang ternyata masih belia itu. “Tole jatuh ke jurang di depan sekolah dengan sepedanya, Pak. Sekarang sedang di bawa ke puskesmas oleh warga. Tole tidak sadarkan diri,” ucap wanita itu terbata namun cukup lancar. Pak Rusdi kelihatan begitu cemas. Dia menoleh ke arahku seolah mencari sebuah jawaban atau kekuatan. Dan hal itu sempat membuat aku cukup khawatir dengan situasi yang terjadi.

“Mas Angga, mari kita ke puskesmas,” ajak Pak Rusdi. Kami bertiga berjalan beriringan dengan pikiran di benak masing-masing. Jujur, aku amat gugup menghadapi semua ini. Baru sehari di sini, kepiawaianku sebagai dokter mulai diuji. Aku sempat melirik gadis yang berjalan di sebelah Pak Rusdi. Dia tampak sudah lebih tenang.

Sesampai di puskesmas terlihat orang ramai berkumpul dan saling bercakap-cakap. Di ruang perawatan seorang anak tergeletak tak berdaya. Luka di sekujur tubuhnya. Tapi dia masih hidup. Terlihat dari gerakan halus di dadanya. Dia hanya tidak sadarkan diri. Dengan gerak cepat aku menuju kamarku, mengambil peralatan. Semua orang, termasuk gadis itu, menatapku bingung. Wajarlah karena mereka memang belum tahu siapa aku.

Sedikit gugup kuhampiri anak yang tak berdaya itu. Tanganku agak gemetar ketika memeriksanya. Gadis tadi turut mendekat dan berdiri di samping anak itu. Tanpa sengaja kami bersitatap, dan entah kenapa aku mendapatkan ketenangan setelahnya. Aku tak lagi gugup dan tanganku juga berhenti bergetar. Seolah mendapatkan sebuah kekuatan yang belum pernah kurasakan ketika melihat orang lain, apalagi dari seorang perempuan.

Hampir dua jam aku mengurus anak malang itu. Syukurlah dia tidak mengalami luka yang serius. Dan selama itu pula gadis yang belum kutahu namanya itu menunggui dengan sabar, bahkan sesekali kumintai tolong.

Setelah semua selesai dan anak itu sudah sadar, aku, Pak Rusdi dan gadis itu duduk di ruang tunggu. “Dinda, tolong buatkan minum untuk dokter Angga dan Pak Dhe, ya,” kata Pak Rusdi yang diikuti anggukan perlahan si gadis. Menunggu minuman yang dibuatkan, kami mengobrol seputar kecelakaan yang terjadi. Kuketahui Tole adalah keponakan Pak Rusdi. Tak berapa lama si gadis kembali muncul, membawa gelas-gelas berisi teh dan kopi yang mengepul.

“Oh ya, dokter Angga. Kenalkan ini, Adinda, keponakan bapak, kakak dari Tole.” Pak Rusdi memperkenalkan gadis itu. Dia hanya mengangguk tersenyum.

“Kenalkan, namaku Angga,” ujarku sembari mengulurkan tangan.

“Senang berkenalan dengan anda, dokter,” jawab gadis itu tersenyum ramah. Aduhai, sebuah jawaban yang tak kuduga, runtunan kata sopan yang ke luar dari mulut seorang gadis dusun. Dan matanya seperti ikut tersenyum. Entah mengapa, aku begitu menyukai senyum di matanya itu.

“Panggil Angga saja, biar lebih nyaman. Lagian umur kita sepertinya tidak jauh berbeda,” kataku menimpali ucapan Adinda.

Menjelang senja Pak Rusdi pamit pulang. Namun Adinda sepertinya enggan beranjak. Sepertinya dia tidak tega meninggalkan adiknya sendirian. Aku juga sebenarnya ingin berlama-lama dengan Adinda. Namun apa daya, tubuhku lelah dan sudah waktunya aku istirahat. Setelah basa basi sedikit aku pamit kepada Adinda.

Aku merebahkan tubuh yang terasa begitu lelah. Kupejamkan mata berharap segera terlelap. Sekian menit berlalu namun kantuk seolah tak mau menyapa. Pikiranku terus melayang pada wajah teduh Adinda. Dan aku seperti terperangkap dalam matanya. Tiba-tiba untaian kata-kata indah berkelebatan dalam pikiran. Hal yang telah lama tidak pernah muncul setelah sekian tahun aku meninggalkan dunia tulis menulis. “Kenapa karena dia, dan kenapa harus di sini,” batinku. Dan pertanyaan itu terus menggantung sampai kantuk menyentuh mataku.

Tak terasa sudah sebulan aku di Dusun Jampit. Kedekatanku dengan Adinda semakin nyata. Setelah adiknya bisa pulang, dia masih tetap menemaniku di puskesmas dan membantuku sebagai seorang perawat. Dari percakapan yang sering kami lakukan, aku tahu sedikit kisah hidupnya. Dia hanya tinggal berdua dengan adiknya. Ayah dan ibunya telah lama meninggal. Adinda sendiri hanya tamatan SMP. Dia pernah bercerita kalau ingin sekolah setinggi-tingginya, namun keadaan tak berpihak padanya.

Entah mengapa aku merasakan ada yang berbeda pada diri Adinda. Ada sebuah aura yang tidak mampu aku lukiskan, terutama di kedalaman matanya. Setiap menatap matanya seolah aku menemukan serakan kata yang bisa kuuntai menjadi sebuah puisi. Namun tak juga aku mampu membaitkannya.

Di suatu senja aku dan Adinda berjalan berkeliling dusun. Kami berdua bercerita tentang apa saja. Yang aku suka darinya, dia seorang pendengar yang baik. Juga bisa diajak berdiskusi, walaupun tentang hal-hal sederhana. Kadang aku tak percaya kalau dia hanya tamatan SMP karena begitu luas wawasannya. Hal lain yang membuatku kian tertarik adalah kesabaran dan keramahannya, ketika memberikan pengarahan kepada warga tentang pentingnya kesehatan atau pada saat membantuku menangani pasien. Semua hal yang rumit terasa begitu mudah ketika dia ada.

Sekilas kulirik Adinda yang berjalan pelan di sampingku. Dia sebenarnya tidak terlalu cantik, hanya seorang gadis dusun yang sederhana. “Tapi kenapa aku jadi begitu terpikat padanya?!” Lagi-lagi pertanyaan itu bergemuruh dalam benakku.

“Mas Angga rencananya berapa lama tinggal di sini?” tanya Adinda membuyarkan lamunanku.

“Kira-kira setahun ke depan, Dinda,” jawabku agak ragu. Semoga Adinda tidak menangkap nada keraguan itu.

“Oh ya, Dinda. Bolehkah aku menanyakan satu hal padamu?” pintaku.

“Silahkan, Mas Angga,” jawab Adinda dengan nada tak berubah. Tetap ramah dan santun.

“Maaf kalau aku lancang, Dinda. Tidakkah kau ingin pergi dari dusun ini untuk mendapatkan kebahagian?” Adinda sepertinya agak terkejut dengan pertanyanku. Namun seperti biasa dia dengan cepat mampu menguasai diri. Wajahnya kembali tenang meneduhkan.

“Menurut Mas Angga, ukuran kebahagiaan itu seperti apa?” Adinda balik bertanya.

“Aku mengukurnya dengan taraf hidup, Dinda. Ketika kita punya rumah bagus, pendidikan tinggi, dan pekerjaan yang baik, otomatis kita akan bahagia,” ucapku terbata karena tidak menyangka Adinda akan balik bertanya.

“Hmm..begitu ya, Mas Angga. Mungkin kita punya pandangan berbeda dalam hal ini.”

“Maksud kamu, Dinda?” sanggahku cepat.

“Dinda memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dengan taraf hidup, Mas Angga. Apalagi mengenai kebahagiaan sejati.

Menurut Dinda, kebahagiaan sejati akan kita dapatkan ketika kedamaian, ketenteraman dalam jiwa telah kita miliki. Apa gunanya kaya kalau hati kita miskin sehingga kita tidak dapat menikmati kedamaian dan ketenteraman jiwa itu. Biasanya, orang yang sudah terbiasa kaya akan terus berusaha untuk lebih kaya lagi, bagaimanapun caranya. Bekerja tak kenal waktu hingga sering melupakan orang-orang di sekitarnya. Hidupnya selalu untuk kerja, kerja, dan uang. Tak jarang banyak yang melupakan hubungan sosialnya, bahkan hubungan dengan Tuhannya. Dinda tidak melihat sama sekali letak kebahagiaan di situ, Mas Angga. Tapi, mungkin tidak semua orang kaya seperti itu. Buktinya, Mas Angga mau menjadi dokter di dusun terpencil seperti ini.” Adinda bertutur lembut, tetap dengan senyum manisnya.

Wajahku langsung bersemu merah. Bukan karena pujiannya, namun terlebih karena aku merasa tersindir oleh ucapannya.

Dinda melanjutkan kata-katanya. “Kebahagiaan sejati dalam pemahaman Dinda adalah ketika jiwa kita damai. Dan kedamaian itu akan bisa diperoleh ketika kita bisa memberi, memberi, dan memberi, tanpa mengharapkan imbalan sedikitpun. Ketika kita bisa mengabdikan diri sepenuhnya pada masyarakat. Yang paling utama adalah ketika kita melakukan semua gerak tubuh kita dan menerima apapun yang terjadi pada kita dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Kuncinya hanya satu, Mas Angga. Pandai bersyukur atas apapun!”

Aku terpekur mendengar penuturan Adinda. Aku merasa malu dan begitu kerdil di hadapannya. Ternyata aku tak lebih baik dari dia yang gadis dusun dan hanya tamatan SMP. Pemahamannya tentang kehidupan begitu mulia dan agung.

Tanpa terasa kami berdua telah sampai di halaman puskesmas. Dengan tetap tersenyum dan santun dia langsung berpamitan padaku.

Sepeninggal Adinda, kembali aku terpekur. Mencoba mencerna tiap kata yang dia ucapkan tadi. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang selama ini telah aku lakukan untuk orang-orang di sekitarku. Aku pun bahkan sampai pada sebuah titik tanya, “Untuk apa aku hidup di dunia ini? Dan apa yang sebenarnya aku cari?” Arggh…, kenapa aku tiba-tiba mempermasalahkan hal itu, rutukku dalam hati.

Sepanjang malam aku dirundung gelisah. Kata-kata Adinda seperti menyesaki tiap sel darah dalam otakku. Belum lagi bayangan senyum dan tatapan matanya yang membuatku hanyut. Mata yang selalu dipenuhi kata-kata puitis, namun tak jua aku mampu membaitkannya. Terbersit tanya di dada, apakah aku jatuh cinta pada Adinda? Namun aku segera menepisnya. Tidak mungkin aku jatuh cinta pada gadis desa seperti dia. Orang tuaku pun pasti tidak akan mau menerimanya. Mereka sudah mewanti-wanti, sebelum aku berangkat ke dusun ini, untuk tidak tergoda menjalin hubungan. Apalagi sebuah pernikahan. Aku menjadi kalut sendiri dengan perang batin yang tanpa sengaja terjadi. Jujur, aku punya rasa simpati pada Adinda. Mataku semakin tak mau terpejam. Akhirnya aku mengambil pena dan buku agendaku.

Hening di puncak terasing

selaksa kenangan akanmu melayang jejali alam pikiran

kasih sendu kisah semu bertalu tak tentu

menari tak henti mengaduk hati

O Sang Pemilik Takdir

pertemukan raga aku dan dia

walau di ujung hari akhir

Tiga bulan berlalu. Aku mulai merasakan sepi yang menusuk. Mungkin karena di sini tak ada jaringan telepon dan listrik, hingga aku benar-benar putus kontak dengan keluarga dan teman-temanku. Aku bersyukur ada Adinda yang kian hari kian dekat saja denganku. Banyak hal yang aku pelajari dari dia tentang falsafah kehidupan. Dia begitu tenang dan anggun. Hal itulah yang membuatku kian susah untuk tidak memikirkannya. Aku seperti tenggelam dan terperangkap di kedalaman matanya. Mata yang membuatku nyaman, selalu penuh dengan kata-kata puitis yang mampu membangkitkan hobi lamaku.

Seharian ini Adinda tak datang ke puskesmas. Aku sangat bingung dan mendadak cemas, serta khawatir pada keadaannya. Hatiku terus bertanya-tanya. Pasien yang mulai banyak karena memasuki musim hujan, membuat aku kewalahan. Banyak anak-anak sakit. Saking sibuknya, aku tidak sempat mencari tahu ke rumahnya atau ke rumah Pak Rusdi. Tiga hari berlalu, Adinda tak juga kunjung datang. Hari keempat kesabaranku habis sudah.

Selepas magrib bergegas aku ke rumah Pak Rusdi. Hanya Bu Rusdi yang menyambutku. “Bapak ada, Bu?” tanyaku. “Bapak sedang di puskesmas kecamatan, Mas. Menunggu Adinda.” “Ya Tuhan. Ada apa dengan Adinda, Bu? Sakit apa dia?” tanyaku gugup karena khawatir. Dan aku marah pada diri sendiri, kenapa hal penting tentang Adinda saja aku sampai tidak tahu. “Ibu juga tidak tahu Dinda sakit apa. Cuma setahun terakhir ini setiap bulan dia harus ke puskesmas. Biasanya cuma sehari. Tapi ini sudah hampir seminggu,” kata Bu Rusdi, seperti hanya bergumam karena heran. “Saya permisi dulu, Bu,” kataku, bergegas kembali ke puskesmas tempatku tinggal. Kembali aku dirundung gelisah.

“Aku harus ke Sempol sekarang. Tapi bagaimana caranya? Ini sudah malam,” batinku. Aku tak ingin menunggu hingga esok. Bergegas aku ke rumah Pak Udin, tukang ojek dusun ini. Pak Udin agak enggan malam-malam harus ke Sempol, karena resiko perjalanan cukup besar. Setelah negosiasi cukup lama, akhirnya Pak Udin mau mengantarku ke Sempol.

Lagi-lagi aku melalui jalan yang dulu aku lewati ketika menuju Dusun Jampit. Bedanya, ini malam hari. Kengerian kembali membayang dalam anganku. Kutepis semua dengan doa dan keteguhan hati. Dua jam berlalu, aku sampai di depan puskesmas. Segera aku berlari ke bagian administrasi. Namun aku begitu kecewa. Ternyata Adinda sudah dipindah ke Rumah Sakit Umum Bondowoso. Sekitar 60 km dari Sempol. Aku bersyukur Pak Udin belum kembali ke Jampit. Setelah berunding, akhirnya kami sepakat untuk menyusul Adinda ke Bondowoso.

Jalanan begitu sepi dan mencekam. Motor bisa bergerak lebih cepat karena jalan sudah tidak makadam. Namun aku tetap saja ngeri berjalan tengah malam begini. Kami tak banyak berbicara. Pak Udin fokus pada jalanan, sedangkan aku kembali menyesali kebodohanku. Kenapa aku sampai tidak tahu kalau ternyata Adinda itu mengidap suatu penyakit. Padahal aku seorang dokter. Gundah membuncah hatiku. Ketakutan akan sebuah kehilangan menyapa lekat pikiranku. “Ahhh.., Adinda. Betapa pandai kau menyimpan duka. Senyum dan ketenangan wajahmu begitu menyembunyikan sakit yang kau derita.”

Setelah 2 jam akhirnya kami sampai. Bergegas aku ke administrasi. “Suster, pasien bernama Adinda dari Jampit dirawat di kamar nomor berapa?” tanyaku tergesa pada suster jaga.Aku segera ke kamar perawatan Adinda setelah suster itu memberi tahu.

Sepi, seperti tak ada denyut kehidupan di kamar ini. Hanya ada seorang gadis tergeletak tak berdaya dengan mata terpejam. Nafasnya mengombak teratur menandakan dia tidur. Pak Rusdi juga tak tampak. Aku mendekati tubuh Adinda. Hatiku begitu perih melihatnya tak berdaya. Ingin aku merengkuhnya, namun aku tak ingin mengganggu istirahatnya. Akhirnya aku hanya menggenggam tangannya. Semakin aku memandang wajah sendu Adinda, perih di dadaku makin terasa. Tiba-tiba kelopakku membasah. Aku hanya tertegun takjub dengan apa yang terjadi padaku. Baru kali ini aku menangis karena seorang perempuan selain ibuku. “Ada apa denganku? Apakah aku benar-benar sudah jatuh cinta??” lirih aku membatin.

Aku terkejut ketika seseorang masuk. Ternyata dia suster yang bertugas menjaga Adinda. Suster itu tersenyum. Lalu memasang termometer di ketiak Adinda, dan memegang pergelangan Adinda untuk menghitung denyut nadinya. Menunggu batas waktu termometer, suster itu bertanya padaku,

“Mas pacarnya Mbak Adinda ya…?” Aku hanya tersenyum, walau sebenarnya hatiku berdesir dan ingin mengiyakan anggapan suster itu.

“Oh ya, Sus. Bapak yang membawa Adinda, ke mana?” “Beliau tadi pamit, pergi ke rumah saudaranya malam ini. Mbak Adinda dititipkan ke saya. Untung ada Mas di sini. Pasti mau menjaga Mbak Adinda kan…,” kata suster itu tersenyum geli.

“Sebenarnya Dinda sakit apa, Sus?” tanyaku serius. “Boleh lihat status pasiennya?”

“Maksud Mas?!” “Kebetulan aku juga dokter, Sus. Aku ingin tahu sejauh mana kondisi Adinda.”

“Oh. Maaf, dok. Saya Suster Ana. Begini saja. Mari dokter saya antar ke dokter Adrian yang menangani Mbak Adinda. Kebetulan beliau jaga malam,” jawab suster itu agak gugup.

Tanpa menunggu waktu lagi dan mumpung Adinda masih tertidur, aku bergegas mengikuti Suster Ana menuju ruangan dokter Adrian.

“Permisi, dokter. Ada yang ingin bertemu dokter,” ucap suster itu.

“Saya Angga, dok…..”

“Ini dokter Angga, dok. Saudara Mbak Adinda,” suster itu menyela kata-kataku.

“Oh ya. Saya Adrian, dokter yang menangani Adinda. Silahkan duduk dokter Angga.”

Setelah basa basi sebentar, aku langsung menanyakan kondisi Adinda. “Begini, dokter Angga. Anda kan sudah tahu kalau Adinda menderita leukemia.” Aku terkejut mendengar perkataan dokter Adrian. Tapi kucoba bertahan untuk tidak menyela dan memperlihatkan keterkejutanku.

“Iya, dok. Lalu, bagaimana kondisi Adinda sekarang?”

“Kondisi Adinda cukup mengkhawatirkan. Menurut perkiraan kami, mungkin umurnya hanya tinggal beberapa minggu lagi.” Dokter Adrian menghela nafas. Lalu menjelaskan detail medis tentang hasil pemeriksaan kondisi terakhir Adinda. Ada yang berkecamuk di hati dan pikiranku. Tapi aku berusaha keras untuk tidak memperlihatkannya di depan dokter Adrian. Uraian medis yang diutarakannya padaku sudah cukup jelas.

“Terimakasih, dokter, untuk penjelasannya. Saya mohon pamit karena Adinda sendirian.” Seperti ada yang luruh dalam hatiku. Perih yang tadi kurasa kian menjadi. Aku kecewa kenapa Adinda tidak bercerita tentang penyakitnya. Dan aku menyesal karena tidak mampu mengetahui kalau Adinda mengidap suatu penyakit. Padahal beberapa kali aku pernah melihat wajahnya yang begitu pucat. Dan lagi-lagi dia hanya menyimpan sakitnya dalam senyum dan meyakinkanku bahwa dia baik-baik saja. Tadinya aku berniat akan menelpon ibu di Denpasar, sekadar untuk mengabarkan kondisiku. Namun semua itu urung kulakukan, karena khawatir rasa perih akibat kondisi Adinda akan terasa oleh ibu. Aku tak mau ibu khawatir karenanya.

Ketika sampai di ruangan perawatan Adinda, ia sudah bangun. Melihatku, ia langsung tersenyum. Aahh, senyum itu tak berubah. Tetap manis dan menenangkan. Namun ada yang berbeda di wajahnya. Mata Adinda tak lagi bersinar, tak kutemukan serakan kata puitis lagi di dalamnya. Lagi-lagi hatiku teriris perih.

“Mas Angga kok tahu Dinda di sini? Oh ya, Pak Dhe di mana?” Aku hanya terdiam mendengar pertanyaan Adinda. Kubiarkan pertanyaannya menggantung tanpa jawaban. Aku sendiri masih berusaha berdamai dengan hati yang seolah ingin meledak karena perdebatan seluruh rasa. Ingin aku berlari saja merengkuhnya, namun langkahku seperti tertahan oleh beban yang begitu berat.

“Mas Angga kenapa diam?” tanya Adinda lagi ketika aku sudah di dekatnya. Dia masih terus tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Sungguh sebuah ketegaran yang semakin membuat aku simpati padanya. Aku menatap matanya yang sendu. Menggenggam jemarinya. Adinda membalas genggamanku.

“Dinda, boleh aku bertanya?” Adinda tersenyum dan mengangguk sambil terus menatap mataku. “Kenapa Dinda selama ini menyembunyikan penyakit yang ada pada Dinda? Apakah tak pantas jika aku mengetahuinya?” Dinda kembali tersenyum dan semakin kuat menggenggam jemariku.

Mas Angga, aku lebih suka berbagi senyuman daripada berbagi kesedihan.” Aku tersentak mendengar jawaban Adinda. Sungguh sikap hidup seseorang yang memahami penderitaannya.

“Bagiku penyakit ini bukan sebuah petaka. Aku menerimanya sebagai sebuah kenyataan yang harus aku jalani dengan ikhlas. Aku percaya Tuhan Maha Berkehendak. Dan Dia sudah mengatur segala yang terbaik buat umatnya, termasuk aku. Dan aku yakin, akan ada jalan yang mengantarkanku pada sebuah kebahagiaan yang dulu pernah Mas Angga tanyakan.” Sesaat aku terpekur mendengar penuturan Adinda.

“Aku paham dengan prinsipmu, Dinda. Tapi kalau Dinda berbagi dari awal, aku akan bisa lebih menjagamu.” Dinda hanya tersenyum.

“Selama ini Mas Angga sudah cukup menjaga Dinda, memberi perhatian pada Dinda. Dan sekarang pun, Mas ada di sini.” Ada kebahagiaan yang terasa lirih tiba-tiba merayapi relung jiwaku. Belum sekalipun aku mendengar Adinda sebelum ini menyebut ‘Mas’ tanpa diembeli namaku. Tapi baru saja ia melakukannya dalam alun suara yang berdesis. Owhh…, mungkinkah Adinda punya rasa yang sama denganku? Tapi segera pula aku menekan perasaanku ketika sebuah kesadaran pun menyelinap. Bahwa ini bukan saat yang tepat untuk sebuah romantisme.

“Tapi Dinda, kata dokter Adrian……” Pertanyaanku menggantung karena tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya tentang perkiraan medis usia Adinda. Namun, seperti mengetahui pikiranku, Adinda malah tersenyum dan kembali berkata.

“Dinda tahu kalau kondisi Dinda sudah parah. Dinda juga merasa bahwa usia Dinda tidak lama lagi. Mas tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Kelahiran, kematian, sudah diatur oleh Tuhan. Kita tidak bisa menghindarinya.”

“Aku paham, Dinda. Tapi sebagai seorang dokter aku juga ingin menjaga dan merawatmu kalau saja Dinda memberitahu dari dulu.”

“Maafkan Dinda, Mas, untuk hal itu.” “Iya Dinda. Aku paham dengan sikapmu.” Aku tulus menerima permintaan maaf Adinda.

“Malam sudah semakin larut, sudah waktunya Dinda istirahat lagi. Tidurlah, Adinda….,” lanjutku. Lagi-lagi Adinda tersenyum tanpa melepas genggaman jemarinya.

“Iya, Mas. Dinda tidur dulu.” Kami bersitatap, dan aku seperti tenggelam di kedalaman matanya. Kembali aku merasakan serakan kata puitis yang tadi sempat hilang. Kini kucoba menguntainya. Dan kini aku merasa mampu membaca puisi yang selama ini tersimpan di matanya. Sebuah puisi ketegaran.

terkadang aku berharap

waktu bisa kubeli

lalu kuputar sesuka hati

ke masa yang kuingini

kini aku tlah jauh berjalan

melalui masamasa panjang

sesekali terjebak di persimpangan

membuatku tibatiba rindu jalan pulang

namun aku tahu di depan jalan masih membentang

aku harus setegar karang

pantang menyerah pada gelombang

hingga akhir waktu nanti datang

Pagi sekali, aku dikejutkan oleh kedatangan Pak Rusdi. Dia membangunkanku. Aku sedikit risih karena semalaman aku terus menggenggam tangan Adinda. Setelah melepaskan tanganku dari jemari Adinda, aku langsung menjelaskan bagaimana aku bisa ada di sini. Setelah basa basi sedikit, aku pamit sebentar untuk membersihkan diri dan mencari sarapan. Aku bergegas membersihkan badan, lalu ke kantin. Aku tak ingin berlama-lama meninggalkan Adinda.

Segera aku pesan makanan dan melahapnya. Masih separuh nasi kumakan, tiba-tiba aku tersedak dan terasa nyeri di hati. Bersamaan dengan itu Suster Ana menghampiriku. Dia memberi tahu bahwa Adinda sedang anfal. Tanpa bertanya lagi dan tanpa mempedulikan Suster Ana, aku segera membayar dan bergegas meninggalkan kantin.

Setengah berlari aku menuju ruang perawatan Adinda. Dalam hati aku berdoa, semoga Adinda baik-baik saja. Dan berharap, ketika aku datang akan disambut senyumnya. Ketika sampai, kulihat dokter Adrian sibuk menangani Adinda. Tak satu pun orang memberikan penjelasan kenapa tiba-tiba Adinda anfal. Pak Rusdi hanya terdiam menatap lantai. Wajah Adinda nampak begitu pucat. Matanya yang biasa tersenyum, kini terpejam utuh. Tiba-tiba rasa takut kehilangan kembali menyergap hatiku. Di layar monitor terlihat detak jantung Adinda sangat lemah.

Aku memandang dokter Adrian. Dia tampaknya mengerti apa yang ingin kutanyakan. Lalu menjawab, “Kita sedang berusaha, dok.” Aku mengangguk. Tapi aku sangat paham bagaimana lemahnya kondisi Adinda. Aku hanya bisa berdoa dan memasrahkan semuanya pada Tuhan. Jauh di lubuk hati aku dapat merasakan, puisi ketegaran di mata Adinda seolah sengaja diperuntukkan bagiku.

Aku menyesal, kenapa tak kuungkapkan perasaanku yang sebenarnya pada Adinda semalam. Ego dan harga diri yang selama ini mencegahnya, membuatku terluka. Sebuah ego dan harga diri yang belum tentu benar. Aku merasa malu karena masih mempermasalahkan status sosial Adinda. Dan itu mampu mengalahkan rasa cintaku, sehingga aku tidak berani mengakuinya. Kini aku sadar, bahwa Adinda adalah mutiara yang tidak boleh disia-siakan.

Aku berjanji dalam hati akan terus menemani dan menjaganya nanti, walaupun hanya untuk sesaat. Dan aku akan mengungkapkan semua yang kurasakan pada Adinda. Tapi di layar monitor kulihat denyut jantung Adinda semakin meniada.***

Juni ’10

Sekar Hanya Ingin Jadi Priyayi

Oleh : Sayuri Yosiana

Sekar bersimpuh memijat kaki simbah yang napak kelelahan setelah seharian bekerja menjadi kuli panggul hasil bumi di ujung pasar dekat alun alun kota. Namun senyum tulus yang membias di sudut bibir simbah sempat membuatnya lega. Ah, simbah ndak sakit toh? Cuma lelah, Ya kan mbah?” Batin Sekar dalam hatinya. Bocahlugu itu kian giat memijat tiap lekuk jemari simbahnya dengan sekuat tenaga. Keringat mulai mengalir membasahi keningnya. Simbah melihat itu. Diangkatnya tangan cucu tercinta semata wayangnya itu. Diusap usapnya penuh sayang.

“Sudah nduk, simbah sudah segeran. Sekarang kamu ayo makan dulu. Kamu juga capek kan?” ujar simbah penuh sayang. Sekar mengangguk tersipu. Disiapkannya dua piring nasi beras kualitas rendah yang agak keras itu. Beserta sambal terasi dan beberapa potong tempe beserta lalap daun singkong kesukaan simbahnya. Mereka makan penuh khidmat. Sebagai kuli panggul pasar, simbahnya yang meski sudah uzur namun masih nampak gesit itu, penghasilannya tidak menentu. Sekali manggul kadang hanya diupah tak seberapa. Hanya cukup untuk makan sehari. Tak heran kehidupan mereka berdua selalu prihatin. Sekar hanya bisa sekolah di SD gratis binaan kakak kakak mahasiswa dari kampus negeri d kotanya. Sekolah calon guru, ujar Diah anak tetangga sebayanya yang tinggal di sebelah rumah gubuknya.

Setiap hari dia harus bersekolah. Belajar membaca dan menulis. Serta ilmu lainnya. Sekar tak pernah mengenal sekolah sebelumnya. Usianya kini 6 tahun. Tak pernah masuk Taman Kanak Kanak. Dia hanyalah anak yang terlahir tak diinginkan. Tidak mengenal siapa orangtuanya. Ditemukan sebagai bayi mungil di sudut pasar pada suatu malam oleh pedagang yang nginap dipasar. Tak ada yang mau mengambilnya. Tak ada pula yang mau melapornya tentang kejadian itu pada aparat setempat. Simbah yang hidup sebatang karapun mengambilnya sebagai cucunya. Dan orang orang pasar tampak lega seakan terlepas beban mereka akan juga dikenai tanggungjawab atas kehidupan bayi malang itu selanjutnya. Maklum kehidupan ekonomi merekapun sudah kembang kempis.

Tak ada yang bertanya, bagaimana mungkin simbah yang miskin dan hanya kuli panggul itu mampu merawatnya? Karena selain hanya sebagai kuli panggul, simbah juga hanya bekerja sebagi buruh cuci. Maka adakalanya Sekar membantu simbahnya melipat baju2 yang telah di gosok simbah agar tampak rapi. Simbah tak mengizinkan Sekar ikut jadi pengamen jalanan seperti anak lainnya yang berkeliaran di jalan atau pasar demi rupiah. Simbah tak rela melihat cucu pungutnya itu kepanasan. Meski tak mampu membelikan apa apa, namun simbah berusaha memenuhi kebutuhan pangan sang cucu kecilnya tsb. Baginya itu saja dulu yang utama. Agar sang cucu dapat tumbuh sehat dan kuat. Maka simbah yang sudah uzur itupun makin giat mengangkat hasil bumi pedagang di pasar pasar demi rupiah yang tiada artinya bagi orang lain, namun sangat berarti bagi dirinya dan sang cucu tercinta.

Suatu malam saat mereka sedang santai di dipan kayu rumah reyot yang lebih tepat disebut gubuk itu. Simbah memandang cucunya dengan penuh arti.
“ Nduk. Kamu harus rajin sekolah ya. Agar bisa mentas nanti. Jangan dadi wong cilik terus seperti simbah iki. Syukur syukur kamu kelak bisa jadi priyayi . Hidupmu senang, simbahpun ikut senang nanti. Ya nduk? “

“ Inggih mbah, Sekar akan rajin sekolah. Tapi kata mba Icha, sekolahnya mau dipindah sama orang lain. Sopo iku, Sekar ndak tahu mbaaah. Mungkin orang gede. Gitu mbah kata ibunya Diah juga kemareen “.

Simbah terdiam sesaat. Merenungi kembali peristiwa setahun lalu. Saat dia mau daftarkan sang cucu ke sekolah gratisan di dekat rel kereta itu. Namun rupanya justru bertepatan dengan acara pembubaran sekolah gratis itu, lagi2 atas klaim sang pemilik area yang mengaku tak lagi bisa meneruskan proyek sosialnya karena hal hal yang tak jelas menurut daya nalarnya sebagai orang tak berpendidikan. Maka simbahpun pulang sambil menggandeng tangan sang cucu yang hanya bisa melongo tak mengerti.

Maka berita dari Sekar malam ini cukup membuatnya menahan nafas beberapa detik. Tak ada kata lain yang bisa diperbuatnya kecuali berdoa diam diam dalam hati, agar Gusti Allah dapat mencarikan jalan terbaik untuk kelanjutan pendidikan sang cucu tercinta.
Maka malam itu meski lelah seharian bekerja, simbah dengan khusyuk berdoa memohon agar Tuhan mau menolongnya. Demi sang cucu. Karena dia tak bisa berharap dari manusia, kecuali pada-NYA.

Namun di pagi itu, Sekar yang siap membantu keperluan simbahnya terkejut mendapati sosok kaku simbahnya yang bersimpuh di atas sajadah panjang yang kumal. Dibangunkannya simbah pelan pelan. Tubuhnya kaku, diam dan dingin. Namun parasnya tampak lembut dan damai.
Bocah itu bingung dan tiba tiba merasa takut. Ditinggalkannya simbah dan dia berlari ke tetangga depan rumah. Menggedor pintu rumah mereka dan menceritakan bahwa simbahnya kok seperti sudah mati. Kaget dan gempar seisi rumah tetangganya itu. Sebagian mengikuti Sekar kerumahnya untuk melihat simbah. Sebagian bergegas memberitahu tetangga lainnya. Maka tak berapa lama pun terdengar lengkingan pilu suara bocah kecil yang sangat berduka kehilangan orang yang dikasihinya. Para tetangga bertanya padanya apa simbahnya sakit sebelumnya. Namun bocah itu tak memahami apa yang terjadi. Tak sampai pada alam fikir kanak-kanaknya bahwa jantung simbah tak lagi kuat menahan kesedihan pada berita yang sempat didengarnya dari mulut cucunya semalam , saat dia baru saja menyampaikan harapannya. Bahwa sekolah gratis itupun bakal terancam dibubarkan lagi. Seperti tahun lalu.

Seminggu setelah kematian yang mengagetkan itu, Sekar hidup dari pemberian sedekah para tetangganya. Bergantian mereka memberinya uang ala kadarnya dan makanan apa saja yang kebetulan mereka punya. Namun tak ada yang mengajaknya untuk tinggal bersama dirumah mereka masing masing. Mungkin karena rumah merekapun tak lagi mampu menampung tanggungjawab satu nyawa yang akan resmi tinggal dirumahnya kelak. Sekolah gratis itupun memang bubar sudah. Tak ada respon dari pejabat setempat atas kelangsungan pendidikan anak anak golongan syudra itu selanjutnya. Semua sibuk mencari pembenaran dan tentunya saling mengkambinghitamkan satu sama lain.

Karena hal seperti itu sudah biasa terjadi di kota itu, maka peristiwa yang dialami Sekar dan juga sekolah gratisnya itu sering luput dari pemberitaan media masa setempat. Apalagi media saat ini lebih fokus memburu berita tentang para teroris yang entah siapa itu. Berita berita tentang mereka menjadi headline di semua media. Ditayangkan terus berulang ulang dan dikupas dari berbagai sisi di acara-acara di tivi. Seakan hanya itu hal paling penting yang jadi prioritas media untuk selalu diberitakan terus menerus ke publik.
Dan setiap orangpun seakan melupakan tugasnya masing masing. Sibuk sana sini membicarakan soal pengepungan di rumah teroris yang lagi lagi entah siapa mereka.

Sekar tak hirau pada segala hiruk pikuk tentang sepak terjang para teroris itu. Baginya mereka tak penting dan bukan keluarganya pula. Sore itu fikirannya sedang sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seorang mahasiswi yang sedang memegang tanganya sambil memandangnya dengan senyum. Mba Ambar seorang mahasiswi diantara beberapa kakak-kakak mahasiswa yang beberapa waktu lalu sempat mengajarnya , kini tengah duduk dihadapannya. Menatapnya penuh empati.
Mereka bertemu saat Sekar yang tak sengaja bertemu dengannya di dekat pasar kopi. Sekar menyapanya malu malu..Tak terkira betapa pertemuan itu menjadi sangat mengharukan. Terlebih bagi Ambar setelah mendengar apa yang dialami mantan anak didiknya tsb. Ada perasaan menyesal yang tak bisa diungkapkan, namun dia tahu dirinya dan kawan-kawannyanya ikut berperan atas apa yang terjadi pada salah satu mantan muruidnya ini. Kepanikan dan kurang profesionalnya mereka dalam mengetahui kehidupan keluarga muridnya satu persatu adalah salah satu penyebab , mereka telat mendapat berita duka cita itu. Tapi setidaknya sekarang mereka belum terlambat untuk turut memikirkan nasib bocah yatim piatu ini, pikir gadis semester akhir itu. Kesempatan masih ada untuk membuat kehidupan bocah cilik itu menjadi lebih baik. Akan segera dirundingkannya dengan kawan kawan dalam komunitasnya nanti.

Maka lewat perjuangan para mahasiswa yang sebenarnya hanyalah anak anak rantau yang hidup ngekost itu, dapatlah diusahakan agar Sekar bisa diajak tinggal disalah satu tempat penampungan anak anak terlantar. Bocah cilik itu menurut saja. Baginya hidupnya mungkin lebih terjamin disana ketimbang seorang diri mengemis pada tetangganya yang juga hidup prihatin. Di rumah baru tersebut dia masih dapat makan minum, bermain dengan teman teman baru, dan yang baginya teramat penting adalah, dia masih dapat belajar lagi dengan gratis. Karena dibenaknya Sekar tak ingin jadi apapun selain ingin mentas sesuai pesan simbahnya sebelum meninggal mendadak itu. Sekar tak ingin jadi dokter, insinyur, pelukis ataupun sastrawan seperti yang dicitakan teman teman sebayanya. Dia tak mengerti semua istilah itu. Baginya hanya satu keinginan yang kelak akan dikejarnya. Menurut pemahamannya yang selugu simbahnya itu, ada istilah yang lebih akrab di telinganya sebagai wong cilik, yang pastinya akan menjadikan kehidupannya sejahtera turun temurun.Yaitu…menjadi Priyayi !!!

mentas : jadi seseorang yang tlah jadi/berhasil
dadi : jadi
iki : ini
inggih : iya

Jakarta, Oktober 2009

Kesaksian

Oleh : Moh. Ghufron Cholid

KESAKSIAN

Aku belum mampu menjangkau
Mutiaramu yang kemilau
Sebab aku masih lumpur
Di tanahmu membaur

Al-Amien, 25 Juni 2010

Biodata Penulis
Moh. Ghufron Cholid, lahir di Bangkalan 07 Januari 1986. Putra KH. Cholid Mawardi dan Nyai Hj. Munawwaroh. Semenjak kecil akrab dengan kehidupan pesantren. Semenjak nyantri mulai akrab dengan dunia tulis menulis. Ia adalah seorang guru MTs TMI Al-Amien Prenduan Sumenep Madura 69465 di sela-sela senggangnya ikut membina di Sanggar Sastra Al-Amien Prenduan, di samping itu sebagai pendiri SastraSunser317 di Facebook. Karya-karyanya dipublikasikan diberbagai media baik cetak seperti Buletin Sidogiri, Majalah QA, Majalah QALAM, Majalah Kuntum (Joqja), Majalah Bongkar dll maupun diberbagai media online seperti mediasastra.com, puitika.net, antologi.net, PENA (Persatuan Penulis Nasional, dengan situs penulisnasional.ning.com) , http://www.poemhunter…., esastera.com sejenis majalah online tingkat asia dll. Terkumpul dalam Antologi Mengasah Alief (2007) bersama 10 Penyair Al-Amien, Antologi Puisi Yaasin (2007), bersama seluruh pesantren se jawatimur, Toples (2009) bersama Mahasiswa jogjakarta, Antologi Puisi Akar Jejak (2010) antologi bersama para penyair Al-Amien yang dilaounching bukunya bertempat di pondok pesantren al-amien bertepatan dengan acara SBSB yang dihadiri oleh Bapak Taufik Ismail, Jamal D Rahman, Iman Sholeh, D Zawawi Imron, Joni Ardinata selebihnya adalah antologi puisi yang diterbitkan secara pribadi. Kini penulis tinggal di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura 69465 untuk mengabdikan diri sebagai tenaga edukatif. Alamat email putra_blega@yahoo.com/lor a_sun31@yahoo.com CP 087852121488

Kencan

Oleh : Moh. Ghufron Cholid

Mengecup kening rahmat
Di pintu jum’at
Alangkah nikmat

Al-Amien, 25 Juni 2010

Penulis yang Sakit Punggungnya

Oleh : Sayuri Yosiana

Penulis sepuh itu memijat kembai punggungnya dengan tangan yang dilingkarkannya ke belakang. Agak sulit memang. Namun demi mengurangi rasa sakitnya yang mulai mengganggu konsentrasi kerjanya, dipaksakannya tangan lemah itu memijat belakang punggungnya. Punggung yang sudah membungkuk dimakan usia dan derita hidup. Kacamatanya nyaris melorot. Wajahnya sedikit meringis, menahan nyeri. Baginya tak ada yang lebih mengganggu selain serangan periodik nyeri punggngnya itu.

“ Akh, mungkin memang sudah saatnya aku istirahat dari aktifitas yang menguras segala sisi kehidupanku ini “, batinnya pasrah. Setelah agak reda diambilnya secangkir teh hangat buatan wanita yang sudah lima tahun ini membantu mengurus rumah tangganya. Ya, mereka hanya tinggal berdua di tempat sunyi itu. Agak dipinggiran kota, dan sedikit masuk hutan kecil yang asri.

Wanita yang biasa di sapa Sofia itu awalnya adalah penduduk desa tetangga. Usianya tak lebih sepuh dari tuannya yang berprofesi sebagi penulis ternama dunia.
Wanita itu mengabdikan diri dirumah sang penulis, setelah bencana di kampung halamannya lima tahun lalu merengut habis keluarganya. Rumahnya dan masa depannya. Begitu pula dengan sisa keluarga lainnya yang juga lenyap di telan bencana. Wanita sepuh akhirnya hanya seorang diri. Tetapi kemudian seorang penulis yang tinggal tak jauh dari desanya kini telah mengangkatnya menjadi pekerja tetap yang bertugas mengurus segala keperluannya sehari-hari

Tak banyak yang diketahui wanita tua itu akan masa lalu sang tuan yang kesehariannya tak lain hanya berkutat dengan mesin tik tuanya dan setumpuk buku buku yang mengelilinginya. Ditambah lagi lembaran lembaran naskah yang seakan berlomba memasuki keranjang sampah mungilnya di sudut meja antik itu.

Sang tuan yang sering di sapanya dengan tuan penulis, betah berjam jam memainkan jemarinya yang entah terbuat dari apa itu, hingga selama lima tahun ini tak hentinya jemari itu menari nari diatas mesin tik yang agaknya sudah layak dimusiumkan.

Setiap pagi dan sore wanita itu menyediakan secangkir teh hangat kesukaan tuannya. Teh hangat beraroma lavender. Bagus untuk meredakan kepenatan yang mungkin menyapa konsentrasi kerja tuannya hari itu. Sang tuan juga harus rutin minum obat anti kejang. Dia pengidap epilepsi. Bila terlalu lelah tak jarang penyakitnya kambuh dan itu sangat menguras kesabaran wanita lembut tersebut.

Penduduk desa sudah lama mengetahui penyakit sang penulis yang sering mereka juluki dengan si penyair. Sebagian dari mereka pernah menyaksikan saat sang penulis itu kambuh penyakitnya Beberapa diantaranya mengiranya kesurupan. Atau bahkan sakaw karena over dosis. Namun mereka tak pernah benar benar berani mengusiknya lebih jauh. Kehidupan sang penyair tua itu begitu misterius. Nyaris tak pernah terlihat berkumpul dengan penduduk sekitar. Mereka hanya melihatnya sesekali saat sang penyair menyiram bunga gardenia kesayangannya. Bunga gardenia yang subur itu adalah kebanggannya.

Baik wanita pekerja rumah tangganya maupun penduduk sekitar tak pernah tahu bagaimana penyair tua itu bisa hadir di desa mereka. Namun dari kasak kusuk yang berseliweran diantara penduduk kota kecil sampai desa itu, mereka akhirnya tahu sedikit tentang sosok misterius tsb. Beberapa wartawan dalam dan luar negeri sering bertandang mengunjunginya. Dan dari merekalah para penduduk mendapat banyak keterangan yang meliputi aktifitasnya. Ternyata dia seorang yang ramah dan sopan. Namun tak suka bersosialisasi pada masyarakat banyak atau memang tak ada waktunya untuk lakukan hal itu. Lambat laun para penduduk mulai terbiasa dengan kehidupan penuh rahasia sang penyair yang agaknya punya pandangan tersendiri akan gaya hidupnya. Hidupnya yang selalu di liputi kesunyian. Namun tak pernah menolak siapapun yang bertandang kerumahnya. Asal bukan dia yang disuruh meninggalkan rumah mungilnya yang lengang tersebut.

Kembali di teguknya sisa teh hangat yang tersisa, Lalu dia mulai merasakan jarinya gemetar. Akhirnya dengan langkah tertatih dia meninggalkan kursi dan mesin tiknya. Novelnya hampir selesai. Kali ini kisah diambil sebagian besar dari perjalanan hidupnya sendiri. Kisah yang diputuskannya sebagai tulisan terakhir sepanjang karirnya dari dunia menulis. Dunia yang telah menghidupinya sejak remaja. Dunia yang dicintainya meski sepanjang perjalanan menuju puncak kejayaannya sebagai penulis dunia, harus dilaluinya dengan pengorbanan kehidupan pribadinya. Rumah tangganya yang dibangun sebanyak tiga kali, semua kandas ditengah jalan. Anak anaknya yang berjumlah lima orang dari masing masing istrinya, tak ada satupun yang mengikuti jejaknya. Mereka tak suka dengan kehidupan dan profesi sang ayah. Sang ayah yang awalnya sempat membuat bangga saat menerima hadiah Nobel sebagai puncak prestasinya. Namun semua itu ternyata tak bisa membuat keluarga yang dibangunnya sesempurna hasil karyanya dibidang sastra.

Keluarganya kehilangan dia. Kehilangan sosok yang hangat dan normal. Hingga fondasi keluarganya mulai runtuh satu persatu. Sampai akhirnya mereka semua benar benar meninggalkannya. Membuat sang ayah semakin bebas bergelut dalam dunia yang tak bisa mereka fahami. Dan kini sang penulis memilih menyepi di kota kecil pinggiran kota Allamo, sebuah kota kecil di selatan negeri yang selalu tak jelas cuacanya itu. Saat badai salju, sang penulis makin mendekam di kamarnya yang sunyi. Hanya berteman dengan suara mesin tik tuanya.
Desa itu damai , tenang tak tersentuh perang dunia yang tengah melanda seantero negeri.
Sesekali terdengar sirine meraung di tengah kota sampai ke desa kecil itu. Namun sampai kini tak pernah desa dan tempat tinggalnya terkena serangan dadakan. Sesekali terlihat dari kaca buram di jendela kamarnya iring-iringan pengungsi dari arah utara menuju desa mereka. Agaknya desa mereka merupakan zona aman hingga sang penulis merasa semuanya akan baik baik saja.

Dan memang bukan perang yang membuatnya resah. Melainkan nyeri punggungnya yang makin menghebat. Wanita sepuh pekerjanya itu sesekali membantunya memijat selama sejam. Tak hendak pula penulis itu berobat kerumah sakit terdekat. Ataupun memanggil dokter desa. Entah apa yang ada dalam fikirannya hingga bisa bertahan terus menerus menahan sakit.

“ Kukira lebih baik tuan kedokter saja. Akan sangat mengganggu bukan kalau dibiarkan terus? “ , Saran wanita sepuh itu pada majikan kesayangannya suatu hari saat kembali memijat punggung sang tuan yang kembali kambuh.. Sang majikan diam saja, menarik nafas.

Suatu hari sang tuan memanggilnya. Diajaknya wanita tua itu duduk disampingnya.
“ Aku ingin menyampaikan sebuah pesan penting untukmu. Hanya kau yang bisa kupercaya. Benarkan kau bisa kupercaya? “, tanyanya untuk lebih meyakinkan. Wanita tua itu cepat cepat menganggukan kepalanya. Perasannya terasa aneh. Dia merasa tak nyaman pada rona wajah tuannya yang tampak memucat. “ Sakit parahkah dia? “ benaknya bertanya.

Sang tuan masih menatapnya. “ Sophie, aku mau menitipkan sebuah surat wasiat. Tolong kau tandatangani juga sebagai saksi satu-satunya. Ini hanya surat wasiat biasa. Tak perlu sampai mendatangkan orang orang penting dari biro hukum yang sering membuatku emosi itu. Fahamkah dirimu? “

Wanita tua itu mengangguk. Ada sedikit raut cemas di wajahnya yang berkerut. Sang penulis itu tersenyum arif. “ Tak apa. Kau tahu aku ini tak suka ribut ribut. Tak suka banyak orang ikut campur dalam urusan pribadiku. Surat ini untuk keluargaku. Anak anakku. Tanpa ibunya masing masing tentunya. Tadi aku telah menelpon mereka semua, kelima anakku itu. Dan setelah mengetahui apa pesanku, mereka langsung menyetujui untuk berkunjung kesini. Menyelesaikan urusan surat wasiat ini. Dan karena aku enggan banyak kata, ditambah lelah pula, maka kau saja yang jadi perwakilanku ya. Kau cerdas dan baik. Usia tak menghalangimu untuk mengetahui persoalan penting ini. Dan aku percaya padamu selama ini. Kejujuran dan kesetiaanmu.” . Wanita sepuh itu tak mengatakan apapun untuk merespon amanat tuannya. Hanya didengarnya semua pesan tuannya dengan sepenuh jiwa. Tuan yang telah ikut membangun kehidupannya selama ini.

Setelah menerima berkas surat yang terlihat amat penting itu, dan sepucuk surat kecil berstempel. Sang tuan dibimbingnya memasuki kembali ruang kerjanya. Dipijatnya kembali punggung yang seakan sudah menjadi bagian dari kawan setianya beberapa tahun ini. Menemaninya dalam kesakitan fisik dan bathinnya yang sepi.
Punggung tua yang membungkuk. Yang telah ikut menanggung beban derita kehidupan pribadinya. Bahkan juga perjalanan karirnya yang tampak gemilang.

Lalu sang tuan mulai lagi mengetik. Sofia, wanita tua itu beranjak meninggalkannya untuk menyimpan wasiat tuan besarnya. Seraya menunggu buah hati sang majikan berdatangan kerumah yang sudah tiga tahun sepi dari suara sanak keluarganya. Ada rasa bahagia, akhirnya putra putri sang majikan mau juga berkunjung lagi ke tempat sunyi ini. Menengok sang ayah yang dia tahu sangat merindukan mereka. Wanita tua itu tak ingin memikirkan apakah karena surat wasiat itu, maka belahan jiwa sang majikan akhirnya bersedia datang kembali mengunjungi ayahandanya yang unik itu.

Suara mesin tik tak lagi terdengar. Sementara sore mulai menjelang. Saatnya dia menyiapkan teh hangat kesukaan tuannya.Juga untuk menyambut kedatangan putra putri sang majikan.. Di musim gugur itu hawa terasa mulai menusuk tulang. Dingin dan tajam. Namun diluar tampak damai dan tenang. Sesekali tampak kereta kuda penduduk sekitar melintas di jalan setapak tak jauh dari rumah tuannya.

Dimatikannya kompor yang mulai mendidihkan teh panas aroma lavender kesukaan tuannya. Lalu di potongnya roti gandum hangat buatannya. Sang tuan sangat menyukai tradisi minum teh sore hari yang menghangatkan jiwanya itu.
Tak lama kemudian terdengar suara kereta kuda beriringan dan berhenti tepat di depan rumah asri majikannya. Wanita tua itu segera menyambut kehadiran putra putri tuannya yang tampak lelah dalam pakaian gemerlap mereka yang ala kota.
Suasana tampak sedikit ramai. Menghangatkan kebekuan udara yang menusuk.
Angin musim gugur yang gelisah.

Mereka bertanya dimana sang ayah, dan tersenyum setelah mendapat penjelasan wanita pekerja rumah tangga ayahnya itu. “ Akh , masih seperti biasanya ayah kita itu. Bersunyi sunyi dalam kamarnya yang pengap dan penuh buku. Apakah dia baik baik saja? “, Tanya si bungsu yang tampak lebih ceria. Seorang wanita pengacara yang sukses. Sofia menganggukan kepalanya dengan hormat. “ Punggungnya selalu sakit. Hanya itu yang mengganggu aktifitasnya selama ini. “, Jawabnya pelan. Anak-anak sang majikan saling melirik satu sama lain, lalu mengangkat bahunya tanda maklum. Baginya wajar sang ayah berpenyakit punggung. Karena sepanjang hidupnya tak lain hanya duduk di kursi antik itu guna menghasilkan karya –karya yang memang gemilang. Yang dulu sempat membuat mereka bangga, namun justru berbalik jadi bumerang bagi kehidupan remaja mereka yang serasa dinomorduakan. Merekapun mulai beristirahat.

“Aku akan membangunkan tuan, nona. Pasti dia tertidur karena lelah mengetik seperti biasanya.”, wanita tua itu berkata pada Irena, salah satu anak tuannya. Namun yang menjawab si sulung. Edu.
“ Baiklah” jawabnya acuh tak acuh. Edu seorang pemain sepakbola yang sedang merintis karirnya.

Mereka masih asyik membereskan barang bawaan dan sebagian mulai menikmati teh hangat dan roti gandum, saat terdengar jerit pilu wanita penjaga rumah tangga ayahnya. Terpana sesaat , lantas berlarian kelima putra putri sang penulis itu kearah kamar sang ayah di sudut rumah. Tampak sang penulis terkulai di meja kerjanya dengan mulut menyisakan busa. Di sampingnya terlihat dua botol obat yang entah apa itu, namun sudah tak ada lagi sisanya. Agaknya ayah mereka telah menelannya semua dengan sengaja untuk mengkahiri hidupnya yang sekelam karya-karyanya yang gemilang. Sang putra sulung dengan tangan bergetar hebat membuka sepucuk surat kecil yang di letakkan ayahnya di atas bingkai foto. Hatinya remuk seketika. Isi surat itu sangat mengharukan.

” Kutinggalkan hanya sepucuk surat tak bermakna, Bagi kalian belahan jiwa yang sempat tercecer di tanganku. Maafkanlah ayahandamu yang tak pandai berdamai pada dirinya sendiri ini. Titip Sofia diantara kalian. Serta naskah terakhir sebagai sosok diriku yang tak pandai meretas waktu. Salam ”

Maka denga rasa tak percaya mereka menjadi histeris. Ada rasa sesal yang tiba tiba menyelinap dalam hati masing masing. Sementara angin Oktober disenja kelam itu semakin kencang bertiup. Mengugurkan segala rasa yang ada.

Note : terinspirasi dari cerita seorang teman padaku, yang kutulis atas izinnya. thanks ya

Lembang, Bandung Oktober 2009

Untukmu, Ibu

Oleh : Lia Salsabila

Bu….
Ketika malam menjelang, aku selalu mencari bayang, wajahmu yang tak pernah kukenal dalam kenang, apalagi kasih sayang, belaian serta dekapan yang setiap saat tak lekang, walau aku tak pernah tahu apakah benar begitu.

Bu….
Di jalanan ini aku tumbuh hingga besar, dengan belas kasih sekadar, dari orang-orang yang kebetulan sadar. Menjalani kehidupan keras dan liar, tanpa satu pun kata dan lelaku santun yang diajar, hingga aku menjadi seorang anak yang bengal.

Bu….
Hingga saat ini, kata tanya itu bertalu dan kian menderu dalam kepalaku, kata tanya yang seharusnya tak pernah terucap dari bibir seorang anak.
Mengapa kau begitu tega meninggalkanku, membuangku di tempat yang tidak seharusnya aku tinggal?
Apakah karena kau satu dari wanita penghibur itu hingga kau membuangku, karena tak ingin membesarkan aku yang kau sendiri tak pernah tahu siapa bapakku?
Atau kau satu dari wanita-wanita kaya dan cantik itu, yang dengan alasan harga diri dan malu lalu membuangku, karena memang tak pernah ditunggu dan tidak harus lahir pada saat itu?
Atau kau sebenarnya wanita sederhana, yang terpaksa membuangku karena terhimpit kebutuhan hidup yang kian mencekikkan derita?
Namun, apakah alasan pembuanganku yang menurutmu benar pada waktu itu harus dibenarkan? Tidakkah seharusnya hal itu kaufikirkan sebelum aku menjadi janin dan seorang bayi, yang nantinya terpaksa engkau lahirkan dan kemudian kau tak peduli?

Bu…
Aku selalu membayangkan sosokmu begitu lembut, penuh kasih. Memimpikan kau benar-benar ada di dekatku, menjadi cahaya ketika matahari gerhana dan rembulan tak purnama.
Namun mimpi-mimpi itu tak pernah menjadi nyata. Yang terlihat di mataku adalah sosok-sosok ibu yang jauh dari lembut, jauh dari kasih. Sosok ibu yang sering berkata kasar pada anaknya, sibuk dengan karir dan bisnisnya, mendewakan kecantikannya.
Dalam hati aku bersyukur tidak dibesarkan oleh ibu seperti mereka, walaupun sebenarnya kehidupanku tidak lebih baik dari anak-anak mereka. Dan aku berpikir, bukankah anak-anak itu sama juga terbuangnya denganku. Terzalimi oleh ibu yang nyata berada di dekat mereka, namun tak pernah mampu menjadi cahaya.

Bu….
Banyak orang bilang bahwa surga itu ada di telapak kakimu. Bagaimana aku bisa menggapainya, sedangkan bayangmu pun aku tak punya. Dan, bagaimana seorang ibu bisa benar-benar menjadi jembatan surga bagi anak-anaknya kelak, ketika dia sendiri tak mampu menjadi seorang ibu yang sebenar-benar ibu dengan kelembutan dan keindahan surga.

Bu….
Hari ini semua anak berlomba membahagiakan ibunya dengan berbagai cara, karena hari ini adalah harimu, Hari Ibu. Aku hanya terpaku dengan bibir kelu dan hati pilu, karena aku tak tahu harus turut merayakannya atau justru berharap hari ini tak pernah ada.

Bu….
Aku tak tahu apakah aku begitu merindukanmu, ataukah marah dan bahkan membencimu. Namun aku tetap berdoa bahwa sosok ibu yang selalu kuimpikan itulah ibuku, seorang perempuan yang memang layak mendapat julukan seorang Ibu.
“Ibu yang berhati malaikat
Tak pernah mengeluh meski lelah dan penat
Tetap sabar ketika aku nakal
Tetap santun walau emosi di luar akal”

Bu….
aku sungguh ingin bertemu
meski hanya dalam mimpi semu
tuntaskan persoalan dalam titik temu
hingga aku dapat merasakan surgamu

. 22 Desember 2009

Puisi Untuk Ibu

Oleh :  Sayuri Yosiana

Seperti yang pernah kusampaikan pada ayah..

“Aku tak pernah mampu membuat puisi untuk ibu.
Setiap huruf kembali meloncat berpencaran dari barisan kata sebelum mengutuh kalimat.
Lalu…bagaimana kupersembahkan sebentuk puisi bila setiap huruf menolak berbaris rapi, ayah?”

Ayah merunduk. Membantuku memunguti kembali huruf-huruf yang sengaja berjatuhan dikakiku. Huruf-huruf itu mengejekku. Namun ayah tetap percaya. Suatu saat huruf-huruf akan menjelma kalimat indah. Membariskan kata demi ibu. Lewat jemari putrinya yang ragu.

Hari ini, setelah ayah pergi…
Huruf-huruf berbaris anggun. Tiada lagi keangkuhan. Mereka membentuk kata..menjelma kalimat…mengutuh…penuh

. Hatiku bersorak dalam duka. Ayah tak pernah sempat melihat…

“Ibu…Mungkin kau tak pernah tahu. Betapa hati masih teteskan embun satu satu.
membentuk aliran muara heningmu. Mengkristal dalam keabadian.
Tak ada yang mampu menyelami kedalamannya. Selain hatimu..hatiku..
Langit kirimkan cerita tentang senja terakhir. Saat kupeluk tubuh lunglaimu
meninggalkan cahaya kehidupan. Sisakan siluet senyum..mengubah matahari jadi bulan.

Kini kuhanya mampu bersurat. Lewat bumi yang menadah rindu.
Semesta mengirimnya lewat bisik angin petang.Yang kunanti tiap malam.

Tahukah ibu?
Setiap detik ingin kuceritakan lewat puisi. Tentang teman teman-baru yang membuat sunyiku jadi riuh. Atau tentang seseorang, yang mengirimkan puisi kematian.
Mengubah rasa-rasa didada…sepi..sunyi..senyap…
Menggores kelembutan hatiku. Yang terbuat dari hatimu.

Namun bait puisi tak pernah mampu kurangkai. Menjadi siluet sosokmu. Bahkan senyummu yang diam.
Hidup ini lucu ya, ibu..?
Seperti yang pernah kau katakan. Bahwa damai lebih indah dari perang.
Bahwa hidup memang perjuangan. Meski puisi setengah jadi. Namun rinduku menjadi-jadi.

Ingin rasanya kuakhiri puisi ini dengan akhir yang senyum. Bahwa disini aku bahagia.
Berteman puisi, dongeng pagi, siang dan malam.
Demi malam yang menjelang fajar. Dan air terjun dimataku.
Kukirimkan sebentuk kisah. Dan bait bait kata. Didalamnya ada hati yang meranum senyum.
Seperti yang pernah kau ajarkan.
Bacalah dan dekaplah. Agar getirnya hidup menjadi tawa yang sumringah.

Ibu..,kata orang diiparasku terukir keayuanmu.
Semoga tak menjadi bencana semesta. Yang membuatmu menangis disana…”

somewhere, Juni 2010

SAYURI YOSIANA

untuk bundaku tercinta, ERNA S.
luv u mam…may u happy in the heaven

Puisi Untuk Sang Pipit (Happy Birthday)

Oleh : Sayuri Yosiana

jelang subuh ini
ku goreskan pena untukmu
bait bait sajak sederhana
yang mungkin tak bermakna bagimu

hanya sekedar ingin sampaikan pesan
selamat ulang tahun,sahabat
doaku untukmu selalu
semoga kau terima
dengan cinta,
amin

by.Dara Jingga  untuk Lia Salsabila

Jumat suci, 17 juli 2009 (jumat adalah hari lahirku, kebetulan sekarang sama ya hehe)

Kau Dalam Lukisku

Oleh : Sayuri Yosiana

dalam kanvasku ada rembulan
menyulam kerlip langit malam

dalam siluet senyum
kutemukan sejuta kisah

rintik gerimis ritmis
hilang..lenyap…gelap
aku tetap melukis
dalam resah…dalam gundah

gradasi agung lukisan senja
menyulapmu jadi cahaya

saat gerimis berhenti

tetaplah ada dalam lukisku

terpekur kanvas menanti jemari

melarung warna dalam rasamu

Untuk Lia Salsabila
terimakasih atas hadirmu dalam hidupku
Tuhan memberkati…

somewhere, Juni 2010

Seni Bergembira

Oleh : Lia Salsabila

Kenikmatan terbesar adalah kegembiraan, ketentraman dan ketenangan hati, sebab dalam kegembiraan terdapat keteguhan pikiran, produktifitas yang bagus, dan keriangan jiwa. Kegembiraan merupakan seni yang dapat dipelajari (kata banyak orang sich) artinya, siapa yang mengetahui cara memperoleh, merasakan dan menikmati kegembiraan, maka ia akan dapat memanfaatkan berbagai kenikmatan dan kemudahan hidup baik yang ada di depannya maupun yang sudah jauh di belakangnya.

Modal  utamanya adalah kekuatan atau kemampuan diri untuk menanggung beban kehidupan, tidak gentar oleh peristiwa apapun, dan tidak pernah sibuk memikirkan hal-hal kecil yang sepele. Semakin kuat dan jernih hati seseotang, maka akan semakin besar juga jjiwanya.

Diantara musuh utama kegembiraan adalah wawasan yang sempit, pandangan yang picik dan egoisme. Seperti yang dilukiskan dalam firman Allah yang artinya :

“Mereka dicemaskan oleh diri mereka sendiri” (QS. Ali Imran:154)

Orang yang  berwawasan sempit senantiasa melihat alam seperti yang mereka alami, tidak pernah memikirkan apa yang terjadi pada orang lain, tidak pernah hidup untuk orang lain dan tidak pernah memikirkan sekitarnya.

Satu hal yang mendasar adalah bagaimana mengendalikan dan menjaga pikiran agar tidak terpecah. Jika kita tidak mengendalikan pikiran niscaya ia tidak akan terkendali dan akan mudah membawa kita pada berkas-berkas kesedihan masa lalu. Dan pikiran liar itu tidak hanya  menghidupkan luka lama tetapi juga membisikkan masa depan yang mencekam, terkadang membuat tubuh gemetar, kepribadian goyah dan perasaan terbakar.

Kehidupan ini laksana sebuah permainan mengapa ia harus begitu diperhatikan dan ditangisi ketika gagal di raih…?? Keindahan hidup acapkali palsu, janji-janjinya hanya fatamorgana belaka, apapun yang dilahirkan berakhir pada ketiadaan, orang yang paling bergelimang hartanya adalah orang yang paling merasa terancam, dan orang yang selalu memuja dan memimpikannya akan mati terbunuh oleh pedang sang waktu yang pasti tiba.

Kegembiraan tidak datang begitu saja, tetapi harus diusahakan dan dipenuhi segala sesuatu yang menjadi prasyaratnya. Kehidupan dunia ini sebenarnya tidak berhak membuat kita bermuram durja, pesimistis dan lemah semangat.

Hukum kematian manusia masih terus berlaku

Karena dunia juga bukan tempat yang kekal abadi

Adakalanya seorang manusia menjadi penyampai berita

Dan esok hari tiba-tiba menjadi bagian dari suatu berita

Ia dicipta sebagai makhluk yang senantiasa galau nan gelisah

Sedang engkau mengharap selalu damai nan tentram

Wahai orang yang ingin selalu melawan tabiat

Engkau mengharap percikan api dari genangan air

Kala engkau berharap yang mustahil terwujud

Engkau telah membangun harapan di bibir jurang yang curam

Kehidupan adalah tidur panjang, dan kematian adalah kehidupan

Maka manusia diantara keduanya; dalam alam impian dan khayalan

Maka, selesaikan segala tugas dengan segera, niscaya umur-umurmu

Akan terlipat menjadi lembaran-lembaran sejarah yang akan ditanyakan

Sigaplah dalam berbuat baik laksana kuda yang masih muda

Kuasailah waktu, karena ia dapat menjadi sumber petaka

Dan zaman tidak akan pernah betah menemani anda, karena ia akan selalu,

Lari meningggalkan anda sebagai musuh yang menakutkan

Dan karena zaman memang dicipta sebagai musuh orang-orang bertaqwa.

Semua itu kenyataan, maka kita hanya berkewajiban mengurangi dan bukan menghilangkan kesedihan, kecemasan dan kegundahan sebab kesedihan itu akan sirna bersama akar-akarnya hanya di surga

Dikutip dari buku

La-Tahzan

Semoga bermanfaat…Amien…..

Hari Ini Milik Kita

Oleh : Lia Salsabila

Jika kita ada di pagi hari, jangan pernah menunggu sore tiba, hari ini yang kita jalani bukan hari kemarin yang telah lalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan bukan juga esok hari yang belum tentu datang.

Kita tidak pernah tau umur kita sampai kapan, mungkin tinggal hari ini siapa tau…???

Anggap hidup kita hanya tinggal hari ini, atau kita seolah dilahirkan hari ini dan mati hari ini juga dengan begitu kita tidak akan tercabik-cabik diantara gumpalan keresahan, kesedihan, dan duka masa lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidak pastian dan acapkali menakutkan.

Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian dan kebencian.

Tuliskan pada dinding hati kita “Harimu adalah hari ini”

Jika kita bias minum air jernih dan segar hari ini mengapa harus bersedih atas air asin yang kita minum kemarin atau mengkhawatirkan air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi..???

Jika kita punya prinsip “Aku hanya akan hidup hari ini” pastilah kita akan menyibukkan diri setiap detik untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan semua potensi dan mensucikan setiap malam.

Karena hanya akan hidup hari ini, maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Robb, mengerjakan sholat sesempurna mungkin, berpegang teguh pada Al-Qur’an, mengkaji dan mencatat segala yang bermanfaat. Aku akan menanam dalam hatiku semua nilai keutamaan dan mencabut pohon-pohon kejahatan berikut rantingnya yang berduri, baik sifat takabur, ujub, riya’ dan buruk sangka.

Aku hanya akan hidup hari ini, maka aku akan mengucapkan “wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu aku tak akan pernah menangisi kepergianmu dan kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedetikpun tuk mengingatmu, pergilah jangan pernah kembali”

“Wahai masa depan, engkau masih dalam kegaiban, maka aku tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Akupun tak akan memburu sesuatu yang belum tentu ada, karena esok mungkin tak ada sesuatu, esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan dan tidak ada satupun darinya yang dapat disebutkan

“Hari ini Milik Kita” ungkapan paling indah dalam “Kamus Kebahagiaan”

Semoga bermanfaat…..Amien….

Dikutip dari buku

La-Tahzan