Trio Penyair : Pak Cik Nuril – Lia Salsabila – Udin Sape Bima

Yang Lokal Universal

 

Nota Karya

Oleh : A.Kohar Ibrahim

 

 

TIGA nama penyair hadir di halaman Facebook — menyaji kreasi puisi berupa sajak masing-masing. Pak Cik Nuril Putera Mahkota alias Muhammad Nurul dengan sajaknya berjudul “Aw Aw”. Lia Salsabila dengan sajak “Hujan Kembali Datang”. Udin alias El-Dien Sape Bima dengan sajak “Negeri Tak Berwajah”.

 

Ah ah ! “Negeri Tak Berwajah” Udin. “Aw Aw” Nurul. “Hujan Kembali Datang” Lia. Tiga penyair, tiga wajah, tiga jiwa asal tiga lokal, tiga Daerah yang menggugah sekalian menggelitik hati dan pikiran serta imajinasi. Tetapi apalah makna lokal dalam aktivitas-kreativitas seni kebanding – misal dengan Sentral atau Pusat atau Nasional? Tiada. Kalaupun ada mungkin dalam nuansa suasana tempatan masing masing saja.

 

Akan tetapi, sekalipun ada kandungan nuansa kelokalan maka tak urunglah bisa bersifal nasional pun universal. Selaras – justeru dari isi yang terkandung di dalamnya. Isi yang nampak, yang terasa, berkat paduan pilihan pengungkapan, pelukisan dan simbolisasi yang tersajikan.

 

Seperti dalam ketiga sajak: “Aw Aw”, “Hujan Kembali Datang” dan “Negeri Tak berwajah” itulah. Ada kandungan lokal yang terkandung namun tak urung universal pula sifatnya. Lantaran yang dinyanyikan merupakan lagu alam manusia. Alam lingkungan alam dan manusia yang bermasyarakat dalam juang perjuangan kesehari-hariannya. Yang satu sama lain berkait erat – meski kadang-kadang selang silang seling kait berkaitan pula adanya.

*

 

Sajak Aw Aw oleh Pak Cik Nuril alias Muhammad Nurul

 

KETIKA membaca sajak “Aw Aw” Nurul, memang seketika pula saya tergelitik. Seperti yang telah saya utarakan dalam komen atau nota ringkas di ruang Facebook 21 Januari 2012:

 

Pilihan pengungkapan pengisahan metafora sekalian yang padu hadir lancar mengalir. Seperti air hujan dari pancuran aku mandi sejuk nyaman.

 

 

“Aw Aw”! Seketika aku jadi teringat sewaktu cakap cakap dengan Pak Tenas di …Pekanbaru sekitar seni budaya – khususnya tentang seni tradisi yang baik seperti seni binaan; seperti halnya susastra. Sampai pada soal yang jadi persoalan akan perlunya “mengangkat benang basah”, Pak Tenas Effendy bilang: Tujuan itu baik, tapi harus mengenal dan tahu apa yang hendak diangkat itu.”

 

 

 Iya. Aku kira, sudah selayaknya penulis, penyair terus menjaga, menggali, mengangkat perbendaharaan kata bahasa yang menjadi sarana ekspresinya. Aku gembira, sekali dan sekali lagi membaca Pak Cik Nuril, upaya yang baik sekaitan bahasa itu terpercik. Terima kasih. Salam kreatip.

 

 

Komentar ringkas itu pada 23 Januari 2012 ditanggapi oleh sang penyair Nurul alias Nuril :

 

 

« iye pak aki, bicare bahase seni tradisi,

banyak yang belum bisa terangkat, karna banyak yang terlupakan.

saye nak minta tunjuk ajar dari pak aki, agar bahase seni dan tradisi bisa terangkat,dijaga, dilestarikan sebagai warisan daerah. »

 

 

IYA. Warisan daerah layak diapresiasi selayak-layaknya, karena sekaligus juga sebagai warisan nasional bahkan internasional. Apa pula bahasa Melayu sudah ada sejak dulu kala. Malah menjadi bahasa perjuangan seperti tertanda dalam Sumpah Pemuda – hanya untuk kemudian salah seorang pembinanya yang terkemuka mendapat gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia : Raja Ali Haji. Nama sang Pahlawan yang kemudian juga menjadi nama salah sebuah universitas di Kepulauan Riau : UMRAH. Dimana Muhammad Nurul salah seorang mahasiswanya.

 

Sebagai pelengkap sajian sajak « Aw Aw » iyalah karya visual berupa foto pepohonan bakau. Hutan bakau. Pas sekali dengan tema yang diungkapkan. Pepohonan yang beragam guna sekaligus juga berperan penting dalam eko sistem (ekologis). Salah satu macam perhutanan yang amat berharga di bumi Nusantara pun dunia. Yang layak dijaga dari kesewenangan manusia semata mata demi kepentingan picik, egois dan serakah.

“Aw Aw” ! Dengan sajak ini — secara langsung tak langsung — penyair Muhammad Nurul kelahiran Sungai Pakning  Provinsi  Riau telah menggugah sekaligus menyegarkan ingatan kita akan makna bahasa Melayu dan makna lingkungan alam tempatannya.

 

*

 

Aw Aw

 

Oleh : Pak Cik Nuril Putera Mahkota

 

 

Pukaulah aku

Dalam angau yang tak menentu

Taburlah serbuk bakau

Dalam angin sengau

Katakanlah pedau

Katakanlah payau

Katakanlah sasau

Katakanlah risau

Aku melapuk dalam ombak sakau

Meninggilahlah gunung

Meluaslah samudera

Mendalamlah lautan

Menegaklah langit

Mandikanlah aku dalam mimpi kata-kata resah.

 

 

Catatan: dalam fikiran yang kacau, mengenang Tanjungpinang 20 januari 2012

 

*

(FB : 21.01.2012)

 

*

 

 

Sajak Hujan Kembali Datang Lia Salsabila

 

SAYA memang kerap ulang bilang persetujuan dengan opini Hudan Hidayat. Bahwasanya bagi kita yang pertama dan terutama pentingnya adalah menyimak hasil karya seseorang bukan orangnya. Dan dalam mengapresiasi susastra barangtentu adalah bahasa atau kata-kata yang dijadikan sarana. Sungguh menggelitik malah bisa menggugah rasa senang lantaran indah keindahan yang terkandung-saji oleh buah pena buah ekspresi diri sang penulis atau penyair.

 

Iya benar. Suka baca membaca memang ada tujuannya. Dalam membaca hasil karya sastra terutama selain untuk santapan pikiran juga perasaan. Selain menimba ilmu pengetahuan sekaligus juga kenikmatan batiniah. Semacam atau ragam macam yang terperoleh darinya. Berkat gugahan dari gubahan seniman-seniwati atau penyair bersangkutan.

 

Seperti salah sebuah contohnya itulah. Sebuah sajak berjudul “Hujan Kembali Datang” itu.

 

Pilihan pengungkapan, penuturan sekalian simbolisasi padu tersajikan. Perpaduan rekaman kehidupan inderawi-batini yang terkesankan realis sekaligus romantis puitis. Dengan sarana bahasa tertata bina kata-kata sederhana namun dalam makna.

 

Seketika sepintas kilas aku jadi senang terkenang pada gambaran suasana dalam lukisan Henry Fusli dan William Turner.

 

Ah barangtentu, penuturan atau penggambaran Lia Salsabila itu beda baik zaman pun alam nyatanya. Bukan di Eropa tapi di Jember Jawa Timur ! Namun dimana kapanpun juga suasana tingkah ulah alam dunia ya sama saja. Gerakannya yang bisa berubah ubah sering mengejutkan sekalian menakjubkan malah.

 

Namun juga, tak urung : gores garis pena dan nuansa nada irama sapuan Lia Salsabila tak kalah dengan keplastisan gores garis sapuan para pelukis tersebut di atas.

 

Orang Jawa, cakap cermat memanfaat sarana komunikasi bahasa Indonesia dalam kreativitas perpusian seperti contoh penyair wanita Lia Salsabila ini,  sungguh menggembirakan dan membanggakan sekaligus.

 

Bahasa Indonesia memang luarbiasa. Sebagai sarana kreativitas sastrawan-sastrawati Indonesia segala zaman.

*

 

Hujan Kembali Datang

 

Oleh : Lia Salsabila

 

 

gerimis menyapa ritmis

mengecup debu dan puing mengabu

membasah gersang sehampar ilalang

menghijau padang seluas keramba udang

hujan kembali datang, sayang

mengguyur sawah, ladang, juga tanah lapang

mengairi sungai, danau, waduk yang dulu gersang

hujan datang bersama gelegar

menghempas biduk menghanyut lubuk

menggenang sepadang galangan

membandang membanjir sampai hilir

hujan sudah datang, sayang

namun mengapa air matamu berderai

bukankah ini yang kaurindukan

sebab tak lelap, ranjangmu kebocoran

goronggorong dan selokan meluap tak karuan

jalanjalan dan perumahan mirip lautan

hujan memang datang, sayang

membawa cerita lain kemarau

lebih biru atau pilu

tergantung jiwa kita menuju

 

 

Rumah Hujan

2011

 

*

(FB 27.01.2012)

*

 

Sajak Negeri Tak Berwajah Udin Sape Bima

 

 

KINI setelah Orang Melayu  dari Riau dan Orang Jawa dari Jember Jatim, bagaimana kecakap-cakepan Orang Nusa Tenggara Barat dengan contoh penyair Udin Sape Bima dari Mataram. Dengan kreasi puisi berupa sajaknya berjudul “Negeri Tak Berwajah”.

 

Meskipun dari sudut lokal wilayah daerah berbeda namun mereka Bangsa Indonesia juga, pengguna bahasa Indonesia juga, pengungkap angkat kekentalan nuansa lokal yang nasional malah universal juga. Lantaran menyanyikan lagu yang pada dasarnya sama: lagu alam manusia.

 

Jika hendak disimak keberbedaanya, hal itu terutama terletak pada pilihan pengungkapan tema yang lebih kental pada paduan situasi-kondisi yang faktual lagi aktual. Dituturkan dengan luapan emosi yang semarak. Namun senantiasa mengetengahkan simbolisasi atau metafora yang bernada irama dinamik puitik. Suatu osmosia – ramuan – yang harmonis terpadu. Hingga mampu menggugah bahkan terkesankan menggugat kondisi kehidupan manusia. Khususnya rakyat pekerja. Dalam kegegap-gempitaan jejak juang menjalani kehidupan. Supaya kebenaran dan keadilan dijaga ditegakkan sekaligus!

 

Dengan kata lain sajak “Negeri Tak Berwajah” adalah ekspresi protes sosial dalam puisi. Suatu pertanda nyata akan naluri aspirasi manusia yang berhak dan mendasar: untuk mengenyam kehidupan di alam merdeka, adil makmur dan beradab. Suatu naluri aspirasi manusia yang sudah, sedang dan bisa akan terjadi di mana kapanpun juga adanya. Universal.

 

Dari sejumlah hasil aktivitas-krreativitasnya, Udin Sape Bima memang telah menandakan dengan nyata kepedulian seorang anak bangsa, seorang cendekiawan. Iya,  seorang penyair yang peduli akan kondisi hidup kehidupan di atas tanah tumpah darahnya. Indonesia Raya yang megah, luas, kaya raya, indah, tapi sebagian besar rakyat masih belum bisa mengenyam kehidupan Kemerdekaan dalam makna yang luas dan yang hakiki. Kehidupan yang modern dan beradab.

 

Dan apa yang dilukiskan oleh Udin Sape Bima dengan “Negeri Tak Berwajah” ini rupanya masih belum usai. Masih akan bersambung. Lantaran perjuangan itu sendiri memang belum selesai. ***

 

*

 

NEGERI TAK BERWAJAH

 

Oleh Al-Dien Sape Bima

 

Di genangan bumi pertiwi

berkesiur potret wajah rakyat

bergelantung di perasingan langkah

mamatung senja wajah

terkapar di peraduan zaman

membuncahkan seluruh tanah air

seraya mengungsi jiwa

tersuguh lelap atas kekuasaan sang politik

Dalam rumah pertiwi

anak watan berbaring meramaikan

jalan massa berburam

di simpang jalan

melengking nafas bersanding derita

derita mewadahi tanah air

lalu berselimut kabut tertelan waktu

Orang-orang miskin

berkerumu selaput rampung di pedesaan

menapak ladang di tanah pertiwi

bercucuran keringat mengalir

bermuara dalam peperangan waktu

namun di balik gedung tertinggi

politik sedang mengupas suap menyuap

pandangan tentang rupiah

Rakyat mendengung peraduan

bersanding merunduk ranum jiwa

membasuh harapan

di negri yang tak berwajah

lalu bersanding merengku mimpi

dalam pengadaian hidup bersatu

Dalam mimbar berbagai perkotaan

Tuan-tuan sedang rapat

berbicara tentang renovasi gedung

melindap bersilancar mengemas rupiah

berteriak seraya membangun negri

dan menumbuh keadilan di kerawang pertiwi

Tuan lihatlah dengan mata hati

kaum pejuang muda menderas derita

menyebrang jembatan maut

mendayu endapkan jiwa

demi massa depan untuk memperkokoh bangsa pertiwi

yang melandasi bangsa retorika kukuh

Tuan

masihkah kau tidur terlelap dengan kekuasaanmu

coba Tuan bangunlah dalam tidur

di luar sana batu di bungkam massa

darah terus mengalir membasahi tanah pertiwi

Tuan

lihatlah dengan mata hati

kaum wanita menangis pilu

menderai-deraikan nafas

yang terkuntum ditanah haram

menggendong daging atas perbudakan

ratapi sangkar musnah jiwa

tak ada lagi harga diri

yang terkantum di negri ini

Tuan

lihatlah dengan mata hati

masih ingatkah Tuan peristiwa dermaga sape

di sana telah di tumpahkan darah yang bercecer

di sudut labuhan

Tuan

lihatlah dengan mata hati

masih ingtkah Tuan tentang sandal jepit?

AAL pejuang muda kau teror

dalam dinding garis air mata kehidupan

bebalut serapah menantang hukum

atas peniadaanmu

dan para koruptor kau bebaskan dengan uang dan uang

Di mana kau letakkan keadilan !

Jangan kau bernyanyi di meja pengadilan

nyanyian busuk

membusukan nyanyian bangsa kemerdekaan

Sungguh engkau telah mematikan negri

tuturkan katamu membuat negri bernyanyi

nyanyian telah merobekkan tubuh negri

sejuta janji sejuta sumpah

Di layar dunia potret wajahmu

hampir mengkibarkan seluruh negri pertiwi

lalu seraya berkata negri ini akan damai dan sejahteraan

namun pernyataan itu kau menghianatnya

 

*

(Bersambung……)

 

Udin Sape Bima

MATARAM, JANUARI, 2012

 

*

(FB 26.01.2012)

*

 

Catatan :

Naskah Nota Karya «Trio Penyair Pak Cik Nuril – Lia Salsabila – Udin Sape Bima : Yang Lokal Universal » ini pertama disiar di halaman profil Facebook A.Kohar Ibrahim 28 Januari 2012.

Kreasi sajak sajak dan ilustrasi foto pemilik penulis masing-masing.

 

*

Biodata :

A.KOHAR IBRAHIM

Kelahiran Jakarta 1942. Penulis Pelukis tamatan Akademi Senirupa Brussel Belgia (1972-1979).

Aktivitas-kreativitas sebagai jurnalis dan penulis sejak tahun 1950-an. Karya tulis tersiar di media massa seperti Bintang Timur, Bintang Minggu, Warta Bhakti, Harian Rakyat & Minggu, Majalah Zaman Baru (dpp Rivai Apin dan S. Anantaguna).

1989-1999 Editor Majalah Seni dan Sastra KREASI terbitan Stichting Budaya, Amsterdam, Holland.

Sejak zaman Reformasi berkas berkas tulisannya tersiar sebar beberapa media massa. Antara lain: Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Sijori Pos, Batam Pos, Majalah Budaya 12 (Dewan Kesenian Kepri, Tanjungpinang), Gema Mitra  Swakarsa (Batam).

Sebagai essayis, berkas berkas essay sosio-budayanya antara lain:

(1).Sekitar Tempuling – Telaah Buku Kumpulan Sajak “Tempuling” karya Ruda K Liamsi. Semula disiar Harian Batam Pos, kemudian diterbitkan dalam bentuk buku oleh Yayasan Sagang, Pekanbaru 2004.

(2).Dari Puncak Sang Pahlawan Nasional Sastra Kepulauan Riau – termaktub dalam buku Identitas Budaya Kepri  - kumpulan essay bersama, terbitan Dewan Kesenian Kepri Tanjungpinang 2005.

(3).Kepri Pulau Cinta Kasih – buku kumpulan essay bersama Lisya Anggraini, terbitan Tititk Cahaya Elka, Batam 2006.

(4).Sekitar Polemik Pramoedya-Lekra vs Manikebu, buku kumpulan essay terbitan Titik Cahaya Elka, Batam, 2009.

Berkas berkas essay yang disiar Harian Batam Pos, tapi belum sempat diterbitkan dalam bentuk buku, seperti antara lain: “Catatan Dari Brussels” (40 essay); “Sekitar Tembok Berlin – Lagu Manusia Dalam Perang Dingin Yang Panas” (30-an essay). ACI: “Sekitar Prahara Budak Budaya” (25 essay).

Baik yang sudah maupun belum dibukukan, daftar berkas berkas naskah prosa dan puisinya masih panjang; berkas berkas Nota Puitika nya sudah melebihi 500-an. Disiar via sejumlah media internet, antara lain: Situs Sastra Nusantara Cybersastra.Net; ABE-Kreasi Multiply Site; Facebook; ACI – Art-Culture-Indonesia; Apresiasi Sastra (Apsas); Apresiasi Puisi; World Culture dll.

Lebih lanjut bisa disimak lacak di: http://16j42.multiply.com/journal/item/635/tag/biodata/; http://artscad.com/@/AKoharIbrahim/;

Dan dilacak dengan menggunakan mesin pencarian Google dan atau Yahoo.

 

 

HUMANISME DALAM ISLAM (Bagian 2)

HUMANISME DALAM ISLAM

 

/Abdul Hadi W. M.

 

(Bagian II, Habis)

 

 

Jadi kemuliaan manusia terutama ditentukan oleh pencapaian akalnya, serta realisasi dari apa yang dicapai oleh akalnya dalam kehidupan, dan kearifannya dalam mengarahkan hidupnya menuju kebaikan dan kebenaran.  Kata-kata `aql berpadanan dengan kata-kata qalb (kalbu). Sebagaimana kalbu, yang merupakan alat pencerapan pengertian ruhaniah, demikian pula halnya dengan akal. Keduanya dengan demikian merupakan substansi (jawhar) ruhaniah yang dengannya ‘diri rasional’ (al-nafs al-nathiq) seseorang dapat membedakan kebenaran dari kepalsuan (lihat al-Jurjani 157).

Dalam membuat definisi yang benar tentang manusia sebagai al-hayawan al-nathiq ialah bila yang kita maksud dengan al-nathiq (nalar) dalam pendefinisian itu ialah ‘kemampuan untuk memahami pembicaraan dan kesanggupan untuk beranggung jawab atas perumusan makna – yang melibatkan penilaian, pembedaan, pencirian dan penjelasan, serta yang berkaitan dengan penyampaian kata-kata atau ungkapan dalam suatu pola yang bermakna. Kata-kata makna atau ma`na harus didasarkan pada arti kata ma’na sebagai konsep dalam ilmu dan falsafah Islam, yaitu “pengenalan tempat-tempat segala sesuatu dalam tatanan wujud masing-masing”. Pengenalan seperti hanya mungkin terjadi bilamana ‘hubungan’ sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam tatanan tersebut telah ‘terjelaskan’ dan ‘terpahamkan’. Hubungan tersebut menguraikan keteraturan tertentu.

Hakikat manusia, dalam pengertian ini, ditentukan oleh substansi ruhaniahnya  yang berperan mengenal sesuatu secara benar, yaitu tempat sesuatu dalam tatanan wujudnya masing-masing dan hubungannya dengan yang lain dalam tatanan wujud yang lain yang membentuk keteratuiran. Obyek-obyek pengenalan yang memiliki keteraturan hubungan satu sama lain itulah yang merupakan obyek ilmu pengetahuan, yang dikatakan Nabi sebagai modal dan tangan beliau (sarana menguasai sesuatu),

Orang Islam sepakat bahwa semua ilmu datang dari Allah, dalam arti bahwa ilmu itu dapat dimiliki manusia bukan semata berdasar ikhtiarnya melainkan juga melalui petunjuk-Nya, yaitu wahyu yang tertera dalam al-Qur’an. Itu sebabnya ilmu-ilmu Qur’an atau ilmu agama di dalam tradisi intelektual diberi kedudukan tinggi dalam tatanan ilmu secara keseluruhan. Kita juga tahu bahwa cara ilmu itu datang, dan sarana kerohanian dan indera yang menerima dan menafsirkannya tidak sama. Oleh karena semua pengetahuan datang dari Allah dan ditafsirkan oleh jiwa melalui sarana kerohanian dan indera, maka definisi terbaik tentang ilmu – dengan mengacu kepada Allah sebagai sumbernya – adalah bahwa ilmu itu ialah ‘kehadiran/kedatangan (hushul) makna sesuatu atau suatu obyek pengetahuan di dalam jiwa” (hushul ma`na aw shurat ‘l-syay`i  fi al-nafs).

Sedangkan apabila kita mengacu pada jiwa sebagai penafsirnya maka ilmu pengetahuan berarti “ sampainya (wushul) jiwa pada makna sesatu atau obyek pengetahuan”. Di sini seorang berilmu (`alim) berarti seseorang yang jiwanya memperoleh makna dari sesuatu yang diketahui”.  Pengertian ini merangkum pula konsep-konsep kunci lain seperti konsep-konsep tentang ayat (tanda-tanda Tuhan). Konsep ini mengacu pada ‘kata-kata’ dan ‘sesuatu’ (yang merupakan tanda-tanda keagungan Tuhan). Berdasarkan ini para mufassir mendefinisikan ilmu secar epistemologis sebagai ‘sampainya makna ke da;am jiwa’ dan ‘m,akna sesuatu’ berarti makna atau artinya yang benar. Benar dalam pandangan Islam berkenaan dengan hakikat dan kebenaran sebagai diproyeksikan oleh sistem konseptual al-Qur’an.

Konsep lain yang berkenaan dengan itu konsep `amal (tindakan), sebab tanpa tindakan sesuatu itu tidak akan sampai kepada jiwa dan tanpa tindakan menyampaikannya maka ilmu pengetahuan tidak akan tersebar dan berkembang. Ilmu harus dilengkapi dengan amal. Kecuali itu ilmu juga harus mengandung makna sebagai pengetahuan tentang sesuatu dalam tempatnya yang benar atau tepat. Tempat yang benar atau tepat berarti tempat yang sempurna dan sejati sebagaimana ditunjukkan oleh istilah haqq, yang berarti hakikat dan sekaligus kebenaran yang berkenaan dengan hakikatnya.

Istilah haqq juga mengantung arti suatu penilaian (hukm), yaitu penilaian yang sesuai dengan hakikat atau situasi sebenarnya sesuatu. Maka ilmu yang haqq harus mengandung sesuatu penilaian yang  dimaksud. Penilaian melibatkan kepercayan bahwa ajaran agama dan mazhab pemikiran dalam Islam itu benar. Lawan dari haqq ialah bathil, artinya,lebih kurang ialah kepalsuan, sesuatu yang sia-sia, nihilistic, tidak ada manfaatnya, gagal.  Di lain hal kata-kata haqq juga mempunyai arti sebagai suatu keserasian dengan pensyaratan kearifan dan keadilan. Pengetahuan atau ilmu yang benar adalah mengandung kearifan dan keadilan. Keadilan (`adl) di sini merupakan suatu kondisi harmonis dari benda-benda disebabkan berada di tempatnya yang benar dan tepat. Sedangkan kearifan (hikmah) adalah ilmu yang dianugerahkan Tuhan dan menjadikan penerimanya mampu mel;akukan penilaian yang benar.

Manusia yang ideal dalam Islam ialah manusia berilmu yang dapat mengamalkan ilmunya, tahu tempat yang haqq dan bathil dari obyek-obyek pengetahuan yang dikenalnya, serta mampu memberi penilaian yang arif dan adil terhadap sesuatu berdasarkan hakikat sesuatu dan tempatnya yang benar di alam wujud. Haqqjuga berarti tugas atau kewajiban, dan karenanya manusia Muslim yang berilmu memiliki tanggungjawab dan kewajiban membangun kemanusiaan berdasarkan ajaran Islam.

Demikianlah telah kita kemukakan bahwa konsep Islam tentang kemanusiaan atau martabat manusia dikitari oleh gagasan-gagasan dasar seperti Makna (ma’na), ilmu (`ilm), adil (`adl), kebijaksanaan (hikmah), tindakan (`amal), kebenaran (haqq), nalar (nathiq), jiwa (nafs), kalbu (qalb), pikiran dan intelek (`aql), tatanan hirarkis dari penciptaan atau keberadaan (maratib dan darajat), tanda-tanda atau simbol-simbol (ayat) dan interpretasi (tafsir dan ta’wil).

 

Humanisme dan Adab

Suatu konsep lagi yang penting dan merupakan konsep kunci yang berkenaan dengan pentingnya pendidikan. Konsep tersebut terkandung dalam kata adab, yaitu disiplin tubuh, jiwa, kalbu dan roh. Sebagai ilmu, adab merupakan metode untuk mengenal, mengetahui dan memahami sesuatu sehingga kita berada di tempat yang benar dalam meletakkan diri kita dan memandang segala sesuatu.  Adab adalah cerminan dari kearifan dan kebijaksanaan.  Dalam hubungannya dengan masyarakat, adab ialah tatanan yang adil  dalam masyarakat manusia, yang di dalamnya martabat manusia menjadi perhatian utama. Ini dapat dikaitkan dengan arti kata asal dan dasar dari ata-kata adab  itu sendiri.

Arti kata asal dari adab ialah undangan untuk suatu perjamuan atau majlis. Di dalam gagasan ini tersirat pengertian bahwa tuan rumah adalah seorang yang mulia dan orang banyak yang diundang untuk hadir dalam perjamuan yang ia selenggarakan adalah juga semestinya orang-orang yang pantas mendapatkan kehormatan untuk diundang. Oleh karena itu mereka mestinya orang-orang yang baik dan berpendidikan sehingga diharapkan bertingkah sesuai dengan keadaan, baik dalam berbicara dan bertindak, maupun dalam etiket. Ini menunjukkan bahwa manusia yang baik menurut Islam selain beriman dan berakhlaq mulia, ia juga seorang yang berilmu.

Ibnu Mas’ud menghubungkan kata adab dalam pengertian seperti telah diberikan dengan gambaran yang diberikan al-Qur’an tentang kitab suci itu sendiri, yaitu bahwa ia (al-Qur’an) merupakan “undangan Tuhan untuk menghadiri suatu perjamuan di atas  bumi, dan kita dianjurkan ambil bagian di dalamnya dengan cara memiliki pengetahuan yang benar tentangnya”. Perjamuan yang dimaksud al-Qur’an ialah perjamuan ruhaniah dan pencapaian ilmu yang benar terhadapnya adalah memakan makanan terbaik yang dhidangkan dalam perjamuan itu.

Karena itulah para cerdik cendikia Muslim selalu mengaitkan ilmu dengan amal dan adab, dan memandang kombinasi harmonis ketiganya sebagai asas pendidikan untuk membina manusia yang baik. Sedangkan manusia yang baik adalah manusia yang ihsan dan adil.  Kaitkanlah hal ini dengan sila kedua dari Pancasila yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Sila ini dengan jelasnya menyatakan bahwa gagasan kemanusiaan yang dikehendaki rumusan Pancasila ini ialah humanisme religius seperti tercermin dalam Islam.

Adab  dikenal sebagai ilmu tentang tujuan mencari pengetahuan. Dalam Islam tujuan mencari ilmu ialah menanamkan kebaikan dalam diri manusia sebagai manusia dan manusia sebagai diri pribadi. Tujuan pendidikan dalam Islam ialah menghasilkan manusia yang baik, dalam pengertian akalnya berkembang sehat, moralnya baik, perasaan kemanusiaan dan keagamaannya luhur, beriman dan bertaqwa, serta sanggup mengamalkan ilmunya bagi masyarakat dan kemanusiaan.

Ilmu dan adab merupakan sarana penting bagi manusia untuk mencapai dan memahami martabat kemanusiaannya. Pendidikan Islam harus menekankan pada dua hal ini untuk mencapai tujuannya dalam membina manusia yang yang saleh dan cerdas dalam arti sesungguhnya. Ilmu dibagi dua sesuai sumbernya atau hubungannya dengan kitab suci al-Qur’an. Yang pertama, yang  bersumber langsung dari al-Qur’an disebut ilmu agama, meliputi: Tafsir al-Qur’an, Sunnah, Ilmu Tauhid atau teologi, Syariah, Tasawuf (metafisika Islam), dan ilmu-ilmu bahasa Arab, seperti nahu, semantic, sastra dan leksikografinya. Yang kedua, ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh manusia dengan ikhtiar akal dan inderanya, disebut Ilmu Filosofis meliputi ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan, ilmu alam dan matematika, ilmu-ilmu terapan dan tehnologi. Dalam Islam, kebenaran dan kemanfaatan ilmu-ilmu ini harus dirujuk pada al-Qur’an.

Selain itu dalam Islam kehidupan manusia tidak hanya didasarkan atas ilmu yang diperolehnya, tetapi juga atas moralitas atau akhlaq.  Namun moralitas yang di maksud bukan moralitas yang sederhana dan statis. Apa yang dikatakan Nabi kepada Ali bin Abi Thalib seperti telah dikutip di awal pembicaraan ini, dapat dijadikan acuan. Sejalan dengan itu kehidupan manusia dalam Islam mesti diarahkan agar manusia itu mampu menguasai tingkah laku moralnya sesuai dengan ketentuan-ketentuan akal dan pemahaman berdasarkan ilmu yang benar, sekaligus penuh rasa syukur terhadap Penciptanya. Moralitas tidak menyangkut makhluq lain kecuali manusia. Sebab manusia dicipta dari dua macam substansi yang berbeda berupa jasad dan jiwa. Yang terakhir merupakan kesadaran Ilahi yang murni, sumber sehala perak dan laku tubuh. Inilah bagian dari diri manusia yang dibebani tanggung-jawab atau amanah. Jiwalah yang berbuat Dario dalam dan segala perilaku  luar memberi kessasian tentang keadaan jiwa di dalam.”

Seperti dikatakan Jalaluddin Rumi, “Salat, puasa, haji dan jihad di jalan Allah  memberi kesaksian tentang iman dalam hati. Memberi derma dan sumbangan serta menghilangkan sifat kikir juga memberikan kesaksian tentang fikiran-fikiran rahasia.” Selanjutnya Rumi mengatakan, “Puasa beratrti seseorang harus mengekang diri dari makanan yang diperbolehkan dimakan, karena itu tidak diragukan lagi ia akan menmghindari makan yang dilarang. Sedekah ialah memberikan harta miliknya sendiri, karena itu jelas ia tidak akan merampok harta orang lain.

Islam tidak mengenal dikotomi kehidupan di dunia ini dan dunia sana. Yang terbaik di dunia ini adalah juga yang terbaik di akhirat. Demikian pula Islam tidak memisahkan antara urusan dunia dan urusan akhirat, urusan keagamaan dan urusan politik, seperti juga tidak memisahkan kegiatan budaya dari kegiatan keagamaan. Dalam masyarakat Barat yang sekuler kedua urusan yang berbeda itu sering dipertentangkan. Ini merupakan implikasi dari pandangan dikotomis mereka berkenaan dengan roh dan badan, yang spiritual dan yang material, yang religius dan yang duniawi. Padahal keduanya melekat sebagai sifat ganda dari manusia yang saling berkaitan satu dengan yang lain.

 

Manusia Sebagai Khalifah Tuhan

Telah dikemukakan bahwa manusia terdiri dari roh dan badan, yang dengan demikian memiliki sifat-sifat ganda yang kemudian menjadi bawaan dalam hidupnya dan sekaligus menjadi persoalan yang runcing dalam kehidupannya. Sebagai konsekwensinya manusia juga memperoleh pengetahuan yang bersifat ganda, yaitu pengetahuan mengenai dunia ini dan pengetahuan berkenaan dunia yang lain.

Pengetahuan pertama, sebagaimana dikemukakan dalam Q 2:31 (surat al-Baqarah) disebut  “pengetahuan nama-nama” (al-asma). Yang disebut pengetahuan tentang segala sesuatu di alam dunia (al-asyya’). Pengetahuan ini tidak menunjuk pada pengetahuan tentang esensi (dzat) atau tentang hal yang paling dalam (sirr) dar segala sesuatu – seperti misalnya tentang roh, sebab mengenai yang ini hanya sedikit manusia memperolehnya (lihat Q 17:85). Yang dimaksud dengan `ilm al-asma (pengetahuan nama-nama) ialah mengenai fenomena-fenomena atau kejadian-kejadian (`arad) yang dapat diindera dan sifat-sifat dari segala sesuatu yang berbeda. Ini dapat ditangkap atau dicerap melalui akal budi (mahsusat dan  ma`qulat) yang dengan itu hubungannya dapay doiketahui, begitu pula ciri masing-masing yang berbeda.

Pengetahuan lain yang lebih tinggi yang dikaruniakan kepada manusia ialah pengetahuan tentang Allah (ma`rifa). Ini kita ketahui dalam Q 7:172) ketika Tuhan berfirman, “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Ya, aku bersaksi” (Alastu bi rabbikum? Qawl bala syahidna..).  Inilah perjanjian pertama yang mengikat manusia pada Tuhan. Perjanjian itu diikrarkan sebelum manusia diturunkan ke dunia dalam bentuknya sebagai makhluq jasmani dan rohani. Dari sini kita mengetahui bahwa pengetahuan itu ditanamkan Tuhan dalam roh, kalbu dan jiwa manusia, bukan dalam badannya. Konsekwensi dari perjanjian yang mengikat itu ialah bahwa dalam hidupnya manusia akan tetap mengakui Tuhan Yang Maha Esa sebagai sasaran penyembahannya, bukan yang selain-Nya. Inilah makna Islam sebagai al-din (agama), yaitu sebagai sesuatu yang mengikat hubungan manusia dengan Tuhannya yang esa, dan ikatan itu dapat berjalan terus apabila manusia menunjukkan kepatuhannya (aslama) kepada perintah dan larangan-Nya.

Dengan demikian din dan aslama, menurut para ulama, bersifat saling melengkapi dalam diri manusia dan menjadi sifat hakiki dari manusia, yang disebut sebagai fitrah. Tujuan sejati manusia ialah melaksanakan ibadah atau pengabdian kepada Tuhan (Q 5:56), dan kewajibannya adalah ketaatan kepada-Nya, sebab itulah yang sesuai dengan fitrah manusia. Yang bertentangan dengan itu tidak sesuai dengan fitrah manusia.

Tetapi manusia juga mempunyai sifat bawaan, yaitu pelupa (nisyan). Karena itu ia disebut insan. Setelah bersaksi bahwa Tuhan hanya satu dan berjanji akan mematuhi-Nya, karena terlena oleh kehidupan dunia maka ia menjadi lupa (nasiya) untuk memenuhi kewajiban dan tujuan hakiki hidupnya. Kelupaan atau kealaian itu menjadi penyebab ketidak-taatannya pada perintah agama, dan sifat ini sangat tercela serta cenderung menjadikan manusia tenggelam dalam ketidakadilan (zhulm) dan kebodohan (jahl). Sekalipun demikian manusia dianugerahi perlengkapan rohani untuk mengingat kembali apa yang diikrarkannya pada hari perjanjian (hari Alastu) dulu. Perlengkapan itu ialah akal pikiran dan kecerdasannya untuk membedakan yang salah dari yang benar. Tetapi semua itu terserah pada manusia untuk memilihnya, dengan konsekwensi yang mesti ditanggungnya sendiri pula.

Firman Tuhan dalam al-Qur’an (2:30) menyatakan bahwa manusia telah ditunjuk menjadi khalifah-Nya di atas bumi dan kepadanya dibebankan amanat, sebuah tanggungjawab yang berat untuk mengetur dan memelihara kehidupan di dunia. Mengatur di sini bukanlah mengatur sesuai dengan kemauannya sendiri atau demi kepentingan egonya sendiri, tetapi mengatur sesuai dengan kehendak Allah dan maksud-Nya (Q 33:72). Amanah menunut pertanggungjawaban untuk bersikap dan berbuat adil terhadap alam dan seisinya, sebagaimana juga terhadap sesama manusia. Mengatur di sini tidak hanya mencakup pengertian sosio-politik, atau mengendalikan alam dan kehidupan di dalamnya secara ilmiah. Tetapi yang lebih mendasar lagi ialah, dalam konsep itu, tercakup konsep lain yang disebut tabi’ah (tabiat). Konsep ini mengandung arti “pengaturan, pemerintahan, pengendalian dan pemeiharaan diri manusia oleh dirinya sendiri”,

Dalam mengatur dan mengendalikan hidupnya itu manusia tergantung pada sifat ganda dari tabiatnya: Tabiat atau bawan sifatnya  yang tinggi ialah jiwa rasional (al-nafs al-nathiqah) dan yang lebih rendak ialah jiwa hewani (al-nafs al-hayawaniyah). Ketika Allah memaklumkan keesaan-Nya sebagai Tuhan, yang dituju ialah jiwa rasional manusia bukan jiwa hewaninya. Agar manusia memenuhi perjanjiannya dengan Allah dan sealu mmperteguh ikatan dengan perjanjiannya itu, manusia harus melaksanakannya dalam bentuk amal perbuatan dan taat menjalankan ibadah (sesuai syariah-Nya).

Kekuasaan dan pengaturan secara efektif jiwa rasional atas jiwa hewani itulah yang sebenarnya dinamakan din (agama); sedangkan yang dimaksud islam ialah kepatuhan dan ketaatan yang sadar dari jiwa hewani terhadap jiwa rasional. Oleh karema itu perilaku religius dalam Islam dikaitkan dengan kebebasan dan kesadaran jiwa rasional secara penuh untuk merealisasikan diri dan perjanjiannya dengan Allah, dan kebebasan itu berarti kekuatan (quwwa) dan kemampuan (wus’) untuk berbuat adil terhadap diri dan sesamanya, serta terhadap alam sekitarnya.

Mengenai adil atau keadilan, cerdik cendikia Muslim senantiasa merujuk kepada al-Qur;an surat al-Nahl 90: “Innal`Lahu ya`muru bi`l-`adl wa`l-ihsan” (Sesunggunya Allah menyuruh berbuat adil dan ihsan.” Seorang cendikiawan Melayu dari Aceh akhir abad ke-16 Bukhari al-Jauhari dalam kitabnya Taj al-Salatin, mengartikan bahwa adil ialah benar dalam pemikiran, pekerjaan, perbuatan, dan perkataan. Sedangkann ihsan diartikan sebagai kebajikan dalam berpikir, melahirkan pengetahuan, bekerja dan berkata-kata. Dikatakan misalnya bahwa seorang pemimpin yang adil adalah rahmat Tuhan yang tak ternilai harganya dan tanda pemimpin yang adil ialah berperikemanusiaan dan beradab, yaitu berpikir dan berpengetahuan benar tentang rakyatnya, serta berbuat benar dan berkata benar kepada rakyatnya. Semua itu dia lakukan karena mencintai rakyatnya.

Bukhari al-Jauhari mengutip kearifan yang berbunyi, “Raja yang tidak mencintai rakyatnya akan terhalang memasuki pintu sorga dan mengalami banyak kesukaran dalam meraih rahmat Allah s.w.t.”

 

Penutup

Pandangan Islam tentang kemanusiaan yang menjadi landasan ideal kebudayaan orang Islam. Landan ini dibangun berdasar Tauhid, kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah. Dalam keyakinan ini tidak ada  di alam semesta ini kekuasaan yang lebih tinggi selain kekuasaan Tuhan, begitu pula tidak ada hukum yang lebih tinggi selain Hukum Tuhan. Di hadapan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa kedudukan manusia adalah sama tanpa memandang ras, etnik, bangsa, jabatan, kedudukan, profesi, atau bidang kepakaran. Keyakinan ini yang membentuk dasar egalitarianisme islam, sebaaimana diucapkan Nabi dalam pidatonya pada haji wada’ di Mekkah pada tahun 632 M.  Isi pidato ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Hujurat 13: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian ialah yang paling bertaqwa.”

Humanisme Islam berbeda dari humanisme sekular dari Barat yang menekankan pada semangat individualistis dan karenanya keentingan individu diletakkan lebih tinggi di atas kepentingan masyarakat. Pandangan ini secara umum telah melahirkan paham seperti individualisme dan liberalisme, yang memandang perorangan dalam masyarakat sebagai atom-atom terpisah yang pertaliannya hanya disebabkan oleh hukum alam dan sejarah yang dijelmakan dalam konstitusi dengan menempatkan negara, selain individu dengan segala kebebasannya, sebagai segala-galanya. Dalam Islam kepentingan individu tidak boleh mengalahkan kepentingan masyarakat dan ummah. Karena itu Islam melahirkan paham kemasyarakatan yang berbeda di bidang politik, pemerintahan, ekonomi, dan lain sebagainya. Juga di bidang kebudayaan seperti pendidikan, tradisi seni, tradisi ilmu, pemikiran falsafah dan kessusastraan.

Berkenaan dengan masalah kemasyarakatan, seperti kekuasaan politik misalnya, terkandung pendirian bahwa kekuasaan manusia di muka bumi ini relatif. Jadi tidak mutlak dan temporal, karena itu dalam keadaan genting dan mendatangkan kerusakan harus ditentang dan boleh digugat. Bagaimana kekuasaan dapat dibangun agar tidak menjadi otoriter, bahkan totaliter, dan hegemonik? Seorang raja atau pemimpin harus dipilih berdasarkan musyawarah (syura). Ini tercermin dalam pepatah-pepatah Melayu, Minangkabau, Aceh, Bugis, Madura, dan lain-lain. Dalam pepatah Minangkabau misalnya dikatakan, “Bulat air di pembuluh, bulat kata di mufakat.” Ini diimplementasikan dalam sila ke-4 Pancasila, “Kedaulatan Rakyat yang dipimpin oleh hikmah permusyawatan melalui perwakilan”.

Ajaran Islam yang menekankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan indvidu juga terlihat dalam pandangan mengenai hak milik. Hak milik tidak boleh dianggap sebagai sepenuhnya milik pribadi atau sekelompok orang, tetapi  di dalamnya harus ada fungsi sosial yang diatur melalui prinsip amar ma`ruf. Berdasar inilah pemimpin-pemimpin Islam di Indonesia seperti H.O. S. Tjokroaminoto, K. H. Aghus Salim, Muhammad Hatta, Muhammad natsir dan Syafrudin Prawiranegara meyakini bahwa sistem kapitalisme liberal, apalagi ekonomi pasar bebas (neoliberalisme) bertentangan dengan ajaran dan nilai-nilai Islam. Bagi mereka Islam lebih sejalan dengan paham sosialisme religius, yang oleh Muhammad Hatta dirumuskan sebagai sistem Ekonomi Terpimpin. Sistem seperti itu, bilamana dilaksanakan secara konsisten,  lebih menjamin terlaksananya keadilan sosial di bidang ekonomi.

Islam disebut pula sebagai agama kitab, yaitu agama yang keseluruhan dasar aqidah dan ibadahnya, dan prinsip-prinsip muamalah dan akhlaq pemeluknya. Oleh karena itu diwajibkan bagi semua pemeluknya agar belajar membaca dan menulis. Ini mendorong budaya baca tulis berkembang dalam peradaban Islam pada masa kejayaannya, dan dengan itu mendorong  pula semangat belajar dan kegairahann mengembangkan ilmu pengetahuan, menulis kitab keagamaan dan menumbuhkan kesusastraan. Tetapi sayang budaya baca tulis ini merosot di kalangan luas umat Islam pada abad-abad ke-19 dan 20 M hingga sekarang,  kecuali dalam masyarakat-masyarakat Muslim tertentu seperti di Iran dan Mesir.

Dari apa yang telah dipaparkan itu jelas bahwa dilihat dari perspektif Islam inti kebudayaan itu ialah kecerdasan, kebajikan dan kreativitas. Yang terakhir ini tepat jika diartikan sebagai ikhtiar yang bersungguh-sungguh untuk merealisasikan tingkat kecerdasan dan kebajikan, serta penghayatan dan pemahaman terhadap ajaran agama yang kita capai dalam bentuk karya dan amal saleh. Terlaksananya itu pula didasarkan pada cinta, baik cinta kepada agama maupun cinta kepada umat dan kemanusiaan. Cinta menumbuhkan semangat ukhuwah dan solidaritas yang tinggi. Dalam kitabnya al-Muqadimah  Ibn Khaldun bahwa apa yang disebut kebudayaan ialah kondisi-kondisi kemanusiaan yang  melebihi dari apa yang sekadar diperlukan di bidang pendidikn, ilmu pengetahuan, kebajikan, pemikiran, seni, dan lan organisasi kemasyarakatan. Kebodohan, ketidakadilan dan kejahatan adalah musuh kebudayaan dan peradaban. Tingginya suatu kebudayaan ditentukan tingkat oleh kecerdasan, kepribadian dan akhlaq suatu kaum.

 

 

 

HUMANISME DALAM ISLAM (Bagian 1)

HUMANISME DALAM ISLAM

 

/Abdul Hadi W. M.

 

(Bagian I)

 

Pengantar

 

Karangan ini adalah bagian dari tiga tulisan tentang humanisme yang dikembangkan dari catatan kuliah tentang Pancasila Kefilsafatan dan Etika Politik.  Kuliah dengan pokok pembahasan Pancasila Kefilsafatan ini disampaikan  di Universitas Paramadina dan ICAS-Paramadina pada tahun 1999-2007.  Humansme adalah subyek yang diuraikan secara khusus berkenaan dengan sila kedua Pancasila. Sebagai dasar ideology NKRI, Pancasila juga merupakan sumber hukum dan paradigma budaya. Ia digali dari way of life dan system nilai, serta Weltanschauung bangsa Indonesia yang multi-etnik, multi-agama, dan multi-sejarah. Dua bagian lain dari pokok bahasan ini ialah uraian tentang humanisme Barat dan humanisme Cina. Harus diakui dan tidak bias diingkari bahwa ide-ide kemanusiaan, kemasyarakatan dan kebudayaan yang berkembang dalam kehidupan bangsa Indonesia tidak lepas dari ide-ide yang berkembang dalam agama Hindu-Buddha, pengaruh kehadiran bangsa tonghwa dan ajaran agama Islam, di samping ide-ide dari peradaban Eropa.

Pepatah mengatakan “Tak kenal maka tak sayang.” Pepatah ini juga berlaku terhadap  Pancasila seperti digagaskan dan dipahami oleh bapak pendiri bangsa (founding father) Bung Karno, Bung Hatta, K.H. Agus Salim, Abdul Kahar Muzakkir, K. H. Wahid Hasyim, Muhammad Yamin dan lain-lain yang menandatangani Piagam Jakarta pada bulan Juni 1945, dua bulan sebelum Proklamasi NKRI.  Terus tinjauan ini bersifat ideal normative, sedangkan analisis empiric dan sosiologisnya memang harus dbahas di tempat lain.

 

Akar Humanisme Islam

Di dalam Piagam Jakarta (22 Juni 1945) dinyatakan sebagai sebagai berikut:  “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang Negara Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan didorong oleh keinginan yang luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya.”

Nyatalah bahwa kemanusiaan atau humanisme yang dimaksudkan dalam Piagam Jakarta/Pancasila itu adalah suatu bentuk dari humanisme religius yang dijiwai oleh ajaran agama yang dianut penduduk Indonesia. Humanisme ini bukan hanya mengacu pada nasionalisme dan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia, tetapi juga suatu bentuk humanisme yang mengandung peri-keadilan di dalamnya terhadap segenap rakyat Indonesia (lihat sila kelima Pancasila). Keadilan tidak mungkin wujud tanpa pengakuan terhadap martabat manusia dan persamaan derajat manusia di depan hukum universal.

Piagam Jakarta mengindikasikan bahwa martabat manusia adalah sangat mendasar dan esensial dalam membangun masyarakat madani yang menghargai hak asasi manusia. Segala hak politik, ekonomi dan sosial serta seluruh nilai-nilai demokrasi pada hakekatnya adalah untuk melindungi martabat manusia dan mengembangkan kepribadian manusia.  Seorang budak yang dirampas hak asasinya, seorang kulit berwarna yang hidup di bawah kebiadaban masyarakat apartheid, sekelompok masyarakat pribumi yang hidup dibawah penindasan pemerintahan kolonial baik hak-hak politik, ekonomi dan kulturalnya seperti dialami bangsa Indonesia pada masa penjajahan dahulu, seorang wanita yang menderita karena tidak mendapat perlakuan setara dengan kaum pria, atau seorang anak/sekelompok generasi muda yang dibesarkan dalam kondisi tidak sehat, miskin dan tidak menguntungkan bagi pengembangkan potensi dirinya, semua ini tidak akan bisa memperoleh martabatnya sebagaui manusia dan tidak akan pula pribadinya berkembang,

Untuk itu harus disusun suatu sistem nilai yang mengakui keunggulan manusia sebagai hakikat kemanusiaannya, dan martabatnya sebagai dasar sistem tersebut. Inilah yang dikandung Piagam Jakarta/Mukadimah UUD 45 beserta Pancasila yang ada di dalamnya. Ternyata apa yang disusun oleh para pendiri NKRI itu sesuai dengan Piagam PBB 1948  tentang  Hak-hak Asasi Manusia. Dalam mukadimahnya Piagam PBB menegaskan:

“Kami rakyat Persatuan Bangsa-bangsa memutuskan untuk menegaskan kembali keyakinan kami terhadap hak-hak asasi manusia, terhadap martabat dan kelayakan pribadi-pribadi manusia, terjadap hak-hak persamaan antara kaum wanita dan pria dan antara bangsa-bangsa, besar atau kecil”  Selanjutnya dinyatakan, “Mengingat pengakuan terhadap martabat yang padu dan hak-hak persamaan yang tidak dapat diganggu gugat dari seluruh anggota keluarga umat manusia adalah dasar kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia…” Kalimat yang sama diulang da;am mukadimah Perjanjian Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya 1966 dan Perjanjian Internasional Tentang Hak-hak Sipil dan Politik 1966.

Pada peringatan Tahun Hak-hak Asasi Internasional 1968 di Teheran, peserta konferensi  memaklumkan deklarasi: “Adalah wajib bagi masyarakat ionternasional untuk menunaikan kewajiban yang sungguh-sungguh menjunjung tinggi hak asasi manusia serta kebebasan dasar bagi semua orang, tanpa membeda-bedakan golongan, ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik atau lainnya…Pelanggaran besar-besaran terhadap hak asasi manusia timbul dari diskriminasi ras, agama dan kepercayaan, atau pernyataan pendapat yang melukai hati umat manusia serta membahayakan dasar-dasar kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia”.

Piagam Teheran juga menyebutkan bahwa aparheid, rasialisme dan kolonialisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Hak asasi manusia dapat direalisasikan melalu pembangunan kebijakan-kebijakan besar sehingga hak asasi ekonomi, sosial dan budaya dapat dinikmati semua orang, bahwa buta hurud adalah pengingkaran terhadap hak asasi manusia, dan komersialisasi pendidikan oleh negara merupakan penyebab dari kebodohan yang bertentangan dengan kemanusiaan.

Marilah kita bandingkan dengan Hadis yang berbunyi: “Wahai Tuhan, Pemelihara hidupku beserta seluruh semesta alam: Aku menegaskan bahwa sekalian manusia adalah saling bersaudara” (Sunan Abi Daud I, 1369:211). Dalam Pidato perpisahan di Padang Arafah, Nabi Muhammad s.a. w. juga menyatakan sebagai berikut:

 

Seluruh manusia bagi Islam sama..

Orang Arab tidak lebih mulia dari yang lain

Orang Persia tidak lebih mulia dari orang Arab

Si Kulit Putih pun tak lebih mulia dari si Kulit Hitam

Tidak pula sebaliknya

Kecuali atas derajat taqwa jua,

Serta kebajikan terhadap sesamanya

Jangan beri daku darah nenekmoyangmu

Yang kuinginkan ialah kebajikan”

 

(Ahmad Imam dalam Musnad)

 

Pengakuan terhadap Keesaan Tuhan secara tersirat merangkumi pengakuan terhadap adanya saling keterkaitan antara persaudaraan dan persamaan umat manusia.

Sebuah syair sufi Melayu karangan Hamzah Fansuri pada abad ke-16 M menyatakan:

 

Hamzah Fansuri orang `uryani

Seperti Ismail jadi qurbani

Bukannya `Ajami lagi Arabi

Senantiasa washil dengan Yang Baqi

 

Suatu kali Ali bin Abi Thalib r.a. bertanya kepada Rasululllah tentang asas-asas yang mendasari perilaku utama dan kebajikan-kebajikan beliau, dan Rasulullah menjawab: “Ilmu pengetahuan adalah modalku, akal pikiran adalah dasar dasar agamaku, ingat kepada Allah adalah sahabatku, cemas adalah kawanku, sabar adalah bajuku, pengetahuan adalah tanganku, kepuasan adalah harta perolehanku, menolak kesenangan (yang berlebihan) adalah profesiku, keyakinan adalah makananku, kebenaran adalah saranak, taat adalah perbekalanku, jihad adalah kebiasaanku dan kesenangan hatiku ialah dalam mengerjakan ibadah.”

Dengan bertitik-tolak dari pernyataan-pernyataan yang telah dikutip tersebut, kita ingin membicarakan gagasan humanisme dalam Islam. Pertama, berkenaan dengan kedudukan dan martabat manusia di alam dunia selaku khalifah Tuhan dan hamba-Nya.; Kedua, manusia dalam pandangan para filosof Muslim sebagai al-haywan al-nathiq dan implikasi-implikasinya bagi kehidupan intelektual dan moral; Ketiga, hubungan gagasan humanisme dengan etika dan adab.

 

Kedudukan Manusia

Untuk mengetahui dasar-dasar humanisme dalam Islam, kita harus berpaling kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Kitab suci al-Qur’an menegaskan, “Sungguh, telah Kujadikan manusia dalam keadaan/susunan sebaik-baiknya (ahsan taqwim) (Q 94:4). Demikian, dalam pandangan Islam, manusia itu merupakan makhluq yang mulia dan paling tinggi derajatnya di antara sekalian ciptaan Tuhan. Bahkan kitab suci umat Islam itu  menegaskan bahwa derajat manusia itu lebih tinggi dari malaikat, dan manusia diciptakan dengan maksud agar malaikat bersujd kepadanya dan segala yang ada di bumi berbakti kepadanya”. Al-Qur’an juga juga menyatakan bahwa manusia dicipta sebagai khalifah (wakil) Tuhan di atas bumi dan memberinya amanat atau tanggungjawab untuk memelihara bumi.

Bumi merupakan tempat terbaik bagi manusia untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi makhluq yang paling mulia. Bumi bukanlah penjara atau tempat manusia dihukum disebabkan dosa-dosa asal yang dibuatnya selama menjadi penghuni Taman Eden.  Tetapi Tuhan dapat pula menjerumuskan manusia ke dalam keadaan afsal safilin, keadaan yang serendah-rendahnya apabila melakukan kesalahan dan mendatangkan kerusakan di bumi yang merugikan umat manusia dan kemanusiaan. Agar manusia selamat, ia tetap berpegang pada petunjuk Tuhan (wahyu) dan memiliki pengetahjuan tentang dunia dan seluk beluk kehidupan tentang dirinya dan sesamanya.

Prinsip dasar ajaran Islam ialah keimanan atas tauhid, bahwa tidak ada yang patut disembah selain Alah. Prinsip ini tidak hanya menciptakan doktrin monotheistic Islam yang khas dan utuh, tetapi juga menjamin bahwa di dunia ini tidak ada yang lebih tinggi derajatnya dari manusia. Kedudukan istimewa yang diberikan Tuhan kepada manusia ini diterangkan dalam al-Qur’an, yakni bahwa hukum kehidupan ini  telah ditetapkan oleh Tuhan kepadanya.  Hukum itu ialah bahwa sementara Tuhan menanamkan bakat bawaan yang murni (fitrah) kepada manusia untuk dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, Tuhan juga memberi kebebasan bagi manusia sebagai pribadi untuk mengembangkan dan menguji fikirannya antara kedua hal itu (salah dan benar, buruk dan baik, jelek dan indah) hingga mencapai kesimpulan akhir.

Perbuatan dan ikhtiar manusia merupakan tanggungjawab pribadi manusia itu sendiri. Firman Allah dalam al-Qur’an: “Jika mereka mendustakan kamu (ya Muhammad), katakanlah: Aku bertanggungjawab atas apa yang aku kerjakan, dan kalian pun beranggungjawab atas apa yang kalian kerjakan, sehingga kalian tidak perlu mempertanggungjawabkan perbuatan aku dan aku pun tidak perlu mempertanggungjawabkan perbuatan kalian.”( Q 10:41)

Dalam ayat lain dikemukakan,  “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum, sampai mereka sendiri mau merubah dirinya” (Q 13:11). Jadi al-Qur’an dan Nabi Muhammad s.a.w. menegaskan pentingnya ikhtiar dan kemauan bebas (freewill), kebebasan berbuat serta kemandirian bagi manusia. Dalam Islam setiap individu bisa berhubungan spiritual dengan Tuhan tanpa perantara. Kedudukan manusia begitu tingginya dalam Islam.

Hendaklah dicatat di sini bahwa ayat yang telah dikutip, khususnya berkenaan dengan kata-kata ‘diri’ dihubungkan dengan ‘keadaan’ atau ‘dunia’ di dalam diri manusia, jadi bersifat spiritual atau diri spiritual manusia. Nurcholis Madjid menerjemahkan dunia dalam diri manusia itu sebagai ‘pemikirannya’ (tentang segala sesuatu), sedangkan Kuntowijoyo memperluasnya dengan pemahaman lain. Mengubah diri adalah juga mengubah pandangan dunia (weltanschauung) , orientasinya pada nilai-nilai dan cara-cara memahami ajaran agama serta cara-cara mengaktualisasikannya dalam kehidupan pribadi dan sosial. Iqbal, sebelumnya, mengatakan bahwa yang dirubah mestinya bukan sekadar pemikiran, sistem nilai dan pandangan dunia, tetapi juga cita-cita, kehendak dan pemahamahan terhadap  diri kulturalnya. Jadi yang dirubah bukan hanya alam pemikirannya, tetapi juga kkondisi-kondisi sosial politik, ekonomi dan budayanya.

Perubahan itu tertuju pada kemajuan dan dalam Islam yang disebut kemajuan ialah “Kembali kepada asas-asas ajaran Islam yang sejati dan benar”, sebab kemajuan ke arah yang bersifat material semata-mata bukanlah tujuan bagi Islam melainkan semata-mata sebagai ‘kendaraan’ atau ‘sarana’ untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi lagi.

Kini kita kembali pada persoalan kedudukan dan martabat manusia. Para filosof Muslim seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Tufayl, al-Ghazali dan lain-lain, dalam rangka menyelaraskan falsafah Yunani yang mereka pelajari dengan ajaran Islam, telah berusaha merubah pemahaman para filosof Yunani mengenai manusia dengan memberinya dimensi-dimensi spiritual yang lebih luas dan mendasar. Ini tampak dalam perkataan al-hayawan al-nathiqا [user1]  sebuah kata-kata Arab yang diterjemahkan dari perkataan Yunani animal rational. Di sini manusia diberi definisi formal sebagai ‘animal rational’ atau ‘binatang yang berpikir”.

Definisi ini sekurang-kurangnya mengandung gagasan tentang arti ‘rasional’ sebagaimana dipahami secara umum, yaitu ‘nalar. Dalam sejarah intelektual di Barat konsep tentanng ‘rasio’ telah mengalami perubahan sedemikian rupa dalam perkembangannya, bahkan menjadi penuh dengan kontroversi dan problematic. Seacara bertahap ia dipisahkan dari ‘intelek’ (intelectus), kemampuan tertinggi manusia untuk membedakan yang salah dan benar, serta untuk mengenal kebenaran tertinggi. Para filosof Muslim tidak memahami rasio sebagai terpisah dari apa yang disebut intellectus atau al-`aql. Bagi mereka `aql merupakan kesatuan organic dari rasio dan intelectus (al-Attas 1980:37). Dengan cara demikianlah filosof Muslim mendefinisikan manusia sebagai al-hayawan al-nathiq. Di sini kata al-nathiq menunjuk pada fakulti bati manusia berkenaan dengan nalar atau kemampuan berfikir secara rasional dan intelektual, yaitu ‘merumuskan makna-makna’ (dzu-nuthuq).

Akar kata nathiq dan nuthuq mempunyai makna dasar ‘pembicaraan’, yaitu ‘pembicaraan manusia’. Setelah dibentuk menjadi kata-kata nathiq dan nuthq maka ia berarti sebagai kekuatan, atau kesanggupan dan kemampuan tertentu dalam diri manusia untuk ‘menyampaikan kata-kata dalam sebuah pola yang bermakna’. Kepada pengertian inilah apa yang diucapkan Nabi Muhammad s.a.w. kepada Ali bin Abi Thalib r.a. dapat kita rujuk,

Dari apa yang telah dikemukakan kata-kata al-hayawan al-nathiq itu dapat diartikan sebagai ‘binatang berbahasa’ sebab bahasa merupakan hasil pemikiran manusia dan berbahasa dengan baik hanya mungkin dapat dicapai dengan kecerdasan berpikir. Berbahasa berarti menyampaikan simbol-simbol linguistik ke dalam suatu pola bermakna. Penyampaian itu hanya dapat dimengerti dengan sarana kerohanian yang tertinggi yang disebut `aql. Menurut Muhmmad Naquib al-Attas, kata `aql itu sendiri pada sasrnya bermakna sejenis ‘ikatan’ atau ‘simpul’, sehingga ia bisa diberi arti sebagai ‘atribut batin manusia yang mengikat dan menyimpulkan obyek-obyek ilmu dengan menggunakan sarana kata-kata’. Ingatlah bahwa al-Qur’an juga mengatakan bahwa hanya Adam (manusia) yang dikaruniai ‘pengetahuan tentang nama-nama’ oleh Allah. Dan pengetahuan tentang nama-nama itu tidak adalah pemahaman atau pengetahuan tentang obyek-obyek menyangkut perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaannya, cirri-ciri atau sifat-sifat khususnya, keadaan dan bentuknya, serta tempatnya dalam tatanan wujud metafisis dan fisis kehidupan.

 

 

 

Seni Bergembira

Oleh : Lia Salsabila

Kenikmatan terbesar adalah kegembiraan, ketentraman dan ketenangan hati, sebab dalam kegembiraan terdapat keteguhan pikiran, produktifitas yang bagus, dan keriangan jiwa. Kegembiraan merupakan seni yang dapat dipelajari (kata banyak orang sich) artinya, siapa yang mengetahui cara memperoleh, merasakan dan menikmati kegembiraan, maka ia akan dapat memanfaatkan berbagai kenikmatan dan kemudahan hidup baik yang ada di depannya maupun yang sudah jauh di belakangnya.

Modal  utamanya adalah kekuatan atau kemampuan diri untuk menanggung beban kehidupan, tidak gentar oleh peristiwa apapun, dan tidak pernah sibuk memikirkan hal-hal kecil yang sepele. Semakin kuat dan jernih hati seseotang, maka akan semakin besar juga jjiwanya.

Diantara musuh utama kegembiraan adalah wawasan yang sempit, pandangan yang picik dan egoisme. Seperti yang dilukiskan dalam firman Allah yang artinya :

“Mereka dicemaskan oleh diri mereka sendiri” (QS. Ali Imran:154)

Orang yang  berwawasan sempit senantiasa melihat alam seperti yang mereka alami, tidak pernah memikirkan apa yang terjadi pada orang lain, tidak pernah hidup untuk orang lain dan tidak pernah memikirkan sekitarnya.

Satu hal yang mendasar adalah bagaimana mengendalikan dan menjaga pikiran agar tidak terpecah. Jika kita tidak mengendalikan pikiran niscaya ia tidak akan terkendali dan akan mudah membawa kita pada berkas-berkas kesedihan masa lalu. Dan pikiran liar itu tidak hanya  menghidupkan luka lama tetapi juga membisikkan masa depan yang mencekam, terkadang membuat tubuh gemetar, kepribadian goyah dan perasaan terbakar.

Kehidupan ini laksana sebuah permainan mengapa ia harus begitu diperhatikan dan ditangisi ketika gagal di raih…?? Keindahan hidup acapkali palsu, janji-janjinya hanya fatamorgana belaka, apapun yang dilahirkan berakhir pada ketiadaan, orang yang paling bergelimang hartanya adalah orang yang paling merasa terancam, dan orang yang selalu memuja dan memimpikannya akan mati terbunuh oleh pedang sang waktu yang pasti tiba.

Kegembiraan tidak datang begitu saja, tetapi harus diusahakan dan dipenuhi segala sesuatu yang menjadi prasyaratnya. Kehidupan dunia ini sebenarnya tidak berhak membuat kita bermuram durja, pesimistis dan lemah semangat.

Hukum kematian manusia masih terus berlaku

Karena dunia juga bukan tempat yang kekal abadi

Adakalanya seorang manusia menjadi penyampai berita

Dan esok hari tiba-tiba menjadi bagian dari suatu berita

Ia dicipta sebagai makhluk yang senantiasa galau nan gelisah

Sedang engkau mengharap selalu damai nan tentram

Wahai orang yang ingin selalu melawan tabiat

Engkau mengharap percikan api dari genangan air

Kala engkau berharap yang mustahil terwujud

Engkau telah membangun harapan di bibir jurang yang curam

Kehidupan adalah tidur panjang, dan kematian adalah kehidupan

Maka manusia diantara keduanya; dalam alam impian dan khayalan

Maka, selesaikan segala tugas dengan segera, niscaya umur-umurmu

Akan terlipat menjadi lembaran-lembaran sejarah yang akan ditanyakan

Sigaplah dalam berbuat baik laksana kuda yang masih muda

Kuasailah waktu, karena ia dapat menjadi sumber petaka

Dan zaman tidak akan pernah betah menemani anda, karena ia akan selalu,

Lari meningggalkan anda sebagai musuh yang menakutkan

Dan karena zaman memang dicipta sebagai musuh orang-orang bertaqwa.

Semua itu kenyataan, maka kita hanya berkewajiban mengurangi dan bukan menghilangkan kesedihan, kecemasan dan kegundahan sebab kesedihan itu akan sirna bersama akar-akarnya hanya di surga

Dikutip dari buku

La-Tahzan

Semoga bermanfaat…Amien…..

Hari Ini Milik Kita

Oleh : Lia Salsabila

Jika kita ada di pagi hari, jangan pernah menunggu sore tiba, hari ini yang kita jalani bukan hari kemarin yang telah lalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan bukan juga esok hari yang belum tentu datang.

Kita tidak pernah tau umur kita sampai kapan, mungkin tinggal hari ini siapa tau…???

Anggap hidup kita hanya tinggal hari ini, atau kita seolah dilahirkan hari ini dan mati hari ini juga dengan begitu kita tidak akan tercabik-cabik diantara gumpalan keresahan, kesedihan, dan duka masa lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidak pastian dan acapkali menakutkan.

Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian dan kebencian.

Tuliskan pada dinding hati kita “Harimu adalah hari ini”

Jika kita bias minum air jernih dan segar hari ini mengapa harus bersedih atas air asin yang kita minum kemarin atau mengkhawatirkan air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi..???

Jika kita punya prinsip “Aku hanya akan hidup hari ini” pastilah kita akan menyibukkan diri setiap detik untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan semua potensi dan mensucikan setiap malam.

Karena hanya akan hidup hari ini, maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Robb, mengerjakan sholat sesempurna mungkin, berpegang teguh pada Al-Qur’an, mengkaji dan mencatat segala yang bermanfaat. Aku akan menanam dalam hatiku semua nilai keutamaan dan mencabut pohon-pohon kejahatan berikut rantingnya yang berduri, baik sifat takabur, ujub, riya’ dan buruk sangka.

Aku hanya akan hidup hari ini, maka aku akan mengucapkan “wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu aku tak akan pernah menangisi kepergianmu dan kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedetikpun tuk mengingatmu, pergilah jangan pernah kembali”

“Wahai masa depan, engkau masih dalam kegaiban, maka aku tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Akupun tak akan memburu sesuatu yang belum tentu ada, karena esok mungkin tak ada sesuatu, esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan dan tidak ada satupun darinya yang dapat disebutkan

“Hari ini Milik Kita” ungkapan paling indah dalam “Kamus Kebahagiaan”

Semoga bermanfaat…..Amien….

Dikutip dari buku

La-Tahzan


Mencipta Kesadaran dan Kebahagiaan Melalui Pikiran

Oleh : Lia Salsabila

“Dimana pikiran tertuju , di sanalah energi mengalir”

“Orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami Allah” kemudia mereka meneguhkan pendirian mereka. Malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata, “janganlah kamu merasa takut dan merasa sedih. Gembirakan mereka dengan memperoleh surga yang dijanjikan Allah padamu” (QS Fuslihat-41:30)

“Pikiran bagaikan tanaman, kalau kita tidak pandai merawatnya yang muncul adalah ilalang”. Kita harus bersyukur karena lahir sudah memiliki otak yang didalamnya terdapat pikiran. Terkadang kita hidup masih dibatasi oleh pikiran kita sendiri, namun ironisnya,  kita terjebak didalamnya. Sebagai contoh “Tidak mungkin buat saya…, Saya tidak bisa…, Saya belum berpengalaman…, Saya terlalu tua…dll.

Mari kita bayangkan diri kita masing masing. Diri kita seperti pemilik rumah yang tidak bisa keluar karena banyak rantai yang menggembok pintu rumah itu. Coba di ingat kata kata diatas terjadi ketika kita masih sangat kecil atau bahkan hingga saat inipun itu masih terjadi. Sebaik apapun peluang yang ada didepan kita, seindah apapun pemandangan yang diberikan Allah kepada kita kalau kita terbelenggu oleh pikiran kita sendiri, hanya penyesalan yang akan menjadi teman setia kita sepanjang masa. Siapapun yang mampu menjadi raja atas pikirannya sendiri dan mampu menguasai hatinya dialah raja sejati (you are the king).

Plato pernah berujar bahwa alam kita memiliki dua, satu adalah alam riil (zhahir) dan satu lagi alam ide (bathin). Apa yang kita dapatkan dalam alam nyata kita sebenarnya tergantung pada seberapa besar kita melihat alam ide kita. Alam ide (pikiran) adalah alam yang sesungguhnya. Kalau kita sekarang memegang meja itu karena alam ide kita telah berhasil menciptakan bentuk meja. Dengan kata lain, filosof Plato memberikan kesimpulan penting bahwa alam ide (pikiran ) adalah alam kreativitas manusia.

Sebagai seorang manusia sejati, kita tidak hanya pandai menjaga hati seperti lagu Aa Gym “Jagalah hati, jangan kau kotori”, Namun kita juga harus pandai bagaimana menjaga pikiran. Allah menciptakan manusia sebagai khalifah memiliki pikiran yang sangat luar biasa. Dalam Esoteric thinking, ada empat sifat kesadaran pikiran :

  1. Irrational (sesuatu yang tidak bisa masuk akal)
  2. Rational ( intelektual kita mampu memahami)
  3. Superrational (sangat bisa dipahami oleh intelektual)
  4. Suprarasional (intelektual kita belum mampu memahami untuk saat ini dan tidak mustahil dapat memahami pada waktu yang lain)

Misteri kehidupan ini tidak hanya telah diterjemahkan oleh rational, namun jauh dari apa yang sudah diterjemahkan. Banyak sekali misteri kehidupan ini yang bersifat suprarasional. Hal ini sejalan dengan keyakinan terhadap kehidupan akhirat yang merupakan hal yang sangat suprarasional.

Kalau dulu manusia hanya melihat pikiran adalah sebuah otak yang beratnya tidak sampai 1 kg, kini, manusia yang  telah menemukan kesadaran memiliki pandangan bahwa otak adalah cahaya ilahi yang berada dalam syaraf manusia, dia bisa mencerahkan apabila dijaga dengan baik sekaligus menggelapkan jika ditelantarkan.

Pikiran akan melahirkan nasib seseorang, diawali oleh pikiran positif lalu ucapan bijak, dilanjutkan dengan perilaku yang baik sampai menjadi kebiasaan yang mengagungkan.

Cahaya dalam pikiran adalah anugrah termahal yang dimiliki manusia, dia akan selalu bersinergi dengan mutiara lain yang dimiliki manusia yaitu badan, hati dan jiwa. Ketiganya terus sejalan dalam sinkronisasi kehidupan , seperti jagad raya yang selalu harmonis dari masa ke masa.

Harmonisasi dan sinkronisasi adalah sunnatullah (hukum alam) yang tidak bisa ditawar. Hanya manusia yang rendah kualitasnya yang ingin berjalan paling sombong di muka bumi, lihatlah langit walauun diatas sana tetap setia berjalan seimbang bersama bumi, lihatlah matahari, walaupun dia berada diatas sana namun tetap setia member kehangatan kepada makhluk bumi. Kerendahan hati dan harmonisasi alam semesta mengajarkan kita akan keindahan hidup yang penuh makna dan arti.

“Kita bisa berfikir negative dengan mengatakan bahwa mawar itu ada durinya, atau sebaliknya, kita bisa berfikir positif dengan mengatakan bahwa duri itu ada mawarnya”.

Daftar pustaka

The Heart of 7 Awareness karya Nanang Qosim Yusuf

TAOISME: AJARAN DAN KONSEP-KONSEP KUNCI

Oleh : Abdul Hadi W. M.

Taoisme merupakan aliran falsafah penting di Cina sesudah Konfusianisme. Bentuk ajarannya yang awal dinisbahkan kepada Lao Tze dan Yang Chu. Tetapi sebagai faham falsafah, Taoisme baru dikenal pada abad ke-1 SM. Yang pertama kali menyebut sistem ini sebagai madzab falsafah ialah Ssu-ma Ch`ien dalam bukunya Shih Chi (Rekaman Sejarah). Sudah tentu sebelum abad ke-1 SM Taoisme telah berkembang dan dasar-dasar pokok ajarannya telah dirumuskan oleh para pendirinya.
Yang menjadi persoalan hingga kini ialah siapa sebenarnya pengasas pertama Taoism. Ada yang mengatakan Yang Chu (440-366 SM). Tetapi ada pula yang memandang Lao Tze yang hidup sezaman dengan Kon Fu Tze. Perkiraan bahwa orang pertama yang mengajarkan Taoisme adalah Yang Chu sebagian didasarkan pada dugaan bahwa kitab Tao Te Ching baru disusun pada abad-abad kemudian, lama sesudah wafatnya Lao Tze yang dipandang sebagai penulis kitab induk Taoisme. Tetapi beberapa sarjana seperti Creel meragukan bahwa ajaran Yang Chu benar-benar bercorak Taois, Creel sependapat dengan kebanyakan sarjana sastra Cina yang meyakini bahwa pendiri Taoisme adalah Lao Tze. Yang diajarkan Yang Chu hanyalah semacam naturalisme mistis, yaitu persatuan manusia dengan alam. Namun ajaran itu tidaklah lengkap sebagaimana ajaran Lao Tze. Dalam falsafah naturalismenya Yang Chu, sebagaimana Lao Tze sebelumnya, mengajarkan perlunya hidup bersahaja dan selaras dengan alam. Ia menolak hedonisme material yang merajalela pada zamannya.
Sebagai sistem falsafah, Taoisme sering dianggap sebagai falsafah mistik, bahkan sebagai salah satu bentuk mistisisme tertua di dunia yang berpengaruh hingga abad ke-20. Ia berbeda dari Konfusianisme yang menekankan pada persoalan manusia sebagai anggot sosial, kehidupannya dalam etika dan politik. Taoisme menaruh perhatian besar terhadap persoalan metafisika dan persatuan mistikal antara manusia dengan alam. Sebagai ajaran falsafah, Taoisme dirumuskan secara mantap oleh Chuang Tze, penafsir Tao Te Ching, kitab falsafah berbentuk puisi yang dinisbahkan kepada Lao Tze sebagai pengarangnya.
Sebagai ajaran falsafah, Taoisme dimulai dengan skeptisisme. Skeptisisme ini timbul dari kekecewaan terhadap keadaan masyarakat dan situasi politik di Cina pada abad ke-5 M. Pada masa itu banyak sekali peperangan dan pembrontakan. Korupsi dan penyelewengan merajalela. Raja-raja, bangsawan dan panglima-panglima perang hidup penuh kemegahan dan kemewahaan di atas kesengsaraan rakyat. Menurut para penganut Taoisme, peradaban hedonistis dan materialistis telah merusak kehidupan manusia. Untuk memulihkan peradaban yang sedang sakit manuia perlu kembali kepada alam dan menyatu dengan alam.
Pernyataan kekecewaan itu tampak dalam sindiran Chuang Tze: “Bekerja membanting tulang seumur hidup tanpa pernah melihat hasilnya, dan bersusah payah bekerja keras tanpa mengetahui apa yang akan dihasilkan – bukankah yang demikian itu sangat menyedihkan? (Legge 1927: I.390.)
Tampaknya Taoisme merupakan sistem falsafah yang mengajarkan pesimisme. Namun hal ini disangkal oleh banyak ahli sejarah falsafah Cina. Justru menurut mereka adalah sebaliknya, Taoisme malah mengajarkan optimisme. Tetapi sebelum kita membahas sistem falsafah ini sepatutnya kita mengetahui dulu beberapa istilah dan konsep kunci yang dikemukakan para penganjurnya.

Tao atau Jalan Kebajikan
Tao secara harfiah berarti jalan yang dilalui seseorang dalam perjalanannya. Konfucius memberi arti sebagai jalan atau cara bertindak yang benar dan penuh kebajikan dalam kehidupan moral dan politik. Dalam pengertian ini kata-kata Tao tidak mengandung makna metafisik. Bagi Lao Tze berbeda, tao memiliki pengertian metafisik. Lao Tze mengartikannya sebagai asas yang menyusun segala sesuatu. Ia sederhana, tanpa bentuk, tanpa gerak, tanpa hasrat, tanpa upaya. Ia ada sebelum adanya langit dan bumi. Karena adanya penciptaan dan berkembangnya peradabam, manusia kian jauh dari Taom jalan yang benar dan penuh kebajikan spiritual. Karena itu manusia semakin jauh dari kebahagiaan.
Tao ibarat kendi penuh walau pun kosong. Darinya orang dapat menimba air tak habis-habisnya dan tidak perlu mengisinya lagi. Demikian ia, begitu luas dan alam tidak terhingga. Tidak tampak yang paling tua di antara adanya. Semua karam di dalamnya, pucuknya sekalipun rata di sana. Perkara-perkara paling rumit pun sirna. Cahaya kemilau rata menyebarkan keriangan. Segala yang mustahil kembali menuju kesederhanaan. Setenang alam baka ia. Tak tahu aku putra siapa dia.
Huruf Cina untuk Tao terdiri dari ‘kepala’ yang melambangkan orang yang mengetahui dan pada bagian lain terdapat simbol orang yang sedang melakukan perjalanan. Setelah berkembangnya ajaran Lao Tze, ia diberi arti sebagai jalan atau asas bekerjanya alam semesta dan dunia dalam perputaran kehidupan. Dalam perjalanan atau perputaran itu, tammpak tanda-tanda menuju ke arah Hakikat asal, dari mana segala sesuatu bergerak kembali.
Tao kadang merupakan kata kerja dan kata benda, misalnya dalam baris pertama sajak pertama Tao Te Ching.

Jalan (Tao) yang dapat dijalani atau ditempuh bukan jalan abadi
Nama yang dapat diberi nama bukan nama yang sesungguhnya

Tao juga diberi makna sebagai Deitas (Dzat Ilahiyah), yaitu keadaam Sang Pencipta sebelum turun ke alam penciptaan.

Te atau Kebajikan
Te diberi arti kebajikan, watak, pengaruh dan kekuatan moral. Huruf untuk kata Te tersusun dari ideograf : (1) Pergi; (2) Tegak; (3) gambar yang berarti Hati. Secara bersama-sama artinya ialah dorongan yang digerakkan oleh keteguhan batin. Dalam kamus bahaa Cina abad ke-2 M Shuo Wen chieh Tzu (Keterangan mengenai kata-kata dan analisis huruf Cina), Te ditakrifkan sebagai ‘pengaruh lahir seseorang dan pengaruh batin dari diri’.
Berdasarkan arti ini kemudian Te dipahami sebagai kebajikan rohani, falsafah, hikmah atau kearifan yang tinggi.

Wei Wu Wei
Wei wu wei adalah ungkapan paradoksal yang merupakan kunci mistisisme Cina dan tidak dapat diterjemahkan secara harafiah. Wei artinya berbuat, bertindak, tetapi kadang berarti lain, tergantung cara mengatakannya. Wu artinya negatif, tidak, tanpa. Terjemahannya secara maknawi ialah “Berbuat tanpa bertindak’. Dikenakan pada seseorang berarti: diam, tenang, pasif, pasrah sehingga mencapai Tao, hakekat terakhir, alam wujud. Artinya: bertindak melalu Tao tanpa upaya kesadaran diri. Juga berarti hanyut dalam persatuan dengan alam, yang dengan itu memperoleh kesadaran semesta.
Ungkapan wei wu wei dijumpai banyak dalam kitab Tao Te Ching. Tentang wu wei misalnya dapat disimak dalam sajak 37 dan 43.

Jalan adalah kekal dan tidak bertindak (wu wei)
namun tiada sesuatu apa pun yang tak bergerak
disebabkan olehnya
Kalau raja dan pangeran dapat memeliharanya
segala benda akan berkembang dengan sendirinya
Jika perkembangan ini menimbulkan keinginan
kami akan mencegahnya dengan ‘kemurnian tak bernama’
itulah kiranya yang takkan menimbulkan keinginan
Tanpa keinginan dan dengan ketenangan
seluruh dunia dengan sendirinya akan menjadi beres

(TTC 37)

Yang terlembut di kolong langit
dapat menembus yang terkeras di kolong langit
berasal dari yang tidak berwujud
ia dapat memasuki barang tidak bersela-sela
inilah sebabnya ia diketahui
tidak bertindak itu ada gunanya
Mengajar tanpa berkata
berguna tanpa bertindak
di kolong langit jarang yang mencapainya
Untuk belajar, tiap hari harus bertambah
untuk mengikuti ‘Jalan’ tiap hari hari harus berkurang
berkurang dan terus berkurang
sehingga sampai pada tidak bertindak
tidak bertindak, namun tiada sesuatu yang tak dikerjakan
Maka itu:
memperoleh dunia
selamanya tanpa usaha
siapa yang berusaha
takkan dapat memperoleh dunia

Tzu-jan
Tzu artinya diri. Jan artinya terbang. Tzu Jan diartikan membiarkan diri bertindak spontan berdasarkan intuisi. Versi yang positif daripada perkataan wei wu wei. Dalam kitab Tao Te Ching, alam selalu diambil sebagai kiasan untuk menggambarkan kehidupan seseorang. Misalnya:

Lihatlah bunga lili di padang, bagaimana ia tumbuh?

Maksudnya: kembang lili itu tumbuh secara spontann, mengikuti jalannya sendiri. Begitu pula halnya dengan kebajikan sejati, orang yang mengikuti Tao bertindak spontan berdasarkan gerak batin.

P’o atau Sejenis Pohon
P’o ialah sejenis pohon, diartikan sebagai balok kayu yang masih alami, belum diolah. Maksudnya tidak artifisial, tidak dibuat-buat. Yaitu keadaan sesuatu yang masih alami, substansial, sederhana. Dikenakan kepada manusia ialah ikhlas, jujur. Apabila digunakan sebagai istilah tehnis mistisisme, berarti, “Alam yang belum disentuh pengaruh luar”. Atau bila dikenakan pada manusia, ialah orang yang menyingkirkan kebiasaan-kebiasaan artifisial yang diperoleh dari peradaban, sehingga kembali murni dan tulen.

Pu Shih
Secara harfiah berarti menjadi bebas, tidak tergantung, menjadi mandiri, tidak banyak terlibat dengan perkara-perkara duniawi yang mudharat. Dalam Taoisme diartikan sebagai segala ungkapan yang lahir dari wu wei, seseorang yang berjiwa bangsawan sejati dan tidak terikat kepada kepentingan diri/duniawi.

Wu Ming
Arti harfiahnya tanpa nama dan tanpa rupa. Sesuatu bias diberi nama apabila tidak berupa. Istilah paradoksal ini digunakan untuk menjelaskan Tao dan dampak darinya, yang biasanya menunjuk pada keunikan atau kekhasan sesuatu. Sesuatu yang tidak memiliki kekhasan sendiri dapat diberi nama. Tetapi Tao tidak bisa diberi nama, oleh karena itu ia khas atau unik. Tidak ada nama dapat diberikan kepadanya dan Tao tidak dapat diuraikan.
Dalam sajak 1 kitab Tao Te Ching dijelaskan seperti berikut:

Jalan (Tao) yang dapat digunakan sebagai jalan
bukanlah jalan yang kekal
Nama yang dapat digunakan sebagai nama
bukanlah nama yang kekal
‘Tanpa nama’ (wu ming) ialah awal Langit dan Bumi
‘dengan nama’ ialah ibu segala benda
Maka itu:
‘tetap tiada’ kalau kita ingin menyatakan rahasianya
‘tetap ada’ kalau kita ingin menyatakan kewujudannya
keduanya asalnya sama
walau namanya beda
keduanya bersama-sama disebut gaib
lebih gaib dari gaib
pintu semua rahasia

Ai
Arti harfiahnya ialah cinta. Dalam kitab Tao Te Ching disamakan dengan Tao atau jalannya Langit. Juga diartikan sebagai tujuan sejati kehidupan di alam raya.

Sheng Yen
Orang bijak atau arif. Sheng, secara etimologis berarti kewajiban mendengar kata-kata arif dan berkata-kata menurut apa yang didengar dari orang arif. Sheng yen bukan orang suci, tetapi orang yang mencintai kearifan atau hikmah/falsafah.

Ti`en
Sering diartikan sebagai Tuhan, Langit atau Kayangan tempat tinggal dewa-dewa. Kon Fu Tze mengartikannya sebagai Tuhan. Mo Tze, Chuang Tze dan lain-lain mengartikan Tuhan dan Langit. Jika yang dimaksudkan Tuhan, maka arti dari kata Ti`en sangat anekaragam. Seorang pengikut Konfucianisme akan memberi arti yang berbeda dengan pengikut Buddhisme. Kadang-kadang Tuhan dimengerti sebagai kekuasaan gaib yang bersifat anthromorfis dan personal. Pengertian Tuhan yang personal lebih tinggi. Tetapi kadang-kadang perkataan T`en digunakan dalam arti Tuhan yang benar-benar impersonal. Dalam kitab Tao Te Ching Ti`en diartikan sebagai Tuhan yang berpribadi, tetapi tidak jarang yang dimaksudkan ialah Langit atau Tuhan yang impersonal. Ini karena dalam mistisisme Cina seperti Taoisme, pengertian Tuhan – sebagai deitas dalam agama Kristen, Allah dan Dzat Maha Tinggi dalam Islam, Brahman atau Parama Brahman dalam agama Hindu – tidak dikenal.
Dalam sajak 25 Tao Te Ching misalnya dikatakan:

Aku tidak tahu apa nama-Nya
Sebuah nama pun tak tahu, sebab ia adalah Tao
Untuk sekadar menandai-Nya
Kusebut Dia sebagai Yang Maha Besar
Yang Maha Besat artinya tidak terjangkau
Tempatnya tinggi dan begitu jauh
Sangat dan sangat jauh, tempatnya di asal muasal

Mengikuti pengertian ini, Tao atau jalannya Langit dipandang bukan sekadar kodratnya Tao itu sendiri, tetapi juga sebagai Tao-nya atau Jalan-Nya Tuhan. Ini dikemukakan dalam sajak 77 dan 81. Dalam bagian lain dari Tao Te Ching, Tao diartikan seolah-olah sebagai ‘tirai yang menghalangi kita melihat keberadaan Tuhan’.

Tao sendiri seperti sesuatu
Yang kelihatan dalam mimpi
Di dalamnya ada gambar, tetapi mudah menghilang
Di dalamnya segala sesuatu
Seperti bayangan kala senja hari
Di dalamnya inti pati, lembut tetapi nyata
Tersembunyi dalam kebenaran

Di dunia ini
Bandingkan Tao
Dengan anak panah yang melesai
Jatuh ke air sungai atau lautan

Dalam bagian lain dikatakan:

Dipandang tak terlihat, disebutnya halus
didengar tak bersuara, disebutnya lembut
diraba tak terpegang, disebutnya lumat
Ketiganya tak dapat diteliti lagi
mereka bercampur menyatu
Atasnya tidak terang
bawahnya tidak gelap
berkesinambungan tanpa dapat diberi nama
kembalilah ia pada wujud nirbenda
Inilah yang disebut kesuraman
disongsong tak terlihat kepalanya
dikejar tak terlihat punggungnya
Berpangkal pada jalan lama
Untuk membincangkan keadaan sekarang
untuk mengerti asal mula zaman dahulu kala
inilah yang disebut dasar ‘Jalan’.

Te: Kebajikan Menurut Taoisme
Penganut Taoisme menggunakan perkataan te untuk menyebut system falsafah atau dasar-dasar mistisismenya. Kata-kata ini sering diberi arti sebagai ‘virtue’ atau ‘kebajikan’. Namun pengertian kebajikan sebagaimana dimaksud oleh filosof Taois tidak sama dengan pengertian yang dimaksud filosof Konfusianis. Kebajikan menurut penganut Taisme merujuk kepada sifat-sifat atau kebajikan-kebajikan yang bersifat alami, bukan kebajikan-kebajikan etis yang bercorak kemasyarakatan. Kebajikan-kebajikan yang bersifat alami itu disebut juga sebagai kebajikan yang bersifat asli dan naluriah, dan berlawanan dengan kebajikan-kebajikan yang ditopang oleh pandangan social dan tingkat pendidikan yang diperoleh seseorang dari sekolah formal.
Sesuatu yang asli atau alami adalah sesuatu yang selalu baik sepanjang zaman dan memiliki daya tarik bagi manusia di seluruh dunia. Keaslian yang dimaksud kaum Taois ialah kesederhanaan atau kebersahajaan. Hidup bersahaja merupakan jalan yang terbaik untuk kembali kepada Tao. Bagaimana cara melakukannya? Chuang Tze menjawab melalui sajaknya:

Sepuluh ribu perkara telah terjadi
Dan kusimak kembali semuanya
Betapa pun segala ini menjulang tinggi
Masing-masing akan kembali ke akarnya yang asli
Itu sudah suratan takdir
Polanya sudah pasti tanpa akhir
Mengenal pola perjalanan kejadian yang abadi
Berarti mendapat pencerahan
Ia yang tidak mengetahui hal ini
Akan layu disebabkan kemalangan
Ia yang tahu pola yang abadi akan menopang pola itu
Serta akan menjadi adil
Adil menjadikan dia bangsawan mulia
Bangsawan mulia seperti dewa-dewa
Serupa dengan dewa, dengan Tao
Ia akan seia sekata dan membuatnya baik
Serta tidak akan sirna
Walaupun jasadnya lenyap di lautan kehidupan
Ia akan luput dari segala gangguan

Salah satu ajaran Taoisme yang penting ialah mengenai kenisbian atau relativisme.

Contoh kenisbian dalam kehidupan makhluq dikemukakan antara lain dalam Kitab Chuang Tze dikemukakan, “Jika seorang tidur di tempat basah, ketika bangun punggungnya akan merasa sakit dan merasa akan mati; tetapi apakah juga demikian halnya dengan seekor belut? Jika seorang mencoba hidup di atas pohon, ia tak akan sadarkan diri sebab ketakutan; tetapi apakah demikian pula halnya dengan seekor monyet?”
Kenisbian juga berlaku dalam masalah etika. “Mengenai yang betul dan yang salah, “Demikian halnya” dan “tidak demikian halnya’…Jika yang betul itu betul, maka tidak ada alasan untuk berbantah mengenai kenyataan bahwa ia berbeda dari yang salah; jika ‘demikian halnya’ benar-benar demikian halnya, mengapa kita harus berbantah mengenai apa sebab berbeda dari ‘tidak demikian halnya’? Terlepas dari apakah berbagai pendirian yang berbeda itu serasi atau tidak serasi, bukankah lebih baik kita menyelaraskannya di alam semesta yang mencakup segala-galanya, dan membiarkannya mengikuti jalannya masing-masing?”
Bagi Chuang Tze, manusia hendaknya berusaha mementingkan pengetahuan diri atau pengetahuan mengenai diri dan mencari kebahagiaan dan kepuasaan diri, dibanding memburu benda-benda yang tak jarang mengasingkan manusia dari dirinya dan berakhir dengan kerisauan dan ketakpuasan. Asas untuk mengenal diri ialah mengenal orang lain dan hakikat universal manusia.
Dalam Tao Te Ching ditulis:

Memahami orang lain adalah hikmah
Memahami diri sendiri berarti mendapat pencerahan
Mengatasi orang lain artinya berkuasa
Mengatasi diri sendiri maknanya perkasa

Dikatakan pula:
Yang paling banyak hartanya
Akan paling berat merasa kehilangan
Yang puas tidak akan cedera
Yang cukup bijak untuk berhenti dengan tulus
Akan sanggup menahan derita

Tambahan lagi:
Tiada kemalangan lebih besar dibandang buta tergadap makna
Tiada bencana lebih gawat dibanding keinginan mendapatkan lagi
Jika pernah lega disebabkan benar-benar puas
Menjadi yang lain takkan memuaskan hati.

Lantas apa yang harus dikerjakan? Jangan berbuat apa-apa. Kata Chuang Tze: “Gerak Langit dan Bumi berjalanan menurut tatanan yang mengagumkan, namun tidak pernah memperkatakannya…Manusia arif menembus rahasia tatanan Langit dan Bumi, dan memahami sepenuhnya asas-asas alam. Demikian manusia sempurna sesungguhnya tidak berbat apa-apa; dan manusia besar yang arif tidak menyimpang sedikit pun; artinya, mereka sekedar merenungi alam semesta dan mengikuti tertib tatanannya.” Konsep wei wu wei (berbuat dengan tidak berbuat) berkaitan dengan ungkapan ini.
Taoisme menekankan pentingnya pengetahuan intuitif dan ekstase mistik. Jalan yang harus diikuti ialah bersikap tidak aktif dan tenang. Tidak banyak bicara akan lebih baik dibanding banyak ngomel.
Kebijakan menarik dan dalam maknanya dapat disimak dalam ungkapan ini:

Kata-kata yang benar tidak berbunga
Kata-kata berbunga pada hakikatnya tak benar
Manusia baik tak akan bersengketa
Mereka yang bersengketa tak baik sifatnya
Manusia bijaksana tidak pandai
Dan mereka yang pandai tidak bijaksana

Bilamana kita tidak lagi mengejar ilmu, maka segala kesulitan akan sirna, “Buang kearifan, tinggalkan kebijaksanaan, maka rakyat akan seratus kali lebih baik keadaannya.”

Mengapa Aku Menulis

Oleh : Lia Salsabila

“Menulis”, menurutku adalah  tindakan menuangkan hasil pemikiran dari apa yang dilihat atau dirasakan baik itu tentang religi (keagamaan), lingkungan sosial, kebudayaan dan semua pengalaman pribadi yang pastinya menyangkut emosi/rasa yang ada di dalam jiwa kita. Belakangan ini, semakin banyak orang yang tertarik dengan kegiatan “menulis”, mungkin karena keabsahan menulis sama saja seperti orang bekerja pada umumnya. Ada beberapa alasan yang ingin aku ungkapkan mengapa aku menulis.

Telah kita ketahui bahwa wahyu Allah yang pertama  adalah  Iqra’ (bacalah), maka sebagai umat muslim saya pun mengikuti perintah tersebut, membaca semua hal yang ingin kubaca (insyaallah hal yang bermanfaat) untuk memenuhi keingin tahuan pikiran  tentang sesuatu. Namun, karena kita hanya manusia biasa yang serba terbatas, pastilah memori di dalam otak kita lama-lama akan menjadi aus oleh banyaknya beban dan juga usia. Maka, dengan menulis aku bisa membaca kembali apa yang dulu pernah kubaca manakala lupa. “dan menulis obat bagi lupa, tali ingatan untuk usia” penggalan puisi SAF.

Dengan menulis, kita bisa menunjukkan eksistensi diri terutama terhadap diri pribadi (sebagai wujud syukur kepada Allah karena telah dianugerahi kemampuan membaca dan menulis), kepada keluarga, teman, masyarakat, Negara, dunia dan juga semesta. Dengan menulis dan membuat sebuah karya maka aku ada.

Dengan menulis, kita dapat berekspresi dengan bebas dan total terhadap apa yang kita lihat dan rasakan, semisal tentang agama, cinta, kedamaian, penindasan, kemiskinan, mengkritisi hal-hal yang berbau politik dengan menggunakan gaya penulisan yang sesuai dengan kepribadian dan kecenderungan kita dan terkadang menjadi ciri khas kita. Jadi dengan menulis kebutuhan untuk berekspresi bisa tersalurkan dengan baik dan bermanfaat.

Menulis buatku adalah sebuah terapi hati dan pikiran, dimana dengan menulis aku bisa menuangkan semua pengalaman yang aku alami baik ke dalam sebuah catatan harian, essai, puisi, ataupun cerpen dengan harapan kelak bisa menjadi sebuah bacaan yang bermanfaat untuk sebuah pembelajaran (cerminan)

Dengan menulis aku berlatih untuk berfikir secara sistematis, karena tulisan yang kita hasilkan harus mampu dipahami oleh pembaca, dan harus bisa dipertanggung jawabkan keabsahannya (keakuratan data) untuk penulisan karya non fiksi. Sedangkan untuk karya fiksi alur cerita harus mempunyai unsur kronologis, karena tanpa itu semua pembaca akan kesulitan untuk memahami karya tulis kita.

Dengan menulis kita  bisa memberikan kritikan dan masukan yang bermanfaat terutama untuk diri sendiri maupun pembaca dengan harapan dapat memperbaiki perilaku penulis sendiri ataupun para pembaca. Kebiasaan mengkritisi ini pun akan membentuk karakter penulis menjadi pribadi yang jujur, karena kejujurlanlah modal utama untuk menjadi seorang penulis besar.

Keabsahan menulis sama saja seperti orang bekerja pada umumnya, dan profesi penulis juga sangat menjanjikan sebagai sumber kehidupan, seperti contoh JK Rowling kini menjadi wanita terkaya di dunia setelah sukses menulis buku “Harry Potter”. Jadi tak ada salahnya kan menjadikan penulis sebagai profesi.

Menulis buatku adalah gerbang menuju keabadian, karena dengan menulis aku dapat menembus dimensi ruang dan waktu.  Dengan menulis aku bisa menuangkan semua yang ada dalam pikiran.

Cinta Yang Membebaskan

memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang yang kita cintai untuk tumbuh menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya. Cinta itu indah , karena ia bekerja dalam ruang kehidupan yang luas. Dan inti pekerjaannya adalah

Cinta … Laksana badai topan kau tak melihatnya, tapi kau merasakannya. Ia begitu dahsyat sampai kadang tidak dapat ditembus oleh pikiran yang paling sehatpun. Itulah cinta , ia harus jadi kata tanpa benda, ia ditakdirkan menjadi makna paling santun yang menyimpan kekuatan besar. Cinta adalah kata pertama yang menghiasi cakrawala aksara, nama untuk beragam perasaan, muara bagi ribuan makna, wakil dari sebuah kekuatan tanpa tanding.

Tapi bukan itu yang akan saya bahas dalam hal ini, saya hanya mencoba memanajemen cinta itu dengan menggunakan bingkai versi saya yang mungkin sangat sulit disebut The great thinking, tapi berharap mempunyai makna yang dalam minimal untuk diri sendiri., agar cinta tidak keluar dari jalurnya sendiri.

Para pecinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam kehidupan mereka : Memberi, dan selamanya begitu. Menerima? Mungkin, atau bisa juga jadi pasti! Tapi itu efek , hanya efek. Efek dari apa yang mereka berikan. Seperti cermin kebajikan yang memantulkan kebajikan yang sama. Sebab adalah sebuah hakikat dialam kebajikan bahwa setiap satu kebajikan akan mengajak saudara-saudara kebajikan yang lain untuk ikut dilakukan juga.

Itu juga yang membedakan para pecinta sejati dengan para pecinta palsu. Kalau kamu mencintai seseorang dengan tulus , maka ukuran ketulusanmu adalah apa yang kamu berikan padanya untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik. Maka kamu adalah air, maka kamu adalah matahari, ia tumbuh dan berkembang dari siraman airmu, ia besar dan berbuah dari sinar cahayamu.

Para pecinta sejati tidak suka berjanji, tapi begitu mereka memutuskan untuk mencintai seseorang, mereka segera membuat rencana memberi. Setelah itu mereka bekerja dalam diam dan sunyi untuk mewujudkan rencana-rencana mereka. Janji menerbitkan harapan , tapi pemberian melahirkan kepercayaan.

Kalau intinya cinta adalah memberi, maka pemberian pertama seorang pecinta sejati adalah perhatian. Kalau kamu mencintai seseorang kamu harus memberikan perhatian penuh kepada orang itu. Perhatian yang lahir dari lubuk hati yang paling dalam. Perhatian adalah pemberian jiwa, semacam penampakan emosi yang kuat dari keinginan baik kepada orang yang kita cintai.

Orang-orang yang seringkali hanya mengambil bagian tengah dari cinta : Emosi. Dalam kehidupan mereka cinta adalah gumpalan perasaan yang romantis dan penuh keindahan. Mereka bahkan seringkali bisa memutuskan untuk mempertahankan suatu penderitaan karena mereka menikmati romantikanya : hidup di gubuk derita, makan sepiring berdua. Mereka itu melankolik, karenanya kehidupan cinta mereka tidak berkembang.

Cinta adalah sebuah totalitas. Disana gagasan, Emosi dan tindakan bergabung jadi satu kesatuan yang utuh dan bekerja bersama untuk kebaikan dan kebahagiaan orang-orang yang kita cintai. Orang-orang dengan kepribadian yang lembek tidak bisa mencintai dengan kuat. Para pecinta sejati selalu datang dari orang-orang  dengan kepribadian yang kuat dan tangguh.. Mereka yang ingin menjadi pecinta sejati harus lebih dulu membenahi dan mengembangkan kepribadiannya. Menggagas bagaimana orang yang kita cintai tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik. Mempertahankan “ keinginan baik “ kepada orang yang kita cintai secara konstan dan terus menerus melakukan pekerjaan-pekerjaan untuk membahagiakan mereka, hanya punya satu makna : Itu pekerjaan orang kuat. Cinta adalah pekerjaan orang kuat. Dan kekuatan seorang pecinta sejati adalah mereka pemerhati yang serius. Mereka memperhatikan orang yang mereka cintai secara intens dan menyeluruh. Mereka berusaha memahami latar belakang kehidupannya dan menyelidiki seluk beluk kehidupan hatinya, mencoba menemukan karakter jiwanya. Itu tidak berarti bahwa pecinta sejati mengintervensi kehidupan pribadi mereka dan mengatur kehidupannya secara paksa atas nama Cinta. Tidak!! Yang dilakukan pecinta sejati adalah menginspirasi orang yang dicintainya untuk meraih kehidupan yang paling bermutu yang mungkin ia dapat raih dengan keseluruhan potensi yang ia miliki.

Yang ingin saya tegaskan sekali lagi disini adalah semua pekerjaan jiwa tersebut harus dilakukan dengan tulus, artinya tanpa mengharap balasan . Kita melakukannya atas nama Cinta yang pemahamannya luas, bukan cinta sempit yang berpikiran rumit. Disana hanya ada Emosi dan nafsu.

Jadi bebaskanlah cinta sebebas cinta itu sendiri. Cinta yang membebaskan, karena cinta memang tidak butuh tali. Seperti kata Gibran “ Aku mencintaimu dengan bebas, jadi kapanpun kau ingin berlabuh, disana senyumku selalu menunggumu”. Pecinta sejati hanya memberikan cinta sejatinya kepada yang maha Agung. Seharusnya cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanyalah upaya merealisasikan cinta pada-NYA. Saya punya sebuah kisah sepasang suami istri yang menikah atas dasar cinta kepada Allah, pada saat awal pernikahan mereka sang suami berkata “ Aku tidak mempunyai apa-apa yang patut dibanggakan tapi aku punya tanggung jawab untuk tidak menyia-nyiakanmu, aku menghitung ini semua sebagai investasi akhiratku dihadapan Allah. Ingatlah kita sedang membangun peradaban, kita mengemban misi dakwah dengan pernikahan ini.” Sang suami menatap dalam mata istrinya. “ Aku tidak memilihmu karena apa-apa, aku hanya yakin engkau dapat membawaku menghadap Allah, aku berusaha mampu memberikan semua yang kau perlukan untuk investasi itu “. Jawab sang istri sambil memainkan cincin perkawinannya.. “ Baiklah ini Visi kita, pelayaranpun baru kita mulai, akan banyak badai didepan. Bantu aku menghadapinya.” Mereka tersenyum penuh makna.

Hal pertama yang harus kita lakuakn adalah jangan mengharap sesuatu saat kita memberikan cinta kepada orang lain, ingatlah bahwa konteks kecintaan kita adalah kecintaan sejati pada Allah, bukan duniawi, karena cinta duniawi bersifat egois dan cenderung menipu, cinta yang hanya mementingkan diri sendiri, cinta yang terbangun oleh obsesi ingin memiliki. Cinta dijadikan spekulasi, mencintai harus saling memiliki.Cinta seperti ini amat berbahaya, orang yang gagal dalam percintaan konteks ini setidaknya akan mengalami dua hal. Pertama : Penghancuran diri sendiri, seperti stress, menyiksa diri dan akhirnya Harakiri. Kedua : Menghancurkan obyek yang dicintai, dengan tujuan agar orang tersebut mengalami penderitaan yang sama. Cinta seperti ini tidak bisa disebut cinta., yang seharusnya bila kita mencintai adalah kita mempunyai hati yang besar untuk dapat menampung cinta orang yang kita cintai kepada orang lain. Dengan begitu maka akan timbul pertanyaan : sebesar apakah hati yang dapat menampung cinta di seluruh semesta ini ?…” Sebesar cinta itu sendiri “.

Jazakumullah Khairan Katsiro

That’s my best regard for  you

PANTUN SEBAGAI CERMIN KEHIDUPAN MASYARAKAT MELAYU

(BAGIAN TIGA – ESTETIKA)

Oleh : Abdul Hadi W.M.

Sebelum dijelaskan betapa pantun mencerminkan kehidupan masyarakat Melayu termasuk alam pikiran dan perasaaan, pandangan hidup dan kepercayaan serta adat istiadatna, perlu kita lihat cirri-ciri estetik pantun. Melalui hasil penelitian sarjana seperti Winstedt, Wilkinson, van Ophuysen, Hooykaas, Harun Mat Piah dan Noriah Mohamed, dan lain-lain, kita dapat menjelaskan seperti berikut:
Pertama, pantun pada umumnya terdiri dari empat baris dengan pola bunyi akhir a b a a b atau a a a a. Kendati demikian terdapat pantun yang terdiri dari dua, enam, dan delapan baris. Yang terakhir ini disebut talibun.
Kedua, setiap baris merupakan kesatuan yang terpisah, walau tidak jarang berkesinambungan dengan baris berikutnya. Baris pertama dan kedua merupakan sampiran, yang membayangi isi yang akan dihadirkan. Baris ketiga dan keempat disebut isi, berupa gagasan dan tanggapan yang hendak dinyatakan.
Ketiga, baris sampiran dan isi kerap memiliki kaitan arti di samping kesejajaran bunyi.
Keempat, tiap baris pada umumnya mengandungi empat kata dasar dengan jumlah suku kata antara delapan sampai sepuluh.
Kelima, sering terdapat klimaks berupa perpanjangan atau kelebihan jumlah unit suku kata atau perkataan pada bait isi.
Keenam, sampiran pada umumnya berisi lukisan alam yang terdapat lingkungan sekitar. Ia sering hadir sebagai citraan-citraan simbolik yang dapat menjelaskan pandangan estetik orang Melayu, kedekatan dengan alam dan budaya masyarakatnya.
Adapun ciri batinnya dapat dirasakan melalui makna simbolik dari citraan dan gagasan yang hendak dihadirkan yang merujuk pada pandangan hidup, alam perasaan, gagasan, kepercayaan, dan sistem nilai yang dihayati masyarakat Melayu setelah mereka menganut agama Islam. Ciri batin inilah yang secara keseluruhan mencerminkan kehidupan masyarakat Melayu, khususnya berkenaan dengan adab, estetika, metafisika, dan sistem sosial dan kekerabatan bangsa Melayu. Bagi orang Melayu semua itu saling terkait dan merupakan kesatuan yang tidak terpisah. Ini tercermin dalam dalam pantun ringkas seperti berikut:

Yang kurik kundi, yang merah saga
Yang baik budi, yang indah bahasa

Tidak mengherankan jika Daillie (1988:6) mengatakan bahwa pantun memberikan gambaran ringkas kehidupan dan alam orang Melayu dalam sebutir pasir. Di dalamnya tergambar semua unsur kehidupan manusia Melayu meliputi tanah, rumah, kebun, ladang, sawah, sungai, laut, gunung, huta, pepoohonan, buah-buahan, binatang, burung, ikan dan lain sebagainya; hal-hal bersahaja dalam kehidupan keseharian. Pantun juga mengekspresikan adapt istiadat dan kebiasaan, kearifan, kepercayaan dan perasaan orang Melayu tentang segala hal, termasuk cinta mereka kepada sesama manusia, cinta kasih lelaki dan wanita, serta cinta kepada Tuhan dan Nabi.

Estetika
Telah diketahui bahwa sampiran dalam pantun sering merupakan lukisan alam yang berfungsi sebagai citraan yang hidup. Gunanya untuk membangun cita rasa puitik. Ia merupakan hal-hal yang karib dan memiliki arti tertentu dalam kehidupan orang Melayu. Ia juga dipilih dengan pertimbangan tertentu yang matang, jadi tidak sembarangan. Demikian juga gagasan yang disampaikan dalam isi, melekat dalam pandangan hidup orang Melayu yang berakar daam agama Islam. Misalnya dalam contoh seperti berikut:

Sarung Bugis jadikan selimut
Dibawa orang dari Bintan
Sudah tertulis di Lauhul Mahfud
Di dunia ini kita berkawan

Pulau sembilan tinggal delapan
Satu merajuk ke Kuala Kedah
Sudahlah nasib permintaan badan
Kita di bawah kehendak Allah

Sarung Bugis umumnya dibuat dari sutra dan merupakan sarung paling mahal dan prestisius di Nusantara. Ia tentu sudah tidak asing bagi orang Melayu karena kehadiran orang Bugis sudah terjadi sejak lama di kepulauan Melayu. Mereka telah hadir di Aceh sebagai pelaut ulung, bahkan salah seorang laksamana mereka Datuk Seri Maharaja Lela pernah dirajakan di Aceh pada akhir abad ke-16 M. Pada saat yang sama sampiran ini menggambarkan kegiatan pelayaran orang Melayu dan Bugis di masa lampau yang terkait dengan penyebaran agama Islam.
Citraan pada sampiran pantun juga sering merupakan perbandingan dan perumpamaan, dan tidak jarang merupakan lambing yang merujuk kepada suatu. Kehadiran agama Islam membuat orang Melayu kian yakin bahwa apa yang terbentang di alam semesta dan dalam diri manusia itu merupakan ayat-ayat-Nya, artinya tanda-tanda yang menakjubkan dari keagungan, keindahan dan kemahakuasaan-Nya. Dengan itu obyek-obyek dalam alam yang dihadirkan sebagai citraan hadir untuk melambangkan sesuatu. Contohnya bunga kemboja adalah lambang kematian karena pohonnya biasa di tanam di komplek pekuburan. Buah limau yang masam melambangkan rasa tidak senang atau penolakan seseorang kepada orang tertentu, misalnya apabila ia diberikan kepada utusan seorang pemuda yang ditolakm permitaannya untuk meminang anak gadisnya. Buah delima adalah lukisan tetap bagi seorang gadis yang cantik muda. Sebuah kelapa yang dikorek kumbang adalah tanda seorang perempuan yang telah berhubungan badan dengan seorang lelaki.
Marilah kita lihat pantun yang mengandung perbandingan seperti berikut ini. Yang diperbandingkan ialah gadis yang sudah ternoda keperawanannya dengan mumbang yang dikerat tupai:

Buah kembang buah bidara
Masak seruntai dua runtai
Bersubang disangka dara
Bagai mumbang ditebuk tupai

Buah mengkudu atau jenisnya yang lain pacae, bukanlah buah yang lezat. Karena itu tidak disukai orang kendati mengandung obat. Tetapi buah kandis sangat disukai karena manis.

Buah mengkudu kusangka manis
Kandis terletak di dalam puan
Gula madu kusangka manis
Manis lagi senyuman tuan

Ada juga pantun yang isinya adalah pembelaan diri seorang pemuda bagi perbuatannya yang tidak baik. Dalam sampiran dinyatakan agar menghindari teritip yang tidak berguna untuk dipakai pergi mengail ikan. Pantun ini juga mengandung kritik terhadap seseorang yang mestinya menjadi teladan banyak orang, tetapi ternyata sering melakukan perbuatan tidak baik:

Teritip di tepi kota
Mari berkayuh sampan pengail
Imam khatib lagi berdosa
Bertambah pula kita yang jahil

Buah bidara bukan makanan utama dibanding pisang. Tetapi nasi makanan utama yang diperlukan. Apalagi nasi lemak. Ia merupakan hidangan istimewa seperti halnya nasi uduk di Jakarta, nasi liwet di Jawa Tengah, dan nasi rawon di Jawa Timur. Tetapi sayang dalam pantun berikut ini kelezatan dan arti nasi lemak menjadi berkurang sebab dimakan dengan buah bidara, bukan misalnya dengan mentimun.

Nasi lemak buah bidara
Sayang selasih saya turutkan
Buang emak buang saudara
Karena kasih saya turutkan

Demikianlah karena berahinya kepada seorang wanita seorang pemuda sanggup memutuskan hubungan dengan orang tua dan sanak saudaranya. Hal itu memang tidak jarang terjadi, padahal betapa pun hubungan seorang anak dengan ibu dan saudaranya patut dipelihara dibanding menurutkan hawa nafsu.
Lagi sebuah pantun melukiskan pentingnya galah untuk mengambil buah di dahan pohon yang tinggi dan buah yang dimaksud ialah cempedak, yang merupakan buah istimewa bagi orang Melayu dibanding buah sejenis seperti nangka.

Buah cempedak di luar pagar
Ambil galah tolong jolokkan
Saya anak baharu belajar
Kalau salah tolong tunjukkan

Kata tunjukkan ada kaitan dengan jolokkan. Nasehat atau kritik atas suatu perbuatan yang salah adalah ibarat galah yang kegunaannya dapat dijadikan alat untuk mengambil buah yang berharga dan lezat seperti cempedak, yaitu ilmu pengetahuan. Dalam Hikayat Malim Deman terdapat pantun seperti berikut:

Malam ini merendang jagung
Malam esok merendang serai
Malam ini kita berkampung
Malam esok kita bercerai

Makan rendang serai tentu tidak enak dibanding makan rendang jagung. Begitu pula dengan bercerai tidak enak dibanding hidup bersama satu kampung. Di dalam pantun ini tidak dikatakan berumah tetapi berkampung. Ini memperlihatkan bahwa orang Melayu lebih mengutamakan kebersamaan dalam komunitas dibanding hidup tercerai dalam privasi. erhatikan pula pantun yang mengandung kritik seperti berikut ini:

Apa guna asam paya
Kalau tidak menggulai ikan
Apa guna lagak dan gaya
Kalau bahasa tidak dibicarakan

Bagi orang Melayu budi bahasa lebih penting dibanding lagak dan gaya. Ini selaras dengan adab Islam. Dalam adab Islam orang menjadi terhormat bukan disebabkan kekayaan dan lagak lagunya. Tetapi karena memiliki pengetahuan, mengenal kearifan, dan dapat menuturkan pikirannya melalui bahasa yang bagus. Kecuali itu dalam mengemukakan pendapat selalu didasarkan pengetahuan yang benar, dan pertimbangan pikiran yang matang. Pantun yang baru saja dikutip menunjukkan pula betapa pentingnya bahasa sebagai sarana untuk meningkatkan kecerdasan. Sayangnya pengajaran bahasa Indonesia sekarang ini diabaikan dan banyak orang lupa bahwa asal-usul bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu.
Pantun berikut ini mengandung ulangan kata-kata lengkap. Isinya adalah pandangan orang Melayui bahwa tidak patut seseorang itu menyalahkan kelahiran. Penyebab burukya nasib seseorang bukan disebabkan takdir, melainkan karena seseorang terlalu jauh berangan-angan dan menurutkan hawa nafsu:

Tidak salah bunga lembayung
Salahnya pandan bila menderita
Tidak salah bunda mengandung
Salahnya badan salah meminta

Pandan menderita karena durinya. Badan menderita karena duri angan-angan dan hawa nafsu. Bunga lembayung dan bunda mengandung sangat serasi. Bunga lembayung sangat indah. Seorang anak lahir dari kandungan ibu berkat cinta dan kasih sayang. Dalam pandangan ahli tasawuf, cinta terkait dengan keindahan. Sesuatu dicintai karena memancarkan keindahan. Kata-kata al-rahman dan al-rahim yang kit abaca setiap harinya dalam kalimat Basmalah mengandung arti cinta. Yang pertama, al-rahman atau Maha Pengasih adalah cinta Tuhan yang asasi (dzatiyah), yang diberikan kepada semua makhluq-Nya. Sedangkan al-rahim atau Maha Penyayang adalah cintanya yang wajib (wujub), artinya wajib diberikan kepada orang yang benar-benar beriman, bertaqwa dan beramal saleh di jalan Allah. Kata-kata al-rahim diserap ke dalam bahasa Melayu dan diberi arti rahim ibu. Cinta seorang ibu kepada anaknya memang wajib diberikan.
Banyak pantun Melayu berisi paparan tentang nama pulau, gunung, bukit, tanjung, muara, pelabuhan, negeri, dan lain-lain. Misalnya seperti dalam Hikayat Awang Sulung Merah Muda seperti telah diuraikan. Tidak jarang keindahan pulau-pulau itu dihubungkan dengan keindahan seorang gadis yang dicintai atau budi baik seorang sahabat yang disayangi. Misalnya seperti tampak dalam pantun berikut ini:

Tanjung Katung airnya biru
Dibuat anak cerminan mata
Sedang sekampung lagi rindu
Apalagi jika jauh di mata

Kadang pantun dijadikan selingan dalam sebuah cerita, seperti misalnya dalam pantun berikut ini:

Mabuk buaya karena kesumba
Destar sebalik ditudungkan
Mabuk hamba karena bercinta
Sebagai penyakit ditanggungkan

Tidak jarang pula pantun dijadikan pembuka cerita. Misalnya seperti terdapat dalam pemulaan kisah Sabai Nan Aluih dari Minangkabau:

Kait berkait rotan saga
Sudah terkait di akar bahar
Terbang ke langit berberita
Tiba di bumi jadi kabar

Pantun-pantun yang saya contohkan ini memperlihatkan wawasan estetika yang tumbuh di dunia Melayu. Di sebalik keindahan lahir itu tersembunyi keindahan batin. Penciptaan sastra terjadi bukan semata disebabkan pengamatan cermat terhadap kehidupan sosial, tetapi didasarkan atas pemikiran dan kearifan. Seperti tersirat pada pantun pembuka kisah Sabai Nan Aluih, keindahan dan kebenaran dicapai oleh seorang penulis melalui proses pengilhaman setelah seorang penulis menempuh jalan ilmu suluk.
Demikian pembahasan saya tentang pantun sesuai dengan pengetahuan saya yang terbatas. Semoga tidak mengecewakan dan selaras dengan tema yang diminta panitia seminar ini.

Jakarta 10 Desember 2008

Daftar Pustaka:

Al-`Attas, Syed M. Naquib (1970). The Mysticism of Hamzah Fansuri. Kuala
Lumpur: University of Malay Press.

Daillie, Francois-Rene (1988). Alam Pantun Melayu: Studies on the Malay Pantun.
Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Harun Mat Piah (1989). Puisi Melayu Tradisional: Suatu Pembicaraan Genre dan
Fungsi. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Hooykaas, C. (11965). Perintis Sastra. Kuala Lumpur: Oxford University Press.

Iskandar, Teuku (1995). Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad. Brunei:
UBD.

Noriah Mohamed (2006). Sentuhan Rasa dan Fikir Dalam Puisi Melayu Tradisional.
Bangi Selangor: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia.

Dan lain-lain.

PANTUN SEBAGAI CERMIN KEHIDUPAN MASYARAKAT MELAYU

(BAGIAN DUA – KEBUDAYAAN DAN AGAMA)

Oleh : Abdul Hadi W.M.

Kapan pantun muncul dalam sejarah kesusastraan Melayu? Tidak ada sarjana dapat memastikan. Namun ada sebuah bukti tertulis yang saya ketahui yaitu dalam risalah tasawuf Hamzah Fansuri Asrar al-`Arifin (Rahasia Ahli Makrifat). Risalah itu ditulis oleh sang Sufi pada abad ke-16 M, namun naskah yang ada merupakan salinan yang ditulis pada akhir abad ke-17 M. Ada dua rangkap puisi yang mirip pantun dijumpai dalam naskah tersebut:

Kunjung kunjung di bukit tinggi
Kolam sebuah di bawahnya
Wajib insan mengenal diri
Sifat Allah pada tubuhnya

Nurani hakikat khatam
Supaya terang laut maha dalam
Berhenti angin ombak pun padam
Menjadi sultan kedua alam

(al-Attas 1970:235)

Pada pantun pertama pembagian sampiran dan isi jelas. Sampiran berupa lukisan alam. Sedangkan isinya berupa gagasan. Begitu pula pola sajak akhirnya a b a b seperti pantun pada umumnya. Namun pada pantun kedua perbedaan antara sampiran dan isi samara-samar, sedangkan pola sajak akhirnya a a a a. Yang menarik bahwa hubungan atau kesejajaran makna antara sampiran dan isi cukup jelas pada pantun pertama. Hubungan ini tersirat dalam citraan bukit yang tinggi dengan gagasan tentang diri yang hakiki. Apabila manusia mengenal dirinya yang hakiki atau hakikat dirinya ia akan memperoleh kemuliaan. Kolam merupakan citraan yang dapat dihubungkan dengan cermin, sedangkan tubuh manusia menurut pandangan sufi adalah tempat kita bercermin untuk mengenal sifat-sifat Tuhan.

Sampiran dan Isi
Hooykaas adalah salah seorang dari sarjana yang meyakini ada kaitan tersembunyi antara sampiran dan isi. Begitu pula Noriah Mohamed. Namun tidak sedikit yang berpendapat bahwa antara sampiran dan isi hanya dihubungkan oleh kesejajaran bunyi. Sutardji Calzoum Bachri (2006) termasuk yang berpendapat demikian. Malah ia mengatakan bahwa puisi yang sebenarnya dalam pantun adalah sampirannya. Isinya adalah tambahan yang tidak terlalu diperlukan secara estetik. Pantun seperti itu memang tidak sedikit. Kecuali itu terdapat pula pantun yang perbedaan antara sampiran dan isinya samar-samar seperti yang terdapat dalam teks risalah tasawuf Hamzah Fansuri.
Untuk membuktikan bahwa antara sampiran dan isi memiliki kaitan makna yang sifatnya tersembunyi, saya ingin memberi contoh beberapa pantun. Pantun yang mengandung nasehat ini terdapat dalam Hikayat Awang Sulung Merah Muda. Pantun ini lahir ketika dia bersemayam dengan istrinya Tuan Putri Dayang Seri Jawa di magun di atas sebuah peterana. Sang putri bertanya nama-nama pulau yang dilihatnya. Setelah menjelaskan pulau Tapai, pulau Keladi dam pulau Sembilan, ada sebuah pulau lagi yang agak jauh yang ditanyakan namanya. Seperti sebelumnya dia menyebut nama pulau itu seraya berpantun sperti berikut:

Pulau Pandan jauh di tengah
Di balik pulau Angsa dua
Hancur badan dikandung tanah
Budi baik dikenang jua

Dalam pantun ini jelaslah bahwa sampiran merupakan lukisan tentang alam. Fungsinya ialah sebagai citraan yang membangkitkan cita rasa akan keindahan lahir. Namun bagaimana pun juga citra pulau Pandan jauh di tengah memiliki kaitan arti dengan badan yang hancur dikandung tanah. Yaitu sesuatu yang tersembunyi dari penglihatan mata. Lebih jauh dinyatakan bahwa di depan pulau Pandan terdapat pulau Angsa dua, yang disebabkan lebih dekat mudah dilihat. Begitu pula dengan budi baik seseorang yang kita kenal, walaupun sudah tiada. Contoh lain ialah pantun berikut:

Pisang emas dibawa berlayar
Masak sebiji di dalam peti
Hutang emas dapat dibayar
Hutang budi dibawa mati

Kata-kata “Masak sebiji dalam peti” memberi gambaran sesuatu yang tersembunyi seperti budi. Sedangkan kata “Pisang emas dibawa berlayar” menunjukkan sesuatu yang kelihatan seperti halnya orang berhutang emas. Lihat pula pantun berikut ini:

Sudah puas kutanam ubi
Nenas juga dipandang orang
Sudah puas kutanam budi
Emas juga dipandang orang

Dalam pantun ini hendak dinyatakan bahwa orang gemar melihat martabat seseorang berdasar penampakan lahir yaitu kekayaan yang dimiliki. Tetapi lupa kepada sesuatu yang lebih penting yaitu budi sebab tersembunyi, tersembunyi seperti halnya ubi yang tersembunyi dalam tanah. Jadi beda dengan nenas yang tampak di mata. Selain itu pantun memiliki konteks sosial budaya. Ubi adalah tanaman domestik atau pribumi yang sudah dikenal lama oleh orang Melayu dan tidak sukar mendapatkannya. Tetapi nenas adalah tanaman yang didatangkan dari Amerika Latin pada zaman kolonial. Harga buah nenas jelas lebih mahal dari ubi. Itu sebabnya ia lebih dipandang dibanding budi.
Kelap kelip kusangka api
Kalau api mana puntungnya
Hilang gaib kusangka mati
Kalau mati mana kuburnya

Citraan kelap-kelip pada sampiran masih berkaitan dengan perkataan gaib. Teka-teki apakah orang hilang yang dibicarakan sudah mati atau belum dinyatakan melalui pertanyaan: “Kalau mati mana kuburnya?” Baris pada isi ini punya kaitan dengan baris kedua pada sampiran, “Kalau api mana puntungnya?” Api adalah tanda kehidupan dan puntung tanda kematian. Kubur begitu pula adalah tempat orang mati dikuburkan. Yang menarik ialah sampiran dan isi sama-sama indahnya kendati sederhana.
Contoh lain ialah pantun yang tergolong pantun nasehat atau pantun agama seperti berikut ini:

Kemumu dalam semak
Terbang melayang selaranya
Meski ilmu setinggi tegak
Tidak sembahyang apa gunanya

Kemumu adalah burung yang tidak dapat terbang tinggi seperti burung yang lain pada umumnya. Ia dapat dijadikan perumpaman bagi ilmu dunia, yang walaupun kelihatannya memiliki kekuatan tetapi tidak dapat menangkat derajat manusia di sisi Tuhan. Di sini pandangan hidup orang Melayu yang jiwanya sudah diresapi ajaran Islam terserlah. Bagi sufi Melayu misalnya sembahyang atau shalat dipandang sebagai mikrajnya orang Islam. Mikraj berarti pendakian atau penerbangan menuju hakikat tertinggi, yaitu Tuhan, yang tidak dicapai semata melalui ilmu pengetahuan rasional
Contoh pantun lain mengenai kaitan tersembunyi sampiran dan isi dapat ditemui dalam buku Hooykaas (1965) seperti berikut:

Orang berladang orang berhuma
Sebulan sekali pergi ke gereja
Jika kucing tidak di rumah
Tikus menari di atas meja

Menurut Hooykaas ini lahir ketika seorang sarjana sastra Melayu dari Inggris Overbeck pulang ke rumahnya setelah lama bepergian. Ia melihat keadaan rumah yang berantakan. Lantas dia berkata kepada pembantunya seorang pemuda: “Jikalau kucing tidak di rumah, tikus menari di atas meja.” Pernyataan itu secara spontan dilontarkan Overbeck dan didasarkan atas kenyataan bahwa di dekat rumahnya tinggal beberapa orang Kristen yang bertani. Sebulan sekali mereka pergi ke gereja. Ketika itulah pemuda tersebut mengambil kesempatan untuk melihat-lihat apakah ada gadis cantik di sana. Jika ada ia akan dirayu untuk bercumbu-cumbuan di rumah tuannya, sehingga rumah tuannya itu berantakan. Sebelum sempat dirapikan kembali, tuannya sudah pulang ke rumah. Isi pantun itu jelas adalah sebuah gagasan yang dinyatakan dalam bentuk perumpamaan. Setelah tahu keadaan di rumah orang Kristen itu setiap bulannya, maka pemuda itu berkata kepada Overbeck: “Orang berladang orang berhuma, sebulan sekali pergi ke gereja”. Setelah digabung dengan apa yang sebelumnya diucapkan Overbeck kepada pemuda pembantu rumahnya, maka jadilah pantun di atas.

PANTUN SEBAGAI CERMIN KEHIDUPAN MASYARAKAT MELAYU

(BAGIAN SATU – SEJARAH)

Oleh : Abdul Hadi W.M.

Setiap bangsa pada umumnya memiliki bentuk pengucapan puitik yang disukai untuk menyampaikan alam pikiran, dunia perasaan, dan tanggapan mereka terhadap kehidupan yang mereka hayati. Orang Jepang memiliki tanka dan haiku, dua ragam pengucapan puitik yang ringkas dengan aturan tertentu. Di Eropa soneta dan kuatrin merupakan bentuk puisi lama yang disukai orang Italia, Perancis, Inggeris, dan lain-lain. Orang Persia menyukai rubaiyat dan ghazal, dua bentuk puisi empat baris dengan aturan dan keperluan berbeda. Orang Melayu memilih pantun dan syair, sekalipun bentuk pengucapan lain seperti gurindam dan taromba (bahasa berirama) juga cukup disukai. Yang terakhir ini mirip dengan mantera.
Sebagai karangan terikat pada aturan persajakan tertentu, pantun memiliki kekhasan. Ia terdiri dari sampiran dan isi. Sampiran berperan sebagai pembayang bagi maksud yang ingin disampaikan, sedangkan isi berperan sebagai makna atau gagasan yang ingin dinyatakan. Walaupun pada umumnya pantun terdiri dari empat baris dengan pola sajak akhir a b a b atau a a a a, tidak jarang terdiri dari enam atau delapan baris. Pantun delapan baris disebut talibun. Pada pantun empat baris, dua baris awal merupakan sampiran, sedang dua baris akhir merupakan isi. Dalam sampiran biasanya yang dinyatakan ialah gambaran alam atau lingkungan kehidupan masyarakat Melayu termasuk adat istiadat, sistem kepercayaan dan pandangan hidupnya.
Berbeda dengan syair yang lahir dari tradisi tulis yang muncul bersamaan dengan perkembangan agama Islam, dan ada pertautannya dengan bentuk pengucapan puitik dalam sastra Arab dan Persia; pantun lahir dari tradisi lisan dan tampaknya hanya sedikit dipengaruhi oleh puitika India, Arab, dan Persia. Sebagai bentuk sajak yang mudah diingat dan mudah pula dinyanyikan, hubungan antara sampiran dan isi dalam pantun sejak lama dipersoalkan oleh banyak sarjana. Ada yang berpendapat bahwa hubungannya tidak terbatas pada persamaan atau kesejajaran bunyi, tetapi juga hubungan makna. Namun tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa hubungannya sebatas persamaan bunyi.
Seperti halnya syair dan gurindam, wilayah penyebaran pantun begitu luasnya di kepulauan Nusantara. Ia tidak hanya digenal dan digemari oleh orang Melayu, tetapi juga oleh suku bangsa lain di Nusantara seperti Aceh, Gayo, Batak, Mandailing, Minangkabau, Lampung, Sunda, Jawa, Madura, Bugis, Makassar, Sasak, Bima, Banjar, Gorontalo, dan suku bangsa lain di Nusatenggara Timur, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan. Terkadang timbul pertanyaan: kapankah penyebarannya itu terjadi? Apakah pada zaman sebelum Islam, yaitu dalam abad ke-8 – 11 M ketika bahasa Melayu dijadikan lingua franca di bidang perdagangan. Ataukah pada zaman pesatnya perkembangan agama Islam ketika bahasa Melayu naik peranannya bukan sekadar sebagai bahasa pergaulan dalam perdagangan, tetapi juga bahasa pergaulan antar etnik di Nusantara dalam bidang politik, administrasi, intelektual, dan kebudayaan? Bagaimana pula penyebaran itu berlangsung. Tetapi bagaimana pun dan kapan pun mulai tersebar, pantun memang memiliki daya tarik tersendiri yang memungkinkan luasnya penyebarannya. Ia merupakan bentuk pengucapan puitik yang bersahaja, namun penuh dengan kemungkinan.
Tentu saja selain persoalan-persoalan berkenaan dengan keunikan dan struktur lahirnya, dalam makalah ini akan dibahas juga kedudukan pantun dalam kebudayaan Melayu serta perannya sebagai media yang mencerminkan kehidupan masyarakat Melayu.

Sebagai Pengucapan Puitik
Tidak banyak diketahui kapan pantun muncul dan dari akar kata apa ia dibentuk. Juga tidak banyak diketahui apa arti dari kata-kata pantun sebenarnya. Teks Melayu tertua yang dijumpai dan mulai menyebut pantun sebagai bentuk sajak yang popular dalam masyarakat Melayu ialah teks syair-syair tasawuf Abdul Jamal, penyair dan sufi Melayu yang hidup di Barus dan Aceh pada abad ke-17 M dan merupakan murid dari Syekh Syamsudin Pasai. Syair Abdul Jamal itu sebutan pantun dikaitkan dengan kata-kata seperti bandun, bantun, dan lantun. Secara tersirat dalam syair itu pantun disebut sebagai puisi yang biasa dilantunkan secara spontan untuk menyindir, berseloroh, dan menghibur diri (Braginsky 1975).
Dalam beberapa bahasa Nusantara seperti Sasak di Lombok dan Madura di Jawa Timur, kata-kata pantun diberi ari nyanyian. Orang yang menyanyi di Madura dikatakan apantun (berpantun), dan yang dinyanyikan ialah ialah sajak yang dalam bahasa Melayu disebut pantun. Masuknya perkataan ini dan kebiasaan menyanyikan pantun mungkin telah dikenal pada abad ke-17 M, atau setidak-tidaknya pada abad ke-18 M. Yaitu pada masa tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan Islam, sedangkan bahasa Melayu dijadikan bahasa pengantar sebelum murid menguasai bahasa Arab. Pada abad ke-18 pula mulai banyak kitab dan hikayat Melayu diterjemahkan dan disadur ke dalam bahasa Jawa, Sunda, Madura, dan Sasak (Abdul Hadi W. M. 2005). Dalam kenyataan memang tidak sedikit dari lirik lagu-lagu Jawa, Minangkabau, Sunda, Melayu Betawi, dan lain-lain adalah pantun.
Pengertian pantun sebagai lirik yang dinyanyikan atau nyanyian itu sendiri telah disebutkan oleh seorang sarjana Belanda abad ke-19 M J. J. de Hollander dalam bukunya Handleideing bij de beoefening der Maleische taal en letterkunde (1893). Hollander mengatakan bahwa yang disebut pantun sebagian besarnya adalah sajak percintaan yang dinyanyikan atau dibaca dengan dinyanyikan secara spontan dan bergiliran dalam pesta. Dia merujuk pada dua hikayat Melayu Hikayat Bikrama Datya Jaya dan Hikayat Bujangga Mahaputra. Dalam hikayat yang pertama ditemukan berulang kali kata-kata seperti: “Segala dayang-dayang pun bersyair dan berpantun dan berseloka”. Hollander berpendapat bahwa syair berasal dari sastra Arab, seloka dari sastra India (Sanskerta), sedang pantun adalah nyanyian Melayu asli.
Dominannya tema percintaan itu masih ditemui hingga sekarang. Pantun Melayu yang sangat popular misalnya seperti berikut ini:

Dari mana datangnya linta
Dari sawah turun ke kali
Dari mana datangnya cinta
Dari mata turun ke hati

Pantun yang terdapat dalam lagu Betawi “Jali-jali” juga demikian:

Paling enak si mangga urang
Pohonnya tinggi buahnya jarang
Paling enak si orang bujang
Kemana-mana tiada melarang

Di sana gunung di sini gunung
Di tengah-tengahnya bunga melati
Ke sana bingung ke sini bingung
Dua-duanya menarik hati

Di dalam masyarakat Melayu Banjar tema cinta juga dominant dalam pantun. Contohnya seperti berikut:

Apa guna main pelitak
Kalau kadak bersumbu kain
Apa guna bermain cintak
Kalau tidak berani kawin

(Apa guna bermain pelita
Kalau tidak dengan sumbunya
Apa guna bermain cinta
Kalau tidak berani kawin)

Dalam masyarakat suku bangsa Nusantara lain pun demikian. Contohnya adalah pantun Madura tentang seseorang yang ditinggalkan kekasihnya:

Ka bara` bara` kellem arena
Katemor kolare nyangsang
Kaberra`-berra` le` atena
Nyalemor ate se posang

Ke arah barat tenggelam matahari
Di timur daun nyiur kering bergelantungan
Sungguh berat rasa dalam hati
Merayau-rayau aku kebingungan

Adapun pantun Jawa berikut ini ialah tentang pertemuan seorang pemuda dengan seorang gadis setelah lama tidak berjumpa:

Suwe ora jamu
Jamu godhong mentimun
Suwe ora ketemu
Ketemu pisan gawe ngelamun

(Lama tak minum jamu
Minum jamu daun mentimun
Lama tidak ketemu
Ketemu sekali saya melamun)

Di sini saya petikkan pula dua pantun dalam Hikayat Sulung Merah Muda, yang di dalamnya juga terdapat pantun terkenal “Pulau Pandan jauh di tengah”. Yang pertama:

Selat Dinding tanjung terkucil
Di sini cik Ayub berkedai belanga
Putih kuning pinggangnya kecil
Pipi dicium berbau bunga

Adapun yang kedua tidak begitu ketara sebagai pantun percintaan, yaitu seperti berikut ini:

Terang bulan di laman tangga
Sarang penyengat di dalam padi
Adakah orang semacam saya
Menaruh khianat dalam hati?

Tetapi yang lebih seronok adalah pantun seperti yang berikut ini:

Ke Teluk sudah ke Siam sudah
Ke Mekkah saja saya yang belum
Berpeluk sudah bercium sudah
Menikah saja saya yang belum

Roman Siti Nurbaya karangan Marah Rusli yang ditulis pada awal abad ke-20 juga penuh dengan kutipan pantun percintaan.
Jika betul tema yang dominan pada mulanya adalah sindiran dan percintaan, sejak kapan tema pantun mengalami perluasan? Hollander mencatat bahwa kemungkinan besar setelah pesatnya perkembangan agama Islam. Para ulama dan ahli tasawuf menghendaki sastra tidak hanya mengungkapkan tema-tema percintaan dan pelipur lara, tetapi juga tema-tema sosial dan keagamaan sehingga selain memiliki unsur hiburan sastra juga mengandung unsur pendidikan. Risalah tasawuf Hamzah Fansuri Asrar al-`Arifin, sebagaimana akan dikupas nanti, merupakan salah satu bukti tertulis. Dalam teks yang disalin pada abad ke-17 M dimuat sebuah pantun yang memuat ajaran tasawuf.
Oleh karena itu beralasan jika muncul anggapan bahwa pantun menjadi bentuk pengucapan puitik yang isi dan temanya kompleks setelah pesatnya perkembangan agama Islam pada abad ke-15 dan 16 M. Hamzah Fansuri sendiri hidup pada abad ke-16 dan murid-muridnya seperti Abdul Jamal mengecam pantun hanya mengemukakan tema-tema berisi percintaan. Begitu pula pembedaan antara sampiran dan isi lantas kian dipertegas, sebab itu sesuai dengan puitika dan estetika yang diperkenalkan orang-orang Islam. Dalam tradisi Islam karangan sastra digambarkan seperti manusia yang terdiri dari dua unsur yang saling berhubungan yaitu badan dan jiwa/roh. Bentuk lahir atau badan dari karangan sastra disebut surah dan makna batin atau isinya disebut ma`na.
Kaitan perkembangan tema pantun dengan Islam dapat dilihat dari jenis-jenis pantun. Dari segi isi pantun dapat dibagi menjadi: (1) Pantun anak-anak; (2) Pantun cinta dan kasih sayang; (3) Pantun tentang adat istiadat dan cara hidup masyarakat Melayu; (4) Pantun teka teki; (5) Pantun pujian atau sambutan, misalnya dalam menyambut tamu di sebuah majlis; (6) Pantun nasehat misalnya pentingnya budi pekerti; (7) Pantun agama dan adab; (8) Pantun cerita (lihat juga Harun Mat Piah 1989:189-90). Dilihat dari isinya ini jelas pantun mencerminkan kehidupan masyarakat Melayu yang beragama Islam Sunnim yang dalam fiqih bermadzab Syafii, dalam teologi bermadzab Asy`ariyah, dan dalam tasawuf pada umumnya mengikuti ajaran Imam al-Ghazali.

TELAAH PUISI BERDASAR TEORI “CH`ING DAN CHING” WANG FU-CHIH

Oleh : Abdul Hadi W. M.

Selama ini dunia telaah sastra dikuasai oleh teori Barat. Ini menggambarkan betapa mendalamnya pengaruh pandangan bahwa di luar teori yang lahir dan berkembang di Barat, tidak ada teori yang absah dan relevan untuk digunakan sebagai acuan telaah atau kritik sastra. Dalam upaya menyangkal pandangan tersebut, karangan ini akan mencoba memperkenalkan salah satu teori sastra penting yang muncul dalam sejarah kesusastraan Asia, dan mulai mendapat perhatian kembali pada akhir abad yang lalu.
Teori tersebut diasaskan oleh Wang Fu-chih, seorang filosof dan kritikus sastra Cina yang hidup pada abad ke-17 M dalam zaman awal pemerintahan Dinasti Manchu (Ch’ing). Teorinya dapat disebut Asas Ch`ing dan Ching, karena dua konsep kunci ini yang dijadikan dasar olehnya dalam menelaah dan membahas puisi. Di Cina sendiri teori Wang sudah cukup lama tidak memperoleh perhatian sewajarnya di kalangan sarjana sastra. Namun belakangan teorinya mendapat perhatian lagi bersamaan dengan bangkitnya kembali hermeneutika dan kajian terhadap filsafat serta kesusastraan Timur.
Baik dilihat dari lingkait (konteks) zamannya maupun dilihat dalam konteks perkembangan sastra kita sekarang, teori Wang Fu-chih memiliki relevansi yang tidak kecil. Bagi Wang, puisi penting terutama sebagai hasil dari perenungan atau kontemplasi mengikuti suatu disiplin keruhanian atau bentuk spiritualitas (jalan kerohanian) tertentu separti Taoisme dan Zen Buddhisme di Cina dan Jepang. Sedangkan dalam masyarakat kita sekarang, puisi lebih dipandang sebagai ungkapan perasaan individual atau sebagai ungkapan yang mencerminkan kenyataan sosial. Dalam kenyataan dalam sastra modern Indonesia, seperti di bagian dunia yang lain, tak kurang muncul pula puisi-puisi bagus dan berbobot yang tidak ditulis dalam rangka dua pandangan tersebut, melainkan merupakan hasil perenungan seperti dikemukakan Wang Fu-chih.
Para pendahulu Wang sendiri di Cina, secara garis besar dapat dibagi ke dalam tiga kelompok dalam memandang puisi. Pertama, yang memandang puisi sebagai sarana pengajaran moral dan penyampaian soal-soal kemasyarakatan. Pandangan ini berakar dalam Konfusianisme, yang berkembang sejak zaman Kon Fu-tze pada abad ke-6 SM. Kedua, yang memandang puisi sebagai ungkapan perasaan dan pikiran individual penulisnya. Pandangan ini juga telah berkembang lama, seperti tersirat dalam pandangan Kon Fu-tze yang menyatakan bahwa puisi harus mampu memberi ilham terhadap perasaan. Ketiga, yang mamandang puisi sebagai hasil ketrampilan teknis dalam mengolah kata-kata. Pandangan ini dipegang oleh kaum formalis (James Liu 1962:63-89).
Pandangan yang mirip dengan yang berkembang dalam sejarah sastra Cina, juga ditemui dalam sejarah sastra India, Arab, Persia, dan Melayu. Dalam sastra Melayu pandangan bahwa puisi juga merupakan hasil perenungan terhadap kehidupan dan pengalaman batin tampak dalam pemikiran penyair sufi abad ke-16 Hamzah Fansuri. Pandangan ini berakar dalam tradisi sufi, di mana puisi yang baik pada umumnya lahir melalui proses pengilhaman yang dicapai setelah seseorang melakukan olah batin seperti tafakur atau musyahadah. Karya-karya penyair modern seperti Sanusi Pane, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Subagio Sastrowardojo, Sitor Situmorang, Sapardi Djoko Damono, dan Sutardji Calzoum Bachri juga tidak sedikit yang lahir sebagai bentuk renungan yang dalam terhadap kehidupan, alam sekitar, dan pengalaman batin penulisnya.

Akar Falsafah Teori Wang
Wang Fu-chih (1619-1692 M), juga ditulis Wang Fu-zhi adalah seorang filosof Neo-Konfusianis terkemuka. Dia hidup pada zaman awal pemerintahan Dinasti Ch`ing. Teorinya tentang puisi dipengaruhi oleh pemikiran filsafatnya. Neo-konfusianisme sebagai aliran filsafat yang tumbuh dari Konfusianisme, memadukan dalam dirinya anasir-anasir dari aliran-aliran besar lain seperti Ch`an Budhisme (Zen Buddhisme), Yin Yang, dan Taoisme. Teori Wang sendiri tentang puisi cenderung dipengaruhi pandangan Ch`an Buddhisme yang berkenbang pada zaman Dinasti Sung abad ke-13 M, Yen Yu. Tak kurang juga dipengaruhi oleh pandangan Kon Fu Tze, yang dalam Shih-ching (Kitab Sajak) mengatakan bahwa “puisi harus juga memberi ilham kepada perasaan’ (Sui Kit Wong 1978).
Dalam filsafat Neo-Konfusianisme konsep utama kehidupan manusia dan alam semesta disebut ch`i, energi atau kekuatan tersembunyi yang terdapat dalam segala sesuatu yang maujud. Karena mendasari semua keberadaan maka ia dianggap sebagai asas kehidupan (li). Dalam konsep filsafat li juga diartikan sebagai idea dan bentuk. Sebab-sebab maujudnya alam semesta dipandang karena adanya kekuatan tersembunyi, dalam bentuk halus, di dalam segala sesuatu yang disebut ch`i. Kekuatan tersebut bisa berupa idea (cita-cita) dan bentuk, dan bisa merupakan prinsip-prinsip yang mendasari keberadaan sesuatu yang hidup.
Dalam sejarah telaah sastra, kata-kata ch`i awal mulanya digunakan oleh Ts’ao P’i (187-228 M) dalam bukunya Lun Wen. Dalam kosmologi Cina ch’I diartikan sebagai kekuatan dalam atau energi benda asali yang membuat dunia maujud di alam ciptaan. Ia juga sering disebut sebagai uap air yang darinya benda-benda yang terindera menjadi padat. Pada manusia ia dihubungkan dengan nafas yang kita hela. Bila dihubungkan dengan darah ia berarti daya hidup jasmani (hsueh-chi’i). Diartikan secara metafisik berarti anasir alam pilihan. Seorang filosof heterodoks mengatakan misalnya, “Bila ch’i merasuki sesuatu maka darinya muncul kehidupan, pada manusia hidup memunculkan pikiran, dengan pikiran timbul pemahaman, dengan pemahaman berakhir beraguan.” (Chan Wang-tsit 1963:764).
Dalam Nei Yeh disebutkan bahwa anasir murni dari ch’i ialah ching, yang salah satu pengertiannya ialah keindahan alam yang penuh misteri dan pesona sebagaimana kelak dipakai oleh Wang Fu-chih. Ching juga diartikan sebagai bentuk paling halus dari ch’i yang berasal dari langit, sedang hsing ialah bentuk paling kasar yang berasal dari bumi. Berdasar pandangan ini bagi Ts’iao P’I, yang paling penting dalam sastra ialah ch’i. Penjelmaannya tampak dalam kejernihan pengucapan dan keremang-remangan.
Han Yu (768-824 M) membandingkannya dengan air yang mengalir. Katanya, ch’i adalah air dalam alam yang membuat benda teraping-apung di atasnya. Kata-kata dalam puisi seperti air. Jika jumlah air besar. Begitu juga kata-kata dalam puisi, maka benda besar atau kecil dalam jumlah besar bisa terapung di atasnya. Istilah ch’i dielaborasi lebih jauh oleh filosof Neo-Konfusianis pada kurun-kurun berikutnya. Liu Ta-k’uei (1698-1779 M) membedakan ch’i dari shen atau spirit yang ada manusia, termasuk kreativitas. Namun shen tidak hanya merangkumi kreativitas, melainkan juga segenap kemampuan mental dan moral. Shen inilah yang membimbing ch’i dalam proses penciptaan karya seni termasuk puisi.
Dalam konteks sastra, shen sering disamakan dengan semangat puitik. Sedangkan ch’i dapat disamakan dengan kekuatan puitik dari kata-kata. Menurut Liu yang menggerakkan penulisan puisi ialah shen, sedang ch’i hanya bagian darinya. Ch’i berubah bilamana shen berubah. Bilamana shen penuh, maka ch’i meluas dan menggelembung seperti lautan. Bilamana shen menjauh, maka ch’i tak terkendali, dan bilamana shen agung maka ch’i mulia. Bilamana shen mengalami perubahan besar, maka ch’i akan menakjubkan. Bilamana shen dalam, maka ch’i tenang. Dengan demikian shen adalah guru yang membimbing ch’i (David Pollard 1978).
Akar teori Wang tentang puisi ialah pandangan-pandangan yang mulai tumbuh subur pada akhir zaman Dinasti Sung abad ke-13 M, sebelum munculnya Dinasti Yuan (Mongol). Pada masa itu mulai muncul kritikus sastra yang memandang puisi sebagai penjelmaan dari renungan penyair terhadap dunia dan pikiran atau perasaannya sendiri. Pandangan ini timbul sebagai pengaruh dari filsafat Ch’an Buddhisme. Jurubicara terkemuka dari aliran ini ialah Yen Yu, yang menerapkan pandangan filsafat Ch’an terhadap puisi.
Bagi Yen Yu, untuk melahirkan puisi yang baik dan indah, seorang penyair melakukan olah batin seperti meditasi dan kontemplasi agar pikirannya jernih dan tercerahkan. Keadaan itu dicapai jika hatinya hening dan bening. Kala keadaan itu dicapai, maka seorang penyair akan mampu menangkap spirit (shen) dari kehidupan dan alam. Menurut Yen Yu, “Keunggulan sebuah puisi terletak dalam satu hal: kemampuannya memasuki shen. Jika puisi berhasil mencapai hal itu, maka ia akan sampai pada puncaknya.” (James Liu 1962:81).
Yang dimaksud Yen Yu dengan “memasuki shen” ialah memasuki kehidupan obyek-obyek dan menjelmakan intipati atau rohnya ke dalam sebuah puisi. Oleh karena itu, walau dia mengakui bahwa puisi berkaitan dengan dunia perasaan, ia juga mencela luapan perasaan yang berlebih-lebihan dalam puisi. Di sini dia merujuk kepada pendapat Kon Fu Tze dalam bukunya Shih-ching seperti telah dikemukakan.
Puisi yang ideal bagi Yen Yu ialah yang mengambil bentuk renungan dan sekaligus gambaran (image) tentang dunia atau alam. Dunia yang dimaksud ialah dunia yang menyerupai Alam di dalam kebebasannya menyatakan diri atau keterbebasannya dari pengaruh perasaan pribadi, serta menyajikan keadaan batinnya secara estetis. Bagi Yen Yu puisi bukanlah sarana penyampaian ajaran moral atau sekadar hasil ketrampilan teknis mengolah kata-kata. Juga bukan sekadar ekspresi keseorangan, melainkan penjelmaan visi penyair tentang dunia atau dengan kata lain, dunia yang terefleksikan dari kesadaran penyair yang sedalam-dalamnya (James Liu 1962: 80; Birch 1974; Owen 1985:98).
Diilhami oleh pandangan Yen Yu, dan ajaran Neo Konfusianisme yang dianutnya itulah Wang Fu-chih mengembangkan teorinya tentang puisi. Dia berpendapat bahwa puisi tidak hanya berkenaan dengan ungkapan perasaan atau pengalaman estetik (ch’ing) tetapi juga renungan terhadap alam di luar dirinya (ching) yang penuh pesona dan keindahan, yang merupakan kekuatan dan daya tariknya. Puisi terbaik ialah memadukan dalam dirinya ch’ing dan ching, dunia dalam dan dunia luar. Perpaduannya merupakan persatuan mistis atau persatuan rahasia antara alam spiritual dan alam visual (James Liu 1962:82). Dia mngutip puisi Wang Wei “Sung Yuan Erh Shih Ah-hsi” sebagai berikut:

Wei ch’eng chao yu yi ch’ing ch’en (d’en)
K’o she ch’ing liu se hsin (sien)
Ch’uan chun keng chin yi pei chiu
His ch’u Yang Kuan wu ku-jen (nsien)

Terjemahan harfiah:

Wei kota pagi hujan basah cahaya berdebu
Tamu rumah hijau hijau pohon persik warna segar
Membujukmu lagi mengakhir satu gelas anggur
Sebelah barat Yang gapura tak ada teman tua

Cahaya kota Wei berdebu, basah oleh hujan pagi hari
Depan pesanggrahan pohon persik tampak hijau dan segar kembali
Habiskan segelas anggurmu Kawan, sebelum dituang lagi
Di sebelah barat Gapura Yang takkan kaujumpai sahabat lama

Dikatakan bahwa ch’ing (perasaan) dan ching (pemandangan alam) menyatu dalam sajak Wang Wei tersebut.

Ch’ing dan ching
Telah dikemukakan bahwa teori Wang dibangun atas asas ch’ing dan ching. Dua istilah ini untuk pertama kali dijumpai dalam buku Shih-ko karangan Wang Chang-ling, kritikus sastra abad ke-8 M. Penggunaan dua istilah ini semakin sering dilakukan pada masa berikutnya hingga mencapaii puncaknya di tangan Wang Fu-chih. Dia gunakan istilah-istilah tersebut ketika menelaah puisi-puisi klasik Cina yang dianggapnya terbaik seperti karangan-karangan Li Po, Wang Wei, Tu Fu, Li Shang Yin, dan lain-lain. Dalam puisi mereka, menurut Wang, hamper tidak dapat dibedakan apa yang disebut pengalaman estetik penyair (ch’ing) dan lukisan alam (ching) (Sui Kit-wong 1978).
Telah dikemukakan bahwa ching merupakan pancaran ch’i yang ada pada alam. Sedangkan ch’ing adalah pancarannya yang dijumpai dalam diri manusia. Seorang penyair yang baik, menurut para estetika Neo-Konfusianis, memiliki tiga jenis ch’i yang terpadu dalam dirinya. Tiga ch’i itu ialah ch’i bakat, ch’i ide, dan ch’I kata-kata. Ketiga ch’i inilah yang membuat pengalaman estetik atau ch’ing terjelma dengan baik dalam sebuah pengucapan puitik (David Pollard 1978). Tetapi ch’i sebagai kekuatan puitik yang dimiliki penyair tidak dapat bergerak tanpa shen, yaitu semangat puitik, kreativitas, dan inspirasi yang hidup dalam bentuk imaginasi.
Sebagai asas penciptaan puisi, ch’ing dan ching dikatakan sebagai titik tolak membangun bahasa figuratif (majaz) puisi. Secara hargiaf dapat diartikan bahwa ch’ing merupakan asas batin puisi dan ching ialah asas lahirnya atau surahnya. Wang menggunakan asas ini untuk menerangkan sifat, kodrat, dan asal usul puisi, serta fungsi pembacaan dan penafsiran dalam memahami puisi. Menurut Wang, di aam semesta ini tidak sesuatu yang sebenarnya saling bertentangan. Aspek lahir dan batin saling mengisi, melengkapi, dan memerlukan, serta saling menjelaskan dan menggambarkan. Begitu juga dalam uisi seharusnya tidak terlalu dibedakan antara form dan meaning, antara surah dan ma`na, antara bentuk dan isi.
Ch’ing adalah dunia batin yaitu ‘pengalaman perasaan’ (emotional experiences) dan ching ialah ‘pengalaman inderawi’ (visual experiences). Ch’ing ialah perasaan secara keseluruhan, khususya yang ada di dalam diri penyair, dan ching ialah pemandangan alam, yang ada di luar diri penyair. Menurut Wang Fu-chih puisi dicipta oleh penyair yang pikiran/perasaannya menyatu dengan alam sekitarnya. Jiwa penyair ini sering disebut yi, hsin, ch’ing atau wo, dan dunia sekitar disebut wu. Di antara hal-hal di dari alam yang paling memiliki kekuatan atau pesona untuk dijadikan pembangkit perasaan estetik ialah pemandangan alam. Pemandangan alam sangat mudah merangsang bangkitnya ilham penyair untuk mencipta puisi. Dalam teori sastra Cina puisi lahir bila ch’ing dan ching berkembang atau tumbuh bersama-sama menjadi suatu keseluruhan tersendiri.

Wang Fu-chih memandang ch’ing dan ching sebagai dua perkataan yang merujuk kepada dua daerah kenyataan yang berbeda, yaitu kenyataan batin yang tidak tampak atau pengalaman yang dirasakan oleh jiwa penyair. Sedangkan ching berkaitan dengan pengalaman visual di luar jiwa penyair. Dalam bukunya Chiang-chai shih-hua Wang mengatakan, “Jika anda tidak menguasai bahasa ching, dapatkah anda menguasai bahasa ch’ing.” Pengalaman visual sangat penting dalam penciptaan puisi. Wang memberi contoh bahwa puisi-puisi penyair Cina yang terbaik memperlihat baris-baris ching (pengalaman visual) yang kuat. Perasaan (ch’ing) bertempat tinggal dalam baris-baris puisi yang menggambarkan ching. Katanya, “Hanya dengan mengekspressikan perasaan anda dalam dalam semangat pemandangan alam (ching) maka anda berhasil membangkitkan pengalaman lahir dan jiwa tertentu.” Katanya lagi, “Melahirkan pemandangan alam dan kejadian itu gampang, tetapi menuliskan perasaan dalam puisi itu sangat sukar.”
Puisi tidak hanya mengandung lukisan pemandangan atau kejadian, tapi semestinya juga ch’ing (perasaan) yang hendak diekspresikan. Ching menemukan bentuknya berkat ch’ing, dan ch’ing diberi hayat oleh ching. Karena itu keduanya tak tercerai, karena keduanya mengikuti keadaan jiwa penyair. Kalau seseorang memecah ch’ing dan ching menjadi dua bagian yang terpisah, maka ching tidak akan dapat membangkitkan perasaan pembaca, dan tidak dapat lagi disebut ching. Dengan demikian dalam proses penciptaan puisi hubungan antara manusia dan dunia sekitar sangat penting. Inilah asas teori dan telaah sastra Wang Fu-chih.
Tidak ada garis pembatas yang harus dibuat antara ch’ing dan ching, sebab jika demikian berarti perasaan tidak berbuat apa-apa. Jadi perasaan (ch’ing) hanya dapat timbul bilamana ada sesuatu di luarnya, yaitu ching, yang membangunkan dari tidurnya. Hal yang sama dikatakan oleh Abhinavagupta pada abad ke-11 M di India dan Imam al-Ghazali di Persia pada abad ke-12 M. Seorang tidak dapat melahirkan puisi apabila perasaannya lemah dan tidak hidup atau tak ada gairah. Pengalaman visual (ching) harus ada sebagai tenaga pendorong bagi hidupnya perasaan. Dia mengambil contoh puisi Pao Tao-yu (abad ke-4 M), di mana unsur asas (‘tuan rumah’) dan unsur pelengkap (‘tamu’) terjalin hubungannya dengan indah, yang membuktikan bahwa ch’ing dan ching saling mendukung untuk berkembang, dan tak ada pembatas yang memisah keduanya.

Linked peaks of several thousand li
Stretches of tress and, further down, a ford
Passing clouds darken those mountains lying across
And winds descend to make the wilds more desolate.
Somewhere there must be a cottage hidden from view–
You can tell from the cockcrow that men live here.
Yes, I walk on, treading human paths,
Seeing firewood dropped here and there.
There I know that in these modern days
Still live subjects of the primeval king

(Terjemahan Siu Kit Wong)

Wang Fu-chih juga mengambil contoh puisi Li Po dan mengatakan: “Nadanya merupakan satu kesatuan. Baris 3 dan 4 sangat indah. Inilah yang dipanggil double stroke, kemahiran menulis yang canggih.”

Travelling to the ranges of the Magic Mountains
I climb the ridge anciently known as the Sun Terrace
Tinted clouds in the broad expanse of the sky seem dead;
In my direction from lands far away blows a strong wind of sorrow
It’s been a long time since the goddes took her departure;
As for the more mortal Prince of Ch’u she offered to please,
Can he still be expected to be around?
The pleasures of the flesh usually come to the end;
Let innocent woodcutters and cowherds continue to bemoan the miseries
of life.

(Terjemahan Siu Kit Wong)

Menjelajahi gugusan pegunungan Keramat
Kudaki tanjakan, dulu disebut Teras Matahari
Di langit luas awan kelabu seolah mati
Dalam perjalananku dari negeri jauh angin kepiluan bertiup kencang
Sudah lama itu terasa sejak si molek bergegas pergi;
Masihkah dapat kutunggu di sini, seperti pada zaman Chu?
Rasa nikmat daging ah, biasanya cepat sekali menghilang
Biar tukang ayu dan gembala tak berdosa itu saja
Tak henti-hentinya menyesali murungnya kehidupan

Penekanan kepada perlunya perpaduan ch’ing dan ching menunjukkan bahwa dunia batin dan dunia lahir berjalan bersama-sama dalam proses penciptaan, bahwa perasaan (marah, sedih, gembira, dan lain sebagainya) yang dialami penyair di dalam puisinya harus diperkuat dengan merujuk kepada objek-objek alam dan kejadian di dalam alam, kemudian dihubungkan dengan pikiran dan perasaan sehingga mendapatkan makna (yi) dan dirasa kehadirannya. Dalam perpaduannya dengan alam jiwa tidak boleh berbuat zalim, merusak dan mengacaukan sekendak hati. Demikian pula, mengalirnya hubungan jiwa dan dunia di luarnya tak boleh dihalang-halangi
Kata Wang, “Walaupun ch’ing dan ching menghubungkan jarak antara ‘yang ada di dalam jiwa’ dan ‘yang ada bersama benda’, keduanya saling mengisi dan yang satu tinggal di dalam yang lain.” Untuk contoh dia mengambil puisi Tu Fu:.

The lake cleaves the lands of Wu and Ch’u to east and south
Day and night the world floats in its changing waters
Of friends and family I have no word.
Old and ill I have only my solitary boat.

(Terjemahan Siu Kit Wong)

Danau membelah negeri Wu dan Ch’u arah ke timur dan selatan
Siang malam danau terapung-apung di atas air yang berubah selalu
Tentang kawan-kawan dan keluarga tak perlu diceritakan
Tua dan sakit-sakitan milikku hanya perahu kesunyian

Dalam puisi Tu Fu baris 1 dan 2 merupakan ching dan baris 3 dan 4 merupakan ch’ing. Baris 3 dan 4 yang merupakan baris terakhir bertindak terhadap dua baris pertama, baris 1 dan 2. Wang Fu-chih memperlihatkan bahwa di dalam puisi Tu Fu itu tak mungkin ada garis pemisah antara perasaan alami (t’ien = t’ien-ch’ing) dan sifat objek luar (wu = wu-li). Jika ada garis pemisah itu adalah ilusi semata. Ch’ing dan ching hanya dua di dalam nama, tapi tak tercerai dalam hakekat. Di dalam puisi yang baik keduanya menyatu. Sama halnya dengan keadaan pengalaman kita atau pemahaman kita terhadap sesuatu di luar diri kita, tak terpisah dari sesuatu di luar diri kita yang kita alami.
Menurut Wang puisi tidak dapat disamakan dengan kata-kata dan tidak boleh dikelirukan dengan perasaan yang ada di sebalik kata-kata. Di dalam puisi penyair mengekspressikan chih (pikiran/perasaan) dan di sebalik puisi ialah spirit (shen)yang tinggal ‘di sebalik kata-kata’ (James Legge dalam Sui Kit Wong 1978). Makna (yi) yang sebenarnya dari sebuah puisi berada di tempat ‘di mana tidak ada kata’. Puisi yang baik adalah suatu keseluruhan organis dengan hidup, gerak dan kesatuan sendiri. Makna (yi) dikomunikasikan dengan menyembunyikannya di dalam citra dan rima yang serasi.
Uraian Wang tentang puisi menekankan pentingnya sifat-sifat puisi seperti: kesatuan, gerak dalaman, kehidupan batin, dan juga logika puisi yang berbeda dari logika prosa. Tentang kesatuan Wang mengatakan bahwa kalau kita membaca sebuah puisi yang baik, ia tampak seperti lukisan pada gulungan sutra yang baik dan sempurna dari awal sampai akhir, seluruh yang dilukis berada dalam satu nada dan irama. Sebuah puisi mungkin dapat dibagi ke dalam dua bagian, tetapi tidak ada baris yang benar-benar menjadi tanda pemisah antara bagian-bagian yang dipisah. Awal, tengah dan akhir merupakan satu kesatuan. Dalam menjelaskan sifat-sifat puisi Wang menggunakan perumpaman, misalnya ‘urat nadi’ atau ‘pembuluh darah’ dan ‘denyut’, dan ‘gerakan awan’. Katanya, “Puisi memiliki urat nadi dan denyut sendiri, tetapi ini tak ada hubungannya dengan baris; makna batin atau dalaman (yi) dari awal sehingga akhir bebas mengalir dan tidak pernah berhenti menghidupkan urat nadinya.”
Puisi yang baik memiliki nilai transenden, ia bukan semata-mata merupakan hasil daripada keupayaan manusia, tetapi anugerah T’ien-shou (Sang Maha Wujud). Untuk menyebut semangat puisi Wang menggunakan istilah Shen. Dalam shen terkandung kekuatan T’ien, wujud tertinggi kehidupan. Shen tidak terbayang, tetapi pembaca puisi yang baik akan dapat merasa kehadiran shen. Shen ialah suatu kekuatan yang membuat keindahan yang ada dalam T’ien-shou dapat diperoleh oleh seorang penyair. Keindahan tertinggi yang diperoleh dari alam benda ialah ching dan di dalam manusia ialah shen. Puisi tercipta karena kesadaran terdalam penyair yang memperoleh shen, dan kemahiran teknis dengan begitu menjadi nomor dua dalam penulisan puisi. Puisi ialah hasil perpaduan perasaan (ch’ing) dengan ching (alam benda). Apabila perasaan menyatu dengan alam benda atau fenomena alam, maka alam akan menjadi juru bicara perasaan melalui sugesti-sugesti yang disampaikannya. Dengan itu shen menerbitkan ch’ing. Tugas seorang penyair ialah ‘mengambil’ ching dari alam atau dunia luar dengan tangkas. Kata Wang, “Puisi yang baik dicipta dengan mengambil pengalaman visual dari dunia luar secara tangkas dan menjelmakannya ke dalam kata-kata, bukan mengambilnya dari bingkai sebuah lukisan.” (Legge dalam Sui Kit Wong 1978). Wang memberi contoh sajak Li Po, yang terjemahannya adalah seperti berikut:

Bulan terang di langit kota Ch’ang-an
Dari rumah-rumah bunyi penumbuk padi terdengar
Angin musim gugur bertiup tanpa henti
Mengungkap rasaku jauh ke Puncak Permata Hijau

Kualitas puisi ini terletak pada baris-barisnya yang tidak memiliki garis pemisah. Keseluruhan merupakan suatu persembahan utuh. Kita boleh menukar baris 1 dan 3 tanpa merusak keutuhan seluruh puisi. Di dalam puisi ini ada tatanan dalaman tersembunyi. Puisi ini tidak ada kena mengenanya dengan tehnik penulisan. Ia hadir untuk mempersatukan penglihatan mata dengan rasa dalam jiwa agar kedua-duanya, indra dan hati, bangun melakukan aktivitas yang padu. Menurut Wang Fu-chih penyair ialah dia yang dapat mempersatukan dirinya dengan alam semesta (t’ien-ti). Dalam persatuan ada pergerakan hidup yang mengalir. Kalau hubungan ini berlangsung intens maka keduanya menyatu, sehingga dalam kesadaran penyair identitas dirinya seolah-olah hapus, begitu pula identitas alam semesta.
Ch’ing ialah aktivitas antara yin dan yang, sedangkan alam benda (wu) adalah segala yang tumbuh di antara langit dan bumi. Bilamana aktivitas antara yin dan yang mengambil tempat di dalam wujud batin manusia (hsen) segala yang telah tumbuh antara bumi dan langit akan berespon kepadanya dari luar. Segala sesuatu yang ada di luar diri manusia, dapat merupakan pasangan atau padanan bagi yang ada di dalam jiwa manusia (perasaan, fikiran). Kalau kita pergi kepada benda-benda di luar, akan kita lihat bahwa perasaan apa pun yang ada dalam diri kita tidak akan dapat disampaikan tanpa objektif/sasaran yang sesuai (Sui Kit Wong 1978). Pandangan Wang ini sejalan dengan pandangan Jalaluddin Rumi (1207-1273) di dalam tradisi Islam. Rumi mengatakan bahwa setiap perasaan dan kesadaran dalam diri manusia mempunyai padanan dengan apa yang ada di dalam alam, setiap ‘yang batin’ (makna) mendapat padanan di dalam ‘yang zahir’ (surah). Di dalam alam ada anggur yang memabukkan, di dalam jiwa manusia ada juga anggur yang memabukkan, yaitu ‘ekstase mistikal’.
Menurut Wang semua penyair itu mengambil sesuatu obyek dari dunia luar dan merakam kesadaran kosmik di dalam puisi. Dengan itu Wang memandang bahwa ch’ing dan ching tidaklah bertentangan, namun merupakan dua perkara yang saling memberi kelengkapan. Pandangan ini didasarkan atas filsafat bahwa alam semesta itu tidak kenal awal dan akhir, dan sesungguhnya tidak ada kelahiran dan kematian dalam arti sesungguhnya. Yang ada hanyalah perubahan dan perubahan merupakan transformasi, pengubahsuaian yang berterusan. Perubahan merupakan aktivitas, dan sesuatu maujud karena adanya aktivitas. Begitu pula puisi adalah hasil dari aktivitas atau keadaan jiwa yang terus mengalir dalam rangka transfromasi atau perubahan-perubahanb. Puisi selalu dalam keadaan mengalir, “Poetry is in a fluid state”.

Puisi Indonesia
Apakah teori Wang dapat diterapkan dalam telaah puisi Indonesia? Tentu saja dapat, karena memang cukup banyak terdapat puisi-puisi Indonesia lama dan baru yang merupakan hasil perenungan pernyairnya terhadap baik alam maupun pikiran serta perasaannya sendiri. Contoh terbaik yang memperlihatkan betapa ch`ing dan ching menyatu ialah bait sajak Chairil Anwar “Derai Cemara” seperti berikut:

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan cepat jadi malam
di tingkap ada dahan merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

Contoh lain yang juga demikian tepat ialah sajak “Dibawa Gelombang” Sanusi Pane, yang menggambarkan persatuan rahasia (mistis) jiwa penyair dengan alam. Citra lihatan dan dengaran yang diambil dari berperan efektif dalam melukiskan pengalaman unio-mystica penyair:

Alun membawa bidukku perlahan
Dalam kesunyian malam waktu
Tidak berpawang tidak berkawan
Entah kemana aku tak tahu

Jauh di atas bintang kemilau
Seperti sudah berabad-abad
Dengan damai mereka meninjau
Kehidupan bumi yang kecil amat

Aku bernyanyi dalam suara
Seperti bisikan angin di daun
Suaraku hilang dalam udara
Dalam laut yang beralun-alun

Mengenai penerapan teori Wang dalam puisi Indonesia yang lain dapat dilakukan dalam sebuah pembahasan lain.

Jakarta 29 Juli 2009

Daftar Rujukan

Birch, Cyril (1974). Studies in Chinese Literary Genres. Berkeley, Los Angeles dan
London: University of California Press.

Chang Wing-tsit (1963). Source Book in Chinese Philosophy. Princeton: Princeton
University Press.

Chang Yun-min & Lewis Walsey (1958) Poems by Wang Wei. Rutland and Tokyo:
Chawrles E Turtkle & Co.

Owen, Stephen (1985). Traditional Chinese Poetry and Poetics. Madison, Wisconsin:
The University of Wisconsin Press.

Pollard, David (1978). “Ch`i in Chinese Literary Theory”. Dalam Chinese
Approaches to Literature from Cnfucius to Liang Chi’i-ch’ao. Princeton: Princeton University Press (h 43-66).

Sui Kit Wong (1978). “Ch’ing and Ching on the Critical Writings of Wang Fu-
chih”. Dalam Chinese Approachs…(h.121-50).

10 Alasan Mengapa Menulis Naskah Tidak Bisa Cepat

Oleh : -Arul Khan-

Secepat apa kita menulis? Setiap orang punya jawaban sendiri tentang pertanyaan ini; 10 halaman ada yang diselesaikan selama satu jam, sepuluh jam, satu hari, satu minggu, satu bulan, bahkan ada yang satu tahun. Ya, menyelesaikan 10 halaman bisa berarti pekerjaan mudah dan bisa berarti siksaan yang tiada akhir.

Nah, ini dia faktor pendukung dan penghambat yang memengaruhi kita menyelesaikan naskah

1. Menulis dari 0
Ibarat masuk ke dalam hutan belantara, menulis dari 0 tanpa data dan tanpa persiapan sama saja membuat kita jadi tersesat. Kita hanya memiliki 0 persen persiapan untuk menyelesaikan sebuah naskah; lalu dengan modal sebesar itu, apa yang harus ditulis? Tak heran, baru saja dua tiga paragraf banyak di antara kita yang langsung kebingungan, ‘habis ini nulis apa lagi ya?’

2.Tidak Riset dulu Baru Nulis
Setelah ide didapat, hal yang paling baik dilakukan adalah melakukan riset. Baik itu riset data dan pustaka yang dibutuhkan sebagai materi dalam naskah atau riset pasar, penerbit, dan peluang agar tahu nasib naskah selanjutnya. Kebanyakan kita main langsung nulis saja, sementara data yang mau ditulis nggak ada.

3. Menulis sambil riset
Tidak ada yang salah melakukan riset di sela-sela kita menulis. Masalahnya apakah kita yakin waktu riset yang digunakan tidak menyita waktu menulis? Bayangkan sedang asyik-asyiknya menulis tiba-tiba terhenti gara-gara data yang kurang dan harus riset dulu.

4. Tidak ‘punya’ outline’
Ibarat rel, kereta api baru bisa jalan sesuai dengan sejauh mana dan kemana rel itu menuju. Outline atau kerangka atau turunan ide adalah ‘rel’ yang membawa struktur naskah yang kita hasilkan. Jika mentok di bab pertama, karena ada outline, kita bisa loncat ke bab berikutnya.

5. Menulis sebaiknya bukan ibarat anak tangga
Apa yang pertama kali muncul di benak? Pasti kalau tidak konflik, ending, atau tokoh-tokohnya. Nah, kenapa tidak menulis dari yang sudah muncul dahulu, misalnya menulis endingnya. Kebiasaan kita menulis ibarat anak tangga, naik ke atas mesti menapak anak tangga pertama, kedua, dan seterusnya. Menulis dari bab pertama dan pas sampai ending kita sudah lupa gimana ending yang bagusnya.

6. Ngedit mulu
Nulis satu kalimat atau paragraf kemudian dilihat lagi, diubah lagi, dibetulin lagi, diganti lagi, diutak-atik lagi, dan dibetulin tanda bacanya. Kemudian sudah dapat 10 halaman, pekerjaan tadi diulang lagi. Nah, ini yang bikin kecepatan kita menjadi lebih lambat. Dan secara sadar maupun tidak kita sudah menyiakan waktu menulis bahan-bahan yang sudah ada di kepala.

7. Menyerah terhadap ‘jalan buntu’
Setiap penulis, siapapun dan seprofesional apapun dia, pasti suatu ketika akan menghadapi jalan buntu atau istilahnya writers block. Kepiawaian untuk mengatasi inilah yang menyebabkan seberapa cepat kita menyelesaikan naskah. Ada yang langsung berhasil mendobraknya, namun ada pula yang menyerah dan akhirnya tidak menulis lagi.

8. Tergoda ama yang lain
Sedag menulis dan berpayah-payah menyelesaikan tulisan tersebut, tiba-tiba ada ide baru dan kita tergoda menulis ide baru tersebut. Akhirnya, naskah yang pertama pun tidak selesai. Atau mengerjakan naskah dua atau tiga sekaligus sehingga konsentrasi terpecah.

9. Tidak punya waktu kerja
Menulis ibarat masuk kantor, datang pagi pulang menjelang sore dan itu rutin dilakukan. Berikan waktu yang cukup dan rutin untuk menulis menjadikan naskah yang digarap akan selesai sesuai waktu yang diinginkan. Kalau menulis cuma disela-sela waktu atau sambil lalu saja, ya jangan berharap bisa selesai.

10. Tidak punya peralatan sendiri
Ini masalah yang lumayan besar. Tidak punya laptop atau pc di rumah menjadi salah satu penyebab utama kenapa naskah kita susah selesai dan memakan waktu cukup lama. Sementara kalau ke rental banyak keterbatasannya, salah satunya virus yang bisa menyerang flashdisk. Bayangkan naskah yang kita tulis tiba-tiba filenya kena virus dan menyebabkan filenya hilang. Dan yang namanya semangat menulis nggak bisa diatur sekenanya. Tiba-tiba saja jam 12 malam mau nulis; nah, karena tidak ada peralatan, akhirnya tinggal semangat aja.

10 Rahasia Menjaga “Good Mood” dalam Menulis

Soal MOOD alias suasana hati, keadaan pikiran atau keadaan jiwa memang tidak selama berada dalam batas normal. Kadang ada saja suasana tidak menyenangkan yang tiba-tiba muncul di tengah konsentrasi kita menulis; seringkali penyebabnya sepele, namun dampaknya luar biasa. Misalnya, sedang enak-enakan nulis mati lampu… wah,gak banget, deh.

1. Cari Suasana
Sebelum menulis di komputer sebaiknya cari suasana yang nyaman, tenang, dan enak. Banyak penulis yang sengaja tidur lebih awal agar di tengah malam ia bisa bangun dan mendapatkan suasana hening yang bisa membantu mood-nya menjadi lebih memacu dalam menulis.

2. Nikmati saat-saat menulis
Ada kalanya mendengarkan musik instrumentalia, sebagai misal, merupakan pilihan tepat untuk menemani saat-sat menulis. Nah,tidak ada salahnya kita menikmati saat-saat menulis di café, menyerumput secangkir cappucino float, dan sepiring kacang mete.

3. Cari pemandangan
Memandangi layar monitor komputer dalam waktu lama tentu saja membuat mata lelah dan badan penat. Tidak ada salahnya posisi duduk atau posisi meja komputer berdekatan dengan jendela dengan pemandangan yang menyenangkan. Jadi, jika bad mood mulai datang kita bisa memandangi suasana atau menikmati semilir angin melalui jendela.

4. Kehabisan data
Ini yang menyebabkan si-bad itu menggerogoti mood. Seringkali ketika menulis kita terbentur dengan data-data yang ternyata kurang lengkap, bolak-balik ke warnet hanya untuk mencari sebaris kalimat, atau bongkar buku perpustakaan sebagai bahan menulis. Kalau ini dilakukan terlalu sering, lama-lama waktu untuk mengumpulkan data lebih banyak dibandingkan menulis. Ada baiknya data-data itu sudah kumpul seratus persen ketika kita siap menulis.

5. Hindari virus menilai karya sendiri
Banyak calon penulis atau penulis pemula yang menjelek-jelekkan tulisannya sendiri ketika proses menulis itu sedang berlangsung; baru saja dua halaman sudah tidak yakin atau merasa bahwa dua halaman itu adalah hasil tulisan yang tidak maksimal, jelek pemilihan kata, dan tidak pe de untuk dipublikasikan. Tanamkan dalam diri kita bahwa menulis itu adalah sebuah proses kerja keras, namun melalui proses tersebutlah akan menghasilkan sesuatu yang layak diperjuangkan.

6. Berada di dunia asing
Sudah habis data-data yang diolah, sudah berapa kali terbentur writers block, sudah tak terhitung berapa paragraf gagal, atau banyak persoalan yang muncul dari tulisan Anda. Ini karena dalam proses menulis kita sering sendiri. Tidak ada salahnya sejak awal melibatkan orang lain, misalnya teman, sahabat, guru, editor, atau penulis senior. Mereka berguna untuk tempat berdiskusi dan berbagi persoalan dalam menulis. Apalagi kalau kita memiliki sahabat yang juga penulis senior; wah, pengalaman mereka bisa dijadikan masukan berharga untuk menjaga good mood.

7. Cari pemicu
“Setiap naskah yang kita buat akan terbit menjadi buku, akan dibaca ratusan dan ribuan orang, akan dapat royalti, akan difilmkan, de es be…!” Ini salah satu kalimat penyemangat saja. Nah, kita bisa juga mencari pemicu sendiri, misalnya kalo naskah ini selesai bakalan motong kambing. Pokoknya apa saja yang bikin semangat berkobar terus.

8. Bukan saatnya menunda
Jangan menunda-nunda proses menulis naskah. Bikin target kapan naskah ini selesai, berapa halaman dalam satu hari bisa diselesaikan, dan berapa banyak waktu yang sengaja dikhususkan hanya untuk menulis proyek naskah itu. Jangan terlalu sering diselingi dengan aktifitas lainnya. Apalagi kalau menunda-nunda menyelesaikan naskah, eh, tahu-tahu sudah mengendap dua tahun.

9. Target, tapi tetep santai
Meski kita tahan duduk lebih dari delapan jam di depan komputer, tapi tetap saja yang namanya tubuh ada mekanisme tersendiri yang perlu diperhatikan. Ngejar target iya, tapi tubuh juga perlu istirahat, makan-minum, dan menghirup udara segar. Buat apa menyelesaikan naskah dengan begadang tujuh hari tapi hasil naskah tidak cukup untuk biaya pengobatan kita di rumah sakit.

10. Niat itu paling penting
Yup, untuk menjaga good mood itu sebenarnya terpusat di niat. Niat yang akan menggerakkan semua potensi yang kita miliki untuk menjaga mood kita tetap baik dan konstan. Misalnya saja, jika niat kita menulis untuk ibadah, nah tentu saja setiap huruf yang kita pilih akan bernilai pahala. Tentu ini akan menambah motivasi kita untuk menyelesaikan naskah. So, renew niat kita!

Puisi – 5 Tahap Produksi

Oleh : Indra Nara Persada

apa yang kutulis di bawah ini bukanlah sesuatu yang ‘mutlak’, bukan sesuatu yang ‘harus begitu’. pengalaman penulisan puisi bagi setiap orang mungkin berlain, sehingga tahapannya pun berlain. aku hanya mencoba menuliskan tahapan ini berdasarkan pengalaman pribadi, tanpa bersandar pada sebuah teori. mudah-mudahan bermanfaat bagi yang membutuhkannya. setidaknya, untuk dapat berbagi dan bakutukar pengalaman dengan sahabat semuanya. mohon ditambahkan bila ada kekurangan, dikurangi bila kelebihan. salam hangat untuk semua! – indra nara persada –

SECARA umum, setidaknya ada 5 tahap yang dilalui seorang penyair untuk sampai melahirkan sebuah puisi:

1. kontemplasi (perenungan): olah-rasa terhadap peristiwa yang terjadi pada diri sendiri, pada orang lain, atau pemikiran dan rasa dari hasil bacaan ataupun dari melihat lingkungan alam sekeliling. di sini sang penyair melakukan dialog antara hati dan pikiran, membolakbalik materi, melakukan pendalaman. bergerak bakubalik antara suasana hati dengan pemikiran, membangkitkan intuisi, sehingga menemukan sebuah pesan atau sesuatu yang akan disampaikan (substansi). dalam hal ini, biasanya, intuisi-lah yang akhirnya sangat berperan. [ada orang yang dapat melakukan kontemplasi dengan cepat, ada yang bahkan berhari-hari/berminggu/berbulan meski terputus-putus waktunya]

2. penulisan: di sini intuisi membimbing si penulis untuk melahirkan kata-kata. muncullah metafora-metafora maupun citraan yang terkadang sangat imajinatif, simbolistis, bahkan surealistis.

3. pengendapan: selesai penulisan, biasa dilakukan dulu pembiaran terhadap karya yang baru ditulis itu. sejam dua jam, atau malah sehari dua hari. dimaksudkan agar si penyair dapat berjarak dengan karyanya, tak lagi terlibat penuh dengan suasana hati serta intuisinya. ibarat air yang telah dibuncah sehingga keruh, kini didiamkan agar segala yang ada padanya mengendap dulu ke dasarnya sehingga menyisakan kebeningan. dan suasana hati si penyair pun sejenak lepas bebas dari kungkungan emosi yang telah dibangkitkannya sejak tahap kontemplasi.

4. mengkritisi karya sendiri: setelah beberapa waktu, si penyair kembali masuk ke suasana hatinya saat penciptaan. tapi tidaklah penuh-seluruh. ia mengambil jarak dengan karyanya dengan memberi kesempatan pada pikirannya untuk melakukan kritik terhadap karyanya tersebut (seolah yang dibacanya kini adalah karya orang lain).

di sinilah teori-teori sastra dapat digunakan (jika menginginkannya). dan hal tersebut tak lebih untuk memperkuat makna ataupun pesan (substansi) yang ingin disampaikan. jika tak sesuai, maka yang ‘dibuang’ adalah teori, bukan karyanya.

yang penting pula adalah unsur kebahasaan. apakah susunan larik, kata yang digunakan, letak tanda baca sudah tepat dengan pesan yang ingin disampaikan? apakah lompatan bait-baitnya sudah pas dan kira-kira dapat dipahami oleh pembaca, sehingga pesan dapat sampai padanya? apakah diperlukan pengurangan larik/baris atau justru harus ditambah? apakah diperlukan pembalikan kata, pemenggalan kata, penyatuan kata, untuk lebih memperkuat makna? dll.nya.

di sini pula biasanya terjadi ‘pelanggaran’ terhadap kaidah-kaidah kebahasaan. pelanggaran kaidah merupakan sesuatu yang sah-sah saja bagi seorang sastrawan, selagi hal itu dapat memperkuat pencapaian makna dan penyampaian pesan dari karyanya. sebagai contoh, misalnya kata yang menurut aturan bakunya harus ditulis ‘di hilir-hilir’, tapi dalam puisi ada yang ditulis ‘di hilir hilir’ (tanpa tanda strip). makna ‘di hilir-hilir’ mungkin hanya menunjuk pada satu atau beberapa tempat. tapi makna ‘di hilir hilir’ lebih tegas menyatakan bahwa yang dimaksud adalah ‘di hilirnya hilir’. begitu juga misalnya kata ‘di ujung-ujung’ yang dapat ditulis ‘di ujung ujung’ atau bahkan bisa ‘di ujungujung’, ‘di ujung jung’, ‘di ujungjung’, ‘diujung jung’, dll. masing-masingnya akan memberikan efek makna yang berbeda, sehingga si penyairlah yang memilih, makna yang mana yang lebih diinginkan. contoh lain, misalnya ‘rasa sepi yang menyayat-sayatkan keperihan’ ditulis penyair sutardji calzoum bachri hanya dengan satu kata: sepisaupi. sebuah kata yang tak ditemukan dalam kamus, tapi dapat diselami maknanya.

hal berikutnya pada unsur kebahasaan adalah tanda baca. pada setiap akhir larik/baris, sering tak terdapat tanda titik (.). titik merupakan tanda untuk berhenti. tapi setiap unsur sajak selalu diinginkan memberikan efek terbuka, berlanjut dan berkesinambungan dalam jiwa pembacanya. maka dengan menghilangkan tanda titik, adalah dimaksudkan sebagai salah satu unsur untuk mencapai efek tersebut.
sedangkan pada beberapa kasus, terdapat tanda titik di tengah larik, atau hanya sekadar tanda koma. di sini tanda itu justru mendukung untuk berpindah suasana, tapi masih kesinambungan dengan sebelumnya.
ada pula tanda titik dua (:) yang diletakkan di awal baris/larik. ini boleh jadi dimaksudkan sebagai tanda bahwa kata-kata sesudahnya merupakan ucapan tidak langsung. seakan-akan tanda ini menggantikan kedudukan kata ‘kataku,’ atau ‘katanya,’, ataupun penghilang/pengganti tanda kutip.
masih banyak hal lainnya menyangkut kebahasaan. misalnya efek hiperbola pada kalimat, dll.

satu hal lain yang berkembang seiring perkembangan teknologi masa kini, perbaikan-perbaikan di atas dapat kita lakukan dengan meng-share pada rekan untuk minta pendapatnya. misalnya menggunakan sms dari hp, atau via email, via email facebook, atau malah mempublikasikannya dulu (sementara) untuk semua rekan di facebook.

5. publikasi: kalau tak hanya hendak disimpan di laci, tibalah saat untuk publikasi. publikasi diperlukan untuk mempublikkan/memasyarakatkannya. hakikatnya bukan puisi itulah yang dipublikasikan, tapi makna dan pesan yang terdapat di dalamnya (isi).

publikasi bisa saja dilakukan dengan membacakan karya itu di manapun ada kesempatan. dalam hal ini, ruang lingkup pencapaian publiknya tentulah sangat terbatas.

masa kini, pilihan media publikasi pun makin beragam. dari media cetak, media audio/video, media rekam, hingga ke media internet (via facebook, blog, situs, dll). jika ingin dipublikasikan lewat sebuah media yang digawangi redaktur, cobalah mengenal redakturnya. sehingga, kita tahu bagaimana pemahaman dan ‘selera’nya terhadap karya puisi. pengenalan juga dapat dilakukan dengan mengikuti karya-karya yang telah dimuat di medianya. dengan begitu, kita dapat memilah bahwa karya yang ini dikirim ke sana, yang itu dikirim ke sini, yang ‘ono’ dikirim ke situ, dll. habis itu, iya, kirimkanlah. via email, pos, ataupun diantar langsung. tunggu pemuatan. kalau tak dimuat, jangan kecewa. kirim terus! [perlu diketahui, setiap hari redaktur budaya bisa menerima ratusan karya. mungkin saja karya kita terlewatkan untuk membacanya]

catatan:
beberapa tahap di atas dapat saja terjadi berbarengan. misalnya, tahap penulisan juga sekaligus diikuti pengkritisian, meski nantinya diulang lagi.
masing-masing tahap juga dapat terjadi berulang kali. tergantung pada kepuasan si penyair terhadap penulisannya maupun pencapaian apa yang hendak disampaikannya.

. 220609

semoga bermanfaat :)