Sorang Puan Perawan

Oleh:

A.Kohar Ibrahim

 

 

JEJAK langkah dipercepat. Meski tak ada orang menunggunya pulang ke rumah. Seusai mengutarakan kuliah di Fakultasnya. Dia bergegas bukan lantaran khawatir telah terjadi apa-apa, apa pula waswas. Sebaliknyalah.

 

Wajahnya sumringah sudah sejak membuka pintu depan, lantas masuk ruang tamu berdekorasi sejumlah lukisan karya kekasihnya. Dan akhirnya langsung ke ruang mungil yang terang kena sinar matahari.

 

Tak dihiraukannya laptop pun PC yang terletak di atas meja kecil dekat jendela kaca. Dia langsung duduk terduduk di atas kursi yang terasa begitu pas menghadapi meja kayu gaya Betawi. Dan tapak tangannya begitu saja spontan menjamah mesin-tik kecil mungil warna merah marong merk Korona. Jamahannya sebegitu rupa seperti sedang membelai sang mesin penuh mesra. Sudah tersisipkan sehelai kertas yang nampak agak kekuningan. Tapi masih kosong. Masih bersih. Masih belum kena garapan tulisan. Kecuali judul : “Sorang Puan Perawan”.

 

“Gila!” desisnya, nyaris teriak keras. Bukan lantaran kesal, melainkan takjub berbaur haru-gembira. Seketika tercenung terus saja menatap kertas putih yang tersisip di mesin-tik klasik Korona itu. “Sekarang bulan Juni, sudah hampir sewindu judul itu tertulis.”

 

Iya. Dia terus tercenung seperti lagi asyik menyegar ingatan seberapa waktu lalu. Hampir delapan tahun lamanya. Dia ingat sekali, judul itu bukan ide aslinya, bukan pula sentuhan ujung jari jemarinya sendiri. Tapi oleh seseorang. Seorang lanang yang  jika di luar waktu berdinas,  kesukaannya menunggang kuda. Mengenakan busana sederhana berupa celana hitam panjang komprang, kaos oblong merah dan kemeja atau jaket hitam pula. Berambut ikal agak gondrong yang sesekali dikenakan peci hitam; seringkali terlingkar ikat kepala kain batik larik larik klasik. Raut-muka-nya tidak bundar juga tidak segi-empat, agak lonjong. Sepasang matanya agak sipit. Hidungnya tak mancung tak bisa pula dikatakan pesek. Bibirnya memang agak tebal: belah atasnya seperti bukit. Hanya ketika sedang berpikir serius bentuknya agak nonjol kedepan. Seperti seketika duduk di atas kursi di belakang meja-tulis menghadapi mesin-tik Korona itulah. Hanya berubah seketika pula mendengar teguran perempuannya: “Kenapa tidak ringkas saja, cukup sepatah kata: Gadis. Atau: Perawan ?”

 

Dia menoleh seperti terkejutkan oleh pertanyaan seseorang yang mendadak berdiri di sisi sebelah kanannya. Bibirnya seketika menjembul. Bergerak-gerak sepintas,  lantas bilang, juga dengan nada penuh keyakinan sepertinya sudah disiapkan. Untuk menangkis.

 

“Gadis?” ujar tanyanya. Menegaskan setelah mengulang ulang: “Gadis? Tapi yang akan kutulis bukan anak-kemarin. Bukan bocah yang masih bau-kencur.”

 

Perawan – itu saja. Gimana?” tanya sang perempuan itu mengulang dengan tenang. Tapi nampak baginya agak menggoncang konsentrasinya.

 

“Perawan?” ujar tanyanya balik. Dengan nada lebih menegas. “Tokoh yang akan kulukiskan bukan  ABG. Bukan pula dalam arti masih gadis belaka. Melainkan seorang perempuan yang sudah menikah tapi….”

 

Seketika suaranya terhenti. Keduanya saling menatap dengan pandang mata tajam namun penuh kelembutan. Lantaran cepat saling mengerti. Saling memahami. Iya. Lantaran sudah entah keseberapa kalinya soal perawan keperawanan ini jadi bahan pembicaraan mereka. Untuk saling makna memaknakannya. Malah bukan hanya memahami maknanya, melainkan juga menguji rasa merasakannya. Rasa keindahan yang menggetari jiwaraganya. Sampai satu sama lain menitikkan air-mata. Sampai diapun menitik airmata lebih-lebih lagi.  Dan sang lelaki pun berbisik mesra. “Aku bangga dan bahagia dikau mampu menjaga marwah sedemikian rupa,” bisiknya.

 

Bisikan dalam pelukan yang secara lumrah mendapat balasan: “Aku hanya mau memberikan pada seorang lelaki yang aku cintai. Lelaki kekasih yang menikahiku.”

 

Dan dia, sang lelaki itu, beritikad untuk suatu waktu menuangkannya dalam halaman tulisan berkisah. Menghasilkan salah sebuah buah pena mengabadikan daya dan gaya pikiran serta imajinasinya. Meskipun baru sebuah judulnya saja. Namun sang perempuan itu yakin, bahwa segenap isi yang hendak dituangkan sudah tersediakan. Hanya mendadak tertunda seketika. Ketika datang rekan-rekan dari Media yang mengkonfirmasi keberangkatan grupnya meliput Perang Irak yang baru saja meledak dalam bulan Maret 2003.

 

Ketika perempuan itu melepasnya berangkat bersama grup Media di bandara udara, sedetik seketika itu sang lelaki sempat berbisik dengan nada romantik. Seperti seorang perjaka saja layaknya: “Kita lanjutkan sepulang menunaikan tugas, yah? Sampai berhasil….”

 

Meskipun sudah menyiapkan pikiran akan segala kemungkinan terjadi, sebagai resiko kegiatan yang dijalankan, tak pernah sampai pada point yang paling mengejutkan. Paling tidak diharapkan. Dari sekian ratus ribu korban jiwa dalam perang intervensi sekutu Inggris-Amerika di Irak itu adalah sang lelaki yang dikasihsayanginya sendiri. Lelaki yang baru saja menikahinya.

 

Dengan mudah bisa diperkirakan betapalah berat beban duka-cita yang ditanggungnya. Selama bertahun-tahun. Kadang kala begitu berat rasanya hingga prilakunya seperti orang linglung.

 

Namun bagaimanapun, tak urung ada kekuatan batin yang bisa melolos-luluskan jiwa-raga dari jebakan duka-nestapa. Lolos dari sergapan keputus-asaan. Kekuatan itu tumbuh dari keyakinan saling meyakinkan dalam cita cinta kasih sayang. Dari saling percaya dan pemahaman akan makna yang baginya mendasar. Yakni terutama sekali perihal menjaga marwah sebagai perempuan yang layak selayaknya. Perihal soal yang bisa menjadi persoalan besar. Karena baginya memang soal besar lagi mendasar.

 

Keyakinan dan kepercayaan serta pemahaman lelaki yang dikasih-sayanginya itulah, menurut insting keperempuannya yang akan dituangkan dalam tulisan suaminya. Meskipun baru sebatas judul sahaja.

 

GILA ! Sekarang sudah hampir sewindu lamanya —  desis perempuan itu lagi, sembari menatapi mesin-tik Korona. Lebih tepatnya, pandang sepasang mata, mata hati mata pikirannya tertumpu pada sehelai kertas yang tersisipkan. Kertas tanah garapan tulisan yang masih kosong, masih bersih, kecuali tertanam sebaris kata: Sorang Puan Perawan.

 

Seketika jari jemarinya mulai menari-nari sembari menatapi halaman kertas kosong dan bersih itu, tak terasa butir-butir air bening mengalir dari sepasang mata membasahi pipinya. Namun demikian tak mengalahkan melainkan malah menguatkan itikadnya. Itikad merampungkan tugas mulia: – menjadikan sebuah judul Sorang Puan Perawan berisi kisah sebenar-benarnya.

 

“Akulah Puan – sang perempuan itu – pengaku sekaligus pelaku dan pengisi kisah ini,” demikian baris kata-kata terakhir menutup kisah yang dengan rasa bangga dan lega dirampungkannya. ***

 

(29 Januari 2012)

 

*

Catatan:

Cerpen Judul Sorang Puan Perawan oleh A.Kohar Ibrahim ini disiar pertama Facebook 30 Januari 2012.

Biodata :

A.KOHAR IBRAHIM

Kelahiran Jakarta 1942. Penulis Pelukis tamatan Akademi Senirupa Brussel Belgia (1972-1979).

Aktivitas-kreativitas sebagai jurnalis dan penulis sejak tahun 1950-an. Karya tulis tersiar di media massa seperti Bintang Timur, Bintang Minggu, Warta Bhakti, Harian Rakyat & Minggu, Majalah Zaman Baru (dpp Rivai Apin dan S. Anantaguna).

1989-1999 Editor Majalah Seni dan Sastra KREASI terbitan Stichting Budaya, Amsterdam, Holland.

Sejak zaman Reformasi berkas berkas tulisannya tersiar sebar beberapa media massa. Antara lain: Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Sijori Pos, Batam Pos, Majalah Budaya 12 (Dewan Kesenian Kepri, Tanjungpinang), Gema Mitra  Swakarsa (Batam).

Sebagai essayis, berkas berkas essay sosio-budayanya antara lain:

(1).Sekitar Tempuling – Telaah Buku Kumpulan Sajak “Tempuling” karya Ruda K Liamsi. Semula disiar Harian Batam Pos, kemudian diterbitkan dalam bentuk buku oleh Yayasan Sagang, Pekanbaru 2004.

(2).Dari Puncak Sang Pahlawan Nasional Sastra Kepulauan Riau – termaktub dalam buku Identitas Budaya Kepri  - kumpulan essay bersama, terbitan Dewan Kesenian Kepri Tanjungpinang 2005.

(3).Kepri Pulau Cinta Kasih – buku kumpulan essay bersama Lisya Anggraini, terbitan Tititk Cahaya Elka, Batam 2006.

(4).Sekitar Polemik Pramoedya-Lekra vs Manikebu, buku kumpulan essay terbitan Titik Cahaya Elka, Batam, 2009.

Berkas berkas essay yang disiar Harian Batam Pos, tapi belum sempat diterbitkan dalam bentuk buku, seperti antara lain: “Catatan Dari Brussels” (40 essay); “Sekitar Tembok Berlin – Lagu Manusia Dalam Perang Dingin Yang Panas” (30-an essay). ACI: “Sekitar Prahara Budak Budaya” (25 essay).

Baik yang sudah maupun belum dibukukan, daftar berkas berkas naskah prosa dan puisinya masih panjang; berkas berkas Nota Puitika nya sudah melebihi 500-an. Disiar via sejumlah media internet, antara lain: Situs Sastra Nusantara Cybersastra.Net; ABE-Kreasi Multiply Site; Facebook; ACI – Art-Culture-Indonesia; Apresiasi Sastra (Apsas); Apresiasi Puisi; World Culture dll.

Lebih lanjut bisa disimak lacak di: http://16j42.multiply.com/journal/item/635/tag/biodata/; http://artscad.com/@/AKoharIbrahim/;

Dan dilacak dengan menggunakan mesin pencarian Google dan atau Yahoo.

*

AKI

 

 

 

Angela dan Petualangan Kecilnya

Oleh : Sayuri Yosiana

Angela berlari-lari kecil menyusuri jalan setapak di sepanjang lorong kota tua di sudut kota Marbella yang cantik. Pipinya bersemu merah, kedua tangannya penuh dengan bunga-bunga liar yang dipetiknya di kaki bukit Kupu-Kupu, sebutan para warga kota untuk bukit kecil di sebelah utara. Matanya berkejap-kejap menahan pancaran mentari di pagi hari yang cerah itu.

Tiba-tiba, “aduh !” Angela menjerit kecil.

Kakinya terantuk batu-batu kerikil yang bertebaran di sudut lorong yang mulai melebar. Angela meringis. Bunganya berserakan di jalan, dan lututnya agak memar. Seorang kakek menghampirinya sambil menggunakan tongkat.

“Mengapa kau, Nak? Sakitkah? Coba kakek lihat apakah ada yang terluka.”

Sang kakek membantu Angela berdiri, wajah gadis cilik itu hampir menangis. Namun dia membiarkan si kakek yang baik hati itu menolongnya. Biasanya Angela tak suka ada orang asing yang memegangnya. Dia terkenal pendiam dan pemalu di lingkungannya.

Sang kakek tersenyum lega. Di usap-usapnya kepala Angela sambil berkata, “Tak ada luka serius, Nak. Hanya lututmu yang harus diobati sedikit. Agaknya kau hanya kaget tadi. Mengapa berlari begitu cepat? Tak lihatkah banyak batu-batu yang berserakan di sepanjang jalan ini?”

Angela hanya menggelengkan kepala sambil memunguti bunga-bunga liarnya. Ah, bunga-bunga ini tak apa-apa kok, batinnya sedikit lega.

Setelah terkumpul semua bunga yang dipetiknya di bukit Kupu-Kupu tadi, dia menganggukkan kepalanya ke arah di kakek yang masih berdiri di dekatnya. Angela tak lupa mengucapkan terima kasih sambil tersenyum tipis.

Sang Kakek tertawa. “Nah, sebaiknya kau berjalan saja kalau rumahmu sudah tak jauh dari sini, Nak. Di manakah rumahmu? Sepertinya aku belum pernah melihatmu di lingkungan ini.”

Angela menatap Kakek yang baru dikenalnya, sebelum akhirnya menjawab.

“Aku baru tiba di sini seminggu yang lalu, Kek,” jawab Angela malu-malu. “Aku menengok Tante Michelle yang baru melahirkan anaknya. Namanya Jessica. Kan sekolahku sedang libur.”

Kakek mengangguk-angguk.

“Oh, begitu ya. Jadi nanti kau akan melihat juga festival bunga di kota ini bukan? Pasti kau akan senang berlibur di kotaku ini. Ini kota kuno Nak, sudah berabad-abad. Mungkin sudah ratusan atau ribuan tahun berdirinya. Pernahkah kau dengar tentang zaman romawi, Nak?” tatap Kakek dengan senyum penuh kebanggaan.

Angela menganggukkan kepala. Kakek melanjutkan ceritanya.

“Nah, sejak zaman romawi itulah kota kecil kuno yang indah ini telah berdiri. Tentu saja kita semua belum ada waktu itu hehe. Kota ini pernah mengalami peperangan. Diperintah oleh raja dan ratu silih berganti. Banyak kesenian rakyat yang berkembang dari masa lalu yang tetap di abadikan di kota ini sampai sekarang,” jelas si Kakek.

Angela terpaku mendengarkan cerita Kakek. Ia senang akan cerita sejarah. Bahkan buku-buku sejarah milik kakaknya pun sudah dibacanya, meski ia belum memahami isinya. Usianya 12 tahun, namun minatnya amat banyak. Angela senang bermain piano, suaranya indah kalau bernyanyi.

Angela juga senang memelihara hewan seperti kucing, kelinci, dan kuda-kuda. Ia punya seekor kuda poni yang mungil namun tangkas kalau berlari. Namanya Jules. Angela pun punya seekor anjing pudel yang lucu dan suka tidur di bawah tempat tidur, di kamarnya yang mungil, di rumahnya yang terletak di ibukota.

“Kau belum mau pulang, Nak?” tanya Kakek membuyarkan lamunan Angela.

Angela tersenyum, “Makasih Kek ceritanya. Aku mau pergi lagi. Rumah Tante Michelle sudah agak dekat kok.”

Si Kakek menyipitkan matanya menatap Angela. Karena matahari pagi itu terlalu bersinar. “Nak, mengapa kau berjalan-jalan sendirian? Apakah kamu sudah minta izin?”

Angela memerah mukanya, menunduk sedikit. Sang kakek memandangnya agak cemas.

Kakek menghela napas dengan berat. “Baiklah, lain kali kau harus minta diantar salah satu keluargamu kalau mau jalan –jalan di kota ini ya, Nak?”

Angela mengangguk pelan, lalu pamit pada sang kakek sambil berjalan ke arah selatan seraya membawa bunga-bunga liarnya. Sang kakek yang baik hati itu masih menatapnya sampai menghilang di kelokan lorong jalan.

Angela berjalan sambil melihat lihat sisi sepanjang lorong kota yang berkelok-kelok itu. Banyak penduduk kota berjualan aneka kerajinan, seperti manik-manik yang membuat mata Angela berbinar- binar melihatnya. Dia teringat kalung manik manik pemberian almaruh ayahnya di ulang tahunnya yang ke sepuluh. Sampai sekarang kalung manik-manik itu masih tersimpan rapi di laci kamarnya. Jarang dipakai kecuali bila ada acara-acara keluarga. Angela tak ingin kehilangan kalung indah pemberian ayahnya tersebut.

Pandangannya berpindah ke sisi sebelah kirinya. Ada penjual es krim. Kerongkongannya terasa haus. Ia berhenti sebentar untuk membeli sebatang es krim rasa vanila yang dingin menyegarkan.

Sepanjang jalan lorong itu Angela menikmati pemandangan kehidupan penduduk kota yang serba sibuk. Kota ini cantik, jalannya berbatu-batu, penuh batu granit yang sangat kokoh. Kupu-kupu berterbangan, hingga wajar kalau kota ini dijuluki Kota Kupu-Kupu. Namun tak banyak pohon-pohon tumbuh karena kota ini sempit. Pohon-pohon hanya ada di sisi luar kota seperti di dekat bukit Kupu-Kupu.

Meskipun tidak ada pepohonan, di rumah maupun di kedai makan, banyak bunga geranium yang ditanam di pot dekat jendela. Indah berwarna-warni. Sehingga dari kejauhan, jendela kota Marbella penuh bunga aneka warna yang berjejer di seantero jalan.

Seorang gadis kecil kumal tiba-tiba menghalangi jalan Angela. Dia menatap Angela dengan pandangan ingin tahu.

“Kamu anak yang kabur itu ya?” tanyanya sambil menatap Angela dengan seksama.

Angela terkejut.

“Ya ya pasti kamu. Tadi ada dua orang yang bertanya padaku tentang anak kecil seusiaku yang pergi dari rumah tak bilang-bilang. Pasti kamu ya?”

Angela melongo. Dia merasa bersalah. Benar kata si kakek yang menolongnya tadi. Keluarganya pasti cemas dan mencarinya ke mana-mana. Karena dia memang menyelinap lewat pintu samping saat keluarganya sedang sibuk menyiapkan sarapan. Angela yang sejak dua hari lalu datang, sudah tak sabar ingin berjalan-jalan di seputar kota. Namun ibunya melarang ia pergi, bahkan sekedar bermain di seputar pekarang rumah Tantenya pun tidak boleh.

Sejak ayahnya meninggal, ibunya sangat ketat menjaga dirinya. Kecuali ke sekolah, Angela tak bisa lagi leluasa bermain jauh-jauh kecuali di lingkungan sekitar rumahnya.

Angela sangat suka berjalan-jalan. Meski pendiam dan pemalu, Angela termasuk anak yang cukup nekad. Ia berani memanjat pohon, dan membuat Ibunya cemas. Ia juga pandai bersalto di halaman rumahnya. Satu hal yang juga disukainya adalah mendampingi ayahnya, seorang pianis, untuk konser di mana-mana, termasuk memenuhi undangan ratu Negeri tetangga sebelah. Ada fotonya, lho! Ah, Angela selalu merindukan suasana dulu di saat ayahnya yang humoris itu masih ada.

Angela menyukai dunia petualangan yang dikenalkan Ayahnya. Betapa ia sedih karena kehilangan ayahnya. Ia merindukan dongeng-dongeng ayahnya, yang tidak mungkin didapatkannya dari ibunya yang hobi memasak, menyulam, dan berdandan.

Sosok gadis cilik kumal itu mengingatkan Angela pada sosok teman rahasianya di ibukota. Seorang anak pengemis yang hidup di jalan-jalan ibukota. Angela mengenalnya saat dia sedang belajar berkuda di tengah kota. Anak itu mencuri dompet mungilnya yang lucu dan warna warni. Angela tak marah saat anak itu akhirnya tertangkap. Ia merelakan dompetnya, dan bahkan memberi anak itu roti dan air minum. Entah mengapa Angela yang pemalu itu ternyata bisa juga berteman dengan anak lain tanpa canggung seperti yang dialaminya selama ini.

Mungkin karena dia ingin tahu lebih banyak tentang anak yang aneh itu, atau karena merasa tertarik dengan kehidupannya yang bebas, tidak seperti dirinya yang penuh aturan.

Sejak saat itu, keduanya berteman baik. Mereka suka bertemu secara rahasia di taman kota. Angela bertualang dengan teman barunya ke daerah kota yang kumuh. Hal ini tidak membuatnya risih, malah Angela merasa bebas merdeka. Sayang sekali seekor kuda hitam penarik kereta telah mengakhiri hidup teman Angela yang singkat. Angela tidak akan pernah melihatnya lagi.

Baginya itu tragedi kedua yang dialaminya, kehilangan orang yang mampu membuatnya tertawa gembira. Sang ayah dan sang teman. Diam-diam Angela kehilangan gadis pengemis itu, melebihi kehilangan akan kebebasan dirinya. Ia sering mendoakan sahabatnya, meminta Tuhan menyampaikan salamnya. Setelah itu, barulah Angela merasa lega, dan bisa tertidur dengan senyum.

Kini, seakan waktu bergulir ke masa lalu, tiba-tiba saja gadis pengemis itu sekan menjelma kembali di hadapannya. Keduanya tentu berbeda secara fisik. Gadis ini keturunan gipsi. Warga kota suka mengusir kaum gipsi karena dianggap pengganggu ketentraman kota. Anehnya, mereka sering pula dipanggil untuk menghibur masyarakat dalam acara-acara festival kota. Dan kaum gipsi biasanya suka menari, bersalto, akrobatik, atau sulap.

Angela tersenyum pada gadis cilik yang masih menatapnya tersebut. Rambut ikalnya tertutup bandana lebar yang warna warni. Pakaiannya tak jelas lagi warnanya. Matanya hitam kelam dengan bulu mata yang panjang dan lentik. Gadis ini manis sekali. Angela membandingkannya dengan dirinya yang berkulit putih kecokelatan, dengan rambut cokelat tua dari garis keturunan Eropa Selatan.

“Aku bilang kalau aku tidak kenal dirimu. Kamu pasti anak baru ya di sini?” tanya anak gipsi itu dengan nyaring

Angela mengangguk. Gadis itu mengajak Angela duduk.

“Kenapa sih kamu pergi dari rumah? Kamu dimarahi ibumu ya?” tanyanya.

“Tidak. Hanya ingin jalan-jalan. Aku selalu dilarang pergi jauh. Ibuku memang begitu,” sahut Angela kesal. Tanpa disadari Angela terus berceloteh.

Gadis itu mendengarkan curahan hati Angela tanpa menyela. Angela merasa nyaman didengarkan. Selesai bercerita, Angela menyodorkan sebatang permen berbentuk panjang. Gadis gipsi itu sumringah kegirangan. Mereka makan permen dan minum es krim. Berjam-jam dihabiskan mereka untuk mengobrol. Angela lupa kalau ia harus pulang. Ia terlalu sibuk menyusuri jalan kota yang berlorong-lorong dengan teman barunya.

Menjelang siang, gadis gipsi mengingatkan Angela untuk pulang. Tiba-tiba saja seorang polisi berbadan besar datang dan menangkap tangan Angela.

“Hei, kamu Angela ya?” tanya Polisi.

Tiba-tiba dari balik kerumunan, dua orang dewasa menerobos dan menghambur ke pelukan Angela.

“Ke mana saja kau, Angela? Ibunya menangis terus mencarimu. Kenapa pergi tak bilang-bilang?” tanya yang wanita cemas.

Sementara itu sang pemuda berbicara pada polisi. Oh, keduanya adalah kakak sepupu Angela.

Setelah menceritakan alasan kepergiannya, Angela diajak pulang. Sebelum pergi, ia ingin menyalami teman barunya. Namun tangannya ditarik oleh kakak sepupunya.

“Jangan sentuh anak gipsi itu. Mereka suka mencuri roti,” dengus kakak sepupunya.

Anak gipsi itu memerah mukanya, dan segera berlari menjauh. Angela merasa sedih. Dalam hatinya ia berjanji untuk mencari teman barunya kembali untuk minta maaf.

Sampai kepulangannya, Angela tidak pernah bertemu gadis gipsi itu lagi. Ia sudah berkeliling kota untuk mencarinya. Katanya orang gipsi sudah diusir keluar kota karena tentara Jerman telah memasuki kota. Angela tidak ingin larut dalam kesedihannya. Ia percaya bisa menemui teman barunya kembali suatu saat nanti. Namun tiba-tiba ia terkejut.

“Oh, aku tak pernah menanyakan namanya? Bagaimana aku bisa mencarinya kelak?” sesal Angela.

Angela diam kesal pada kecerobohannya sendiri. Ternyata ia telah melupakan sesuatu yang penting, meski kelihatannya sepele. Sebuah nama!

Catatan:

Ini adalah salah satu karya selama mengikuti kelas “Menulis Cerita Anak” di Sekolah Online Visikata dengan mentoring oleh Glory Gracia Christabelle.

Karya ini telah dimuat di Jurnal Perempuan Edisi Januari 2010)

Pic diambil dr internet, dari kisah Heidi cerita anak anak favoritku sejak kecil. Ini adalah salah satu cuplikan gambarnya yg diangkat disalah satu film nya. Kisah Heidi yg menginspirasiku utkmengikuti kelas menulis cerita anak di visikata.com

30 Juli 2009

Puisi di Mata Adinda

– Cerpen Lia Salsabila –

KURANG LEBIH 10 jam aku terantuk-antuk di atas mobil menuju Dusun Jampit, di kaki Gunung Ijen. Dataran tinggi yang berada di batas wilayah antara Bondowoso dengan Banyuwangi itu berjarak ratusan kilometer dari tempat aku dilahirkan.

Kini jalanan yang aku lalui sepenuhnya jalan makadam, setelah mobil yang aku sewa berbelok arah, langsung ke Jampit. Selain menanjak dan menikung tajam, di sisi kiri kanan jalan terdapat tebing terjal dan jurang dalam. Kurang lebih dua jam, akhirnya aku melihat atap-atap rumah berjajar rapi. Meski dari anyaman bambu, namun terlihat nyaman dan asri.

Aku telah berada di Dusun Jampit. Setelah membayar ongkos mobil yang kusewa dari Bondowoso, aku bergegas menuju rumah terdekat. “Permisi. Ada orang di dalam?!” teriakku sambil mengetuk pintu sebuah rumah. Menunggu sekian menit, akhirnya aku mendengar langkah kaki dari samping rumah.

“Mencari siapa, Mas?” tanya sesosok perempuan setengah baya padaku.

“Rumah Pak Rusdi di sebelah mana ya, Bu?” aku balik bertanya.

“Mari saya antar, Mas,” jawab ibu itu sambil berjalan melewatiku, menyusuri jalan dusun yang dari tanah. Tanpa banyak bicara aku pun mengekor di belakangnya. Cukup lama kami berjalan, dan aku agak kewalahan dengan barang bawaanku yang lumayan banyak. Maklumlah aku akan cukup lama di dusun ini untuk mengabdi sebagai seorang dokter.

Sambil berjalan mataku mengawasi kondisi sekeliling. Di kejauhan tampak sebuah gedung kecil yang cukup mencolok karena berada di antara rumah-rumah bambu. Tak berapa lama, akhirnya ibu itu berhenti berjalan. “Ini rumah Pak Rusdi, Mas. Sepertinya dia tidak ada di rumah.” Si ibu menengok ke samping rumah yang tampak sepi.

“Terimakasih, Bu. Tidak apa-apa. Saya akan tunggu Pak Rusdi di sini,” kataku pada ibu yang semula tampak sedikit bingung. Dia kemudian bergegas melangkah meninggalkan aku setelah mengangguk dan tersenyum.

Setelah satu jam menunggu, sekitar jam 18.00 WIB Pak Rusdi datang bersama istrinya. Dia agak terkejut dan bingung menatapku. Namun, kemudian ia langsung tersenyum lebar. “Dokter Angga, kan?” tanyanya sambil menjabat tanganku.

“Iya, Pak. Saya Angga. Panggil Angga saja, Pak,” jawabku sambil tersenyum dan juga mengangguk ke istri Pak Rusdi. “Saya pikir Mas Angga masih besok datangnya. Mari. Mari, Mas. Silahkan masuk dulu ke dalam,” ajak Pak Rusdi ramah. “Mungkin lain kali saja, Pak.” Aku sedikit rikuh untuk bertamu di saat malam menjelang. Khawatir kalau merepotkan Bapak dan Ibu Rusdi.

“Kalau tidak keberatan, saya ingin diantar langsung ke tempat di mana saya tinggal,” lanjutku.

“O, baiklah kalau begitu. Sebentar saya ambil kuncinya dulu di dalam.” Pak Rusdi bergegas masuk ke dalam rumah. Sejenak, dia sudah kembali lagi di hadapanku.

“Mari, Mas. Silahkan. Biar saya saja yang bawa kopernya,” kata Pak Rusdi sambil mengambil alih koper di tanganku. Kami berjalan beriringan dalam diam. Sekitar 10 menit, kami sampai di depan sebuah bangunan. Ternyata itu bangunan yang tadi aku lihat.

“Mas Angga nanti tinggal di puskesmas ini?” kata Pak Rusdi sambil membuka pintu. “Harap dimaklumi, Mas. Puskesmas di dusun tak sebesar yang di kecamatan. Di belakang ada sebuah kamar yang bisa Mas Angga tempati. Hanya puskesmas ini yang terbuat dari batu bata. Makanya saya tidak punya pilihan lain, kecuali menempatkan Mas Angga di kamar ini,” lanjut Pak Rusdi panjang lebar.

“Tidak ada masalah, Pak. Yang penting tempatnya bersih,” jawabku tersenyum.

“Baiklah, Mas. Saya tinggal dulu kalau begitu. Mungkin Mas butuh istirahat setelah perjalanan jauh.”

“Terimakasih banyak, Pak,” jawabku, melangkah mengantar Pak Rusdi ke pintu depan.

Setelah beliau pergi, aku berbenah dan membersihkan diri. Lalu makan malam sekedarnya dari makanan bawaanku. Selesai semuanya, kurebahkan tubuh yang teramat lelah di pembaringan. Sepersekian menit akupun terlelap dengan nyenyaknya tanpa menikmati sepotong mimpi pun.

Esoknya aku bangun pagi-pagi sekali. Istirahat semalaman membuat lelahku hilang dan tenagaku pulih kembali. Setelah mandi dan berpakaian, aku menuju rumah Pak Rusdi. Meski sinar mentari mulai menghangat, sisa embun tampak masih menggantung di rerumput dan dedaunan. Pepohonan menghijau, berjejer hingga ke lembah-lembah yang jauh. Sesampai di halaman rumah pemuka dusun itu, aku disambut senyum istrinya, Bu Rusdi. Khas senyum orang dusun, begitu ramah dan bersahabat, dan juga sangat menentramkan. Tiba-tiba aku jadi rindu ibu. “Ya Tuhan, baru sehari di sini aku sudah begini. Bagaimana aku akan menjalani kehidupan setahun ke depan di sini,” rintihku dalam hati.

Bu Rusdi mempersilahkan aku masuk. Ternyata Pak Rusdi sudah menungguku di meja makan. Kami bertiga pun sarapan bersama. Baru aku tahu kalau Pak Rusdi punya dua anak dan keduanya telah menikah. Mereka tinggal di Kecamatan Sempol, sekitar 30 km dari Dusun Jampit. Selesai sarapan aku dan Pak Rusdi mengobrol di ruang tamu.

“Bisakah Pak Rusdi menceritakan secara singkat tentang Dusun Jampit ini?” tanyaku membuka percakapan.

“Saya ceritakan garis besarnya saja,” Pak Rusdi mengawali.

“Dusun ini terletak di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Jumlah penduduk sekitar 800 orang dengan 335 kepala keluarga. Sebagian menjadi petani. Sebagian lagi sebagai buruh di perkebunan kopi. Di sini hanya ada satu gedung sekolah dasar. SMP ada di Kecamatan Sempol dan SMU di Kota Bondowoso,” cerita Pak Rusdi ringkas.“Oh ya, hampir lupa. Sebuah gedung puskesmas pembantu baru satu tahun ini berdiri, dan sekarang Mas Angga tempati,” Pak Rusdi tersenyum.

“Bagaimana tingkat pendidikan dan kesehatan di dusun ini. Pak?” tanyaku lagi.

“Iya, seperti saya katakan tadi, di dusun ini hanya ada sekolah dasar. Sekolah lanjutan sangat jauh dari sini. Dengan kondisi ekonomi masyarakatnya, dapat ditebak bahwa sangat kecil kemungkinan anak-anak bisa bersekolah tinggi. Rata-rata mereka hanya tamatan SD. Paling mujur bisa SMP atau pondok pesantren. Jadi, iya, seperti itulah, Mas. Kondisi kesehatan juga tidak terlalu bagus. Setahun yang lalu dusun ini pernah kena wabah muntaber. Banyak yang meninggal karena tidak mampu bertahan saat dibawa ke puskesmas di Sempol. Karena alasan itulah maka puskesmas pembantu dibangun di sini. Namun setelah satu tahun berdiri, baru Mas Angga dokter yang mau bertugas di sini. Saya sangat bang……”

“Pak Dhe…! Tolong, Pak Dhe…! Tolong, Pak Dhe Rusdi….! Tolong…!!” Belum sempat Pak Rusdi menyelesaikan kalimatnya terdengar teriakan seorang wanita dari kejauhan. Tak lama berselang wanita itu masuk ke dalam rumah sambil terengah dan berkata tersendat-sendat.

“Tole… To..le, Pak Dhe…To..le.” “Tole kenapa, Din?” tanya Pak Rusdi tak sabar sambil menyodorkan minuman ke wanita yang ternyata masih belia itu. “Tole jatuh ke jurang di depan sekolah dengan sepedanya, Pak. Sekarang sedang di bawa ke puskesmas oleh warga. Tole tidak sadarkan diri,” ucap wanita itu terbata namun cukup lancar. Pak Rusdi kelihatan begitu cemas. Dia menoleh ke arahku seolah mencari sebuah jawaban atau kekuatan. Dan hal itu sempat membuat aku cukup khawatir dengan situasi yang terjadi.

“Mas Angga, mari kita ke puskesmas,” ajak Pak Rusdi. Kami bertiga berjalan beriringan dengan pikiran di benak masing-masing. Jujur, aku amat gugup menghadapi semua ini. Baru sehari di sini, kepiawaianku sebagai dokter mulai diuji. Aku sempat melirik gadis yang berjalan di sebelah Pak Rusdi. Dia tampak sudah lebih tenang.

Sesampai di puskesmas terlihat orang ramai berkumpul dan saling bercakap-cakap. Di ruang perawatan seorang anak tergeletak tak berdaya. Luka di sekujur tubuhnya. Tapi dia masih hidup. Terlihat dari gerakan halus di dadanya. Dia hanya tidak sadarkan diri. Dengan gerak cepat aku menuju kamarku, mengambil peralatan. Semua orang, termasuk gadis itu, menatapku bingung. Wajarlah karena mereka memang belum tahu siapa aku.

Sedikit gugup kuhampiri anak yang tak berdaya itu. Tanganku agak gemetar ketika memeriksanya. Gadis tadi turut mendekat dan berdiri di samping anak itu. Tanpa sengaja kami bersitatap, dan entah kenapa aku mendapatkan ketenangan setelahnya. Aku tak lagi gugup dan tanganku juga berhenti bergetar. Seolah mendapatkan sebuah kekuatan yang belum pernah kurasakan ketika melihat orang lain, apalagi dari seorang perempuan.

Hampir dua jam aku mengurus anak malang itu. Syukurlah dia tidak mengalami luka yang serius. Dan selama itu pula gadis yang belum kutahu namanya itu menunggui dengan sabar, bahkan sesekali kumintai tolong.

Setelah semua selesai dan anak itu sudah sadar, aku, Pak Rusdi dan gadis itu duduk di ruang tunggu. “Dinda, tolong buatkan minum untuk dokter Angga dan Pak Dhe, ya,” kata Pak Rusdi yang diikuti anggukan perlahan si gadis. Menunggu minuman yang dibuatkan, kami mengobrol seputar kecelakaan yang terjadi. Kuketahui Tole adalah keponakan Pak Rusdi. Tak berapa lama si gadis kembali muncul, membawa gelas-gelas berisi teh dan kopi yang mengepul.

“Oh ya, dokter Angga. Kenalkan ini, Adinda, keponakan bapak, kakak dari Tole.” Pak Rusdi memperkenalkan gadis itu. Dia hanya mengangguk tersenyum.

“Kenalkan, namaku Angga,” ujarku sembari mengulurkan tangan.

“Senang berkenalan dengan anda, dokter,” jawab gadis itu tersenyum ramah. Aduhai, sebuah jawaban yang tak kuduga, runtunan kata sopan yang ke luar dari mulut seorang gadis dusun. Dan matanya seperti ikut tersenyum. Entah mengapa, aku begitu menyukai senyum di matanya itu.

“Panggil Angga saja, biar lebih nyaman. Lagian umur kita sepertinya tidak jauh berbeda,” kataku menimpali ucapan Adinda.

Menjelang senja Pak Rusdi pamit pulang. Namun Adinda sepertinya enggan beranjak. Sepertinya dia tidak tega meninggalkan adiknya sendirian. Aku juga sebenarnya ingin berlama-lama dengan Adinda. Namun apa daya, tubuhku lelah dan sudah waktunya aku istirahat. Setelah basa basi sedikit aku pamit kepada Adinda.

Aku merebahkan tubuh yang terasa begitu lelah. Kupejamkan mata berharap segera terlelap. Sekian menit berlalu namun kantuk seolah tak mau menyapa. Pikiranku terus melayang pada wajah teduh Adinda. Dan aku seperti terperangkap dalam matanya. Tiba-tiba untaian kata-kata indah berkelebatan dalam pikiran. Hal yang telah lama tidak pernah muncul setelah sekian tahun aku meninggalkan dunia tulis menulis. “Kenapa karena dia, dan kenapa harus di sini,” batinku. Dan pertanyaan itu terus menggantung sampai kantuk menyentuh mataku.

Tak terasa sudah sebulan aku di Dusun Jampit. Kedekatanku dengan Adinda semakin nyata. Setelah adiknya bisa pulang, dia masih tetap menemaniku di puskesmas dan membantuku sebagai seorang perawat. Dari percakapan yang sering kami lakukan, aku tahu sedikit kisah hidupnya. Dia hanya tinggal berdua dengan adiknya. Ayah dan ibunya telah lama meninggal. Adinda sendiri hanya tamatan SMP. Dia pernah bercerita kalau ingin sekolah setinggi-tingginya, namun keadaan tak berpihak padanya.

Entah mengapa aku merasakan ada yang berbeda pada diri Adinda. Ada sebuah aura yang tidak mampu aku lukiskan, terutama di kedalaman matanya. Setiap menatap matanya seolah aku menemukan serakan kata yang bisa kuuntai menjadi sebuah puisi. Namun tak juga aku mampu membaitkannya.

Di suatu senja aku dan Adinda berjalan berkeliling dusun. Kami berdua bercerita tentang apa saja. Yang aku suka darinya, dia seorang pendengar yang baik. Juga bisa diajak berdiskusi, walaupun tentang hal-hal sederhana. Kadang aku tak percaya kalau dia hanya tamatan SMP karena begitu luas wawasannya. Hal lain yang membuatku kian tertarik adalah kesabaran dan keramahannya, ketika memberikan pengarahan kepada warga tentang pentingnya kesehatan atau pada saat membantuku menangani pasien. Semua hal yang rumit terasa begitu mudah ketika dia ada.

Sekilas kulirik Adinda yang berjalan pelan di sampingku. Dia sebenarnya tidak terlalu cantik, hanya seorang gadis dusun yang sederhana. “Tapi kenapa aku jadi begitu terpikat padanya?!” Lagi-lagi pertanyaan itu bergemuruh dalam benakku.

“Mas Angga rencananya berapa lama tinggal di sini?” tanya Adinda membuyarkan lamunanku.

“Kira-kira setahun ke depan, Dinda,” jawabku agak ragu. Semoga Adinda tidak menangkap nada keraguan itu.

“Oh ya, Dinda. Bolehkah aku menanyakan satu hal padamu?” pintaku.

“Silahkan, Mas Angga,” jawab Adinda dengan nada tak berubah. Tetap ramah dan santun.

“Maaf kalau aku lancang, Dinda. Tidakkah kau ingin pergi dari dusun ini untuk mendapatkan kebahagian?” Adinda sepertinya agak terkejut dengan pertanyanku. Namun seperti biasa dia dengan cepat mampu menguasai diri. Wajahnya kembali tenang meneduhkan.

“Menurut Mas Angga, ukuran kebahagiaan itu seperti apa?” Adinda balik bertanya.

“Aku mengukurnya dengan taraf hidup, Dinda. Ketika kita punya rumah bagus, pendidikan tinggi, dan pekerjaan yang baik, otomatis kita akan bahagia,” ucapku terbata karena tidak menyangka Adinda akan balik bertanya.

“Hmm..begitu ya, Mas Angga. Mungkin kita punya pandangan berbeda dalam hal ini.”

“Maksud kamu, Dinda?” sanggahku cepat.

“Dinda memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dengan taraf hidup, Mas Angga. Apalagi mengenai kebahagiaan sejati.

Menurut Dinda, kebahagiaan sejati akan kita dapatkan ketika kedamaian, ketenteraman dalam jiwa telah kita miliki. Apa gunanya kaya kalau hati kita miskin sehingga kita tidak dapat menikmati kedamaian dan ketenteraman jiwa itu. Biasanya, orang yang sudah terbiasa kaya akan terus berusaha untuk lebih kaya lagi, bagaimanapun caranya. Bekerja tak kenal waktu hingga sering melupakan orang-orang di sekitarnya. Hidupnya selalu untuk kerja, kerja, dan uang. Tak jarang banyak yang melupakan hubungan sosialnya, bahkan hubungan dengan Tuhannya. Dinda tidak melihat sama sekali letak kebahagiaan di situ, Mas Angga. Tapi, mungkin tidak semua orang kaya seperti itu. Buktinya, Mas Angga mau menjadi dokter di dusun terpencil seperti ini.” Adinda bertutur lembut, tetap dengan senyum manisnya.

Wajahku langsung bersemu merah. Bukan karena pujiannya, namun terlebih karena aku merasa tersindir oleh ucapannya.

Dinda melanjutkan kata-katanya. “Kebahagiaan sejati dalam pemahaman Dinda adalah ketika jiwa kita damai. Dan kedamaian itu akan bisa diperoleh ketika kita bisa memberi, memberi, dan memberi, tanpa mengharapkan imbalan sedikitpun. Ketika kita bisa mengabdikan diri sepenuhnya pada masyarakat. Yang paling utama adalah ketika kita melakukan semua gerak tubuh kita dan menerima apapun yang terjadi pada kita dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Kuncinya hanya satu, Mas Angga. Pandai bersyukur atas apapun!”

Aku terpekur mendengar penuturan Adinda. Aku merasa malu dan begitu kerdil di hadapannya. Ternyata aku tak lebih baik dari dia yang gadis dusun dan hanya tamatan SMP. Pemahamannya tentang kehidupan begitu mulia dan agung.

Tanpa terasa kami berdua telah sampai di halaman puskesmas. Dengan tetap tersenyum dan santun dia langsung berpamitan padaku.

Sepeninggal Adinda, kembali aku terpekur. Mencoba mencerna tiap kata yang dia ucapkan tadi. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang selama ini telah aku lakukan untuk orang-orang di sekitarku. Aku pun bahkan sampai pada sebuah titik tanya, “Untuk apa aku hidup di dunia ini? Dan apa yang sebenarnya aku cari?” Arggh…, kenapa aku tiba-tiba mempermasalahkan hal itu, rutukku dalam hati.

Sepanjang malam aku dirundung gelisah. Kata-kata Adinda seperti menyesaki tiap sel darah dalam otakku. Belum lagi bayangan senyum dan tatapan matanya yang membuatku hanyut. Mata yang selalu dipenuhi kata-kata puitis, namun tak jua aku mampu membaitkannya. Terbersit tanya di dada, apakah aku jatuh cinta pada Adinda? Namun aku segera menepisnya. Tidak mungkin aku jatuh cinta pada gadis desa seperti dia. Orang tuaku pun pasti tidak akan mau menerimanya. Mereka sudah mewanti-wanti, sebelum aku berangkat ke dusun ini, untuk tidak tergoda menjalin hubungan. Apalagi sebuah pernikahan. Aku menjadi kalut sendiri dengan perang batin yang tanpa sengaja terjadi. Jujur, aku punya rasa simpati pada Adinda. Mataku semakin tak mau terpejam. Akhirnya aku mengambil pena dan buku agendaku.

Hening di puncak terasing

selaksa kenangan akanmu melayang jejali alam pikiran

kasih sendu kisah semu bertalu tak tentu

menari tak henti mengaduk hati

O Sang Pemilik Takdir

pertemukan raga aku dan dia

walau di ujung hari akhir

Tiga bulan berlalu. Aku mulai merasakan sepi yang menusuk. Mungkin karena di sini tak ada jaringan telepon dan listrik, hingga aku benar-benar putus kontak dengan keluarga dan teman-temanku. Aku bersyukur ada Adinda yang kian hari kian dekat saja denganku. Banyak hal yang aku pelajari dari dia tentang falsafah kehidupan. Dia begitu tenang dan anggun. Hal itulah yang membuatku kian susah untuk tidak memikirkannya. Aku seperti tenggelam dan terperangkap di kedalaman matanya. Mata yang membuatku nyaman, selalu penuh dengan kata-kata puitis yang mampu membangkitkan hobi lamaku.

Seharian ini Adinda tak datang ke puskesmas. Aku sangat bingung dan mendadak cemas, serta khawatir pada keadaannya. Hatiku terus bertanya-tanya. Pasien yang mulai banyak karena memasuki musim hujan, membuat aku kewalahan. Banyak anak-anak sakit. Saking sibuknya, aku tidak sempat mencari tahu ke rumahnya atau ke rumah Pak Rusdi. Tiga hari berlalu, Adinda tak juga kunjung datang. Hari keempat kesabaranku habis sudah.

Selepas magrib bergegas aku ke rumah Pak Rusdi. Hanya Bu Rusdi yang menyambutku. “Bapak ada, Bu?” tanyaku. “Bapak sedang di puskesmas kecamatan, Mas. Menunggu Adinda.” “Ya Tuhan. Ada apa dengan Adinda, Bu? Sakit apa dia?” tanyaku gugup karena khawatir. Dan aku marah pada diri sendiri, kenapa hal penting tentang Adinda saja aku sampai tidak tahu. “Ibu juga tidak tahu Dinda sakit apa. Cuma setahun terakhir ini setiap bulan dia harus ke puskesmas. Biasanya cuma sehari. Tapi ini sudah hampir seminggu,” kata Bu Rusdi, seperti hanya bergumam karena heran. “Saya permisi dulu, Bu,” kataku, bergegas kembali ke puskesmas tempatku tinggal. Kembali aku dirundung gelisah.

“Aku harus ke Sempol sekarang. Tapi bagaimana caranya? Ini sudah malam,” batinku. Aku tak ingin menunggu hingga esok. Bergegas aku ke rumah Pak Udin, tukang ojek dusun ini. Pak Udin agak enggan malam-malam harus ke Sempol, karena resiko perjalanan cukup besar. Setelah negosiasi cukup lama, akhirnya Pak Udin mau mengantarku ke Sempol.

Lagi-lagi aku melalui jalan yang dulu aku lewati ketika menuju Dusun Jampit. Bedanya, ini malam hari. Kengerian kembali membayang dalam anganku. Kutepis semua dengan doa dan keteguhan hati. Dua jam berlalu, aku sampai di depan puskesmas. Segera aku berlari ke bagian administrasi. Namun aku begitu kecewa. Ternyata Adinda sudah dipindah ke Rumah Sakit Umum Bondowoso. Sekitar 60 km dari Sempol. Aku bersyukur Pak Udin belum kembali ke Jampit. Setelah berunding, akhirnya kami sepakat untuk menyusul Adinda ke Bondowoso.

Jalanan begitu sepi dan mencekam. Motor bisa bergerak lebih cepat karena jalan sudah tidak makadam. Namun aku tetap saja ngeri berjalan tengah malam begini. Kami tak banyak berbicara. Pak Udin fokus pada jalanan, sedangkan aku kembali menyesali kebodohanku. Kenapa aku sampai tidak tahu kalau ternyata Adinda itu mengidap suatu penyakit. Padahal aku seorang dokter. Gundah membuncah hatiku. Ketakutan akan sebuah kehilangan menyapa lekat pikiranku. “Ahhh.., Adinda. Betapa pandai kau menyimpan duka. Senyum dan ketenangan wajahmu begitu menyembunyikan sakit yang kau derita.”

Setelah 2 jam akhirnya kami sampai. Bergegas aku ke administrasi. “Suster, pasien bernama Adinda dari Jampit dirawat di kamar nomor berapa?” tanyaku tergesa pada suster jaga.Aku segera ke kamar perawatan Adinda setelah suster itu memberi tahu.

Sepi, seperti tak ada denyut kehidupan di kamar ini. Hanya ada seorang gadis tergeletak tak berdaya dengan mata terpejam. Nafasnya mengombak teratur menandakan dia tidur. Pak Rusdi juga tak tampak. Aku mendekati tubuh Adinda. Hatiku begitu perih melihatnya tak berdaya. Ingin aku merengkuhnya, namun aku tak ingin mengganggu istirahatnya. Akhirnya aku hanya menggenggam tangannya. Semakin aku memandang wajah sendu Adinda, perih di dadaku makin terasa. Tiba-tiba kelopakku membasah. Aku hanya tertegun takjub dengan apa yang terjadi padaku. Baru kali ini aku menangis karena seorang perempuan selain ibuku. “Ada apa denganku? Apakah aku benar-benar sudah jatuh cinta??” lirih aku membatin.

Aku terkejut ketika seseorang masuk. Ternyata dia suster yang bertugas menjaga Adinda. Suster itu tersenyum. Lalu memasang termometer di ketiak Adinda, dan memegang pergelangan Adinda untuk menghitung denyut nadinya. Menunggu batas waktu termometer, suster itu bertanya padaku,

“Mas pacarnya Mbak Adinda ya…?” Aku hanya tersenyum, walau sebenarnya hatiku berdesir dan ingin mengiyakan anggapan suster itu.

“Oh ya, Sus. Bapak yang membawa Adinda, ke mana?” “Beliau tadi pamit, pergi ke rumah saudaranya malam ini. Mbak Adinda dititipkan ke saya. Untung ada Mas di sini. Pasti mau menjaga Mbak Adinda kan…,” kata suster itu tersenyum geli.

“Sebenarnya Dinda sakit apa, Sus?” tanyaku serius. “Boleh lihat status pasiennya?”

“Maksud Mas?!” “Kebetulan aku juga dokter, Sus. Aku ingin tahu sejauh mana kondisi Adinda.”

“Oh. Maaf, dok. Saya Suster Ana. Begini saja. Mari dokter saya antar ke dokter Adrian yang menangani Mbak Adinda. Kebetulan beliau jaga malam,” jawab suster itu agak gugup.

Tanpa menunggu waktu lagi dan mumpung Adinda masih tertidur, aku bergegas mengikuti Suster Ana menuju ruangan dokter Adrian.

“Permisi, dokter. Ada yang ingin bertemu dokter,” ucap suster itu.

“Saya Angga, dok…..”

“Ini dokter Angga, dok. Saudara Mbak Adinda,” suster itu menyela kata-kataku.

“Oh ya. Saya Adrian, dokter yang menangani Adinda. Silahkan duduk dokter Angga.”

Setelah basa basi sebentar, aku langsung menanyakan kondisi Adinda. “Begini, dokter Angga. Anda kan sudah tahu kalau Adinda menderita leukemia.” Aku terkejut mendengar perkataan dokter Adrian. Tapi kucoba bertahan untuk tidak menyela dan memperlihatkan keterkejutanku.

“Iya, dok. Lalu, bagaimana kondisi Adinda sekarang?”

“Kondisi Adinda cukup mengkhawatirkan. Menurut perkiraan kami, mungkin umurnya hanya tinggal beberapa minggu lagi.” Dokter Adrian menghela nafas. Lalu menjelaskan detail medis tentang hasil pemeriksaan kondisi terakhir Adinda. Ada yang berkecamuk di hati dan pikiranku. Tapi aku berusaha keras untuk tidak memperlihatkannya di depan dokter Adrian. Uraian medis yang diutarakannya padaku sudah cukup jelas.

“Terimakasih, dokter, untuk penjelasannya. Saya mohon pamit karena Adinda sendirian.” Seperti ada yang luruh dalam hatiku. Perih yang tadi kurasa kian menjadi. Aku kecewa kenapa Adinda tidak bercerita tentang penyakitnya. Dan aku menyesal karena tidak mampu mengetahui kalau Adinda mengidap suatu penyakit. Padahal beberapa kali aku pernah melihat wajahnya yang begitu pucat. Dan lagi-lagi dia hanya menyimpan sakitnya dalam senyum dan meyakinkanku bahwa dia baik-baik saja. Tadinya aku berniat akan menelpon ibu di Denpasar, sekadar untuk mengabarkan kondisiku. Namun semua itu urung kulakukan, karena khawatir rasa perih akibat kondisi Adinda akan terasa oleh ibu. Aku tak mau ibu khawatir karenanya.

Ketika sampai di ruangan perawatan Adinda, ia sudah bangun. Melihatku, ia langsung tersenyum. Aahh, senyum itu tak berubah. Tetap manis dan menenangkan. Namun ada yang berbeda di wajahnya. Mata Adinda tak lagi bersinar, tak kutemukan serakan kata puitis lagi di dalamnya. Lagi-lagi hatiku teriris perih.

“Mas Angga kok tahu Dinda di sini? Oh ya, Pak Dhe di mana?” Aku hanya terdiam mendengar pertanyaan Adinda. Kubiarkan pertanyaannya menggantung tanpa jawaban. Aku sendiri masih berusaha berdamai dengan hati yang seolah ingin meledak karena perdebatan seluruh rasa. Ingin aku berlari saja merengkuhnya, namun langkahku seperti tertahan oleh beban yang begitu berat.

“Mas Angga kenapa diam?” tanya Adinda lagi ketika aku sudah di dekatnya. Dia masih terus tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Sungguh sebuah ketegaran yang semakin membuat aku simpati padanya. Aku menatap matanya yang sendu. Menggenggam jemarinya. Adinda membalas genggamanku.

“Dinda, boleh aku bertanya?” Adinda tersenyum dan mengangguk sambil terus menatap mataku. “Kenapa Dinda selama ini menyembunyikan penyakit yang ada pada Dinda? Apakah tak pantas jika aku mengetahuinya?” Dinda kembali tersenyum dan semakin kuat menggenggam jemariku.

Mas Angga, aku lebih suka berbagi senyuman daripada berbagi kesedihan.” Aku tersentak mendengar jawaban Adinda. Sungguh sikap hidup seseorang yang memahami penderitaannya.

“Bagiku penyakit ini bukan sebuah petaka. Aku menerimanya sebagai sebuah kenyataan yang harus aku jalani dengan ikhlas. Aku percaya Tuhan Maha Berkehendak. Dan Dia sudah mengatur segala yang terbaik buat umatnya, termasuk aku. Dan aku yakin, akan ada jalan yang mengantarkanku pada sebuah kebahagiaan yang dulu pernah Mas Angga tanyakan.” Sesaat aku terpekur mendengar penuturan Adinda.

“Aku paham dengan prinsipmu, Dinda. Tapi kalau Dinda berbagi dari awal, aku akan bisa lebih menjagamu.” Dinda hanya tersenyum.

“Selama ini Mas Angga sudah cukup menjaga Dinda, memberi perhatian pada Dinda. Dan sekarang pun, Mas ada di sini.” Ada kebahagiaan yang terasa lirih tiba-tiba merayapi relung jiwaku. Belum sekalipun aku mendengar Adinda sebelum ini menyebut ‘Mas’ tanpa diembeli namaku. Tapi baru saja ia melakukannya dalam alun suara yang berdesis. Owhh…, mungkinkah Adinda punya rasa yang sama denganku? Tapi segera pula aku menekan perasaanku ketika sebuah kesadaran pun menyelinap. Bahwa ini bukan saat yang tepat untuk sebuah romantisme.

“Tapi Dinda, kata dokter Adrian……” Pertanyaanku menggantung karena tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya tentang perkiraan medis usia Adinda. Namun, seperti mengetahui pikiranku, Adinda malah tersenyum dan kembali berkata.

“Dinda tahu kalau kondisi Dinda sudah parah. Dinda juga merasa bahwa usia Dinda tidak lama lagi. Mas tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Kelahiran, kematian, sudah diatur oleh Tuhan. Kita tidak bisa menghindarinya.”

“Aku paham, Dinda. Tapi sebagai seorang dokter aku juga ingin menjaga dan merawatmu kalau saja Dinda memberitahu dari dulu.”

“Maafkan Dinda, Mas, untuk hal itu.” “Iya Dinda. Aku paham dengan sikapmu.” Aku tulus menerima permintaan maaf Adinda.

“Malam sudah semakin larut, sudah waktunya Dinda istirahat lagi. Tidurlah, Adinda….,” lanjutku. Lagi-lagi Adinda tersenyum tanpa melepas genggaman jemarinya.

“Iya, Mas. Dinda tidur dulu.” Kami bersitatap, dan aku seperti tenggelam di kedalaman matanya. Kembali aku merasakan serakan kata puitis yang tadi sempat hilang. Kini kucoba menguntainya. Dan kini aku merasa mampu membaca puisi yang selama ini tersimpan di matanya. Sebuah puisi ketegaran.

terkadang aku berharap

waktu bisa kubeli

lalu kuputar sesuka hati

ke masa yang kuingini

kini aku tlah jauh berjalan

melalui masamasa panjang

sesekali terjebak di persimpangan

membuatku tibatiba rindu jalan pulang

namun aku tahu di depan jalan masih membentang

aku harus setegar karang

pantang menyerah pada gelombang

hingga akhir waktu nanti datang

Pagi sekali, aku dikejutkan oleh kedatangan Pak Rusdi. Dia membangunkanku. Aku sedikit risih karena semalaman aku terus menggenggam tangan Adinda. Setelah melepaskan tanganku dari jemari Adinda, aku langsung menjelaskan bagaimana aku bisa ada di sini. Setelah basa basi sedikit, aku pamit sebentar untuk membersihkan diri dan mencari sarapan. Aku bergegas membersihkan badan, lalu ke kantin. Aku tak ingin berlama-lama meninggalkan Adinda.

Segera aku pesan makanan dan melahapnya. Masih separuh nasi kumakan, tiba-tiba aku tersedak dan terasa nyeri di hati. Bersamaan dengan itu Suster Ana menghampiriku. Dia memberi tahu bahwa Adinda sedang anfal. Tanpa bertanya lagi dan tanpa mempedulikan Suster Ana, aku segera membayar dan bergegas meninggalkan kantin.

Setengah berlari aku menuju ruang perawatan Adinda. Dalam hati aku berdoa, semoga Adinda baik-baik saja. Dan berharap, ketika aku datang akan disambut senyumnya. Ketika sampai, kulihat dokter Adrian sibuk menangani Adinda. Tak satu pun orang memberikan penjelasan kenapa tiba-tiba Adinda anfal. Pak Rusdi hanya terdiam menatap lantai. Wajah Adinda nampak begitu pucat. Matanya yang biasa tersenyum, kini terpejam utuh. Tiba-tiba rasa takut kehilangan kembali menyergap hatiku. Di layar monitor terlihat detak jantung Adinda sangat lemah.

Aku memandang dokter Adrian. Dia tampaknya mengerti apa yang ingin kutanyakan. Lalu menjawab, “Kita sedang berusaha, dok.” Aku mengangguk. Tapi aku sangat paham bagaimana lemahnya kondisi Adinda. Aku hanya bisa berdoa dan memasrahkan semuanya pada Tuhan. Jauh di lubuk hati aku dapat merasakan, puisi ketegaran di mata Adinda seolah sengaja diperuntukkan bagiku.

Aku menyesal, kenapa tak kuungkapkan perasaanku yang sebenarnya pada Adinda semalam. Ego dan harga diri yang selama ini mencegahnya, membuatku terluka. Sebuah ego dan harga diri yang belum tentu benar. Aku merasa malu karena masih mempermasalahkan status sosial Adinda. Dan itu mampu mengalahkan rasa cintaku, sehingga aku tidak berani mengakuinya. Kini aku sadar, bahwa Adinda adalah mutiara yang tidak boleh disia-siakan.

Aku berjanji dalam hati akan terus menemani dan menjaganya nanti, walaupun hanya untuk sesaat. Dan aku akan mengungkapkan semua yang kurasakan pada Adinda. Tapi di layar monitor kulihat denyut jantung Adinda semakin meniada.***

Juni ’10

Sekar Hanya Ingin Jadi Priyayi

Oleh : Sayuri Yosiana

Sekar bersimpuh memijat kaki simbah yang napak kelelahan setelah seharian bekerja menjadi kuli panggul hasil bumi di ujung pasar dekat alun alun kota. Namun senyum tulus yang membias di sudut bibir simbah sempat membuatnya lega. Ah, simbah ndak sakit toh? Cuma lelah, Ya kan mbah?” Batin Sekar dalam hatinya. Bocahlugu itu kian giat memijat tiap lekuk jemari simbahnya dengan sekuat tenaga. Keringat mulai mengalir membasahi keningnya. Simbah melihat itu. Diangkatnya tangan cucu tercinta semata wayangnya itu. Diusap usapnya penuh sayang.

“Sudah nduk, simbah sudah segeran. Sekarang kamu ayo makan dulu. Kamu juga capek kan?” ujar simbah penuh sayang. Sekar mengangguk tersipu. Disiapkannya dua piring nasi beras kualitas rendah yang agak keras itu. Beserta sambal terasi dan beberapa potong tempe beserta lalap daun singkong kesukaan simbahnya. Mereka makan penuh khidmat. Sebagai kuli panggul pasar, simbahnya yang meski sudah uzur namun masih nampak gesit itu, penghasilannya tidak menentu. Sekali manggul kadang hanya diupah tak seberapa. Hanya cukup untuk makan sehari. Tak heran kehidupan mereka berdua selalu prihatin. Sekar hanya bisa sekolah di SD gratis binaan kakak kakak mahasiswa dari kampus negeri d kotanya. Sekolah calon guru, ujar Diah anak tetangga sebayanya yang tinggal di sebelah rumah gubuknya.

Setiap hari dia harus bersekolah. Belajar membaca dan menulis. Serta ilmu lainnya. Sekar tak pernah mengenal sekolah sebelumnya. Usianya kini 6 tahun. Tak pernah masuk Taman Kanak Kanak. Dia hanyalah anak yang terlahir tak diinginkan. Tidak mengenal siapa orangtuanya. Ditemukan sebagai bayi mungil di sudut pasar pada suatu malam oleh pedagang yang nginap dipasar. Tak ada yang mau mengambilnya. Tak ada pula yang mau melapornya tentang kejadian itu pada aparat setempat. Simbah yang hidup sebatang karapun mengambilnya sebagai cucunya. Dan orang orang pasar tampak lega seakan terlepas beban mereka akan juga dikenai tanggungjawab atas kehidupan bayi malang itu selanjutnya. Maklum kehidupan ekonomi merekapun sudah kembang kempis.

Tak ada yang bertanya, bagaimana mungkin simbah yang miskin dan hanya kuli panggul itu mampu merawatnya? Karena selain hanya sebagai kuli panggul, simbah juga hanya bekerja sebagi buruh cuci. Maka adakalanya Sekar membantu simbahnya melipat baju2 yang telah di gosok simbah agar tampak rapi. Simbah tak mengizinkan Sekar ikut jadi pengamen jalanan seperti anak lainnya yang berkeliaran di jalan atau pasar demi rupiah. Simbah tak rela melihat cucu pungutnya itu kepanasan. Meski tak mampu membelikan apa apa, namun simbah berusaha memenuhi kebutuhan pangan sang cucu kecilnya tsb. Baginya itu saja dulu yang utama. Agar sang cucu dapat tumbuh sehat dan kuat. Maka simbah yang sudah uzur itupun makin giat mengangkat hasil bumi pedagang di pasar pasar demi rupiah yang tiada artinya bagi orang lain, namun sangat berarti bagi dirinya dan sang cucu tercinta.

Suatu malam saat mereka sedang santai di dipan kayu rumah reyot yang lebih tepat disebut gubuk itu. Simbah memandang cucunya dengan penuh arti.
“ Nduk. Kamu harus rajin sekolah ya. Agar bisa mentas nanti. Jangan dadi wong cilik terus seperti simbah iki. Syukur syukur kamu kelak bisa jadi priyayi . Hidupmu senang, simbahpun ikut senang nanti. Ya nduk? “

“ Inggih mbah, Sekar akan rajin sekolah. Tapi kata mba Icha, sekolahnya mau dipindah sama orang lain. Sopo iku, Sekar ndak tahu mbaaah. Mungkin orang gede. Gitu mbah kata ibunya Diah juga kemareen “.

Simbah terdiam sesaat. Merenungi kembali peristiwa setahun lalu. Saat dia mau daftarkan sang cucu ke sekolah gratisan di dekat rel kereta itu. Namun rupanya justru bertepatan dengan acara pembubaran sekolah gratis itu, lagi2 atas klaim sang pemilik area yang mengaku tak lagi bisa meneruskan proyek sosialnya karena hal hal yang tak jelas menurut daya nalarnya sebagai orang tak berpendidikan. Maka simbahpun pulang sambil menggandeng tangan sang cucu yang hanya bisa melongo tak mengerti.

Maka berita dari Sekar malam ini cukup membuatnya menahan nafas beberapa detik. Tak ada kata lain yang bisa diperbuatnya kecuali berdoa diam diam dalam hati, agar Gusti Allah dapat mencarikan jalan terbaik untuk kelanjutan pendidikan sang cucu tercinta.
Maka malam itu meski lelah seharian bekerja, simbah dengan khusyuk berdoa memohon agar Tuhan mau menolongnya. Demi sang cucu. Karena dia tak bisa berharap dari manusia, kecuali pada-NYA.

Namun di pagi itu, Sekar yang siap membantu keperluan simbahnya terkejut mendapati sosok kaku simbahnya yang bersimpuh di atas sajadah panjang yang kumal. Dibangunkannya simbah pelan pelan. Tubuhnya kaku, diam dan dingin. Namun parasnya tampak lembut dan damai.
Bocah itu bingung dan tiba tiba merasa takut. Ditinggalkannya simbah dan dia berlari ke tetangga depan rumah. Menggedor pintu rumah mereka dan menceritakan bahwa simbahnya kok seperti sudah mati. Kaget dan gempar seisi rumah tetangganya itu. Sebagian mengikuti Sekar kerumahnya untuk melihat simbah. Sebagian bergegas memberitahu tetangga lainnya. Maka tak berapa lama pun terdengar lengkingan pilu suara bocah kecil yang sangat berduka kehilangan orang yang dikasihinya. Para tetangga bertanya padanya apa simbahnya sakit sebelumnya. Namun bocah itu tak memahami apa yang terjadi. Tak sampai pada alam fikir kanak-kanaknya bahwa jantung simbah tak lagi kuat menahan kesedihan pada berita yang sempat didengarnya dari mulut cucunya semalam , saat dia baru saja menyampaikan harapannya. Bahwa sekolah gratis itupun bakal terancam dibubarkan lagi. Seperti tahun lalu.

Seminggu setelah kematian yang mengagetkan itu, Sekar hidup dari pemberian sedekah para tetangganya. Bergantian mereka memberinya uang ala kadarnya dan makanan apa saja yang kebetulan mereka punya. Namun tak ada yang mengajaknya untuk tinggal bersama dirumah mereka masing masing. Mungkin karena rumah merekapun tak lagi mampu menampung tanggungjawab satu nyawa yang akan resmi tinggal dirumahnya kelak. Sekolah gratis itupun memang bubar sudah. Tak ada respon dari pejabat setempat atas kelangsungan pendidikan anak anak golongan syudra itu selanjutnya. Semua sibuk mencari pembenaran dan tentunya saling mengkambinghitamkan satu sama lain.

Karena hal seperti itu sudah biasa terjadi di kota itu, maka peristiwa yang dialami Sekar dan juga sekolah gratisnya itu sering luput dari pemberitaan media masa setempat. Apalagi media saat ini lebih fokus memburu berita tentang para teroris yang entah siapa itu. Berita berita tentang mereka menjadi headline di semua media. Ditayangkan terus berulang ulang dan dikupas dari berbagai sisi di acara-acara di tivi. Seakan hanya itu hal paling penting yang jadi prioritas media untuk selalu diberitakan terus menerus ke publik.
Dan setiap orangpun seakan melupakan tugasnya masing masing. Sibuk sana sini membicarakan soal pengepungan di rumah teroris yang lagi lagi entah siapa mereka.

Sekar tak hirau pada segala hiruk pikuk tentang sepak terjang para teroris itu. Baginya mereka tak penting dan bukan keluarganya pula. Sore itu fikirannya sedang sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seorang mahasiswi yang sedang memegang tanganya sambil memandangnya dengan senyum. Mba Ambar seorang mahasiswi diantara beberapa kakak-kakak mahasiswa yang beberapa waktu lalu sempat mengajarnya , kini tengah duduk dihadapannya. Menatapnya penuh empati.
Mereka bertemu saat Sekar yang tak sengaja bertemu dengannya di dekat pasar kopi. Sekar menyapanya malu malu..Tak terkira betapa pertemuan itu menjadi sangat mengharukan. Terlebih bagi Ambar setelah mendengar apa yang dialami mantan anak didiknya tsb. Ada perasaan menyesal yang tak bisa diungkapkan, namun dia tahu dirinya dan kawan-kawannyanya ikut berperan atas apa yang terjadi pada salah satu mantan muruidnya ini. Kepanikan dan kurang profesionalnya mereka dalam mengetahui kehidupan keluarga muridnya satu persatu adalah salah satu penyebab , mereka telat mendapat berita duka cita itu. Tapi setidaknya sekarang mereka belum terlambat untuk turut memikirkan nasib bocah yatim piatu ini, pikir gadis semester akhir itu. Kesempatan masih ada untuk membuat kehidupan bocah cilik itu menjadi lebih baik. Akan segera dirundingkannya dengan kawan kawan dalam komunitasnya nanti.

Maka lewat perjuangan para mahasiswa yang sebenarnya hanyalah anak anak rantau yang hidup ngekost itu, dapatlah diusahakan agar Sekar bisa diajak tinggal disalah satu tempat penampungan anak anak terlantar. Bocah cilik itu menurut saja. Baginya hidupnya mungkin lebih terjamin disana ketimbang seorang diri mengemis pada tetangganya yang juga hidup prihatin. Di rumah baru tersebut dia masih dapat makan minum, bermain dengan teman teman baru, dan yang baginya teramat penting adalah, dia masih dapat belajar lagi dengan gratis. Karena dibenaknya Sekar tak ingin jadi apapun selain ingin mentas sesuai pesan simbahnya sebelum meninggal mendadak itu. Sekar tak ingin jadi dokter, insinyur, pelukis ataupun sastrawan seperti yang dicitakan teman teman sebayanya. Dia tak mengerti semua istilah itu. Baginya hanya satu keinginan yang kelak akan dikejarnya. Menurut pemahamannya yang selugu simbahnya itu, ada istilah yang lebih akrab di telinganya sebagai wong cilik, yang pastinya akan menjadikan kehidupannya sejahtera turun temurun.Yaitu…menjadi Priyayi !!!

mentas : jadi seseorang yang tlah jadi/berhasil
dadi : jadi
iki : ini
inggih : iya

Jakarta, Oktober 2009

Penulis yang Sakit Punggungnya

Oleh : Sayuri Yosiana

Penulis sepuh itu memijat kembai punggungnya dengan tangan yang dilingkarkannya ke belakang. Agak sulit memang. Namun demi mengurangi rasa sakitnya yang mulai mengganggu konsentrasi kerjanya, dipaksakannya tangan lemah itu memijat belakang punggungnya. Punggung yang sudah membungkuk dimakan usia dan derita hidup. Kacamatanya nyaris melorot. Wajahnya sedikit meringis, menahan nyeri. Baginya tak ada yang lebih mengganggu selain serangan periodik nyeri punggngnya itu.

“ Akh, mungkin memang sudah saatnya aku istirahat dari aktifitas yang menguras segala sisi kehidupanku ini “, batinnya pasrah. Setelah agak reda diambilnya secangkir teh hangat buatan wanita yang sudah lima tahun ini membantu mengurus rumah tangganya. Ya, mereka hanya tinggal berdua di tempat sunyi itu. Agak dipinggiran kota, dan sedikit masuk hutan kecil yang asri.

Wanita yang biasa di sapa Sofia itu awalnya adalah penduduk desa tetangga. Usianya tak lebih sepuh dari tuannya yang berprofesi sebagi penulis ternama dunia.
Wanita itu mengabdikan diri dirumah sang penulis, setelah bencana di kampung halamannya lima tahun lalu merengut habis keluarganya. Rumahnya dan masa depannya. Begitu pula dengan sisa keluarga lainnya yang juga lenyap di telan bencana. Wanita sepuh akhirnya hanya seorang diri. Tetapi kemudian seorang penulis yang tinggal tak jauh dari desanya kini telah mengangkatnya menjadi pekerja tetap yang bertugas mengurus segala keperluannya sehari-hari

Tak banyak yang diketahui wanita tua itu akan masa lalu sang tuan yang kesehariannya tak lain hanya berkutat dengan mesin tik tuanya dan setumpuk buku buku yang mengelilinginya. Ditambah lagi lembaran lembaran naskah yang seakan berlomba memasuki keranjang sampah mungilnya di sudut meja antik itu.

Sang tuan yang sering di sapanya dengan tuan penulis, betah berjam jam memainkan jemarinya yang entah terbuat dari apa itu, hingga selama lima tahun ini tak hentinya jemari itu menari nari diatas mesin tik yang agaknya sudah layak dimusiumkan.

Setiap pagi dan sore wanita itu menyediakan secangkir teh hangat kesukaan tuannya. Teh hangat beraroma lavender. Bagus untuk meredakan kepenatan yang mungkin menyapa konsentrasi kerja tuannya hari itu. Sang tuan juga harus rutin minum obat anti kejang. Dia pengidap epilepsi. Bila terlalu lelah tak jarang penyakitnya kambuh dan itu sangat menguras kesabaran wanita lembut tersebut.

Penduduk desa sudah lama mengetahui penyakit sang penulis yang sering mereka juluki dengan si penyair. Sebagian dari mereka pernah menyaksikan saat sang penulis itu kambuh penyakitnya Beberapa diantaranya mengiranya kesurupan. Atau bahkan sakaw karena over dosis. Namun mereka tak pernah benar benar berani mengusiknya lebih jauh. Kehidupan sang penyair tua itu begitu misterius. Nyaris tak pernah terlihat berkumpul dengan penduduk sekitar. Mereka hanya melihatnya sesekali saat sang penyair menyiram bunga gardenia kesayangannya. Bunga gardenia yang subur itu adalah kebanggannya.

Baik wanita pekerja rumah tangganya maupun penduduk sekitar tak pernah tahu bagaimana penyair tua itu bisa hadir di desa mereka. Namun dari kasak kusuk yang berseliweran diantara penduduk kota kecil sampai desa itu, mereka akhirnya tahu sedikit tentang sosok misterius tsb. Beberapa wartawan dalam dan luar negeri sering bertandang mengunjunginya. Dan dari merekalah para penduduk mendapat banyak keterangan yang meliputi aktifitasnya. Ternyata dia seorang yang ramah dan sopan. Namun tak suka bersosialisasi pada masyarakat banyak atau memang tak ada waktunya untuk lakukan hal itu. Lambat laun para penduduk mulai terbiasa dengan kehidupan penuh rahasia sang penyair yang agaknya punya pandangan tersendiri akan gaya hidupnya. Hidupnya yang selalu di liputi kesunyian. Namun tak pernah menolak siapapun yang bertandang kerumahnya. Asal bukan dia yang disuruh meninggalkan rumah mungilnya yang lengang tersebut.

Kembali di teguknya sisa teh hangat yang tersisa, Lalu dia mulai merasakan jarinya gemetar. Akhirnya dengan langkah tertatih dia meninggalkan kursi dan mesin tiknya. Novelnya hampir selesai. Kali ini kisah diambil sebagian besar dari perjalanan hidupnya sendiri. Kisah yang diputuskannya sebagai tulisan terakhir sepanjang karirnya dari dunia menulis. Dunia yang telah menghidupinya sejak remaja. Dunia yang dicintainya meski sepanjang perjalanan menuju puncak kejayaannya sebagai penulis dunia, harus dilaluinya dengan pengorbanan kehidupan pribadinya. Rumah tangganya yang dibangun sebanyak tiga kali, semua kandas ditengah jalan. Anak anaknya yang berjumlah lima orang dari masing masing istrinya, tak ada satupun yang mengikuti jejaknya. Mereka tak suka dengan kehidupan dan profesi sang ayah. Sang ayah yang awalnya sempat membuat bangga saat menerima hadiah Nobel sebagai puncak prestasinya. Namun semua itu ternyata tak bisa membuat keluarga yang dibangunnya sesempurna hasil karyanya dibidang sastra.

Keluarganya kehilangan dia. Kehilangan sosok yang hangat dan normal. Hingga fondasi keluarganya mulai runtuh satu persatu. Sampai akhirnya mereka semua benar benar meninggalkannya. Membuat sang ayah semakin bebas bergelut dalam dunia yang tak bisa mereka fahami. Dan kini sang penulis memilih menyepi di kota kecil pinggiran kota Allamo, sebuah kota kecil di selatan negeri yang selalu tak jelas cuacanya itu. Saat badai salju, sang penulis makin mendekam di kamarnya yang sunyi. Hanya berteman dengan suara mesin tik tuanya.
Desa itu damai , tenang tak tersentuh perang dunia yang tengah melanda seantero negeri.
Sesekali terdengar sirine meraung di tengah kota sampai ke desa kecil itu. Namun sampai kini tak pernah desa dan tempat tinggalnya terkena serangan dadakan. Sesekali terlihat dari kaca buram di jendela kamarnya iring-iringan pengungsi dari arah utara menuju desa mereka. Agaknya desa mereka merupakan zona aman hingga sang penulis merasa semuanya akan baik baik saja.

Dan memang bukan perang yang membuatnya resah. Melainkan nyeri punggungnya yang makin menghebat. Wanita sepuh pekerjanya itu sesekali membantunya memijat selama sejam. Tak hendak pula penulis itu berobat kerumah sakit terdekat. Ataupun memanggil dokter desa. Entah apa yang ada dalam fikirannya hingga bisa bertahan terus menerus menahan sakit.

“ Kukira lebih baik tuan kedokter saja. Akan sangat mengganggu bukan kalau dibiarkan terus? “ , Saran wanita sepuh itu pada majikan kesayangannya suatu hari saat kembali memijat punggung sang tuan yang kembali kambuh.. Sang majikan diam saja, menarik nafas.

Suatu hari sang tuan memanggilnya. Diajaknya wanita tua itu duduk disampingnya.
“ Aku ingin menyampaikan sebuah pesan penting untukmu. Hanya kau yang bisa kupercaya. Benarkan kau bisa kupercaya? “, tanyanya untuk lebih meyakinkan. Wanita tua itu cepat cepat menganggukan kepalanya. Perasannya terasa aneh. Dia merasa tak nyaman pada rona wajah tuannya yang tampak memucat. “ Sakit parahkah dia? “ benaknya bertanya.

Sang tuan masih menatapnya. “ Sophie, aku mau menitipkan sebuah surat wasiat. Tolong kau tandatangani juga sebagai saksi satu-satunya. Ini hanya surat wasiat biasa. Tak perlu sampai mendatangkan orang orang penting dari biro hukum yang sering membuatku emosi itu. Fahamkah dirimu? “

Wanita tua itu mengangguk. Ada sedikit raut cemas di wajahnya yang berkerut. Sang penulis itu tersenyum arif. “ Tak apa. Kau tahu aku ini tak suka ribut ribut. Tak suka banyak orang ikut campur dalam urusan pribadiku. Surat ini untuk keluargaku. Anak anakku. Tanpa ibunya masing masing tentunya. Tadi aku telah menelpon mereka semua, kelima anakku itu. Dan setelah mengetahui apa pesanku, mereka langsung menyetujui untuk berkunjung kesini. Menyelesaikan urusan surat wasiat ini. Dan karena aku enggan banyak kata, ditambah lelah pula, maka kau saja yang jadi perwakilanku ya. Kau cerdas dan baik. Usia tak menghalangimu untuk mengetahui persoalan penting ini. Dan aku percaya padamu selama ini. Kejujuran dan kesetiaanmu.” . Wanita sepuh itu tak mengatakan apapun untuk merespon amanat tuannya. Hanya didengarnya semua pesan tuannya dengan sepenuh jiwa. Tuan yang telah ikut membangun kehidupannya selama ini.

Setelah menerima berkas surat yang terlihat amat penting itu, dan sepucuk surat kecil berstempel. Sang tuan dibimbingnya memasuki kembali ruang kerjanya. Dipijatnya kembali punggung yang seakan sudah menjadi bagian dari kawan setianya beberapa tahun ini. Menemaninya dalam kesakitan fisik dan bathinnya yang sepi.
Punggung tua yang membungkuk. Yang telah ikut menanggung beban derita kehidupan pribadinya. Bahkan juga perjalanan karirnya yang tampak gemilang.

Lalu sang tuan mulai lagi mengetik. Sofia, wanita tua itu beranjak meninggalkannya untuk menyimpan wasiat tuan besarnya. Seraya menunggu buah hati sang majikan berdatangan kerumah yang sudah tiga tahun sepi dari suara sanak keluarganya. Ada rasa bahagia, akhirnya putra putri sang majikan mau juga berkunjung lagi ke tempat sunyi ini. Menengok sang ayah yang dia tahu sangat merindukan mereka. Wanita tua itu tak ingin memikirkan apakah karena surat wasiat itu, maka belahan jiwa sang majikan akhirnya bersedia datang kembali mengunjungi ayahandanya yang unik itu.

Suara mesin tik tak lagi terdengar. Sementara sore mulai menjelang. Saatnya dia menyiapkan teh hangat kesukaan tuannya.Juga untuk menyambut kedatangan putra putri sang majikan.. Di musim gugur itu hawa terasa mulai menusuk tulang. Dingin dan tajam. Namun diluar tampak damai dan tenang. Sesekali tampak kereta kuda penduduk sekitar melintas di jalan setapak tak jauh dari rumah tuannya.

Dimatikannya kompor yang mulai mendidihkan teh panas aroma lavender kesukaan tuannya. Lalu di potongnya roti gandum hangat buatannya. Sang tuan sangat menyukai tradisi minum teh sore hari yang menghangatkan jiwanya itu.
Tak lama kemudian terdengar suara kereta kuda beriringan dan berhenti tepat di depan rumah asri majikannya. Wanita tua itu segera menyambut kehadiran putra putri tuannya yang tampak lelah dalam pakaian gemerlap mereka yang ala kota.
Suasana tampak sedikit ramai. Menghangatkan kebekuan udara yang menusuk.
Angin musim gugur yang gelisah.

Mereka bertanya dimana sang ayah, dan tersenyum setelah mendapat penjelasan wanita pekerja rumah tangga ayahnya itu. “ Akh , masih seperti biasanya ayah kita itu. Bersunyi sunyi dalam kamarnya yang pengap dan penuh buku. Apakah dia baik baik saja? “, Tanya si bungsu yang tampak lebih ceria. Seorang wanita pengacara yang sukses. Sofia menganggukan kepalanya dengan hormat. “ Punggungnya selalu sakit. Hanya itu yang mengganggu aktifitasnya selama ini. “, Jawabnya pelan. Anak-anak sang majikan saling melirik satu sama lain, lalu mengangkat bahunya tanda maklum. Baginya wajar sang ayah berpenyakit punggung. Karena sepanjang hidupnya tak lain hanya duduk di kursi antik itu guna menghasilkan karya –karya yang memang gemilang. Yang dulu sempat membuat mereka bangga, namun justru berbalik jadi bumerang bagi kehidupan remaja mereka yang serasa dinomorduakan. Merekapun mulai beristirahat.

“Aku akan membangunkan tuan, nona. Pasti dia tertidur karena lelah mengetik seperti biasanya.”, wanita tua itu berkata pada Irena, salah satu anak tuannya. Namun yang menjawab si sulung. Edu.
“ Baiklah” jawabnya acuh tak acuh. Edu seorang pemain sepakbola yang sedang merintis karirnya.

Mereka masih asyik membereskan barang bawaan dan sebagian mulai menikmati teh hangat dan roti gandum, saat terdengar jerit pilu wanita penjaga rumah tangga ayahnya. Terpana sesaat , lantas berlarian kelima putra putri sang penulis itu kearah kamar sang ayah di sudut rumah. Tampak sang penulis terkulai di meja kerjanya dengan mulut menyisakan busa. Di sampingnya terlihat dua botol obat yang entah apa itu, namun sudah tak ada lagi sisanya. Agaknya ayah mereka telah menelannya semua dengan sengaja untuk mengkahiri hidupnya yang sekelam karya-karyanya yang gemilang. Sang putra sulung dengan tangan bergetar hebat membuka sepucuk surat kecil yang di letakkan ayahnya di atas bingkai foto. Hatinya remuk seketika. Isi surat itu sangat mengharukan.

” Kutinggalkan hanya sepucuk surat tak bermakna, Bagi kalian belahan jiwa yang sempat tercecer di tanganku. Maafkanlah ayahandamu yang tak pandai berdamai pada dirinya sendiri ini. Titip Sofia diantara kalian. Serta naskah terakhir sebagai sosok diriku yang tak pandai meretas waktu. Salam ”

Maka denga rasa tak percaya mereka menjadi histeris. Ada rasa sesal yang tiba tiba menyelinap dalam hati masing masing. Sementara angin Oktober disenja kelam itu semakin kencang bertiup. Mengugurkan segala rasa yang ada.

Note : terinspirasi dari cerita seorang teman padaku, yang kutulis atas izinnya. thanks ya

Lembang, Bandung Oktober 2009

SEMBILU TALANG PERINDU

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Jawa Pos, Minggu 11 Mei 2008)

Jangan dikira tiada puncak di atas puncak! Begitu kalian menginjakkan kaki di tepi kawah seluas dua lingkar pacuan kuda itu, arahkan pandang ke sisi kiri, kalian akan melihat sepasang pohon kembar yang tegak dalam posisi bersilang hingga menyerupai huruf X. Awas! Itu tanda larangan, agar para pendaki gunung Seribu Bidadari tak gegabah menerobosnya. Tapi jikalau kalian memang punya nyali untuk menantang bahaya, duapuluh depa saja dari persilangan pohon kembar tak terbilang usia itu, akan tersingkap jalan setapak penuh semak kelimunting yang makin ke ujung makin menanjak. Itulah jalan menuju puncak yang lebih tinggi dari puncak tempat para pendaki memancang bendera pertanda telah menaklukkan gunung Seribu Bidadari yang keganasannya tersohor di segala penjuru mata angin.

Ya, puncak terlarang bagi siapa saja yang tak hendak berpisah dengan sanak-saudara setelah pendakian yang bersabung nyawa itu. Di puncak larangan itu terhampar sebuah telaga yang airnya begitu jernih, tapi dinginnya menusuk hingga tulang sumsum. Bila daya tahan tubuh sedang menurun, jangan coba-coba membasuh badan dengan air telaga itu, bisa mati beku kalian dibuatnya. Sejak lama, orang-orang di sekitar lereng Seribu Bidadari menamainya, Telaga Dewi. Telaga pemandian dewi-dewi penunggu puncak terlarang. Kecantikan mereka nyaris menyerupai malaikat tatkala menyamar sebagai bidadari. Itu sebabnya gunung itu dinamai Seribu Bidadari. Banyak yang percaya, bidadari-bidadari itulah yang telah membuat pendaki-pendaki yang tersesat di kedalaman belukar puncak terlarang, merasa tidak perlu dicari, tidak perlu kembali, untuk selamanya. Berapa banyak pendaki yang raib, tapi akhirnya dianggap mati lantaran tak satu mayat pun ditemukan? Sebenarnya mereka masih hidup, bahkan usia mereka bakal lebih panjang ketimbang sanak saudara yang belum sepenuhnya merelakan kehilangan tak berjejak itu. Tidak hilang, hanya saja jasad mereka tak terjangkau pandang mata telanjang. Mereka sudah menjelma makhluk halus dan hidup bahagia sebagai pasangan bidadari-bidadari yang memang harus terus beranak-pinak.
“Akan kami renangi telaga hantu itu. Sebab, Talang Perindu ada di tengah-tengahnya,” begitu tekad Gacik Pangawan, salah satu dari tiga pendekar tanggung yang datang dari negeri jauh.

“Barang keramat itu syarat pokok untuk menyempurnakan kesaktian kami,” sambung Incekmato Batangkai, pendekar yang tampangnya cukup bersahabat, tapi cepat sekali naik pitam.

“Lebih baik mati terjungkang di puncak terlarang daripada turun tanpa Talang Perindu!” dukung Sakotok Takujai, pendekar paling muda, tapi dadanya paling membusung.

Tak salah lagi. Ada serumpun aur yang tumbuh subur di telaga itu. Setiap buluh di rumpun itu kelak memang akan menjadi Talang Perindu, barang keramat yang sejak dulu dicari-cari para penghamba ilmu pelet.

“Jaga mulutmu tua bangka! Kami bukan pemuja ilmu pelet.” gertak Incekmato Batangkai.

“Cecunguk ini benar juga, kita memang akan merenggut semua bunga yang kita suka. Bila perlu bunga di jambangan. Dengan begitu, akan ternobatlah kita sebagai Pendekar Pemetik Bunga,” sela Sakotok Tagujai.

“Pokoknya semua makluk bernama perempuan bakal berlutut di kaki kita.”

Barangkali ada yang kalian lupa. Rumpun aur itu tidak tumbuh di tengah-tengah Telaga Dewi sebagaimana kalian duga. Mungkin kalian juga lupa kalau rumpun aur itu bisa berpindah dari tengah ke tepi telaga, sekali waktu juga bisa menghilang seolah terhisap arus di dasar telaga. Lalu, bagaimana cara kalian mendapatkan Talang Perindu? Saya kuatir, pendakian kalian akan sia-sia.

“Aha, tua bangka ini meragukan kehebatan kita?”

“Tunggulah, sebentar lagi ia akan melihat tuah Talang Perindu di perkampungan lereng gunung ini. Perempuan-perempuan di tanah kelahirannya itu akan kita boyong pergi jauh. Dan, anak gadisnya yang bermata biru itu pantas pula melayani juragan-juragan di negeri kita.”

“Sebelumnya tentu kita ujicoba lebih dahulu. Ua ha ha ha…..”

***

Semasa darah mudanya masih menggelegak, lelaki ringkih pencari belerang itu pernah pula menggebu-gebu hendak memiliki Talang Perindu sebagaimana tiga pendekar pongah itu. Andai mereka tahu bahwa ia adalah Pendekar Pemetik Bunga yang sesungguhnya, tentu mereka tidak akan berani menggertak, apalagi mengancam akan meneluh anak gadisnya dengan Talang Perindu. Lelaki setengah bongkok itu memang gagal menggapai rumpun aur di tengah Telaga Dewi lantaran diserang kawanan elang gunung yang bertubi-tubi mencengkram kuduk dan pucuk kepalanya. Tubuhnya terapung-apung sebelum tangannya sempat berpegangan pada salah satu buluh di rumpun aur itu. Apa boleh buat, hasrat hendak membuat seruling dari Talang Perindu pupus sudah. Sedianya seruling itu akan menjadi seruling bertuah yang bila ditiup akan menaburkan benih-benih rindu setiap perempuan yang mendengarnya. Itu sebabnya disebut Talang Perindu, talang penumbuh rindu. Sayup-sayup bunyi seruling akan membuat gadis-gadis mabuk kepayang hingga datang mendekat satu persatu, serupa gerombolan ikan berbondong lantaran mencium bau umpan dalam jala. Ia bisa pilih, ranum tubuh mana yang mesti dicicip lebih dulu. Jangan segan-segan, mereka sudah jadi budak, dan lelaki peniup seruling adalah tuannya. Budak-budak tiada bakal bebas, bila pemilik Talang Perindu belum melepasnya.

Ah, itu hanya angan-angan yang tak kesampaian. Tapi, berputus asa pantang bagi seorang pendekar. Meski Talang Perindu tak didapat, suatu masa ia beroleh mujur juga. Saat terbungkuk-bungkuk memikul karung berisi belerang lembab, kakinya tersandung sarang elang yang baru saja jatuh dari dahan pohon Medang. Saking kagetnya, tak sengaja ia mengeluarkan jurus Terjang Halimbubu, hingga gumpalan berisi rumput-rumput kering itu hancur menjadi serpihan-serpihan halus seperti tepung terigu dihembus angin. Tapi ia masih saja kesal, sebab kelingking jari kakinya terasa perih. Seperti ada duri yang mencucuk daging kelingking itu. Terus saja ia berjalan sembari menjinjit kaki. Saat membasuh kaki di kali yang hanya beberapa langkah dari dangau tempat tinggalnya, ia mencabut duri yang tertancap di kelingking kaki kirinya. Bukan duri ternyata, tapi patahan sembilu sebesar ujung batangan tusuk gigi. Mungkin sembilu yang terkelupas dari batangan buluh kering, lalu elang gunung membawanya terbang untuk membuat sarang. Sembilu yang telah mendarahi kelingkingnya itu mengapung, hanyut perlahan. Tapi, tampaknya ada yang ganjil. Sembilu itu tidak hanyut ke hilir, justru mengarah ke hulu kali. Hanyut sungsang. Lekas ia memungutnya. Bila sudah rejeki tak hendak ke mana, itu bukan sembilu biasa, tapi sembilu yang terkelupas dari Talang Perindu di puncak Seribu Bidadari. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada Talang, sembilu pun cukup.

Benda yang semula jadi duri dalam dagingnya kelak membuat ia ternobat sebagai Pendekar Pemetik Bunga. Sembilu dari Talang Perindu menjadi jimat ajaib di tangannya. Tapi, seumur-umur hanya sekali ia meneluh perempuan dengan sembilu bertuah itu. Masa itu, sekelompok perempuan pirang datang hendak mendaki gunung Seribu Bidadari, dan lelaki penambang pelerang itu terpilih sebagai penunjuk jalan. Jane, perempuan paling mancung, sekali waktu menutup hidung saat berdekatan dengan si penunjuk jalan itu. Seolah-olah Jane tidak tahan dengan bau tubuhnya. Maklum, ia hanya akan sungguh-sungguh mandi di malam satu Syuro, setahun sekali. Ia tersinggung, dan obat satu-satunya hanya perempuan itu sendiri. Sembilu Talang Perindu membuat Jane bersenang hati jadi bininya. Pantaslah anak gadisnya kelak juga bermata biru sepertinya Jane. Sejak itu, tak pernah lagi ia meneluh. Puas ia dengan satu perempuan saja, tidak seperti hasrat tiga pendekar tanggung yang hendak menjadi tuhan bagi semua makhluk bernama perempuan, padahal mereka belum tentu sanggup menggapai puncak terlarang di gunung Seribu Bidadari.

***

Gelang-gelang Kawat marah besar. Warung Kopang miliknya sedang terancam gulung tikar. Sepi pengunjung, karena perempuan-perempuan yang tersedia sudah kadaluarsa, tak menggairahkan lagi. Suguhan kopi di warung remang-remang itu memang tiada duanya, tapi para pejajan tentu lebih tergiur dengan kenikmatan saat duduk di atas paha gadis-gadis muda sembari menyeruput kopi. Itu sebabnya disebut Kopang, Kopi Pangku, minum kopi sambil dipangku. Saatnya gadis-gadis pelayan Kopang itu diganti dengan perawan-perawan kinclong, segar dan berkulit kencang. Tapi, tiga murid Gelang-gelang Kawat yang diutusnya ke puncak gunung Seribu Bidadari pulang dengan tangan kosong.

“Keparat busuk! Masih berani kalian pulang tanpa Talang Perindu?” bentak Gelang-gelang Kawat, tubuh bongsornya gemetar hendak lekas menghabisi bedebah-bedebah itu.

“Tuan guru, beri kami satu kesempatan lagi,” jawab Incekmato Batangkai dengan kepala menunduk.

“Kami janji, Talang Perindu akan jatuh ke tangan kita. Warung Kopang akan semarak kembali seperti dulu!”

“Akan kami paksa tua bangka penambang belerang itu menunjukkan di mana sebenarnya Talang Perindu itu berada,” tambah Sakotok Tagujai

“Penambang Belerang? ” Tanya Gelang-gelang Kawat, terperangah.

“Ya, lelaki sepuh di lereng Seribu Bidadari itu tahu segala rahasia tentang Talang Perindu. Ia mengenal Talang Perindu seperti mengenal urat lehernya sendiri.”

“Jadi, berilah kami kesempatan!” mohon Gacik Pangawan, mulai ketakutan, sebab geraham Gelang-gelang Kawat sudah bergemeretuk, seolah akan mengunyah-ngunyah mereka bertiga.

Gelang-gelang Kawat langsung teringat raut wajah lelaki pencari belerang yang diceritakan murid-muridnya itu. Ia tidak lain adalah Pendekar Pemetik Bunga yang sebenarnya. Dulu, Gelang-gelang Kawat pernah berguru pada empunya jurus Terjang Halimbubu itu. Tapi sesungguhnya ia hanya berpura-pura jadi murid, untuk mencuri sembilu Talang Perindu, jimat ampuh yang diincarnya sejak lama. Tapi, memiliki Talang Perindu rupanya tak segampang mengirim Gacik Pangawan, Sakotok Takujai, Incekmato Batangkai, tiga murid tololnya itu ke liang kubur.

Kelapa Dua, 2008

Bayang-Bayang Tujuh

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(JAWA POS, Minggu, 4 Januari 2009)

Dalam sekali helaan napas, riuh sorak-sorai para petaruh yang berdiri di sekeliling lingkar arena sabung ayam di lereng Bukit Limbuku tiba-tiba terhenyak dalam hening. Orang-orang seperti dihadang kegamangan. Tiada hirau lagi para petaruh itu pada kibasan dan kelebat kaki-kaki bertaji dalam tarung Jalak Itam dan Kurik Bulu yang tengah berlaga begitu sengit hingga jambul kedua jago turunan Bangkok itu bergelimang darah. Semua mata seolah terisap ke dalam pancaran mata bengis Langkisau yang sedang mengamuk. Ia baru saja menghajar lelaki tanggung yang tampaknya orang baru di kalangan para petaruh.

Melihat raut mukanya yang begitu teduh, hampir bisa dipastikan ia bukan penggila judi sabung yang tengah menunggu kokok kemenangan Jalak Itam dan keok kekalahan Kurik Bulu, atau sebaliknya. Menurut penuturan seorang pejudi, ia guru ngaji yang sedang memantau kalau-kalau ada di antara murid-muridnya yang ikut-ikutan menonton permainan itu. Bila ada murid yang tertangkap tangan sedang berada di arena judi sabung, guru muda itu akan menyeretnya turun. Di surau ia akan beroleh hukuman sepadan. Biasanya, telapak tangan si murid dicambuk dengan rotan, berkali-kali, tak henti-henti, dari selepas Magrib hingga tiba waktu Isya.

Begitu menginjak tanah lereng Bukit Limbuku, ia berjalan mengendap-endap di sela-sela kerumunan para petaruh yang sedang berdebar-debar, cemas kalau-kalau jagoan mereka tumbang, dan segepok uang taruhan tentu bakal melayang. Pada saat yang sama, Langkisau sedang sibuk mengumpulkan taruhan. Tanpa disengaja, guru muda itu melangkahi bayang-bayang tubuh Langkisau. Telapak kakinya menginjak bayangan kepala Langkisau. Perlu ditegaskan, ia tidak melangkahi kepala Langkisau, hanya melangkahi bayang-bayangnya. Tapi, itu sudah melanggar pantangan. Langkisau menyeringai, menyerungut, serupa anjing yang hendak menerkam buruan. Dari arah depan, dua kali tendangan gasingnya mendarat di ulu hati lelaki itu. Aliran napasnya seolah disumbat oleh hantaman kaki Langkisau. Ia sempoyongan. Badannnya oleng. Pandangannya kabur.

”Mampus kau!”

”Melangkahi bayang-bayang kepalaku sama dengan menginjak kepalaku.”

”Belum tahu siapa Langkisau kau rupanya?”

”Huaaap…”

Tiada ampun, guru muda tumbang, kepalanya mencukik ke dalam comberan tempat membasuh luka-luka di jambul ayam jago selepas berlaga. Buruk benar cara jatuhnya. Menelungkup dengan muka berkubang lumpur. Sementara itu, para petaruh makin ketakutan kalau-kalau anak muda itu tidak bangun lagi, apalagi kalau ia mati terkulai di tangan Langkisau. Kalau benar ia salah satu guru ngaji, keributan kecil itu tiada bakal berhenti sampai di sini. Para tetua Surau Tuo tak akan tinggal diam. Bukan Langkisau saja yang akan terancam, semua petaruh di lereng bukit itu akan tahu akibatnya.

”Cukup Langkisau!”

Begitu teriak Inyik Centang, kaki-tangan Langkisau. Ia muncul tiba-tiba, menghadang Langkisau yang hendak mencatukkan lading di kuduk lelaki tanggung yang sudah tak berkutik itu.

”Belum puas aku kalau orang ini masih hidup,” bentak Langkisau, ”kukirim sekalian ke liang lahat.”

”Sekali lagi, cukup! Dia orang Surau Tuo. Bisa jadi orang suruhan Engku 21.”

”Nah, itu yang kutunggu sejak dulu. Sudah lama aku ingin menjajal kehebatan tuan-tuan Engku 21 itu.”

”Jangan takabur! Mereka sukar dikalahkan. Lebih-lebih si Gelang-Gelang Kawat. Ilmu Bayang-Bayang Tujuh matang di tangannya.”

”Keparat! Kau pikir aku takut? Akan kucincang si Bayang-Bayang Tujuh itu.”

”Cincang? Saat kau hendak menggoroknya, tubuh kasarnya hilang. Kau hanya bisa mendengar suaranya.”

***

Cerita Inyik Centang benar. Jauh sebelum lereng Bukit Limbuku penuh sesak oleh para penyabung, Gelang-Gelang Kawat menebang Betung di lahan itu. Ia beroleh upah dari seorang cukong yang konon telah memborong semua rumpun aur di lereng bukit itu. Suatu ketika, di musim kemarau, terjadi kebakaran karena ulah para penebang yang abai mematikan puntung rokok sebelum dibuang ke semak-semak. Celakanya, Gelang-Gelang Kawat tertuduh sebagai perokok yang buang puntung sembarangan itu hingga seperempat lereng bukit gosong dilalap api. Maka, ia harus berurusan dengan aparat.

”Benar Saudara yang menyebabkan Bukit Limbuku terbakar?” bentak seorang petugas dengan memasang tampang sangar agar Gelang-Gelang Kawat lekas mengaku.

”Bukan saya, tapi tangan saya!” balasnya. Tegas.

Pada saat Gelang-Gelang Kawat mengucapkan kata-kata itu, polisi yang memeriksanya hanya bisa mendengar suara paraunya, tidak bisa melihat wujud si tertuduh. Tubuhnya bagai menguap, bagai mengelayap entah ke mana, lenyap seketika. Lutut petugas itu gemetar karena takut. Bulu kuduknya meremang. Seumur-umur ia mengurus kasus kebakaran hutan, baru kali itu ia ketemu orang yang tak bertubuh kasar. Ia merasa tidak lagi berhadapan dengan tersangka, tapi dengan hantu penunggu lereng Bukit Limbuku.

Sejak peristiwa itu, Gelang-Gelang Kawat jarang ke lereng Bukit Limbuku. Pohon-pohon betung yang biasa ditebangnya sudah jadi abu. Ia mencurahkan perhatian untuk mengajar anak-anak mengaji di Surau Tuo. Lebih-lebih, sejak ia dipercaya menjadi salah satu Engku dari dua puluh satu Engku di surau itu. Sejak lama, masing-masing suku mengutus tiga orang Engku guna menyemarakkan surau usang itu; satu bilal, satu imam, satu khatib. Lantaran ada tujuh suku di kampung itu, maka azan-iqamah, salat berjamaah, belajar ngaji, wirid mingguan, dan khatib Jumat diurus oleh dua puluh satu Engku. Itu sebabnya mereka disebut Engku 21.

”Kalaulah tidak karena permintaan Engku-Engku, sudah kupatahkan pinggangnya,” kata lelaki muda itu, sesekali ia meringis kesakitan saat Gelang-Gelang Kawat mengobati tulang belikatnya yang memar akibat tendangan gasing Langkisau.

”Makanya jangan lengah, masa’ kau langkahi kepalanya? Ha ha ha…”

”Bukan kepalanya, hanya bayang-bayang kepalanya…”

”Di situ letak kelemahan Langkisau. Ada enam bagian lagi dari tubuhnya yang harus kau langkahi.”

”Tapi, kenapa aku tidak boleh mengelak? Jangankan melawan, mengelak pun pantang,”

”Kau ingin mengalahkan Langkisau bukan?” sela Gelang-Gelang Kawat.

***

Kepulangan Langkisau ke kampung ini barangkali kepulangan paling celaka bagi setiap perantau. Setelah mengadu untung selama puluhan tahun dan beranak-pinak di negeri seberang, ia pulang dengan gairah hidup yang hampir redup. Tubuh jangkungnya kian ceking, namun perutnya buncit-padat lantaran berhari-hari ia tak bisa berak. Kabarnya, waktu itu, seseorang dengan kemampuan guna-guna tingkat tinggi menahan semua unsur yang berjenis racun untuk tetap bersarang di tubuh Langkisau, hingga tiba saatnya racun-racun itu menjadi penyakit yang bakal menyudahi riwayat si raja copet itu.

Sehebat-hebatnya Langkisau, tetap saja ada yang lebih hebat. Selihai-lihai tupai melompat, sekali waktu jatuh-terpelanting juga. Padahal, bila tidak terlalu kemaruk, Langkisau tak bakal ketemu lawan bersengat seperti itu. Anak buahnya banyak, wilayah kuasanya luas, ia disegani lantaran ilmu Bayang-Bayang Tujuh sempurna dikuasainya. Betapa tidak? Langkisau bisa menguras uang dari tujuh saku korban sekaligus, itu hanya dengan sekali gerak. Tubuhnya membelah jadi tujuh, tiada yang tahu mana jasad aslinya. Yang pasti, tujuh bayangan itu tidak pernah pulang percuma. Tapi, Langkisau tidak pernah puas. Masih saja ia menyabot wilayah orang lain. Ingin menjadi satu-satunya raja copet ia rupanya, ingin semua pencopet kota itu tunduk, bertekuk lutut di hadapannya. Langkisau lupa, di atas langit ada langit. Akibatnya, ia harus pulang sebagai pecundang. Dengan kekuatan guna-guna, ia ditumbangkan.

Untunglah, saudara seperguruannya, Gelang-Gelang Kawat, tidak tinggal diam. Meski Langkisau sudah menempuh jalan berbeda, Gelang-Gelang Kawat tetap mengerahkan segenap kesaktiannya guna menyelamatkan Langkisau yang sudah di ambang kematian. Tak lama Gelang-Gelang Kawat bekerja, sejawatnya sesama pewaris ilmu Bayang-Bayang Tujuh itu sembuh dan gairah jawaranya kembali menyala. ”Menyelamatkan nyawa Langkisau sama dengan membangunkan harimau tidur,” kata orang-orang yang menginginkan kematian Langkisau.

”Biarkan saja keparat itu mati busuk!”

”Tak ingin jadi nomor satu? Bila Langkisau masih hidup, kau tetap nomor dua.”

***

Lereng Bukit Limbuku yang lapang selepas terbakar disulap Langkisau menjadi arena sabung ayam. Diundangnya para penyabung dari mana-mana hingga setiap hari lereng bukit itu seperti pasar. Bila di rantau Langkisau raja copet, di sini, di kampung ini, ia raja judi. Tak ada yang berani menghadangnya, tidak pula para tetua kampung yang diam-diam ternyata sudah menjadi kacung-kacung Langkisau. Tak jelas lagi, siapa kawan siapa lawan, sejak Langkisau kembali bertaji. Kalaupun ada yang dapat mengimbangi kesaktiannya, itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang Engku 21, utamanya Gelang-Gelang Kawat.

”Menurut Engku, aku sanggup menumbangkannya?” tanya murid terbaik Gelang-Gelang Kawat yang tulang belikatnya sudah enam kali jadi sasaran tendangan gasing Langkisau.

”Bayang-bayang Langkisau bagian mana lagi yang harus aku langkahi?”

”Jangan gegabah! Tinggal satu lagi.”

”Cepat katakan!”

”Langkahi bayang-bayang daerah gelang-gelang*) Langkisau! Itu pantangan ilmu Gelang-Gelang Kawat. Langkisaulah Gelang-gelang Kawat sebenarnya.”

Lelaki itu mulai bimbang. Jangan-jangan Langkisau dan Gelang-Gelang Kawat hanyalah dua kepingan dari satu jasad yang telah membelah. Bukankah keduanya sama-sama menempuh tarekat Bayang-Bayang Tujuh? Mungkin Langkisau telah membelah diri menjadi Gelang-Gelang Kawat atau Gelang-gelang Kawat yang membiak jadi Langkisau. Lalu, siapa wujud aslinya, di mana lima bayangan yang lain? Ah.

”Apa yang kau tunggu?” desak Gelang-Gelang Kawat.

Lekas ia beranjak. Tapi, langkahnya bagai ditahan. Apa mungkin Engku Guru membunuh bayangan sendiri? Ia membatin. Sejurus kemudian, ia merasa telah menjadi orang lain. Kadang-kadang merasa sebagai Gelang-Gelang Kawat, tapi sesekali menggebu hendak jadi jawara seperti Langkisau.

*) Usus besar

Jakarta, 2008

Kerinduan di Puncak Ijen

Oleh : Lia Salsabila

SEPULUH jam, bukan perjalanan sebentar, cukup melelahkan. Perih pun memagut hati tak terperi. Sepanjang jalan kulalui dalam diam. Pikiranku mengawang tak alang kepalang. Kembali kubaca surat dari Rangga. “Arrghh..!! Mengapa begitu berat rasa ini,” batinku. Lelehan air bening mengalir lagi tak bergeming dari sudut kelopak mata.

Jalanan mulai menanjak bergelombang. Dingin menusuk hingga ke tulang, menyadarkanku untuk kembali dari kembara maya tak henti. “Sampai di manakah ini?” batinku.
Sekilas kulirik sopir angkot yang membawaku dari terminal Bondowoso. Ia begitu asyik menekuri jalanan curam dalam diam. “Hufftt… apa yang kucari hingga aku mendampar di sini?” batinku.
Kembali membayang wajah-wajah orang terkasih. Elang yang teramat kurindukan, tak jua memberi kabar. Dan Rangga yang baru saja kutinggalkan. “Ya Tuhan,” desahku.
Tiba-tiba mobil berhenti. “Saya hanya bisa mengantar sampai di sini, Neng,” ujar supir angkot.
“Seberapa jauh lagi, Pak, ke Jampit?” tanyaku.
“Sekitar 15 km. Dari sini Neng naik ojek saja ke sana,” jelasnya.
Kuayun langkah ke pangkalan ojek yang ditunjuk. Tak tampak seorang pun. Kembali aku termangu dalam diam, serupa orang terbuang. Detik ke menit, menit ke jam, tak satu pun langkah dan sapa kutemukan.

[Read more...]

Secuplik Cinta di Pulau Dewata

Oleh : Lia Salsabila

“UBUNG terakhir….Ubung terakhir.” Aku tergeragap bangun, melihat pergelangan tangan. Masih jam 5 pagi.
Turun dari bus yang membawaku dari kota Blambangan semalam, seorang pria separuh baya menghampiri. “Mau ke mana, neng?” tanyanya.
“Ke jalan Mertasari, Sanur, Pak. Tapi saya mau shalat dulu.” Aku bergegas mencari mushalla terdekat.
Usai shalat aku kembali ke terminal. Masih bingung, karena baru pertama kali menginjakkan kaki di kota dengan keindahan terkenal ke mancanegara ini. “Hmmm….Pulau Dewata , sampai juga aku di tanahmu,” gumamku dalam hati.
Pria tadi yang ternyata supir taksi kembali menghampiri, “Bagaimana, neng? Mau saya antar?” Aku mengangguk.
Kami tawar menawar harga, dan sepakat. Tak lama aku sudah di dalam taksi, meluncur di jalanan Kota Denpasar di pagi yang masih lengang. Tatanan kota begitu asri. Bangunan-bangunan khas lengkap dengan tugu-tugu berpayung di depannya membuatku kian tertarik .
“Pak, bangunan seperti tugu berpayung itu, apa ya? Kenapa hampir di tiap rumah ada?” tanyaku penasaran.
“Itu pura, neng. Tempat pemujaan kami, umat Hindu. Di tiap rumah pasti ada, meski hanya sebagai replika dari pura yang lebih besar. Misalnya replika dari Pura Besakih,” jawab bapak supir taksi itu.
Ooo… jadi itulah pura yang pernah kubaca atau kudengar ceritanya, batinku, sambil tetap memperhatikan deretan rumah dengan pura di depannya.
“Mertasari berapa neng?” pertanyaan pak supir mengagetkan keasyikanku. Aku menyebutkan sebuah nomor.
Di depan gerbang berwarna biru taksi berhenti. “Sudah sampai, neng,” ujar supir taksi itu lagi. Bergegas aku membayar ongkos taksi, lalu turun dan berjalan ke gerbang yang tertutup rapat.
Ketika aku masuk, terlihat bangunan besar seperti gudang dan sebuah rumah mirip kantor. Tempat ini begitu lengang, pikirku. Agak lama aku berdiri mematung di depan bangunan rumah itu, memperhatikan pura yang cukup besar lengkap dengan sesajen di sekitarnya. Tiba-tiba, “Cari siapa, mbak?” sebuah suara menegurku.
“Emm..saya mau ketemu Pak Handoko, mas,” jawabku.
“Tunggu saja di kursi panjang itu, mbak. Jam 8 baru dia datang.”
Aku duduk di kursi yang ditunjuk pemuda tadi. Kalau dilihat dari logatnya sepertinya dia asli orang Bali.
Sudah jam 8, tapi Pak Handoko belum juga kelihatan. Gudang yang tadi sepi sudah hidup dengan aktivitas para pekerja.
Hampir jam 9 saat kulihat seorang berbadan tinggi besar menghampiriku. Dia tersenyum, “Mbak Liana ya?”
“Iya,” jawabku.
“Saya Handoko, HRD di sini,” ia memperkenalkan diri sambil menjabat tanganku. “Saya dapat kabar dari Mr. Jefry jika mbak tiba hari ini. Selamat datang, mbak.”
“Terimakasih, Pak,” jawabku sambil tersenyum.
Jabatanku lumayan, sebagai Quality Control yang bertugas menjaga kualitas semua barang di perusahaan ini. Perusahaan distributor sayuran. Pelanggannya hotel-hotel, kafe dan mall. Jumlah karyawan sekitar 25 orang, semua baik dan ramah. Ada Wayan, Rangga, Yusuf, Gusti, Paulina, dll. Untung, karena sikapku, aku langsung akrab dengan mereka.
Bulan pertama di Pulau Dewata begitu berat. Aku harus adaptasi, terutama dengan cuaca. Baru seminggu kerja sudah sakit. Huuft.. Ditambah lagi harus menghafal nama semua jenis sayuran di gudang pendingin yang kebanyakan belum pernah kulihat. Namanya bikin aku susah. Ada lolobionda, red okleaf, green okleaf, mizuna, lolorosa, baby bean, dll. Yang paling menyiksa, rindu yang kian menggunung pada sepotong hati nun jauh di sana. Adakah dia juga rindu? Tapi aku sedikit terhibur, dan bisa melupakan semua beban, berkat dua makhluk ganteng bernama Rangga dan Gusti. Aku terkesan dengan sikap mereka. Rangga dengan sejuta misterinya yang seolah tak terjamah. Gusti dengan sejuta perhatian, kelembutan serta senyuman mautnya. Tapi kembali aku teringat pada tambatan hati yang begitu jauh. Sejumput air terasa bergulir dari bola mataku.
Aku bekerja 6 hari dalam seminggu. Tiap hari bekerja 8 jam. Selain cek barang, kadang juga ikut mengantar barang ke pelanggan, sekalian survei. Seperti pagi ini, aku harus ikut ke Nusa Dua dengan Rangga. Aku senang bukan main. Kalau sendirian pasti aku sudah lompat-lompat.
Kami pun berangkat setelah semua barang orderan masuk mobil. Ini pertama kalinya aku pergi berdua dengan Rangga. Seperti biasa dia diam seribu bahasa. Matanya fokus ke jalanan. Wajahnya tanpa senyum. Bête banget jadinya.
Kunikmati pemandangan sepanjang jalan ke Nusa Dua dalam diam. Melihat pura-pura berjajar, rasa ingin tahuku semakin besar. Kuingat sopir taksi yang mengantarku dulu. “Bapak yang baik,” batinku. Tiba-tiba aku jadi sedih. “Arrghh…kenapa Rangga tak seramah dia? Bukankah dia bisa juga bercerita tentang pura padaku?” rintihku dalam hati. Sesekali aku curi pandang ke arahnya. Hmm.. makin ganteng kalau dilihat dari dekat. Tapi ada sesuatu di sana yang begitu sulit aku artikan.

Wajah itu begitu tegas namun lembut
Mata itu meneduhkan namun ada gurat luka di sana
Bibir tanpa senyum, penuh misteri

Aku tinggal di mess perusahaan. Setiap 2 hari sekali aku harus cek barang kiriman dari Kawah Ijen, kebun perusahaan, yang datangnya jam 1 pagi. Aku di mess bersama 7 orang lainnya. Semua laki-laki, termasuk Rangga dan Gusti. Di antara mereka berdua, aku lebih dekat dengan Gusti. Gusti selalu mengantarku ke mana-mana. Dia ramah, lembut, penuh perhatian hingga aku nyaman bersamanya. Karena kedekatanku dengan Gusti, muncul gosip kalau kami berpacaran. Dan Rangga seolah tak peduli dengan gossip itu. Rangga semakin penuh misteri. Tapi kenapa kadang aku begitu yakin kalau dia suka padaku. Hufft.., kenapa dia tak sebaik Gusti dan yang lainnya, rutukku.
Sore ini aku berencana ke Sanur dengan Gusti. Sekitar jam 17.00 WITA kami berangkat. Di gerbang kulihat Rangga melangkah masuk.
“Hei Ga, ikut yuk ke Sanur,” sapaku.
“Enggak ah. Malas, ntar mengganggu lagi,” jawabnya.
”Iya enggak lah, Ga,” kataku. Dia langsung pergi tanpa menjawab. Sekilas kulihat ada kilat amarah di matanya. Wajahnya makin keras. Ada gurat kecewa di sana. Mungkinkah dia cemburu? Ah, tak mungkin, pikirku.
Di perjalanan kunikmati lagi rumah-rumah dengan bangunan pura di depannya. Mengingatkanku pada perbincangan dengan supir taksi yang mengantarku dulu.
“Liana, kita sudah sampai nich. Ayo turun,” seru Gusti membuyarkan lamunanku. Kami melangkah ke pantai.
“Ramai juga ya kak, pantainya. Ke dermaga itu yuk,” ajakku ke Gusti yang memang dari awal kupanggil kakak. Bergegas kami menuju dermaga. Banyak pasangan muda-mudi yang juga menikmati indahnya suasana pantai.
“Mas-mu sudah telpon, Liana?” Gusti tiba-tiba bertanya.
“Belum, kak. Ini sudah seminggu. Aku sms nggak dibalas, aku telpon nggak aktif.”
Gusti diam. Lalu, “Sabar ya, mungkin mas-mu memang sibuk,” ujarnya. Aku mengangguk.
“Eh, Rangga tadi kenapa ya. Kok begitu, seperti nggak suka kita jalan. Jangan-jangan dia naksir Liana tuch, hehe..,” ujarnya lagi.
“Jangan asal dech, kak. Nggak mungkinlah,” jawabku.
Kami nikmati keindahan pantai Sanur hingga malam tiba.
“Sudah malam. Pulang yuk,” ajakku. Kami pun pulang dalam diam.
Aku makin betah di perusahaan ini, di kota ini. Semua begitu baik padaku, terutama Gusti yang semakin perhatian. Kecuali Rangga. Dia tetap cuek penuh misteri. Dari mbak Paulina aku tahu kalau dia pernah patah hati. Aku makin penasaran dan agak tersinggung karena dia nyaris tak pernah menganggapku. Sialan…, umpatku dalam hati.
“Liana, kamu dicari Rangga tuch,” kata Yusuf. Rangga tampak tergesa menghampiriku.
“Ada apa, Ga? Serius banget,” ujarku.
“Ikut aku ke Hard Café, mereka complain.” Rangga terlihat tegang.
“Sekarang, Ga?” tanyaku.
“Tahun depan… Iya, sekaranglah. Ayo, buruan.” Tanpa menunggu jawabanku dia berjalan ke mobil. Meski dongkol, aku bergegas mengikutinya. Kami berangkat hanya berdua.
“Apa complain-nya, Ga?” tanyaku. Rangga tetap bungkam seribu bahasa. Aku makin dongkol dengan sikap Rangga.
Tak sampai 15 menit kami sampai di Hard Café. Rangga bergegas masuk tanpa sepatah kata pun. Aku mengekor di belakang dengan perasaan tak menentu.
Tiba-tiba, “Bagaimana ini, Mas. Jual lettuce atau ulat sich?!” teriak kepala koki Hard café. “Untung belum disuguhkan ke tamu. Bisa rugi kami,” rentetnya penuh emosi.
“Kami mohon maaf, Pak, atas kelalaian ini,” ujar Rangga tenang. “Kami akan ganti, dan untuk lettucenya digratiskan,” lanjut Rangga.
Rangga bergegas keluar. Dan masuk lagi dengan beberapa bungkus lettuce di tangan.
Kejadian itu begitu cepat. Sebagai seorang Quality Control, ada sejumput rasa malu menyerangku. Lettuce itu seperti lepas dari pengawasan. Tapi untung ada Rangga, yang bertindak cepat dan tepat. Meski tanpa minta persetujuanku. Aku dibuat tercengang. Lebih tepatnya, terpesona pada ketenangan dan keramahan Rangga yang belum pernah kulihat. “Ya Tuhan, aku semakin tertawan” rintihku.
Sebenarnya aku sudah terikat janji dengan sepotong hati nun jauh di sana. Kami sudah menjalin hubungan cukup lama. Namun aku mulai ragu padanya. Semenjak aku di Pulau Dewata dia jarang telepon. Dalihnya, sibuk kerja dan tidak ada waktu. Hhmmm, bagaimanapun aku jadi bimbang. Apalagi di sini ada Gusti yang selalu perhatian, dan Rangga yang membuat aku penasaran. Sepotong hatiku makin tidak jelas rasanya. Aku mesti bagaimana?
Malam ini mataku masih terbuka lebar. Tak ada tanda-tanda sedikitpun akan terlelap. Besok sore aku akan berangkat ke Kawah Ijen. Setelah 4 bulan di sini, aku dipindahkan ke kawasan pegunungan di daerah Bondowoso, Jawa Timur itu. Untuk mengontrol kualitas hasil sayuran di sana. Entah untuk berapa lama. Bayangan wajah Rangga menjadi penghuni tetap hatiku malam ini. Dan mata Rangga semakin terlihat kelam.
“Liana, ikut aku yuk,” Rangga berkata lembut sekali.
“Ke mana?”
“Ayolah, nanti kamu pasti tahu.”
Aku pun naik ke atas motor yang dipakai Rangga. Katanya, lebih asyik pakai motor. Karena itu ia tidak membawa mobil.
15 menit kemudian di depanku menghampar keindahan pantai Sanur. Ombaknya berdebur pelan dengan riak-riak kecil. Allahu Akbar, sungguh pemandangan yang amat indah. Terasa jauh lebih indah dibanding ketika aku ke sini bersama Gusti.
Aku turun dari motor. Tiba-tiba Rangga menggandeng tanganku. Aku terkejut, tak bisa berbuat apapun ketika dia membimbingku menuju tepian pantai. Wajahnya begitu lembut. Matanya teramat teduh, seakan aku ingin tenggelam di dalamnya.
“Liana.. Jujur, sebenarnya aku suka padamu. Aku mulai mencintaimu.”
Aku terkejut. Bibirku ternganga lebar. Benarkah yang aku dengar?
Belum sempat Rangga melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba, kringggg! Aku tersentak. Jam 5 pagi. Ya Allah, ternyata semua itu hanya mimpi.
Siang itu aku begitu sibuk mengurus keberangkatanku. Pamit sama teman-teman, bercanda dengan Gusti yang seolah tak mau jauh sedikitpun dariku, dan melupakan sosok Rangga yang memang tak nampak sejak tadi. Kata teman-teman, ia sudah pergi dari pagi. Tidak tahu ke mana. Aku sedih, namun hanya sesaat. Karena aku kembali sibuk dengan semua persiapan, dan juga rapat dengan Mr. Jefry.
Tepat jam 3 sore aku bersiap berangkat. Mobil travel sudah datang. Barang-barang sudah dinaikkan ke dalam mobil oleh Yusuf. Semua sahabatku ada di sini. Wayan, Yusuf, Gusti, dan mbak Paulina. Mereka mengantar kepergianku. Gusti menatap nanar. Penuh harap aku celingukan mencari Rangga. Namun lagi-lagi dia tak tampak. Seolah mengerti apa yang aku cari, mbak Paulina berseru, “Dia belum pulang, Liana.”
“Hmmm, iya mbak. Nggak apa-apa. Salam buat dia, ya mbak.”
Dengan berat hati aku masuk ke dalam mobil. Ketika sampai di gerbang, aku terkejut karena ada yang mengetuk kaca jendela.
Ya Allah, wajah itu adalah Rangga. Penuh keringat dan semakin dingin terlihat. Namun ada sesungging senyum kecil di bibirnya. Tak jauh di belakang Rangga, di luar gerbang, tampak sebuah taksi. Agaknya Rangga datang dengan taksi itu.
“Eh, iya Ga. Ada apa,” kataku terbata.
“Nggak ada apa-apa. Cuma mau mengucapkan selamat jalan saja kok,” jawabnya. Nada bicaranya datar. “Maafkan jika aku punya salah.”
“Sama-sama, Ga,” jawabku. Kemudian dia memberiku sebuah lipatan kertas berwarna biru.
“Apa ini, Ga?” tanyaku.
“Baca saja.” Dia pun menepi karena mobil mulai bergerak. Aghh…, tatapan mata itu begitu lekat dan kelam.
Melewati taksi itu, aku langsung mengenal supirnya. “Itu taksi yang mengantarku dulu,” kataku pada supir mobil travel langganan perusahaan yang membawaku.
“O.., itu bapaknya Rangga, neng,” ujar pak supir travel. Aku tercekat. Ohhh! Ingatanku melayang pada Rangga dan bapaknya. Seperti sebuah lingkaran yang bergerak mengitariku.
Sampai di Gilimanuk aku baru membuka kertas pemberian Rangga. Aku penasaran apa sebenarnya yang dia tulis.

Dear Liana.
Wajah mungilmu seolah begitu rapuh. Namun ada sesuatu di sana. Kekuatan besar yang entah, aku tak tahu itu apa. Matamu sayu, namun begitu kuat menyedot sukmaku. Kata-katamu begitu lugas dan tegas, bagai senandung indah nan merdu. Tanpa sadar aku mulai jatuh, luruh menatap wajahmu, tenggelam dalam tatap mata yang begitu sendu. Setiap kata dan ceritamu seolah menyihirku, membawaku dalam kelenaan panjang ketika menikmati senandung yang kau nyanyikan.
Liana.., aku mencintaimu.
Maaf aku tak mampu mengungkapkannya. Hanya ini yang mampu aku buat dan berikan untukmu.
Maafkan sikapku selama ini.

Aku terhenyak. Tanpa terasa air mataku mengalir. Ya Allah, mengapa harus seperti ini jalan hidup yang kujalani. Andai aku membuka surat ini lebih awal. Aku hanya berdoa dalam hati, jika memang kami berjodoh insyaAllah akan ada jalan yang mempertemukan kami kembali.
Dari kapal feri yang kutumpangi, kulihat pulau Dewata semakin jauh dan mengecil.

Pulau Dewata penuh kenangan
Romansa cinta tak terungkapkan
Tempat sepotong hati pernah singgah
Menunggu diriku tuk memetiknya indah

@@@

Januari ‘10