Oleh : Lia Salsabila
Kuseduh rindu
di temaram rembulan
Reguklah
Biarkan kunangkunang dan gemintang
luruh di rahim jiwamu
Aku akan datang
menyulam hingga fajar
Dan malam tak akan diam
karena benang tlah kupintal
Juni 2011
Rumpun Kata Merumpun Bangsa
Oleh : Lia Salsabila
Kuseduh rindu
di temaram rembulan
Reguklah
Biarkan kunangkunang dan gemintang
luruh di rahim jiwamu
Aku akan datang
menyulam hingga fajar
Dan malam tak akan diam
karena benang tlah kupintal
Juni 2011
/indra nara persada/
AKU BERTANYA PADA PUISI
Berenang di perutmu ketipak ladam memanggil-manggilku
Bayangan berlalu. Satu-satu kupetik buah dadamu
Setelah sepi masihkah ada hati?
Mengapung di jantungmu genta pedati mengimbau-imbauku
Sipongang berlalu. Satu-satu kurangkai tulang rusukmu
Setelah ruh masihkah ada tubuh?
Melantun di rimbun rimbamu sayatan bansi mengiris-irisku
Sikumambang berlalu. Satu-satu kubuhul bulu rambutmu
Setelah makna masihkah ada luka?
2010
/indra nara persada/
HAIKU DANAU
matamu danau
tempat pepohon tumbuh
membatang tubuh
dadamu danau
tempat ikan berenang
menjala kenang
lembahmu danau
tempat elang istirah
melerai lelah
. 2010
PUISI-PUISI PALESTINA DAN LIBANON (1)
Abdul Hadi W. M.
Mahmud Darwish
BANGGA DAN MURKA
Kampung halamanku! Bagai rajawali kau
Menukik lewat jeriji sel
Paruh runcingmu mencucuk mataku!
Di ambang ajal, yang kumiliki
Adalah rasa bangga dan murka.
Kuwariskan jantungku
Biar ditanamnya jadi pohon kayu
Dahiku, tempat unggas bertengger
Tak pantas aku jadi kobaran api
Kampung halamanku!
Kami lahir dan besar dalam lukamu
Dan makan buah dari pepohonmu
Seraya memandang lahirnya fajar
Wahai rajawali yang terbelenggu
Wahai maut yang dicari sejak dulu
Paruh runcingmu masih membenam di mataku
Serasa pedang menyala
Tak pantas aku jadi sayap anggunmu
Di ambang ajal, milikku
Hanya rasa bangga dan murka
KEPADA IBUKU
Aku merasakan kerinduan ibuku
dan bau harum kopinya
serta semua yang ia sayangi
Anak kecil membesar dalam diriku
hari demi hari
Dan aku begitu mencintai diriku
sebab jika aku mati
aku akan malu disebabkan air mata ibuku
Jika suatu kali aku kembali
jadikan aku kerudung bulu matamu
Selubungi tulang belulangku dengan tetumbuhan
karena sorga ada di telapak kaki ibu
Kembalikan kepadaku bintang-bintang masa kecilku
supaya aku bisa berhimpun
Dengan burung-burung kecil
dalam perjalanan pulang
ke sarang di mana engkau menanti
BURUNG TAK BERKELEPAK
Anak-anak kami berserakan
Tanpa rumah, tanpa sandal
hilang, semua jalan menuju kesesatan
padam, dalam derita dan kemiskinan
Demi mereka, demi masa depan mereka
aku belajar berjuang!
Hingga musim bunga mereka kembalih
hingga mereka pulang dengan keranjang
berisi segala jenis hasil tanaman
Karena itu matahari teruntuk anak-anak
teruntuk hari esok, teruntuk kebenaran
dan angan-angan
Samir al-Qasem
JIKA KAU
Jika kau
Rabunkan mataku
Jahit bibirku
Cerca nafasku
Belenggu deritaku
Palsukan uangku
Cabut senyum anakku
Dirikan tembok seribu
Pakukan mataku di situ
Jika begitu
Kita akan terus berkelahi
Sehabis-habis
Kelahi
DARAH DI TELAPAK TANGAN
Tuan-tuan!
Biarkan mulut beruk berputar-putar
menurut maunya!
Ayo!
Akan kuhancurkan jembatan dunia
Darahku mengalir pucat
Hatiku terdampar di lumpur janji-janji
Hai tuan-tuan dari segala penjuru!
Biar maluku berubah jadi wabah penyakit
dukaku menjelma ular berbisa
Hai sandal hitam berkilat
dari segenap pelosok dunia!
Pembalasanku lebih besar
dari suaraku dan usia pengecut
dan diriku…kekuatanku
hanya sepasang tangan.
Ali Ahmad Said
BARAT DAN TIMUR
Ada sesuatu yang membentang
sepanjang jalan kuburan sejarah
Sesuatu yang dibuat indah serta dipiara pula
Memikul anaknya di pundak yang diracuni minyak
Dengan seorang pedagang yang mulutnya berbisa
menyanyikan lagu mengerikan
Di situ Timur mirip seorang bocah
Yang mengemis dan menjerit minta tolong
dengan Barat sebagai tuannya yang tak merasa pernah bersalah
Peta kini berubah
Seluruh dunia menjelma kobaran api
Dan dalam abunya
Timur dan Barat berkumpul
Satu liang kubur.
Said Aql
SUMBER
Manusia adalah Isa Almasih, putra dari negeri Timur
Semua ini terjadi di kota suci Yerusalem
Manusia tak bisa berhenti seinci pun dalam perjalanannya
Menuju Yang Gaib, Yang Tak Dikenal, begitulah nasibnya
Manusia mestilah melangkah ke depan, begituan ribuan ombak
Mengalun tanpa mengacuhkan pantai
Jika ada kawasan baru untuk hidup dijumpai
Akan muncul pula persoalan baru baginya
Pikiran lantas menjelma tindakan
Dan inilah yang terjadi di Antiosa
Sesudahnya pikiran sarat dengan ilmu pengetahuan dan politik
Di dalamnya gagasan Yunani dan pelaksanaan hukum ala Romawi
Jika Timur memberi anaknya kepada Barat, itu wajar
Jika Timur menerima kembali ssuatu dari Barat
Itu hanya pernyataan saling memberi antar keluarga
Perjalanan inipun khatam begitu tiba di tahap menentukan
Sumber segera menyebar dan meluas ke seluruh dunia
Sumber itu mengandung segala pancuran dari sumber pertama
Mereka bertemu dan bersatu dalam Islam.
Fauzi Makluf
NYANYIAN BUDAK
Aku adalah budak
Budak hidup dan mati
Sejak buaianhingga liang kubur
Jalan memaksaku luntang lantung
Apa saja yang dilakukan budak
Selalu salah dan melanggar hukum
Undang-undang ditulis untuk si kuat
Yang lemah dibiarkan kebingungan
Yang kuat mencelupkan pena
Ke dalam genangan darah si lemah
Penglihatan kelabu orang-orang malang
Menengadah ke angkasa
Aku budak bagi nasib:
Tubuhnya yang kurus menyemburkan kegembiraan
Dan meramalkan sakit akan mencincang
Mencekik jantungku penuh rasa takut
Aku budak bagi zaman ini
Bagi peradaban kini
Aku buta kepada isinya yang gemerlapan
Tapi bersorak dicincang-cincang
Aku budak bagi kemakmuran dunia
Andilku adalah kerja dengan upah rendah
Apa milikku selain erangan
Di bawah telapak kaki penindasan?
Aku budak bagi namaku:
Telah kutebus itu dengan tubuh dan nyawa
Namun yang beroleh kemasyhuran
Selamanya adalah si tamak
Aku budak bagi cintaku
Kubelai ia dalam hatiku penuh harapan
Hingga kobaran api menyala
Mengirim kutukan neraka
Lihat, dalam cengkraman perbudakan
Kucucurkan darah hingga bersimbah
Khayalan telah menyesatkan aku
Menyesatkan aku
Abdul Hadi W. M.
Oleh : Moh. Ghufron Cholid
Indonesia
Aku mengeja
Sebelum kau merdeka
Bunga-bunga tak ragu gugur
Demi menghadiahkan sinar
Karena cinta
Sudah merasuk sukma
Indonesia
Aku mengeja
Setelah kau merdeka
Langit-langit saling mendaki bukit
Lupa pada lembah-lembah yang telah menyangga menahan sakit
Karena surga sendiri
Sudah menjadi motto diri
Kini
Aku mengeja
Antara sebelum dan setelah kau merdeka
Nusantara akan saling berpeluk mesra
Setelah kita mengubur perihluka bersama
Sepanjang masa berganti rasa
Al-Amien, 23 Juli 2010
Oleh : Moh. Ghufron Cholid
KESAKSIAN
Aku belum mampu menjangkau
Mutiaramu yang kemilau
Sebab aku masih lumpur
Di tanahmu membaur
Al-Amien, 25 Juni 2010
Biodata Penulis
Moh. Ghufron Cholid, lahir di Bangkalan 07 Januari 1986. Putra KH. Cholid Mawardi dan Nyai Hj. Munawwaroh. Semenjak kecil akrab dengan kehidupan pesantren. Semenjak nyantri mulai akrab dengan dunia tulis menulis. Ia adalah seorang guru MTs TMI Al-Amien Prenduan Sumenep Madura 69465 di sela-sela senggangnya ikut membina di Sanggar Sastra Al-Amien Prenduan, di samping itu sebagai pendiri SastraSunser317 di Facebook. Karya-karyanya dipublikasikan diberbagai media baik cetak seperti Buletin Sidogiri, Majalah QA, Majalah QALAM, Majalah Kuntum (Joqja), Majalah Bongkar dll maupun diberbagai media online seperti mediasastra.com, puitika.net, antologi.net, PENA (Persatuan Penulis Nasional, dengan situs penulisnasional.ning.com) , http://www.poemhunter…., esastera.com sejenis majalah online tingkat asia dll. Terkumpul dalam Antologi Mengasah Alief (2007) bersama 10 Penyair Al-Amien, Antologi Puisi Yaasin (2007), bersama seluruh pesantren se jawatimur, Toples (2009) bersama Mahasiswa jogjakarta, Antologi Puisi Akar Jejak (2010) antologi bersama para penyair Al-Amien yang dilaounching bukunya bertempat di pondok pesantren al-amien bertepatan dengan acara SBSB yang dihadiri oleh Bapak Taufik Ismail, Jamal D Rahman, Iman Sholeh, D Zawawi Imron, Joni Ardinata selebihnya adalah antologi puisi yang diterbitkan secara pribadi. Kini penulis tinggal di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura 69465 untuk mengabdikan diri sebagai tenaga edukatif. Alamat email putra_blega@yahoo.com/lor a_sun31@yahoo.com CP 087852121488
Oleh : Moh. Ghufron Cholid
Mengecup kening rahmat
Di pintu jum’at
Alangkah nikmat
Al-Amien, 25 Juni 2010
Oleh : Lia Salsabila
Bu….
Ketika malam menjelang, aku selalu mencari bayang, wajahmu yang tak pernah kukenal dalam kenang, apalagi kasih sayang, belaian serta dekapan yang setiap saat tak lekang, walau aku tak pernah tahu apakah benar begitu.
Bu….
Di jalanan ini aku tumbuh hingga besar, dengan belas kasih sekadar, dari orang-orang yang kebetulan sadar. Menjalani kehidupan keras dan liar, tanpa satu pun kata dan lelaku santun yang diajar, hingga aku menjadi seorang anak yang bengal.
Bu….
Hingga saat ini, kata tanya itu bertalu dan kian menderu dalam kepalaku, kata tanya yang seharusnya tak pernah terucap dari bibir seorang anak.
Mengapa kau begitu tega meninggalkanku, membuangku di tempat yang tidak seharusnya aku tinggal?
Apakah karena kau satu dari wanita penghibur itu hingga kau membuangku, karena tak ingin membesarkan aku yang kau sendiri tak pernah tahu siapa bapakku?
Atau kau satu dari wanita-wanita kaya dan cantik itu, yang dengan alasan harga diri dan malu lalu membuangku, karena memang tak pernah ditunggu dan tidak harus lahir pada saat itu?
Atau kau sebenarnya wanita sederhana, yang terpaksa membuangku karena terhimpit kebutuhan hidup yang kian mencekikkan derita?
Namun, apakah alasan pembuanganku yang menurutmu benar pada waktu itu harus dibenarkan? Tidakkah seharusnya hal itu kaufikirkan sebelum aku menjadi janin dan seorang bayi, yang nantinya terpaksa engkau lahirkan dan kemudian kau tak peduli?
Bu…
Aku selalu membayangkan sosokmu begitu lembut, penuh kasih. Memimpikan kau benar-benar ada di dekatku, menjadi cahaya ketika matahari gerhana dan rembulan tak purnama.
Namun mimpi-mimpi itu tak pernah menjadi nyata. Yang terlihat di mataku adalah sosok-sosok ibu yang jauh dari lembut, jauh dari kasih. Sosok ibu yang sering berkata kasar pada anaknya, sibuk dengan karir dan bisnisnya, mendewakan kecantikannya.
Dalam hati aku bersyukur tidak dibesarkan oleh ibu seperti mereka, walaupun sebenarnya kehidupanku tidak lebih baik dari anak-anak mereka. Dan aku berpikir, bukankah anak-anak itu sama juga terbuangnya denganku. Terzalimi oleh ibu yang nyata berada di dekat mereka, namun tak pernah mampu menjadi cahaya.
Bu….
Banyak orang bilang bahwa surga itu ada di telapak kakimu. Bagaimana aku bisa menggapainya, sedangkan bayangmu pun aku tak punya. Dan, bagaimana seorang ibu bisa benar-benar menjadi jembatan surga bagi anak-anaknya kelak, ketika dia sendiri tak mampu menjadi seorang ibu yang sebenar-benar ibu dengan kelembutan dan keindahan surga.
Bu….
Hari ini semua anak berlomba membahagiakan ibunya dengan berbagai cara, karena hari ini adalah harimu, Hari Ibu. Aku hanya terpaku dengan bibir kelu dan hati pilu, karena aku tak tahu harus turut merayakannya atau justru berharap hari ini tak pernah ada.
Bu….
Aku tak tahu apakah aku begitu merindukanmu, ataukah marah dan bahkan membencimu. Namun aku tetap berdoa bahwa sosok ibu yang selalu kuimpikan itulah ibuku, seorang perempuan yang memang layak mendapat julukan seorang Ibu.
“Ibu yang berhati malaikat
Tak pernah mengeluh meski lelah dan penat
Tetap sabar ketika aku nakal
Tetap santun walau emosi di luar akal”
Bu….
aku sungguh ingin bertemu
meski hanya dalam mimpi semu
tuntaskan persoalan dalam titik temu
hingga aku dapat merasakan surgamu
. 22 Desember 2009
Oleh : Sayuri Yosiana
Seperti yang pernah kusampaikan pada ayah..
“Aku tak pernah mampu membuat puisi untuk ibu.
Setiap huruf kembali meloncat berpencaran dari barisan kata sebelum mengutuh kalimat.
Lalu…bagaimana kupersembahkan sebentuk puisi bila setiap huruf menolak berbaris rapi, ayah?”
Ayah merunduk. Membantuku memunguti kembali huruf-huruf yang sengaja berjatuhan dikakiku. Huruf-huruf itu mengejekku. Namun ayah tetap percaya. Suatu saat huruf-huruf akan menjelma kalimat indah. Membariskan kata demi ibu. Lewat jemari putrinya yang ragu.
Hari ini, setelah ayah pergi…
Huruf-huruf berbaris anggun. Tiada lagi keangkuhan. Mereka membentuk kata..menjelma kalimat…mengutuh…penuh
“Ibu…Mungkin kau tak pernah tahu. Betapa hati masih teteskan embun satu satu.
membentuk aliran muara heningmu. Mengkristal dalam keabadian.
Tak ada yang mampu menyelami kedalamannya. Selain hatimu..hatiku..
Langit kirimkan cerita tentang senja terakhir. Saat kupeluk tubuh lunglaimu
meninggalkan cahaya kehidupan. Sisakan siluet senyum..mengubah matahari jadi bulan.
Kini kuhanya mampu bersurat. Lewat bumi yang menadah rindu.
Semesta mengirimnya lewat bisik angin petang.Yang kunanti tiap malam.
Tahukah ibu?
Setiap detik ingin kuceritakan lewat puisi. Tentang teman teman-baru yang membuat sunyiku jadi riuh. Atau tentang seseorang, yang mengirimkan puisi kematian.
Mengubah rasa-rasa didada…sepi..sunyi..senyap…
Menggores kelembutan hatiku. Yang terbuat dari hatimu.
Namun bait puisi tak pernah mampu kurangkai. Menjadi siluet sosokmu. Bahkan senyummu yang diam.
Hidup ini lucu ya, ibu..?
Seperti yang pernah kau katakan. Bahwa damai lebih indah dari perang.
Bahwa hidup memang perjuangan. Meski puisi setengah jadi. Namun rinduku menjadi-jadi.
Ingin rasanya kuakhiri puisi ini dengan akhir yang senyum. Bahwa disini aku bahagia.
Berteman puisi, dongeng pagi, siang dan malam.
Demi malam yang menjelang fajar. Dan air terjun dimataku.
Kukirimkan sebentuk kisah. Dan bait bait kata. Didalamnya ada hati yang meranum senyum.
Seperti yang pernah kau ajarkan.
Bacalah dan dekaplah. Agar getirnya hidup menjadi tawa yang sumringah.
Ibu..,kata orang diiparasku terukir keayuanmu.
Semoga tak menjadi bencana semesta. Yang membuatmu menangis disana…”
somewhere, Juni 2010
SAYURI YOSIANA
untuk bundaku tercinta, ERNA S.
luv u mam…may u happy in the heaven
Oleh : Sayuri Yosiana
jelang subuh ini
ku goreskan pena untukmu
bait bait sajak sederhana
yang mungkin tak bermakna bagimu
hanya sekedar ingin sampaikan pesan
selamat ulang tahun,sahabat
doaku untukmu selalu
semoga kau terima
dengan cinta,
amin
by.Dara Jingga untuk Lia Salsabila
Jumat suci, 17 juli 2009 (jumat adalah hari lahirku, kebetulan sekarang sama ya hehe)
Oleh : Sayuri Yosiana
dalam kanvasku ada rembulan
menyulam kerlip langit malam
dalam siluet senyum
kutemukan sejuta kisah
rintik gerimis ritmis
hilang..lenyap…gelap
aku tetap melukis
dalam resah…dalam gundah
gradasi agung lukisan senja
menyulapmu jadi cahaya
saat gerimis berhenti
tetaplah ada dalam lukisku
terpekur kanvas menanti jemari
melarung warna dalam rasamu
Untuk Lia Salsabila
terimakasih atas hadirmu dalam hidupku
Tuhan memberkati…
somewhere, Juni 2010
Oleh : Lia Salsabila
kubaca pengumuman
namaku terpampang
berikut undangan kehadiran
masa berkumpul kian dekat
tapi mengapa hatiku tiba tiba tercekat
bimbang menguasai
ketakutan terpatri
arrghh…
sudahlah…
biarlah…
bismillah…
ku tetap melangkah…
niatku ingin berproses dan belajar
aku yakin akan baik baik saja
tetap menjadi Lia yang biasa
Insyaallah
amin….
negri jagung
12 Nov ’09
Oleh : Lia Salsabila
rembulan,
melenggang penuh keanggunan
tebar pesona purnama menawan
menatapmu,
seketika angan melayang
pada suasana masa silam
bangkitkan kerinduan
kaki mungil berkejaran
riuh celoteh riang di halaman
menikmati malam benderang
bermandi cahaya bintang, rembulan
namun,
senyum berganti sendu
saat bayang akan kenang
mengabur dari pandangan
tak ingin,
angan berlalu
dicuri fajar yang mengintip di balik kelambu
bersiap menggeser rembulan
membuka pagi dengan perlahan
dan kini,
hanya mampu berharap
malam melenggang lamban
hingga kenang tetap membayang
walau tak utuh membingkai masa silam
menjelma satusatu
aku dan waktu itu
tilam sunyi : LS
02 Nov 09
Dengan menyebut Asma – Nya Yang Maha Tinggi
Keindahan dan kecantikan itulah sebutan yang layak diberikan pada semesta. Setiap saat semesta seperti berbisik, “bercerminlah padaku, karna aku cerminan dari kehidupanmu, dan hiduplah dijalan–jalan keindahan dan kecantikan”. Dan kita pun mencari apa dan bagaimana tentang kecantikan dan keindahan. Seorang bijak berkata “Kecantikan adalah apa yang kita pupuk didalam sanubari, dan keindahan adalah apa yang kita latih di dalam diri” Bukankah kita menemukan orang baik terlihat baik, orang tidak baik juga terlihat baik, kalau kita cukup baik.
Mari sejenak kita bayangkan, jika kita tidak bisa berenang kemudian tercebur di sungai yang begitu dalam, pastinya kita berusaha untuk tidak tenggelam dengan mengerahkan semua tenaga untuk melawan, tangan, kaki semuanya melawan, akibatnya kita kelelahan, tenaga terkuras dan akhirnya tenggelam lalu mati, tubuh kita akan mengapung setelah menjadi mayat.
Kehidupan juga serupa, siapa saja yang suka melawan dengan mudah ia tenggelam. Namun ketika kita berhenti melawan, sungai kehidupan akan membiarkan kita mengapung dipermukaan kehidupan. “Berhentilah untuk selalu melawan, peluklah kehidupan dan berdamai dengannya sehingga kita kan bebas mengapung dipermukaannya”.
Ada banyak sekali menu untuk menjadi bahagia. Sayangnya alam mengenal siklus, habis kaya tidak kaya, setelah terkenal tidak terkenal, sesudah dikagumi dicaci. Itulah hukum besi kehidupan yang tidak bisa dilawan. Dalam cahaya–cahaya terang kehidupan seperti ini, kebahagiaan yang lebih abadi datang ketika manusia berbahagia menjadi orang biasa, sebab orang biasa bisa berbahagia lebih lama.
Tidak ada satupun unsur semesta yang tidak membawa makna termasuk batu. Bagi pengagum logika, batu memang hanya penyangga jalan dan bangunan. Bagi pecinta rasa, batu berasal dari kata batin. Ini berarti disamping batu bisa bermakna batin juga bermakna nada nada jiwa. Coba lihat dan dengar rasa, batu demikian diam, tenang dan terpusat seperti sedang bertutur dengan bahasa jiwa. Tenang dan terpusat, itulah pintu menuju pulang.
Ada banyak makna tersirat pada perilaku semesta yang bisa kita jadikan cerminan untuk berperilaku dan mengasah ketajaman mata batin dan rasa kita.
Dan segala puji hanya bagi – Nya selalu
by : Lia Orlitia
di tepi malam sunyi
26-10-09
Oleh : Lia Salsabila
Aku mencoba faham jika kau tak selalu di sampingku
Tapi aku perempuan yang mempunyai siklus tertentu
Saat emosiku terpacu
Begitu mudah termakan isue tentangmu
Cinta…
Akankah kau tahu?
Sering ku tak kuasa melawan waktu
Yang begitu menghimpit setiap jengkal tubuh
Mempertahankan penantian yang kian panjang
Kadang ku bertanya
Samakah rasamu dengan rasaku
Rindukah kau padaku
Masihkah kau setia
Pada ikrar tuk selalu bersama
Cinta…
Salahkah jika aku meminta tatapan kagum,
Pujian dan kata kata mesra itu hanya untukku
Salahkah jika aku meminta hanya aku di hatimu
Tak hanya jarak, ruang dan waktu
Namun juga mimpi dan kisah kisah di sekeliling
Yang memisahkanku dari genggaman jemarimu
Maafkan jika senyumku tersembunyi dibalik air mata
Kata kata mesra tak terucap, terperangkap dalam prasangka
Noktah itu bernama cemburu
Menggores lembut dinding hatiku
Aku hanya ingin kau tahu
Cinta yang ku punya lebih berwarna
Dari yang kau kira
Selamat datang di blog pribadi saya LadangSastra.com. blog yang tak hanya berisi karya sastra dan artikel tentang sastra tetapi juga berisi informasi Pertanian dan Tekhnik Budidaya yang insyaallah diupdate berdasarkan pengalaman. Semoga anda mendapatkan sesuatu yang indah disini! Sesuatu yang tidak anda dapatkan di tempat lain. Happy Blogging!
Lebih banyak tentang Lia Salsabila klik disiniCopyright © 2012 · All Right Reserved
Recent Comments