Moktah Cemburu

Oleh : Lia Salsabila

Aku mencoba faham jika kau tak selalu di sampingku
Tapi aku perempuan yang mempunyai siklus tertentu
Saat emosiku terpacu
Begitu mudah termakan isue tentangmu

Cinta…
Akankah kau tahu?
Sering ku tak kuasa melawan waktu
Yang begitu menghimpit setiap jengkal tubuh
Mempertahankan penantian yang kian panjang

Kadang ku bertanya
Samakah rasamu dengan rasaku
Rindukah kau padaku
Masihkah kau setia
Pada ikrar tuk selalu bersama

Cinta…
Salahkah jika aku meminta tatapan kagum,
Pujian dan kata kata mesra itu hanya untukku
Salahkah jika aku meminta hanya aku di hatimu

Tak hanya jarak, ruang dan waktu
Namun juga mimpi dan kisah kisah di sekeliling
Yang memisahkanku dari genggaman jemarimu
Maafkan jika senyumku tersembunyi dibalik air mata

Kata kata mesra tak terucap, terperangkap dalam prasangka

Noktah itu bernama cemburu
Menggores lembut dinding hatiku
Aku hanya ingin kau tahu
Cinta yang ku punya lebih berwarna
Dari yang kau kira

AIR MATA DI HARI FITRI

Oleh : Lia Salsabila

Waktu bergulir cepat

Bulan penuh berkah pun lewat

Gema takbir mengalun bersahutan

Sambut datangnya hari kemenangan

Perasaanku campur aduk

Saat haru, sedih dan bahagia memeluk

Haru, ramadhan berlalu pergi

Sedih takut tak bersua kembali

Bahagia, karna tiba hari tuk kembali suci

Namun,

Terasa ada yang berbeda

Malam ini kurasa tak begitu ceria

Riuh beduk dimusholla

Tak mampu mengusir gulana

Dua kali gempa membuatku gelisah

Walau hanya menggoyang kotaku bak di ayunan saja

Tapi aku sudah panik tak terkira

Lalu,

Bagaimana dengan mereka yang dipusat gempa

Kubayangkan,

Jerit ketakutan

Erang kesakitan

Menyatu dengan

Gemuruh reruntuhan

Dan kini

Bagaimana dengan lebaran mereka

Jangankan pakaian baru, makanan enak dan kue lezat

Sedang rumahpun hanya tinggal puing berserak

Ya Allah

peringatanMu datang bertubi tubi

tetap saja kami tenggelam dalam kebahagiaan semu duniawi

akankah Engkau mendatangkan peringatan yang lebih dahsyat lagi

Allahu Akbar 3x

Laa ilaaha illallahu Allahu Akbar

Allahu Akbar Walillaahilham

Air hujan menetes dari kelopak sendu

Saat kulantunkan takbir elukan AsmaMu

Berharap hati bersih selalu

Hingga kutetap melangkah di jalanMu

Selamat Malam Sayang

Oleh : Lia Salsabila

Selamat malam sayang

Lelaplah dalam dekap malam

Rasakan cinta dalam kesunyian

Walau hanya tersampaikan lewat

Nyanyian usang

Selamat malam sayang

Nyenyaklah dalam peluk malam

Rasakan semesta berbisik

Pada angin, bintang, dan rembulan

Tentang kedamaian yang tak terusik

Selamat malam sayang

Mari lelap dalam hening malam

Rasakan kedamaian mengalun

Pada ayat ayat langit berkumandang

Sampaikan kerinduan lewat zikir zikir panjang

Kenanglah dalam ingatanmu sayang

Rinduku selalu ada meski biasa saja

Seperti pagi menanti matahari

Dan malam menanti rembulan

Selamat malam sayang

Kenanglah aku dalam nadi dan nafasmu

Agar aku yakin hanya aku dalam hatimu

160909

Kehadiranmu

Oleh : Lia Salsabila


Kau datang tanpa suara

Menyusup perlahan dalam jiwa

Kata-katamu laksana trisula

Merobek dan mencabik sukma

Hadirmu bawa nyayian rindu

Membuai hati bertalu-talu

Tanpa sadar ku jadi terpaku

Lidah ku pun jadi kelu

Senyummu mengusik jiwa

Menggugah hati dengan sejuta makna

Hingga ku tak berdaya

Raga kosong bagai tak bernyawa

Bait Rindu

Oleh : Lia Salsabila

/1/

Pucuk rindu sentuh gelisah

Saat semilir rindu berhembus basah

/2/

Tiada rasa tanpa arti raga

Tiada rindu tanpa makna cinta

Senandung rindu tak nyata di mata

Tersirat dalam lelaku jiwa

/3/

Jiwa melayang menembus batas

Tak terlihat dinding bersekat

Lelaku rindu kian terhempas

Di jarak waktu yang tak lekat

/4/

Rindu dalam sekat waktu

Berpagar jarak sendu

Perlahan kudaki tangga sembilu

Rasakan tiap langkah didera pilu

/5/

Semilir desah rindu

Menyayat menyembilu

Rebah ke pangkuan

Meniti dalam kelam

/6/

Gigil rindu mengalir disungai nadiku

Menyebar ke seluruh saraf sarafku

Membelenggu tubuh hingga beku

Terpaku kuberjalan ke muaramu

/7/

Angin rindu membelai tubuh

Menembus pori timbulkan ruam

Gigilnya membakar peluh

Dalam sunyi ku memangku diam

/8/

Dalam sunyi rindu bernyanyi

Dalam diam gigil tak henti

Dalam tilam aku menanti

Bisik rindu menarinari

/9/

Pada malam rindu menari

Bagai belati menikam hati

Dalam sendu aku sendiri

Menatap langit tak berseri

/10/

Rindu selimuti kalbu

Terukir di kisi kisi relungku

Sehalus selendang satin

Memagut menata batin

/11/

Rindu di ujung senja

Terapit waktu kian menghimpit

Penuh luka tetap meronta

Dalam bilik teramat alit

/12/

Rindu dalam keseorangan

Menjerat dalam benang penantian

Sembilu menyayat

Luka memerah merekah

Meradang tergarami

Pedih perih tanpa tepi

/13/

Serpih rindu

Menggenggam sukma

Menggigit mencabik

Darah menghitam

Tetap manis dan segar

Bak madu meracuniku

/14/

Embun suci hidupkanku

Udara pagi bangunkanku

Bara rindu hangatkanku

i/15/

Dalam terik ku melangkah

Dalam sunyi ku berlari

Menyongsong rindu merekah

Tumpah ruah di sanubari

/16/

Gejolak rinduku rindumu

Dalam jantung menyatu

Getarkan nadi memburu

/17/

Rinduku rindumu menyatu

Membanjir di sungai waktu

Merajah di dinding jarak

Bergolak jantung berdetak

Sajak-Sajak Abdul Hadi W.M

HIDANGAN ROHANI

MIMPI

Aneh, tiap mimpi
membuka kelopak mimpi yang lain,
berlapis-lapis mimpi, tiada dinding
dan tirai akhir, hingga kau semakin
jauh dan semakin dalam tersembunyi
dalam ratusan tirai rahasia
membiarkan aku asing pada wujud
hampa dan wajah sendiri. Kudatangi kemudian
pintu-pintu awan, nadi-nadi cahaya
dan kegelapan, rimba sepi dan kejadian –
di jalan-jalannya, di gedung-gedungnya
kucari sosok bayangku yang hilang
dalam kegaduhan. Tetap, yang fana
mengulangi kesombongan dan keangkuhannya
dan berkemas pergi entah ke mana
gelisah, asing memasuki rumah sendiri
menjejakkan kaki, bergumul benda-benda
ganjil yang tak pernah dikenal, menulis
sajak, menemukan mimpi yang lain lagi
berlapis-lapis mimpi, tiada dinding
akhir sebelum menjumpai-Mu.

1990

NYANYIAN HAMZAH FANSURI

Tiada yang lebih kurindu selain Dia
Dan mendirikan kemah di padang kehendak-Nya
Menjadikan Dia satu-satunya matahari
Dan hujan bagi bumi kerontang dalam jiwa

Demikian ayat orang asyik masyuk bercinta
Tak terikat apa pun selain kungkungan hasrat-Nya
Merdeka berjalan di antara taring ajal dan raung serigala
Tak takut apa pun kecuali bila tercerai dari-Nya.

BARAT DAN TIMUR

Barat dan Timur adalah guruku
Muslim, Hindu, Kristen, Buddha,
Pengikut Zen atau Tao
Semua adalah guruku
Kupelajari dari semua orang saleh dan pemberani
Rahasia cinta, rahasia bara menjadi api menyala
Dan tikar sembahyang sebagai pelana menuju arasy-Nya
Ya, semua adalah guruku
Ibrahim, Musa, Daud, Lao Tze
Buddha, Zarathustra, Socrates, Isa Almasih
Serta Muhammad Rasulullah
Tapi hanya di masjid aku berkhidmat
Walau jejak-Nya
Kujumpai di mana-mana.

DOA AYUB

Kau topan dahsyat
Beratus kali kaupatahkan dayung dan kemudiku
Tapi dalam sekarat kalbuku tambah liat
Dilimpahi beribu tenaga dan zat

Nyala api neraka-Mu yang berkobar-kobar
Merobek dinding dan layar kapal
Dengan nafas tersengal-sengal
Kusingkap ratusan tirai

Kejatuhan adalah kebangkitan kembali
Di atas reruntuhan terbangun menara tinggi
Tanpa kuasamu langit dan bumi
Tak bisa menampikku

Lihat ke dada koyak ini
Angin pun dapat membaca kisah yang marak
Dari derita ini akan lahir seekor singa
Dan istana-Mu kian megah dalam jiwa.

1981

Terbiar

panas membakar
pandangan seketika nanar
tak lagi mampu kutawar
ngilu yang kian menguar

wajah lagi-lagi dibasuh memar
tak mampu tuangkan kelakar
siang panggang sekujur tak wajar
seolah mengajar tentang haus dan lapar

aku yang terbiar
masihkah kau menalar
dengan lilinmu yang memijar
akh !! aku tersasar di altar

“Lia,Ekosta,Khairud
140809

Buruh Tani

Oleh : Lia Salsabila

“Dalam tiap ayunan,
terperah darah demi sekeping impian”

Berdiri hadapi hamparan
Ukir guludan banyak ragam
Lempak masuk tanah keluar

Semenjak fajar selalu begitu
Lempar kantuk kesampingkan lelah
Hingga petang baru berhenti
Lelah penat tak lagi terperi

Demi asik mengukir bumi
Cipta harta yang bukan milik sendiri
Harta tuan tanah sang majikan
Harta sendiri hanya tenaga
Tenaga badan ditiap ayunan

Agustus ’09

Misteri Sunyi

Oleh : Lia Salsabila

tertatih dalam kenang menindih

meraba dinding masa yang jauh

menghitung langkah

dalam waktu tak terjamah

sendiri dalam labirin sunyi

hanya mampu menanti

dalam waktu silih berganti

mencoba menggapai asa diri

pasrah pada suratan Ilahi

Tilam Sunyi

Agustus ’09

Praja Muda Karana

Oleh : Lia Salsabila

coklat tua coklat muda

simbol musim di bumi persada

asduk menggantung indah di leher

tunas kelapa dan bunga lily pun turut bertengger

tak lupa kabaret dan topi

menambah manis dan asri

siaga, penggalang, penegak

semua berdiri bersikap tegak

berbaris laksana perwira

membentuk *angkare yang diminta

semua telah siap

tiang bendera tlah tertancap kuat

dari tongkat-tongkat yang terikat

cerminan persaudaraan yang begitu lekat

tri satya terpatri dalam jiwa

dasa dharma dalam lelaku raga

satya, ku-ku dharmakan

dharma, ku-ku baktikan

agar jaya Indonesia, Indonesia

tanah airku

kami jadi pandumu

SALAM PRAMUKA !!!!

*bentuk barisan yang sering dilakukan pada upacara kepramukaan

Agustus 2009

SAJAK-SAJAK SUFI INGGERIS, MARTIN LINGS

Oleh : Abdul Hadi W. M.

ANGIN SELATAN

Sehela nafas: di ketinggian langit dengan tenang
Awan ngikut awan dan di bumi bermula pula
Sebuah kebangunan dan bisikan, seperti riak ombak berlari
Atas rumput hijau dan air kolam di tengah padang
Kembang-kembang pun menyingkap kelopak, di celah
Lembah-lembah kecil gelap: setiap kuncup daun mengalun, dan menuju
matahari
Kupu-kupu terbang tersentuh jemarimu, sebuah sosok gaib
Pembawa bangau dan tekukur, srigunting dan burung layang-layang
Berhembuslah dan biarkan ombak hangatmu yang pengasih membelai
Padang-padang dan alas belantara. Mereka gemetar dan menggigil
Dan padaku harapan datang pula, agar benih-benih yang tidur dalam
diriku
Tahu, jiwa selembut kau, sebuah sungai yang mengalirkan
Nafas, mengalir deras, tumbuh menjulang, akar menghunjam dalam
Hingga di musim gugurku ini, sebagai pemberi yang berkelimpahan

BURUNG-BURUNG

Kami nyanyikan musim panas, batang kayu atas balok kayu
Sungai kecil yang pasang, lautan hutan yang kusut dan ranggas
Kami nyanyikan pepohonan tinggi, rumput-rumput yang benihnya
disebar angin
Dan kumbang pengumpul madu di tengah ssuara genta dan lonceng
yang tersembunyi
Yang damai adalah surga, di sana kesunyian bertahta di atas kita
Matahari, pemasak buah beri dan kacang polong pun beringas,
Penabur dedaunan, helai demi helai, begitu teduhnya
Agar pedas tanaman obat-obatan terbang garang menuju selokan
dan lembah kecil.

Kami nyanyikan musim panas, aku si burung tekukur yang letih,
adalah cahaya
Dan suara merdu; dan aku si burung larkan, adalah penyanyi dan
penari
Di langit luas; dan kami si burung layang-layang, dengan penerbangan
indah meliuk-liuk
Menyusuri padang-padang dan terbang dari subuh hingga petang
Kami semua berada di tengah hutan temaram, tersembunyi dari
pandangan
Bertanya dan menjawab, di pucuk-pucuk pohon, bertanya dan menjawab

MAKLUMAT

Malaikat kudus, surga di tanganmu:
Pohon hayat meminjamkan dahan padamu
Kembang-kembang lili kini mendapatkan hidupnya lagi.
Lantas semerbak wanginya tersingkap bagi Hawa.
Kaukah yang mengepakkan sayapmu di atas jurang ini?
Wanita kami akan surut dari dunia ini, kau Titahkan
Pada dunia: Namun melalui Puncak Gunung kau meninggalkannya,
Rahasia mereka pun membelah cermin wajahmu
Seolah-olah penerbanganmu dari Arasy ke Arasy
Hanya perputaran kehampaan belaka

Kefanaan, lihat: penglihatan kami akan dibayar
Dengan penglihatan yang lebih tajam lagi.
Kami adalah dua ombak dari Lautan Yang Maha Pengasih
Surut adalah pantang bagi kami
Sebab Diri Lautan telah meluapkan pasangnya:
Aku ini adalah Utusan. Surga, dengan surga tersingkap
Dan ke surga pula aku akan kembali.
Dia adalah semerbak ini: “Tuhan selalu bersamamu!”
Kutegaskan ini, O Kebenaran, O Cahaya!
O Rahasia, semua ini tak pernah surut dari wajahku!

TAMAN

Tiada lagi hembusan, kecuali dari timur. Terasa langka
Namun kuat. Sahabat baik musim panas menjanjikan
Hal yang sama dari hari ke hari. Tidakkah awan itu
Yang tahu menunjukkan tanah baru.

Kau adalah Jalan; dan dia yang berdiri
Di Lingkaran Kudus ini
Sempurna di antara dua Tangan-Mu
Hapus dari hasrat dunia, kepada-Mu hampir

Aku dan Aku dan Aku, kaki terbelenggu
Menari mati demi memenuhi kesukaan-Mu
Dari kebebasan dan terbebaskan
Bebas bergerak dalam ruang maha luas

Yang menggerakkan bumi ke kutub-kutubnya
Planet mrlalui garis edarnya
Berkumpul, mengarahkan angin, dan memutar
Pasang dan surutnya laut

Sebuah keselarasan semesta yang agung
Berpacu dengan keselarasan jiwa –
Sesaat lenyap, namun melalui tarian didapatnya lagi.

Kau adalah Kebenaran – menyatu dengan-Mu
Karena suling-Mu malam gelap jiwa
Pecah berhamburan, memberi jalan bagi keyakinan
Demian setiap irama adalah seberkas cahaya

Apakah arti tarian jika bukan permohonan
Jika bukan jembatan, laluan, alamat
Bagi yang rendah menuju ke tampat yang tinggi?
Agar yang satu berimbang dengan yang lain

Tubuh penari adalah sebilah pedang
Yang dihunuskan oleh-Mu. Dalam tarian
Pencuri harta karun kita terbunuh
Terkapar dekat barang curiannya.

Tubuh penari adalah sebuah kuil
Untuk menyimpan harta tersembunyi, pembangunnya Kau
Pintu-pintu masuknya dibukakan
Yang datang dan yang pergi bergerak karena kehendak-Mu

Sebuah suara menghampiri suling dan Kau dinyanyikan
Kami mendengar dan menyimaknya, serta berseru
Setiap dahan adalah telinga, kemudian lidah
Bagi kaki penari untuk menyebut nama-Mu

Tangan mereka menyampaikan isyarat agar mata melihat
Tangan mengambil rahmat-Mu dari manik-manik berkah
Dan jari jemari karam bersama-Mu
Ketika tangan didekapkan bagi-Mu

Sayap-sayapmu mengatasi matahari dan hujan
Dengan riang mereka umumkan kemurnian
Penari adalah bunga yang sedang mekar
Kelopak-kelopaknya terbuka ke delapan penjuru angin

Kepada siapa Nama-Mu meletakkan tandanya
Darinya semua gerak muncul dan terentang
Dia adalah sumbu roda yang berputar
Dia adalah pasak dan tiang dunia

Keindahannya mengguncang, namun tak bisa membunuh
Gerak dan diamnya yang nyata, kerjapan matanya
Menyingkap tempat persembunyian dalam dirinya
Melalui jari-jemari tarian yang indah

Di situ di Altar: Kau adalah
Penuang anggur dan peminumnya: demi Kau sendiri
Kau tuang anggur, penari adalah cawan-Mu
Anggurnya ialah zikir mengingat-Mu, o yang Haqq!

Kau adalah Hayat: untukmu kendang
Ditabuh, ketika nama-Mu bergetar dalam hati.
Pesannya: “Jangan berupaya untuk menjadi
Namun mengadalah di kedalaman wujud Yang Ada”

Setiap langkah, setiap lompatan,
Sungguh adalah akhir ziarah.
Kuilnya ada di sini. Apakah makna tarian
Jika bukan ketukan pada pintu?

Kau biarkan kami berikrar dalam seni
Maka kami pun menari, sebab tiada pilihan bagi tubuh
Ketika jiwa mengucapkan sebuah ikrar
Dan menari-nari dalam diri kami, bergembira

Tidak hanya di langit pada perputaran angkasa
Ayat-ayat-Mu terbentang, tapi juga
Dalam hati pada keluasan cakrawala
Namun kami, bukan itu semmua, selain awan gemawan

Lantas dari ketinggian itu, wahai Ruh
Biar angin sejuk bertiup, di Hati yang terjaga
Biarlah mata kalbu ini terbelalak
Dan bersamanya wujud kami hanyut dan karam

Terikat pada lautan wujud, sebuah sungai
Hayat, tertuang kembali padamu, O Pemberi Hidup!
O Kau, disebabkan sentuhanmu bumi bertukar siang dan malam
Matahari terjaga dan tidur, takjub dan damai, terik dan temaram

Kau yang menafasi permukaan air, hingga air diberkahi
Yang mengemudikan angin, udara yang kami hirup, tiada selain
Nafas pertama itu jua. Begitulah tarian bergerak dari-Mu
Kembali kepada-Mu, bermula dan berakhir dalam Ketakterhinggaan.

KESEDIAAN

Jiwa separoh terbelah, keduanya kalut bersitegang
Perkara apa pun tak didengar dan sia-sia, O yang sebelah!
Apa saja dicampakkannya kecuali yang tak tercampakkan
Hanya yang telah ada, yang ada dan akan ada yang diakuinya:
Namun yang lama berkehendak menjelma diri yang baru
Maka jadilah ia dirimu, tidak lebih dari itu
Namun jiwa yang kaya selalu baru, unik, tiap tali kendalinya
Mendapat kekuatan darimu, dan jika kebenaran datang
Segera terucapkan, karena itu ia unik, begitulah kesediaan

Lantas, atas lautan sajak yang tidak terbendung
Seraya menyebutkan temuan barunya ini
Kapalmu berlayar dengan muatan sarat
Biar mereka jadi putih cerlang atau hitam kelam karena pilu
Atau sekaya suasana hati, jiwa dapat mencelupkan warna
Rata atau penuh pola dari kisah-kisah suci
Biarkan mereka memiliki mutu dan harga, agar angin
Bisa sepenuh hati menghembuskan nafas
Dan ruh kepadamu, dari pantai ke pantai

Kabut di Kaki Argopuro

Oleh : LIa Salsabila

Jerit ketakutan membaur dengan
erang kesakitan berpacu dalam
lolongan kematian”

Amarah yang kau nyanyikan
Lewat tangisan diterang, kegelapan
mencipta kabut berkepanjangan

Puing-puing berserakan
Karena hempasanmu semalaman
Sisakan luka dalam isakan

Pendar mentari semu
Tawarkan hangat kelabu
Mencoba tepiskan luka
Dengan berbagai tipu daya

Namun..
Kabut dikakimu tetap bergeming
Mengakar dalam urat bumi
Terpancang kuat dalam sanubari

04 August 2009

Mengejar Mimpi di Pasar Pagi

Oleh : Lia Salsabila

Krieeet….krieeet…..
Sayup kudengar suara itu
Suara yang sama pada jam yang sama pula
Bunyi sepeda onthel Bu Narni
Ah….Ibu yang tak kenal lelah dan takut
Berjuang demi ketiga anaknya
Hatiku miris…..
Dia berjuang sendiri meski punya suami
Huuuft…..hanya desah nafas yang keluar dari mulutku
Dan hanya untaian kata sederhana ini yang mampu ku rajut

Pada malam malam panjang
Kau telah merancang
Saat semua lena dalam mimpi
Kau sibuk menguntai lembar demi lembar mimpi

Semua masih terlelap
Jalan jalan pun lengang dan gelap
Kau lempar kantuk banting lelah
Diatas sepeda tua
Kau berpacu dengan waktu
Mengejar asa
Dengan sekeranjang rebung dan daun ketela

Kau menunggu dengan sabar
Diantara teriakan pembeli dan penjual yang hingar bingar
Bibirmu lirih bergumam
Ikuti sayup rapal do’a dikejauhan
Sambil sesekali ikut berteriak tawarkan dagangan
Wajahmu tersenyum nanar
Antara harap dan cemas
Akankah ikatan ikatan yang kau jalin terjual amblas

15 Juli ’09

# Terilhami dari tetanggaku yang tiap jam 2 pagi
berangkat ke pasar tanjung berjualan sayuran

Tawa Sekilas Duka Membekas

“SEMARAK”

Kata pertama yang terlontar dari otak

Sepanjang jalan protokol, dusun dan kampung
mulai berkibar bendera warna warni dan lampu hias tersusun
umbul umbul iklan produk ikut beraksi dan manggung
Tapi kenapa hatiku tak sesemarak suasana kotaku

Kebiasaan yang berulang dari tahun ke tahun
Semarak pesta kemerdekaan terus di usung
Semua tertawa gembira
Walau harus keluarkan kocek tuk selembar bendera
Padahal tuk makan masih butuh biaya
Tapi apa mau dikata
Diwajibkan sih katanya

Pekik merdeka berkumandang dimana mana
Dari media ke media
Dari mulut punggawa hingga kawula
Anak anak muda mudi riang gembira
Sambut hiburan yang saat saat tertentu saja
Pesta keperdekaan pun usai
Kotaku kembali hening dan sepi
Riang tawa seperti kembali terkunci

“ah..tawa semu merdeka
kamuflase hati pilu yang sebenar terpenjara”

Apa bedanya dengan pesta demokrasi
Semarak dan gempitanya sama
Rakyat tertawa bahagia dalam harap
terlambungkan dengan janji janji manis calon pewaris tahta
Amat yakin dan pasti
Hanya karena selembar merah bersayap

“yach…apa mau dikata
trik politik yang amat mengena
menyerang jiwa jiwa yang sedang sengsara
menahan rasa lapar dan dahaga”

Puncak pesta pun digelar
Semua berbondong bondong tentukan pilihan
Satu nama yang sudah disematkan

Sebulan dua bulan, setahun dua tahun
Tawa yang semula berderai tinggal senyuman dikulum
Harap yang begitu melambung
Hanya tinggal tetesan embun

Akan terus beginikah ?
Pekik merdeka dalam hidup terpenjara
Orasi sang penguasa hanya onani belaka

“Lia”
16 Juli ’09

Bangsa yang sudah merdeka tapi sebenarnya belum merdeka
Dulu melawan bambu runcing dan keris
sekarang melawan bankir dan produk produk kapitalis

Penantian

Oleh : Lia Salsabila

Jenjang penantian tlah berlumut
Lesakkan rindu dalam kabut
Kian lama merejam badan memagut

Serpihan rindu berbalik melingkupi sukma
Menggigit mencabik
Berdarah darah manis menghitam
Bak madu yang meracuni

Rindu dalam keseorangan
Menjerat dalam benang benang penantian
Sembilu sayat menyayat
Luka memerah merekah
Meradang tergarami
Pedih perih tiada bertepi

Juli ’09