<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>LadangSastra.com</title>
	<atom:link href="http://www.ladangsastra.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ladangsastra.com</link>
	<description>Rumpun Kata Merumpun Bangsa</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 03:03:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Sorang Puan Perawan</title>
		<link>http://www.ladangsastra.com/sorang-puan-perawan/</link>
		<comments>http://www.ladangsastra.com/sorang-puan-perawan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 03:03:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lia Salsabila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[puan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ladangsastra.com/?p=513</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: A.Kohar Ibrahim &#160; &#160; JEJAK langkah dipercepat. Meski tak ada orang menunggunya pulang ke rumah. Seusai mengutarakan kuliah di Fakultasnya. Dia bergegas bukan lantaran khawatir telah terjadi apa-apa, apa pula waswas. Sebaliknyalah. &#160; Wajahnya sumringah sudah sejak membuka pintu depan, lantas masuk ruang tamu berdekorasi sejumlah lukisan karya kekasihnya. Dan akhirnya langsung ke ruang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh:</strong></p>
<p><strong>A.Kohar Ibrahim</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>JEJAK langkah dipercepat. Meski tak ada orang menunggunya pulang ke rumah. Seusai mengutarakan kuliah di Fakultasnya. Dia bergegas bukan lantaran khawatir telah terjadi apa-apa, apa pula waswas. Sebaliknyalah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wajahnya sumringah sudah sejak membuka pintu depan, lantas masuk ruang tamu berdekorasi sejumlah lukisan karya kekasihnya. Dan akhirnya langsung ke ruang mungil yang terang kena sinar matahari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tak dihiraukannya <em>laptop</em> pun <em>PC </em>yang terletak di atas meja kecil dekat jendela kaca. Dia langsung duduk terduduk di atas kursi yang terasa begitu pas menghadapi meja kayu gaya Betawi. Dan tapak tangannya begitu saja spontan menjamah mesin-tik kecil mungil warna merah marong merk <em>Korona</em>. Jamahannya sebegitu rupa seperti sedang membelai sang mesin penuh mesra. Sudah tersisipkan sehelai kertas yang nampak agak kekuningan. Tapi masih kosong. Masih bersih. Masih belum kena garapan tulisan. Kecuali judul : <em>“Sorang Puan Perawan”.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Gila!” desisnya, nyaris teriak keras. Bukan lantaran kesal, melainkan takjub berbaur haru-gembira. Seketika tercenung terus saja menatap kertas putih yang tersisip di mesin-tik klasik <em>Korona</em> itu. “Sekarang bulan Juni, sudah hampir sewindu judul itu tertulis.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Iya. Dia terus tercenung seperti lagi asyik menyegar ingatan seberapa waktu lalu. Hampir delapan tahun lamanya. Dia ingat sekali, judul itu bukan ide aslinya, bukan pula sentuhan ujung jari jemarinya sendiri. Tapi oleh seseorang. Seorang lanang yang  jika di luar waktu berdinas,  kesukaannya menunggang kuda. Mengenakan busana sederhana berupa celana hitam panjang komprang, kaos oblong merah dan kemeja atau jaket hitam pula. Berambut ikal agak gondrong yang sesekali dikenakan peci hitam; seringkali terlingkar ikat kepala kain batik larik larik klasik. Raut-muka-nya tidak bundar juga tidak segi-empat, agak lonjong. Sepasang matanya agak sipit. Hidungnya tak mancung tak bisa pula dikatakan pesek. Bibirnya memang agak tebal: belah atasnya seperti bukit. Hanya ketika sedang berpikir serius bentuknya agak nonjol kedepan. Seperti seketika duduk di atas kursi di belakang meja-tulis menghadapi mesin-tik <em>Korona</em> itulah. Hanya berubah seketika pula mendengar teguran perempuannya: “Kenapa tidak ringkas saja, cukup sepatah kata: <em>Gadis</em>. Atau: <em>Perawan </em>?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dia menoleh seperti terkejutkan oleh pertanyaan seseorang yang mendadak berdiri di sisi sebelah kanannya. Bibirnya seketika menjembul. Bergerak-gerak sepintas,  lantas bilang, juga dengan nada penuh keyakinan sepertinya sudah disiapkan. Untuk menangkis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Gadis?” ujar tanyanya. Menegaskan setelah mengulang ulang: “Gadis? Tapi yang akan kutulis bukan anak-kemarin. Bukan bocah yang masih <em>bau-kencur</em>.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>Perawan </em>&#8211; itu saja. Gimana?” tanya sang perempuan itu mengulang dengan tenang. Tapi nampak baginya agak menggoncang konsentrasinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Perawan?” ujar tanyanya balik. Dengan nada lebih menegas. “Tokoh yang akan kulukiskan bukan  <em>ABG</em>. Bukan pula dalam arti masih gadis belaka. Melainkan seorang perempuan yang sudah menikah tapi….”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seketika suaranya terhenti. Keduanya saling menatap dengan pandang mata tajam namun penuh kelembutan. Lantaran cepat saling mengerti. Saling memahami. Iya. Lantaran sudah entah keseberapa kalinya soal perawan keperawanan ini jadi bahan pembicaraan mereka. Untuk saling makna memaknakannya. Malah bukan hanya memahami maknanya, melainkan juga menguji rasa merasakannya. Rasa keindahan yang menggetari jiwaraganya. Sampai satu sama lain menitikkan air-mata. Sampai diapun menitik airmata lebih-lebih lagi.  Dan sang lelaki pun berbisik mesra. “Aku bangga dan bahagia dikau mampu menjaga marwah sedemikian rupa,” bisiknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bisikan dalam pelukan yang secara lumrah mendapat balasan: “Aku hanya mau memberikan pada seorang lelaki yang aku cintai. Lelaki kekasih yang menikahiku.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan dia, sang lelaki itu, beritikad untuk suatu waktu menuangkannya dalam halaman tulisan berkisah. Menghasilkan salah sebuah buah pena mengabadikan daya dan gaya pikiran serta imajinasinya. Meskipun baru sebuah judulnya saja. Namun sang perempuan itu yakin, bahwa segenap isi yang hendak dituangkan sudah tersediakan. Hanya mendadak tertunda seketika. Ketika datang rekan-rekan dari <em>Media</em> yang mengkonfirmasi keberangkatan grupnya meliput <em>Perang Irak</em> yang baru saja meledak dalam bulan Maret 2003.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketika perempuan itu melepasnya berangkat bersama grup Media di bandara udara, sedetik seketika itu sang lelaki sempat berbisik dengan nada romantik. Seperti seorang perjaka saja layaknya: “Kita lanjutkan sepulang menunaikan tugas, yah? Sampai berhasil….”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Meskipun sudah menyiapkan pikiran akan segala kemungkinan terjadi, sebagai resiko kegiatan yang dijalankan, tak pernah sampai pada point yang paling mengejutkan. Paling tidak diharapkan. Dari sekian ratus ribu korban jiwa dalam perang intervensi sekutu Inggris-Amerika di Irak itu adalah sang lelaki yang dikasihsayanginya sendiri. Lelaki yang baru saja menikahinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan mudah bisa diperkirakan betapalah berat beban duka-cita yang ditanggungnya. Selama bertahun-tahun. Kadang kala begitu berat rasanya hingga prilakunya seperti orang linglung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Namun bagaimanapun, tak urung ada kekuatan batin yang bisa melolos-luluskan jiwa-raga dari jebakan duka-nestapa. Lolos dari sergapan keputus-asaan. Kekuatan itu tumbuh dari keyakinan saling meyakinkan dalam cita cinta kasih sayang. Dari saling percaya dan pemahaman akan makna yang baginya mendasar. Yakni terutama sekali perihal menjaga marwah sebagai perempuan yang layak selayaknya. Perihal soal yang bisa menjadi persoalan besar. Karena baginya memang soal besar lagi mendasar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Keyakinan dan kepercayaan serta pemahaman lelaki yang dikasih-sayanginya itulah, menurut insting keperempuannya yang akan dituangkan dalam tulisan suaminya. Meskipun baru sebatas judul sahaja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>GILA ! Sekarang sudah hampir sewindu lamanya &#8212;  desis perempuan itu lagi, sembari menatapi mesin-tik <em>Korona</em>. Lebih tepatnya, pandang sepasang mata, mata hati mata pikirannya tertumpu pada sehelai kertas yang tersisipkan. Kertas tanah garapan tulisan yang masih kosong, masih bersih, kecuali tertanam sebaris kata: <em>Sorang Puan Perawan.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seketika jari jemarinya mulai menari-nari sembari menatapi halaman kertas kosong dan bersih itu, tak terasa butir-butir air bening mengalir dari sepasang mata membasahi pipinya. Namun demikian tak mengalahkan melainkan malah menguatkan itikadnya. Itikad merampungkan tugas mulia: &#8211; menjadikan sebuah judul<em> Sorang Puan Perawan</em> berisi kisah sebenar-benarnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Akulah <em>Puan &#8211;</em> sang perempuan itu – pengaku sekaligus pelaku dan pengisi kisah ini,” demikian baris kata-kata terakhir menutup kisah yang dengan rasa bangga dan lega dirampungkannya. ***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(29 Januari 2012)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>*</p>
<p>Catatan:</p>
<p>Cerpen <em>Judul Sorang Puan Perawan</em> oleh A.Kohar Ibrahim ini disiar pertama Facebook 30 Januari 2012.</p>
<p>Biodata :</p>
<p>A.KOHAR IBRAHIM</p>
<p>Kelahiran Jakarta 1942. Penulis Pelukis tamatan Akademi Senirupa Brussel Belgia (1972-1979).</p>
<p>Aktivitas-kreativitas sebagai jurnalis dan penulis sejak tahun 1950-an. Karya tulis tersiar di media massa seperti Bintang Timur, Bintang Minggu, Warta Bhakti, Harian Rakyat &amp; Minggu, Majalah Zaman Baru (dpp Rivai Apin dan S. Anantaguna).</p>
<p>1989-1999 Editor Majalah Seni dan Sastra KREASI terbitan Stichting Budaya, Amsterdam, Holland.</p>
<p>Sejak zaman Reformasi berkas berkas tulisannya tersiar sebar beberapa media massa. Antara lain: Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Sijori Pos, Batam Pos, Majalah Budaya 12 (Dewan Kesenian Kepri, Tanjungpinang), Gema Mitra  Swakarsa (Batam).</p>
<p>Sebagai essayis, berkas berkas essay sosio-budayanya antara lain:</p>
<p>(1).<em>Sekitar Tempuling</em> – Telaah Buku Kumpulan Sajak “Tempuling” karya Ruda K Liamsi. Semula disiar Harian Batam Pos, kemudian diterbitkan dalam bentuk buku oleh Yayasan Sagang, Pekanbaru 2004.</p>
<p>(2).<em>Dari Puncak Sang Pahlawan Nasional Sastra Kepulauan Riau</em> – termaktub dalam buku <em>Identitas Budaya Kepri </em> - kumpulan essay bersama, terbitan Dewan Kesenian Kepri Tanjungpinang 2005.</p>
<p>(3).<em>Kepri Pulau Cinta Kasih</em> – buku kumpulan essay bersama Lisya Anggraini, terbitan Tititk Cahaya Elka, Batam 2006.</p>
<p>(4).<em>Sekitar Polemik Pramoedya-Lekra vs Manikebu, </em>buku kumpulan essay terbitan Titik Cahaya Elka, Batam, 2009.</p>
<p>Berkas berkas essay yang disiar Harian Batam Pos, tapi belum sempat diterbitkan dalam bentuk buku, seperti antara lain: “Catatan Dari Brussels” (40 essay); “Sekitar Tembok Berlin – Lagu Manusia Dalam Perang Dingin Yang Panas” (30-an essay). ACI: “Sekitar Prahara Budak Budaya” (25 essay).</p>
<p>Baik yang sudah maupun belum dibukukan, daftar berkas berkas naskah prosa dan puisinya masih panjang; berkas berkas <em>Nota Puitika</em> nya sudah melebihi 500-an. Disiar via sejumlah media internet, antara lain: Situs Sastra Nusantara Cybersastra.Net; ABE-Kreasi Multiply Site; Facebook; ACI – Art-Culture-Indonesia; Apresiasi Sastra (Apsas); Apresiasi Puisi; World Culture dll.</p>
<p>Lebih lanjut bisa disimak lacak di: http://16j42.multiply.com/journal/item/635/tag/biodata/; http://artscad.com/@/AKoharIbrahim/;</p>
<p>Dan dilacak dengan menggunakan mesin pencarian <em>Google </em>dan atau <em>Yahoo</em>.</p>
<p>*</p>
<p><img src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/397193_2974896503718_1600987434_2677688_394861997_n.jpg" alt="" />AKI</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ladangsastra.com/sorang-puan-perawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Trio Penyair :  Pak Cik Nuril –  Lia Salsabila – Udin Sape Bima</title>
		<link>http://www.ladangsastra.com/trio-penyair-pak-cik-nuril-lia-salsabila-udin-sape-bima/</link>
		<comments>http://www.ladangsastra.com/trio-penyair-pak-cik-nuril-lia-salsabila-udin-sape-bima/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 03:01:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lia Salsabila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[negeri tak berwajah]]></category>
		<category><![CDATA[nota karya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ladangsastra.com/?p=510</guid>
		<description><![CDATA[Yang Lokal Universal &#160; Nota Karya Oleh : A.Kohar Ibrahim &#160; &#160; TIGA nama penyair hadir di halaman Facebook &#8212; menyaji kreasi puisi berupa sajak masing-masing. Pak Cik Nuril Putera Mahkota alias Muhammad Nurul dengan sajaknya berjudul “Aw Aw”. Lia Salsabila dengan sajak “Hujan Kembali Datang”. Udin alias El-Dien Sape Bima dengan sajak “Negeri Tak Berwajah”. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Yang Lokal Universal</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Nota Karya</strong></p>
<p><strong>Oleh : A.Kohar Ibrahim</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>TIGA nama penyair hadir di halaman Facebook &#8212; menyaji kreasi puisi berupa sajak masing-masing. Pak Cik Nuril Putera Mahkota alias Muhammad Nurul dengan sajaknya berjudul “Aw Aw”. Lia Salsabila dengan sajak “Hujan Kembali Datang”. Udin alias El-Dien Sape Bima dengan sajak “Negeri Tak Berwajah”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ah ah ! “Negeri Tak Berwajah” Udin. “Aw Aw” Nurul. “Hujan Kembali Datang” Lia. Tiga penyair, tiga wajah, tiga jiwa asal tiga lokal, tiga Daerah yang menggugah sekalian menggelitik hati dan pikiran serta imajinasi. Tetapi apalah makna lokal dalam aktivitas-kreativitas seni kebanding – misal dengan Sentral atau Pusat atau Nasional? Tiada. Kalaupun ada mungkin dalam nuansa suasana tempatan masing masing saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Akan tetapi, sekalipun ada kandungan nuansa kelokalan maka tak urunglah bisa bersifal nasional pun universal. Selaras – justeru dari isi yang terkandung di dalamnya. Isi yang nampak, yang terasa, berkat paduan pilihan pengungkapan, pelukisan dan simbolisasi yang tersajikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seperti dalam ketiga sajak: “Aw Aw”, “Hujan Kembali Datang” dan “Negeri Tak berwajah” itulah. Ada kandungan lokal yang terkandung namun tak urung universal pula sifatnya. Lantaran yang dinyanyikan merupakan lagu alam manusia. Alam lingkungan alam dan manusia yang bermasyarakat dalam juang perjuangan kesehari-hariannya. Yang satu sama lain berkait erat – meski kadang-kadang selang silang seling kait berkaitan pula adanya.</p>
<p>*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sajak Aw Aw oleh Pak Cik Nuril alias Muhammad Nurul</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>KETIKA membaca sajak “Aw Aw” Nurul, memang seketika pula saya tergelitik. Seperti yang telah saya utarakan dalam komen atau nota ringkas di ruang Facebook 21 Januari 2012:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Pilihan pengungkapan pengisahan metafora sekalian yang padu hadir lancar mengalir. Seperti air hujan dari pancuran aku mandi sejuk nyaman. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>&#8220;Aw Aw&#8221;! Seketika aku jadi teringat sewaktu cakap cakap dengan Pak Tenas di &#8230;Pekanbaru sekitar seni budaya &#8211; khususnya tentang seni tradisi yang baik seperti seni binaan; seperti halnya susastra. Sampai pada soal yang jadi persoalan akan perlunya &#8220;mengangkat benang basah&#8221;, Pak Tenas Effendy bilang: Tujuan itu baik, tapi harus mengenal dan tahu apa yang hendak diangkat itu.&#8221;</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> Iya. Aku kira, sudah selayaknya penulis, penyair terus menjaga, menggali, mengangkat perbendaharaan kata bahasa yang menjadi sarana ekspresinya. Aku gembira, sekali dan sekali lagi membaca Pak Cik Nuril, upaya yang baik sekaitan bahasa itu terpercik. </em><em>Terima kasih. Salam kreatip. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Komentar ringkas itu pada 23 Januari 2012 ditanggapi oleh sang penyair Nurul alias Nuril :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>« iye pak aki, bicare bahase seni tradisi,</em></p>
<p><em>banyak yang belum bisa terangkat, karna banyak yang terlupakan.</em></p>
<p><em>saye nak minta tunjuk ajar dari pak aki, agar bahase seni dan tradisi bisa terangkat,dijaga, dilestarikan sebagai warisan daerah. »</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>IYA. Warisan daerah layak diapresiasi selayak-layaknya, karena sekaligus juga sebagai warisan nasional bahkan internasional. Apa pula bahasa Melayu sudah ada sejak dulu kala. Malah menjadi bahasa perjuangan seperti tertanda dalam <em>Sumpah Pemuda</em> – hanya untuk kemudian salah seorang pembinanya yang terkemuka mendapat gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia : Raja Ali Haji. Nama sang Pahlawan yang kemudian juga menjadi nama salah sebuah universitas di Kepulauan Riau : <em>UMRAH</em>. Dimana Muhammad Nurul salah seorang mahasiswanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebagai pelengkap sajian sajak « Aw Aw » iyalah karya visual berupa foto pepohonan <em>bakau. </em>Hutan bakau<em>. </em>Pas sekali dengan tema yang diungkapkan. Pepohonan yang beragam guna sekaligus juga berperan penting dalam eko sistem (ekologis). Salah satu macam perhutanan yang amat berharga di bumi Nusantara pun dunia. Yang layak dijaga dari kesewenangan manusia semata mata demi kepentingan picik, egois dan serakah.</p>
<p>“Aw Aw” ! Dengan sajak ini &#8212; secara langsung tak langsung &#8212; penyair Muhammad Nurul kelahiran <em>Sungai Pakning </em> Provinsi  Riau telah menggugah sekaligus menyegarkan ingatan kita akan makna bahasa Melayu dan makna lingkungan alam tempatannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Aw Aw</em></strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Oleh : Pak Cik Nuril Putera Mahkota</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Pukaulah aku</em></p>
<p><em>Dalam angau yang tak menentu</em></p>
<p><em>Taburlah serbuk bakau</em></p>
<p><em>Dalam angin sengau</em></p>
<p><em>Katakanlah pedau</em></p>
<p><em>Katakanlah payau</em></p>
<p><em>Katakanlah sasau</em></p>
<p><em>Katakanlah risau</em></p>
<p><em>Aku melapuk dalam ombak sakau</em></p>
<p><em>Meninggilahlah gunung</em></p>
<p><em>Meluaslah samudera</em></p>
<p><em>Mendalamlah lautan</em></p>
<p><em>Menegaklah langit</em></p>
<p><em>Mandikanlah aku dalam mimpi kata-kata resah.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Catatan: dalam fikiran yang kacau, mengenang Tanjungpinang 20 januari 2012</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>*</p>
<p>(FB : 21.01.2012)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sajak Hujan Kembali Datang Lia Salsabila</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>SAYA memang kerap ulang bilang persetujuan dengan opini Hudan Hidayat. Bahwasanya bagi kita yang pertama dan terutama pentingnya adalah menyimak hasil karya seseorang bukan orangnya. Dan dalam mengapresiasi susastra barangtentu adalah bahasa atau kata-kata yang dijadikan sarana. Sungguh menggelitik malah bisa menggugah rasa senang lantaran <em>indah keindahan</em> yang terkandung-saji oleh buah pena buah ekspresi diri sang penulis atau penyair.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Iya benar. Suka baca membaca memang ada tujuannya. Dalam membaca hasil karya sastra terutama selain untuk santapan pikiran juga perasaan. Selain menimba ilmu pengetahuan sekaligus juga kenikmatan batiniah. Semacam atau ragam macam yang terperoleh darinya. Berkat gugahan dari gubahan seniman-seniwati atau penyair bersangkutan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seperti salah sebuah contohnya itulah. Sebuah sajak berjudul “Hujan Kembali Datang” itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pilihan pengungkapan, penuturan sekalian simbolisasi padu tersajikan. Perpaduan rekaman kehidupan inderawi-batini yang terkesankan realis sekaligus romantis puitis. Dengan sarana bahasa tertata bina kata-kata sederhana namun dalam makna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seketika sepintas kilas aku jadi senang terkenang pada gambaran suasana dalam lukisan Henry Fusli dan William Turner.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ah barangtentu, penuturan atau penggambaran Lia Salsabila itu beda baik zaman pun alam nyatanya. Bukan di Eropa tapi di Jember Jawa Timur ! Namun dimana kapanpun juga suasana tingkah ulah alam dunia ya sama saja. Gerakannya yang bisa berubah ubah sering mengejutkan sekalian menakjubkan malah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Namun juga, tak urung : gores garis pena dan nuansa nada irama sapuan Lia Salsabila tak kalah dengan keplastisan gores garis sapuan para pelukis tersebut di atas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Orang Jawa, cakap cermat memanfaat sarana komunikasi bahasa Indonesia dalam kreativitas perpusian seperti contoh penyair wanita Lia Salsabila ini,  sungguh menggembirakan dan membanggakan sekaligus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahasa Indonesia memang luarbiasa. Sebagai sarana kreativitas sastrawan-sastrawati Indonesia segala zaman.</p>
<p>*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Hujan Kembali Datang</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>Oleh : Lia Salsabila</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>gerimis men</em><em>yapa ritmis</em></p>
<p><em>mengecup debu dan puing mengabu</em></p>
<p><em>membasah gersang sehampar ilalang</em></p>
<p><em>menghijau padang seluas keramba udang</em></p>
<p><em>hujan kembali datang, sayang</em></p>
<p><em>mengguyur sawah, ladang, juga tanah lapang</em></p>
<p><em>mengairi sungai, danau, waduk yang dulu gersang</em></p>
<p><em>hujan datang bersama gelegar</em></p>
<p><em>menghempas biduk menghanyut lubuk</em></p>
<p><em>menggenang sepadang galangan</em></p>
<p><em>membandang membanjir sampai hilir</em></p>
<p><em>hujan sudah datang, sayang</em></p>
<p><em>namun mengapa air matamu berderai</em></p>
<p><em>bukankah ini yang kaurindukan</em></p>
<p><em>sebab tak lelap, ranjangmu kebocoran</em></p>
<p><em>goronggorong dan selokan meluap tak karuan</em></p>
<p><em>jalanjalan dan perumahan mirip lautan</em></p>
<p><em>hujan memang datang, sayang</em></p>
<p><em>membawa cerita lain kemarau</em></p>
<p><em>lebih biru atau pilu</em></p>
<p><em>tergantung jiwa kita menuju</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Rumah Hujan</em><em></em></p>
<p><em>2011</em><em></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>*</p>
<p>(FB 27.01.2012)</p>
<p>*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sajak Negeri Tak Berwajah Udin Sape Bima</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>KINI setelah <em>Orang Melayu</em>  dari Riau dan <em>Orang Jawa </em>dari Jember Jatim<em>,</em> bagaimana kecakap-cakepan Orang Nusa Tenggara Barat dengan contoh penyair Udin Sape Bima dari Mataram. Dengan kreasi puisi berupa sajaknya berjudul “Negeri Tak Berwajah”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Meskipun dari sudut lokal wilayah daerah berbeda namun mereka Bangsa Indonesia juga, pengguna bahasa Indonesia juga, pengungkap angkat kekentalan nuansa lokal yang nasional malah universal juga. Lantaran menyanyikan lagu yang pada dasarnya sama: lagu alam manusia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika hendak disimak keberbedaanya, hal itu terutama terletak pada pilihan pengungkapan tema yang lebih kental pada paduan situasi-kondisi yang faktual lagi aktual. Dituturkan dengan luapan emosi yang semarak. Namun senantiasa mengetengahkan simbolisasi atau metafora yang bernada irama dinamik puitik. Suatu osmosia – ramuan – yang harmonis terpadu. Hingga mampu menggugah bahkan terkesankan menggugat kondisi kehidupan manusia. Khususnya rakyat pekerja. Dalam kegegap-gempitaan jejak juang menjalani kehidupan. Supaya kebenaran dan keadilan dijaga ditegakkan sekaligus!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan kata lain sajak “Negeri Tak Berwajah” adalah ekspresi protes sosial dalam puisi. Suatu pertanda nyata akan naluri aspirasi manusia yang berhak dan mendasar: untuk mengenyam kehidupan di alam merdeka, adil makmur dan beradab. Suatu naluri aspirasi manusia yang sudah, sedang dan bisa akan terjadi di mana kapanpun juga adanya. Universal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari sejumlah hasil aktivitas-krreativitasnya, Udin Sape Bima memang telah menandakan dengan nyata kepedulian seorang anak bangsa, seorang cendekiawan. Iya,  seorang penyair yang peduli akan kondisi hidup kehidupan di atas tanah tumpah darahnya. Indonesia Raya yang megah, luas, kaya raya, indah, tapi sebagian besar rakyat masih belum bisa mengenyam kehidupan Kemerdekaan dalam makna yang luas dan yang hakiki. Kehidupan yang modern dan beradab.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan apa yang dilukiskan oleh Udin Sape Bima dengan “Negeri Tak Berwajah” ini rupanya masih belum usai. Masih akan bersambung. Lantaran perjuangan itu sendiri memang belum selesai. ***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NEGERI TAK BERWAJAH</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh Al-Dien Sape Bima</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Di genangan bumi pertiwi</em></p>
<p><em>berkesiur potret wajah rakyat</em></p>
<p><em>bergelantung di perasingan langkah</em></p>
<p><em>mamatung senja wajah</em></p>
<p><em>terkapar di peraduan zaman</em></p>
<p><em>membuncahkan seluruh tanah air</em></p>
<p><em>seraya mengungsi jiwa</em></p>
<p><em>tersuguh lelap atas kekuasaan sang politik</em></p>
<p><em>Dalam rumah pertiwi</em></p>
<p><em>anak watan berbaring meramaikan</em></p>
<p><em>jalan massa berburam</em></p>
<p><em>di simpang jalan</em></p>
<p><em>melengking nafas bersanding derita</em></p>
<p><em>derita mewadahi tanah air</em></p>
<p><em>lalu berselimut kabut tertelan waktu</em></p>
<p><em>Orang-orang miskin</em></p>
<p><em>berkerumu selaput rampung di pedesaan</em></p>
<p><em>menapak ladang di tanah pertiwi</em></p>
<p><em>bercucuran keringat mengalir</em></p>
<p><em>bermuara dalam peperangan waktu</em></p>
<p><em>namun di balik gedung tertinggi</em></p>
<p><em>politik sedang mengupas suap menyuap</em></p>
<p><em>pandangan tentang rupiah</em></p>
<p><em>Rakyat mendengung peraduan</em></p>
<p><em>bersanding merunduk ranum jiwa</em></p>
<p><em>membasuh harapan</em></p>
<p><em>di negri yang tak berwajah</em></p>
<p><em>lalu bersanding merengku mimpi</em></p>
<p><em>dalam pengadaian hidup bersatu</em></p>
<p><em>Dalam mimbar berbagai perkotaan</em></p>
<p><em>Tuan-tuan sedang rapat</em></p>
<p><em>berbicara tentang renovasi gedung</em></p>
<p><em>melindap bersilancar mengemas rupiah</em></p>
<p><em>berteriak seraya membangun negri</em></p>
<p><em>dan menumbuh keadilan di kerawang pertiwi</em></p>
<p><em>Tuan lihatlah dengan mata hati</em></p>
<p><em>kaum pejuang muda menderas derita</em></p>
<p><em>menyebrang jembatan maut</em></p>
<p><em>mendayu endapkan jiwa</em></p>
<p><em>demi massa depan untuk memperkokoh bangsa pertiwi</em></p>
<p><em>yang melandasi bangsa retorika kukuh</em></p>
<p><em>Tuan</em></p>
<p><em>masihkah kau tidur terlelap dengan kekuasaanmu</em></p>
<p><em>coba Tuan bangunlah dalam tidur</em></p>
<p><em>di luar sana batu di bungkam massa</em></p>
<p><em>darah terus mengalir membasahi tanah pertiwi</em></p>
<p><em>Tuan</em></p>
<p><em>lihatlah dengan mata hati</em></p>
<p><em>kaum wanita menangis pilu</em></p>
<p><em>menderai-deraikan nafas </em></p>
<p><em>yang terkuntum ditanah haram </em></p>
<p><em>menggendong daging atas perbudakan </em></p>
<p><em>ratapi sangkar musnah jiwa </em></p>
<p><em>tak ada lagi harga diri </em></p>
<p><em>yang terkantum di negri ini</em></p>
<p><em>Tuan</em></p>
<p><em>lihatlah dengan mata hati</em></p>
<p><em>masih ingatkah Tuan peristiwa dermaga sape</em></p>
<p><em>di sana telah di tumpahkan darah yang bercecer</em></p>
<p><em>di sudut labuhan</em></p>
<p><em>Tuan</em></p>
<p><em>lihatlah dengan mata hati</em></p>
<p><em>masih ingtkah Tuan tentang sandal jepit?</em></p>
<p><em>AAL pejuang muda kau teror</em></p>
<p><em>dalam dinding garis air mata kehidupan</em></p>
<p><em>bebalut serapah menantang hukum</em></p>
<p><em>atas peniadaanmu</em></p>
<p><em>dan para koruptor kau bebaskan dengan uang dan uang</em></p>
<p><em>Di mana kau letakkan keadilan !</em></p>
<p><em>Jangan kau bernyanyi di meja pengadilan</em></p>
<p><em>nyanyian busuk</em></p>
<p><em>membusukan nyanyian bangsa kemerdekaan</em></p>
<p><em>Sungguh engkau telah mematikan negri</em></p>
<p><em>tuturkan katamu membuat negri bernyanyi</em></p>
<p><em>nyanyian telah merobekkan tubuh negri</em></p>
<p><em>sejuta janji sejuta sumpah</em></p>
<p><em>Di layar dunia potret wajahmu</em></p>
<p><em>hampir mengkibarkan seluruh negri pertiwi</em></p>
<p><em>lalu seraya berkata negri ini akan damai dan sejahteraan</em></p>
<p><em>namun pernyataan itu kau menghianatnya </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>*</em></p>
<p><em>(Bersambung&#8230;&#8230;)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Udin Sape Bima</em></p>
<p><em>MATARAM, JANUARI, 2012</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>*</em></p>
<p><em>(FB 26.01.2012)</em></p>
<p><em>*</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Catatan :</p>
<p>Naskah Nota Karya «Trio Penyair Pak Cik Nuril – Lia Salsabila – Udin Sape Bima : Yang Lokal Universal » ini pertama disiar di halaman profil Facebook A.Kohar Ibrahim 28 Januari 2012.</p>
<p>Kreasi sajak sajak dan ilustrasi foto pemilik penulis masing-masing.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>*</p>
<p>Biodata :</p>
<p>A.KOHAR IBRAHIM</p>
<p>Kelahiran Jakarta 1942. Penulis Pelukis tamatan Akademi Senirupa Brussel Belgia (1972-1979).</p>
<p>Aktivitas-kreativitas sebagai jurnalis dan penulis sejak tahun 1950-an. Karya tulis tersiar di media massa seperti Bintang Timur, Bintang Minggu, Warta Bhakti, Harian Rakyat &amp; Minggu, Majalah Zaman Baru (dpp Rivai Apin dan S. Anantaguna).</p>
<p>1989-1999 Editor Majalah Seni dan Sastra KREASI terbitan Stichting Budaya, Amsterdam, Holland.</p>
<p>Sejak zaman Reformasi berkas berkas tulisannya tersiar sebar beberapa media massa. Antara lain: Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Sijori Pos, Batam Pos, Majalah Budaya 12 (Dewan Kesenian Kepri, Tanjungpinang), Gema Mitra  Swakarsa (Batam).</p>
<p>Sebagai essayis, berkas berkas essay sosio-budayanya antara lain:</p>
<p>(1).<em>Sekitar Tempuling</em> – Telaah Buku Kumpulan Sajak “Tempuling” karya Ruda K Liamsi. Semula disiar Harian Batam Pos, kemudian diterbitkan dalam bentuk buku oleh Yayasan Sagang, Pekanbaru 2004.</p>
<p>(2).<em>Dari Puncak Sang Pahlawan Nasional Sastra Kepulauan Riau</em> – termaktub dalam buku <em>Identitas Budaya Kepri </em> - kumpulan essay bersama, terbitan Dewan Kesenian Kepri Tanjungpinang 2005.</p>
<p>(3).<em>Kepri Pulau Cinta Kasih</em> – buku kumpulan essay bersama Lisya Anggraini, terbitan Tititk Cahaya Elka, Batam 2006.</p>
<p>(4).<em>Sekitar Polemik Pramoedya-Lekra vs Manikebu, </em>buku kumpulan essay terbitan Titik Cahaya Elka, Batam, 2009.</p>
<p>Berkas berkas essay yang disiar Harian Batam Pos, tapi belum sempat diterbitkan dalam bentuk buku, seperti antara lain: “Catatan Dari Brussels” (40 essay); “Sekitar Tembok Berlin – Lagu Manusia Dalam Perang Dingin Yang Panas” (30-an essay). ACI: “Sekitar Prahara Budak Budaya” (25 essay).</p>
<p>Baik yang sudah maupun belum dibukukan, daftar berkas berkas naskah prosa dan puisinya masih panjang; berkas berkas <em>Nota Puitika</em> nya sudah melebihi 500-an. Disiar via sejumlah media internet, antara lain: Situs Sastra Nusantara Cybersastra.Net; ABE-Kreasi Multiply Site; Facebook; ACI – Art-Culture-Indonesia; Apresiasi Sastra (Apsas); Apresiasi Puisi; World Culture dll.</p>
<p>Lebih lanjut bisa disimak lacak di: http://16j42.multiply.com/journal/item/635/tag/biodata/; http://artscad.com/@/AKoharIbrahim/;</p>
<p>Dan dilacak dengan menggunakan mesin pencarian <em>Google </em>dan atau <em>Yahoo</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ladangsastra.com/trio-penyair-pak-cik-nuril-lia-salsabila-udin-sape-bima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HUMANISME DALAM ISLAM (Bagian 2)</title>
		<link>http://www.ladangsastra.com/humanisme-dalam-islam-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ladangsastra.com/humanisme-dalam-islam-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 08:41:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lia Salsabila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[humanisme]]></category>
		<category><![CDATA[islm]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ladangsastra.com/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[HUMANISME DALAM ISLAM   /Abdul Hadi W. M. &#160; (Bagian II, Habis)   &#160; Jadi kemuliaan manusia terutama ditentukan oleh pencapaian akalnya, serta realisasi dari apa yang dicapai oleh akalnya dalam kehidupan, dan kearifannya dalam mengarahkan hidupnya menuju kebaikan dan kebenaran.  Kata-kata `aql berpadanan dengan kata-kata qalb (kalbu). Sebagaimana kalbu, yang merupakan alat pencerapan pengertian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>HUMANISME DALAM ISLAM</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>/Abdul Hadi W. M.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(Bagian II, Habis)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jadi kemuliaan manusia terutama ditentukan oleh pencapaian akalnya, serta realisasi dari apa yang dicapai oleh akalnya dalam kehidupan, dan kearifannya dalam mengarahkan hidupnya menuju kebaikan dan kebenaran.  Kata-kata `aql berpadanan dengan kata-kata <em>qalb</em> (kalbu). Sebagaimana kalbu, yang merupakan alat pencerapan pengertian ruhaniah, demikian pula halnya dengan akal. Keduanya dengan demikian merupakan substansi (<em>jawhar</em>) ruhaniah yang dengannya ‘diri rasional’ (<em>al-nafs al-nathiq</em>) seseorang dapat membedakan kebenaran dari kepalsuan (lihat al-Jurjani 157).</p>
<p>Dalam membuat definisi yang benar tentang manusia sebagai <em>al-hayawan al-nathiq</em> ialah bila yang kita maksud dengan <em>al-nathiq</em> (nalar) dalam pendefinisian itu ialah ‘kemampuan untuk memahami pembicaraan dan kesanggupan untuk beranggung jawab atas perumusan makna – yang melibatkan penilaian, pembedaan, pencirian dan penjelasan, serta yang berkaitan dengan penyampaian kata-kata atau ungkapan dalam suatu pola yang bermakna. Kata-kata makna atau <em>ma`na</em> harus didasarkan pada arti kata <em>ma’na</em> sebagai konsep dalam ilmu dan falsafah Islam, yaitu “pengenalan tempat-tempat segala sesuatu dalam tatanan wujud masing-masing”. Pengenalan seperti hanya mungkin terjadi bilamana ‘hubungan’ sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam tatanan tersebut telah ‘terjelaskan’ dan ‘terpahamkan’. Hubungan tersebut menguraikan keteraturan tertentu.</p>
<p>Hakikat manusia, dalam pengertian ini, ditentukan oleh substansi ruhaniahnya  yang berperan mengenal sesuatu secara benar, yaitu tempat sesuatu dalam tatanan wujudnya masing-masing dan hubungannya dengan yang lain dalam tatanan wujud yang lain yang membentuk keteratuiran. Obyek-obyek pengenalan yang memiliki keteraturan hubungan satu sama lain itulah yang merupakan obyek ilmu pengetahuan, yang dikatakan Nabi sebagai modal dan tangan beliau (sarana menguasai sesuatu),</p>
<p>Orang Islam sepakat bahwa semua ilmu datang dari Allah, dalam arti bahwa ilmu itu dapat dimiliki manusia bukan semata berdasar ikhtiarnya melainkan juga melalui petunjuk-Nya, yaitu wahyu yang tertera dalam al-Qur’an. Itu sebabnya ilmu-ilmu Qur’an atau ilmu agama di dalam tradisi intelektual diberi kedudukan tinggi dalam tatanan ilmu secara keseluruhan. Kita juga tahu bahwa cara ilmu itu datang, dan sarana kerohanian dan indera yang menerima dan menafsirkannya tidak sama. Oleh karena semua pengetahuan datang dari Allah dan ditafsirkan oleh jiwa melalui sarana kerohanian dan indera, maka definisi terbaik tentang ilmu – dengan mengacu kepada Allah sebagai sumbernya – adalah bahwa ilmu itu ialah ‘kehadiran/kedatangan (<em>hushul</em>) makna sesuatu atau suatu obyek pengetahuan di dalam jiwa” (<em>hushul ma`na aw shurat ‘l-syay`i  fi al-nafs</em>).</p>
<p>Sedangkan apabila kita mengacu pada jiwa sebagai penafsirnya maka ilmu pengetahuan berarti “ sampainya (<em>wushul</em>) jiwa pada makna sesatu atau obyek pengetahuan”. Di sini seorang berilmu (<em>`alim</em>) berarti seseorang yang jiwanya memperoleh makna dari sesuatu yang diketahui”.  Pengertian ini merangkum pula konsep-konsep kunci lain seperti konsep-konsep tentang <em>ayat </em>(tanda-tanda Tuhan). Konsep ini mengacu pada ‘kata-kata’ dan ‘sesuatu’ (yang merupakan tanda-tanda keagungan Tuhan). Berdasarkan ini para mufassir mendefinisikan ilmu secar epistemologis sebagai ‘sampainya makna ke da;am jiwa’ dan ‘m,akna sesuatu’ berarti makna atau artinya yang benar. Benar dalam pandangan Islam berkenaan dengan hakikat dan kebenaran sebagai diproyeksikan oleh sistem konseptual al-Qur’an.</p>
<p>Konsep lain yang berkenaan dengan itu konsep <em>`amal</em> (tindakan), sebab tanpa tindakan sesuatu itu tidak akan sampai kepada jiwa dan tanpa tindakan menyampaikannya maka ilmu pengetahuan tidak akan tersebar dan berkembang. Ilmu harus dilengkapi dengan amal. Kecuali itu ilmu juga harus mengandung makna sebagai pengetahuan tentang sesuatu dalam tempatnya yang benar atau tepat. Tempat yang benar atau tepat berarti tempat yang sempurna dan sejati sebagaimana ditunjukkan oleh istilah <em>haqq, </em>yang berarti hakikat dan sekaligus kebenaran yang berkenaan dengan hakikatnya.</p>
<p>Istilah <em>haqq </em>juga mengantung arti suatu penilaian (<em>hukm</em>), yaitu penilaian yang sesuai dengan hakikat atau situasi sebenarnya sesuatu. Maka ilmu yang <em>haqq</em> harus mengandung sesuatu penilaian yang  dimaksud. Penilaian melibatkan kepercayan bahwa ajaran agama dan mazhab pemikiran dalam Islam itu benar. Lawan dari <em>haqq </em>ialah <em>bathil,</em> artinya<em>,</em>lebih kurang ialah<em> </em>kepalsuan, sesuatu yang sia-sia, nihilistic, tidak ada manfaatnya, gagal.  Di lain hal kata-kata <em>haqq </em>juga mempunyai arti sebagai suatu keserasian dengan pensyaratan kearifan dan keadilan. Pengetahuan atau ilmu yang benar adalah mengandung kearifan dan keadilan. Keadilan (`<em>adl</em>) di sini merupakan suatu kondisi harmonis dari benda-benda disebabkan berada di tempatnya yang benar dan tepat. Sedangkan kearifan (<em>hikmah</em>) adalah ilmu yang dianugerahkan Tuhan dan menjadikan penerimanya mampu mel;akukan penilaian yang benar.</p>
<p>Manusia yang ideal dalam Islam ialah manusia berilmu yang dapat mengamalkan ilmunya, tahu tempat yang <em>haqq</em> dan <em>bathil</em> dari obyek-obyek pengetahuan yang dikenalnya, serta mampu memberi penilaian yang arif dan adil terhadap sesuatu berdasarkan hakikat sesuatu dan tempatnya yang benar di alam wujud. Haqqjuga berarti tugas atau kewajiban, dan karenanya manusia Muslim yang berilmu memiliki tanggungjawab dan kewajiban membangun kemanusiaan berdasarkan ajaran Islam.</p>
<p>Demikianlah telah kita kemukakan bahwa konsep Islam tentang kemanusiaan atau martabat manusia dikitari oleh gagasan-gagasan dasar seperti Makna (<em>ma’na), </em>ilmu (<em>`ilm), </em>adil (<em>`adl</em>), kebijaksanaan (<em>hikmah</em>), tindakan (<em>`amal</em>), kebenaran (<em>haqq</em>), nalar (<em>nathiq</em>), jiwa (<em>nafs</em>), kalbu (<em>qalb</em>), pikiran dan intelek (<em>`aql</em>), tatanan hirarkis dari penciptaan atau keberadaan (<em>maratib </em>dan <em>darajat</em>), tanda-tanda atau simbol-simbol (<em>ayat</em>) dan interpretasi (<em>tafsir </em>dan <em>ta’wil</em>).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Humanisme dan Adab</strong></p>
<p>Suatu konsep lagi yang penting dan merupakan konsep kunci yang berkenaan dengan pentingnya pendidikan. Konsep tersebut terkandung dalam kata <em>adab</em>, yaitu disiplin tubuh, jiwa, kalbu dan roh. Sebagai ilmu, <em>adab </em>merupakan metode untuk mengenal, mengetahui dan memahami sesuatu sehingga kita berada di tempat yang benar dalam meletakkan diri kita dan memandang segala sesuatu.  Adab adalah cerminan dari kearifan dan kebijaksanaan.  Dalam hubungannya dengan masyarakat, adab ialah tatanan yang adil  dalam masyarakat manusia, yang di dalamnya martabat manusia menjadi perhatian utama. Ini dapat dikaitkan dengan arti kata asal dan dasar dari ata-kata <em>adab  </em>itu sendiri.</p>
<p>Arti kata asal dari <em>adab</em> ialah undangan untuk suatu perjamuan atau majlis. Di dalam gagasan ini tersirat pengertian bahwa tuan rumah adalah seorang yang mulia dan orang banyak yang diundang untuk hadir dalam perjamuan yang ia selenggarakan adalah juga semestinya orang-orang yang pantas mendapatkan kehormatan untuk diundang. Oleh karena itu mereka mestinya orang-orang yang baik dan berpendidikan sehingga diharapkan bertingkah sesuai dengan keadaan, baik dalam berbicara dan bertindak, maupun dalam etiket. Ini menunjukkan bahwa manusia yang baik menurut Islam selain beriman dan berakhlaq mulia, ia juga seorang yang berilmu.</p>
<p>Ibnu Mas’ud menghubungkan kata <em>adab</em> dalam pengertian seperti telah diberikan dengan gambaran yang diberikan al-Qur’an tentang kitab suci itu sendiri, yaitu bahwa ia (al-Qur’an) merupakan “undangan Tuhan untuk menghadiri suatu perjamuan di atas  bumi, dan kita dianjurkan ambil bagian di dalamnya dengan cara memiliki pengetahuan yang benar tentangnya”. Perjamuan yang dimaksud al-Qur’an ialah perjamuan ruhaniah dan pencapaian ilmu yang benar terhadapnya adalah memakan makanan terbaik yang dhidangkan dalam perjamuan itu.</p>
<p>Karena itulah para cerdik cendikia Muslim selalu mengaitkan <em>ilmu </em>dengan amal dan adab, dan memandang kombinasi harmonis ketiganya sebagai asas pendidikan untuk membina manusia yang baik. Sedangkan manusia yang baik adalah manusia yang ihsan dan adil.  Kaitkanlah hal ini dengan sila kedua dari Pancasila yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Sila ini dengan jelasnya menyatakan bahwa gagasan kemanusiaan yang dikehendaki rumusan Pancasila ini ialah humanisme religius seperti tercermin dalam Islam.</p>
<p>Adab  dikenal sebagai ilmu tentang tujuan mencari pengetahuan. Dalam Islam tujuan mencari ilmu ialah menanamkan kebaikan dalam diri manusia sebagai manusia dan manusia sebagai diri pribadi. Tujuan pendidikan dalam Islam ialah menghasilkan manusia yang baik, dalam pengertian akalnya berkembang sehat, moralnya baik, perasaan kemanusiaan dan keagamaannya luhur, beriman dan bertaqwa, serta sanggup mengamalkan ilmunya bagi masyarakat dan kemanusiaan.</p>
<p>Ilmu dan adab merupakan sarana penting bagi manusia untuk mencapai dan memahami martabat kemanusiaannya. Pendidikan Islam harus menekankan pada dua hal ini untuk mencapai tujuannya dalam membina manusia yang yang saleh dan cerdas dalam arti sesungguhnya. Ilmu dibagi dua sesuai sumbernya atau hubungannya dengan kitab suci al-Qur’an. Yang pertama, yang  bersumber langsung dari al-Qur’an disebut ilmu agama, meliputi: Tafsir al-Qur’an, Sunnah, Ilmu Tauhid atau teologi, Syariah, Tasawuf (metafisika Islam), dan ilmu-ilmu bahasa Arab, seperti nahu, semantic, sastra dan leksikografinya. Yang kedua, ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh manusia dengan ikhtiar akal dan inderanya, disebut Ilmu Filosofis meliputi ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan, ilmu alam dan matematika, ilmu-ilmu terapan dan tehnologi. Dalam Islam, kebenaran dan kemanfaatan ilmu-ilmu ini harus dirujuk pada al-Qur’an.</p>
<p>Selain itu dalam Islam kehidupan manusia tidak hanya didasarkan atas ilmu yang diperolehnya, tetapi juga atas moralitas atau akhlaq.  Namun moralitas yang di maksud bukan moralitas yang sederhana dan statis. Apa yang dikatakan Nabi kepada Ali bin Abi Thalib seperti telah dikutip di awal pembicaraan ini, dapat dijadikan acuan. Sejalan dengan itu kehidupan manusia dalam Islam mesti diarahkan agar manusia itu mampu menguasai tingkah laku moralnya sesuai dengan ketentuan-ketentuan akal dan pemahaman berdasarkan ilmu yang benar, sekaligus penuh rasa syukur terhadap Penciptanya. Moralitas tidak menyangkut makhluq lain kecuali manusia. Sebab manusia dicipta dari dua macam substansi yang berbeda berupa jasad dan jiwa. Yang terakhir merupakan kesadaran Ilahi yang murni, sumber sehala perak dan laku tubuh. Inilah bagian dari diri manusia yang dibebani tanggung-jawab atau amanah. Jiwalah yang berbuat Dario dalam dan segala perilaku  luar memberi kessasian tentang keadaan jiwa di dalam.”</p>
<p>Seperti dikatakan Jalaluddin Rumi, “Salat, puasa, haji dan jihad di jalan Allah  memberi kesaksian tentang iman dalam hati. Memberi derma dan sumbangan serta menghilangkan sifat kikir juga memberikan kesaksian tentang fikiran-fikiran rahasia.” Selanjutnya Rumi mengatakan, “Puasa beratrti seseorang harus mengekang diri dari makanan yang diperbolehkan dimakan, karena itu tidak diragukan lagi ia akan menmghindari makan yang dilarang. Sedekah ialah memberikan harta miliknya sendiri, karena itu jelas ia tidak akan merampok harta orang lain.</p>
<p>Islam tidak mengenal dikotomi kehidupan di dunia ini dan dunia sana. Yang terbaik di dunia ini adalah juga yang terbaik di akhirat. Demikian pula Islam tidak memisahkan antara urusan dunia dan urusan akhirat, urusan keagamaan dan urusan politik, seperti juga tidak memisahkan kegiatan budaya dari kegiatan keagamaan. Dalam masyarakat Barat yang sekuler kedua urusan yang berbeda itu sering dipertentangkan. Ini merupakan implikasi dari pandangan dikotomis mereka berkenaan dengan roh dan badan, yang spiritual dan yang material, yang religius dan yang duniawi. Padahal keduanya melekat sebagai sifat ganda dari manusia yang saling berkaitan satu dengan yang lain.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Manusia Sebagai Khalifah Tuhan</strong></p>
<p>Telah dikemukakan bahwa manusia terdiri dari roh dan badan, yang dengan demikian memiliki sifat-sifat ganda yang kemudian menjadi bawaan dalam hidupnya dan sekaligus menjadi persoalan yang runcing dalam kehidupannya. Sebagai konsekwensinya manusia juga memperoleh pengetahuan yang bersifat ganda, yaitu pengetahuan mengenai dunia ini dan pengetahuan berkenaan dunia yang lain.</p>
<p>Pengetahuan pertama, sebagaimana dikemukakan dalam Q 2:31 (surat al-Baqarah) disebut  “pengetahuan nama-nama” (<em>al-asma</em>). Yang disebut pengetahuan tentang segala sesuatu di alam dunia (<em>al-asyya’</em>). Pengetahuan ini tidak menunjuk pada pengetahuan tentang esensi (<em>dzat</em>) atau tentang hal yang paling dalam (<em>sirr</em>) dar segala sesuatu – seperti misalnya tentang roh, sebab mengenai yang ini hanya sedikit manusia memperolehnya (lihat Q 17:85). Yang dimaksud dengan <em>`ilm al-asma</em> (pengetahuan nama-nama) ialah mengenai fenomena-fenomena atau kejadian-kejadian (`<em>arad</em>) yang dapat diindera dan sifat-sifat dari segala sesuatu yang berbeda. Ini dapat ditangkap atau dicerap melalui akal budi (<em>mahsusat </em>dan <em> ma`qulat</em>) yang dengan itu hubungannya dapay doiketahui, begitu pula ciri masing-masing yang berbeda.</p>
<p>Pengetahuan lain yang lebih tinggi yang dikaruniakan kepada manusia ialah pengetahuan tentang Allah (<em>ma`rifa</em>). Ini kita ketahui dalam Q 7:172) ketika Tuhan berfirman, “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Ya, aku bersaksi” (<em>Alastu bi rabbikum? Qawl bala syahidna..).  </em>Inilah perjanjian pertama yang mengikat manusia pada Tuhan. Perjanjian itu diikrarkan sebelum manusia diturunkan ke dunia dalam bentuknya sebagai makhluq jasmani dan rohani. Dari sini kita mengetahui bahwa pengetahuan itu ditanamkan Tuhan dalam roh, kalbu dan jiwa manusia, bukan dalam badannya. Konsekwensi dari perjanjian yang mengikat itu ialah bahwa dalam hidupnya manusia akan tetap mengakui Tuhan Yang Maha Esa sebagai sasaran penyembahannya, bukan yang selain-Nya. Inilah makna Islam sebagai <em>al-din </em>(agama), yaitu sebagai sesuatu yang mengikat hubungan manusia dengan Tuhannya yang esa, dan ikatan itu dapat berjalan terus apabila manusia menunjukkan kepatuhannya (<em>aslama</em>) kepada perintah dan larangan-Nya.</p>
<p>Dengan demikian <em>din </em>dan <em>aslama, </em>menurut para ulama, bersifat saling melengkapi dalam diri manusia dan menjadi sifat hakiki dari manusia, yang disebut sebagai <em>fitrah</em>. Tujuan sejati manusia ialah melaksanakan ibadah atau pengabdian kepada Tuhan (Q 5:56), dan kewajibannya adalah ketaatan kepada-Nya, sebab itulah yang sesuai dengan <em>fitrah </em>manusia. Yang bertentangan dengan itu tidak sesuai dengan fitrah manusia.</p>
<p>Tetapi manusia juga mempunyai sifat bawaan, yaitu pelupa (<em>nisyan</em>). Karena itu ia disebut <em>insan.</em> Setelah bersaksi bahwa Tuhan hanya satu dan berjanji akan mematuhi-Nya, karena terlena oleh kehidupan dunia maka ia menjadi lupa (<em>nasiya</em>) untuk memenuhi kewajiban dan tujuan hakiki hidupnya. Kelupaan atau kealaian itu menjadi penyebab ketidak-taatannya pada perintah agama, dan sifat ini sangat tercela serta cenderung menjadikan manusia tenggelam dalam ketidakadilan (<em>zhulm</em>) dan kebodohan (<em>jahl</em>). Sekalipun demikian manusia dianugerahi perlengkapan rohani untuk mengingat kembali apa yang diikrarkannya pada hari perjanjian (hari Alastu) dulu. Perlengkapan itu ialah akal pikiran dan kecerdasannya untuk membedakan yang salah dari yang benar. Tetapi semua itu terserah pada manusia untuk memilihnya, dengan konsekwensi yang mesti ditanggungnya sendiri pula.</p>
<p>Firman Tuhan dalam al-Qur’an (2:30) menyatakan bahwa manusia telah ditunjuk menjadi khalifah-Nya di atas bumi dan kepadanya dibebankan <em>amanat</em>, sebuah tanggungjawab yang berat untuk mengetur dan memelihara kehidupan di dunia. Mengatur di sini bukanlah mengatur sesuai dengan kemauannya sendiri atau demi kepentingan egonya sendiri, tetapi mengatur sesuai dengan kehendak Allah dan maksud-Nya (Q 33:72). Amanah menunut pertanggungjawaban untuk bersikap dan berbuat <em>adil</em> terhadap alam dan seisinya, sebagaimana juga terhadap sesama manusia. Mengatur di sini tidak hanya mencakup pengertian sosio-politik, atau mengendalikan alam dan kehidupan di dalamnya secara ilmiah. Tetapi yang lebih mendasar lagi ialah, dalam konsep itu, tercakup konsep lain yang disebut <em>tabi’ah </em>(tabiat). Konsep ini mengandung arti “pengaturan, pemerintahan, pengendalian dan pemeiharaan diri manusia oleh dirinya sendiri”,</p>
<p>Dalam mengatur dan mengendalikan hidupnya itu manusia tergantung pada sifat ganda dari tabiatnya: Tabiat atau bawan sifatnya  yang tinggi ialah jiwa rasional (<em>al-nafs al-nathiqah) </em>dan yang lebih rendak ialah jiwa hewani (<em>al-nafs al-hayawaniyah</em>). Ketika Allah memaklumkan keesaan-Nya sebagai Tuhan, yang dituju ialah jiwa rasional manusia bukan jiwa hewaninya. Agar manusia memenuhi perjanjiannya dengan Allah dan sealu mmperteguh ikatan dengan perjanjiannya itu, manusia harus melaksanakannya dalam bentuk amal perbuatan dan taat menjalankan ibadah (sesuai syariah-Nya).</p>
<p>Kekuasaan dan pengaturan secara efektif jiwa rasional atas jiwa hewani itulah yang sebenarnya dinamakan <em>din </em>(agama); sedangkan yang dimaksud <em>islam</em> ialah kepatuhan dan ketaatan yang sadar dari jiwa hewani terhadap jiwa rasional. Oleh karema itu perilaku religius dalam Islam dikaitkan dengan kebebasan dan kesadaran jiwa rasional secara penuh untuk merealisasikan diri dan perjanjiannya dengan Allah, dan kebebasan itu berarti kekuatan (<em>quwwa</em>) dan kemampuan (<em>wus’</em>) untuk berbuat adil terhadap diri dan sesamanya, serta terhadap alam sekitarnya.</p>
<p>Mengenai adil atau keadilan, cerdik cendikia Muslim senantiasa merujuk kepada al-Qur;an surat al-Nahl 90: “<em>Innal`Lahu ya`muru bi`l-`adl wa`l-ihsan” </em>(Sesunggunya Allah menyuruh berbuat adil dan ihsan.” Seorang cendikiawan Melayu dari Aceh akhir abad ke-16 Bukhari al-Jauhari dalam kitabnya <em>Taj al-Salatin, </em>mengartikan bahwa adil ialah benar dalam pemikiran, pekerjaan, perbuatan, dan perkataan. Sedangkann ihsan diartikan sebagai kebajikan dalam berpikir, melahirkan pengetahuan, bekerja dan berkata-kata. Dikatakan misalnya bahwa seorang pemimpin yang adil adalah rahmat Tuhan yang tak ternilai harganya dan tanda pemimpin yang adil ialah berperikemanusiaan dan beradab, yaitu berpikir dan berpengetahuan benar tentang rakyatnya, serta berbuat benar dan berkata benar kepada rakyatnya. Semua itu dia lakukan karena mencintai rakyatnya.</p>
<p>Bukhari al-Jauhari mengutip kearifan yang berbunyi, “Raja yang tidak mencintai rakyatnya akan terhalang memasuki pintu sorga dan mengalami banyak kesukaran dalam meraih rahmat Allah s.w.t.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Pandangan Islam tentang kemanusiaan yang menjadi landasan ideal kebudayaan orang Islam. Landan ini dibangun berdasar Tauhid, kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah. Dalam keyakinan ini tidak ada  di alam semesta ini kekuasaan yang lebih tinggi selain kekuasaan Tuhan, begitu pula tidak ada hukum yang lebih tinggi selain Hukum Tuhan. Di hadapan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa kedudukan manusia adalah sama tanpa memandang ras, etnik, bangsa, jabatan, kedudukan, profesi, atau bidang kepakaran. Keyakinan ini yang membentuk dasar egalitarianisme islam, sebaaimana diucapkan Nabi dalam pidatonya pada haji wada’ di Mekkah pada tahun 632 M.  Isi pidato ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Hujurat 13: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian ialah yang paling bertaqwa.”</p>
<p>Humanisme Islam berbeda dari humanisme sekular dari Barat yang menekankan pada semangat individualistis dan karenanya keentingan individu diletakkan lebih tinggi di atas kepentingan masyarakat. Pandangan ini secara umum telah melahirkan paham seperti individualisme dan liberalisme, yang memandang perorangan dalam masyarakat sebagai atom-atom terpisah yang pertaliannya hanya disebabkan oleh hukum alam dan sejarah yang dijelmakan dalam konstitusi dengan menempatkan negara, selain individu dengan segala kebebasannya, sebagai segala-galanya. Dalam Islam kepentingan individu tidak boleh mengalahkan kepentingan masyarakat dan ummah. Karena itu Islam melahirkan paham kemasyarakatan yang berbeda di bidang politik, pemerintahan, ekonomi, dan lain sebagainya. Juga di bidang kebudayaan seperti pendidikan, tradisi seni, tradisi ilmu, pemikiran falsafah dan kessusastraan.</p>
<p>Berkenaan dengan masalah kemasyarakatan, seperti kekuasaan politik misalnya, terkandung pendirian bahwa kekuasaan manusia di muka bumi ini relatif. Jadi tidak mutlak dan temporal, karena itu dalam keadaan genting dan mendatangkan kerusakan harus ditentang dan boleh digugat. Bagaimana kekuasaan dapat dibangun agar tidak menjadi otoriter, bahkan totaliter, dan hegemonik? Seorang raja atau pemimpin harus dipilih berdasarkan musyawarah (<em>syura)</em>. Ini tercermin dalam pepatah-pepatah Melayu, Minangkabau, Aceh, Bugis, Madura, dan lain-lain. Dalam pepatah Minangkabau misalnya dikatakan, “Bulat air di pembuluh, bulat kata di mufakat.” Ini diimplementasikan dalam sila ke-4 Pancasila, “Kedaulatan Rakyat yang dipimpin oleh hikmah permusyawatan melalui perwakilan”.</p>
<p>Ajaran Islam yang menekankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan indvidu juga terlihat dalam pandangan mengenai hak milik. Hak milik tidak boleh dianggap sebagai sepenuhnya milik pribadi atau sekelompok orang, tetapi  di dalamnya harus ada fungsi sosial yang diatur melalui prinsip <em>amar ma`ruf. </em>Berdasar inilah pemimpin-pemimpin Islam di Indonesia seperti H.O. S. Tjokroaminoto, K. H. Aghus Salim, Muhammad Hatta, Muhammad natsir dan Syafrudin Prawiranegara meyakini bahwa sistem kapitalisme liberal, apalagi ekonomi pasar bebas (neoliberalisme) bertentangan dengan ajaran dan nilai-nilai Islam. Bagi mereka Islam lebih sejalan dengan paham sosialisme religius, yang oleh Muhammad Hatta dirumuskan sebagai sistem Ekonomi Terpimpin. Sistem seperti itu, bilamana dilaksanakan secara konsisten,  lebih menjamin terlaksananya keadilan sosial di bidang ekonomi.</p>
<p>Islam disebut pula sebagai agama kitab, yaitu agama yang keseluruhan dasar aqidah dan ibadahnya, dan prinsip-prinsip muamalah dan akhlaq pemeluknya. Oleh karena itu diwajibkan bagi semua pemeluknya agar belajar membaca dan menulis. Ini mendorong budaya baca tulis berkembang dalam peradaban Islam pada masa kejayaannya, dan dengan itu mendorong  pula semangat belajar dan kegairahann mengembangkan ilmu pengetahuan, menulis kitab keagamaan dan menumbuhkan kesusastraan. Tetapi sayang budaya baca tulis ini merosot di kalangan luas umat Islam pada abad-abad ke-19 dan 20 M hingga sekarang,  kecuali dalam masyarakat-masyarakat Muslim tertentu seperti di Iran dan Mesir.</p>
<p>Dari apa yang telah dipaparkan itu jelas bahwa dilihat dari perspektif Islam inti kebudayaan itu ialah kecerdasan, kebajikan dan kreativitas. Yang terakhir ini tepat jika diartikan sebagai ikhtiar yang bersungguh-sungguh untuk merealisasikan tingkat kecerdasan dan kebajikan, serta penghayatan dan pemahaman terhadap ajaran agama yang kita capai dalam bentuk karya dan amal saleh. Terlaksananya itu pula didasarkan pada cinta, baik cinta kepada agama maupun cinta kepada umat dan kemanusiaan. Cinta menumbuhkan semangat ukhuwah dan solidaritas yang tinggi. Dalam kitabnya <em>al-Muqadimah </em> Ibn Khaldun bahwa apa yang disebut kebudayaan ialah kondisi-kondisi kemanusiaan yang  melebihi dari apa yang sekadar diperlukan di bidang pendidikn, ilmu pengetahuan, kebajikan, pemikiran, seni, dan lan organisasi kemasyarakatan. Kebodohan, ketidakadilan dan kejahatan adalah musuh kebudayaan dan peradaban. Tingginya suatu kebudayaan ditentukan tingkat oleh kecerdasan, kepribadian dan akhlaq suatu kaum.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ladangsastra.com/humanisme-dalam-islam-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HUMANISME DALAM ISLAM (Bagian 1)</title>
		<link>http://www.ladangsastra.com/humanisme-dalam-islam-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.ladangsastra.com/humanisme-dalam-islam-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 08:36:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lia Salsabila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[humanisme]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ladangsastra.com/?p=504</guid>
		<description><![CDATA[HUMANISME DALAM ISLAM   /Abdul Hadi W. M. &#160; (Bagian I)   Pengantar   Karangan ini adalah bagian dari tiga tulisan tentang humanisme yang dikembangkan dari catatan kuliah tentang Pancasila Kefilsafatan dan Etika Politik.  Kuliah dengan pokok pembahasan Pancasila Kefilsafatan ini disampaikan  di Universitas Paramadina dan ICAS-Paramadina pada tahun 1999-2007.  Humansme adalah subyek yang diuraikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>HUMANISME DALAM ISLAM</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>/<strong>Abdul Hadi W. M.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(Bagian I)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pengantar</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Karangan ini adalah bagian dari tiga tulisan tentang humanisme yang dikembangkan dari catatan kuliah tentang Pancasila Kefilsafatan dan Etika Politik.  Kuliah dengan pokok pembahasan Pancasila Kefilsafatan ini disampaikan  di Universitas Paramadina dan ICAS-Paramadina pada tahun 1999-2007.  Humansme adalah subyek yang diuraikan secara khusus berkenaan dengan sila kedua Pancasila. Sebagai dasar ideology NKRI, Pancasila juga merupakan sumber hukum dan paradigma budaya. Ia digali dari <em>way of life </em>dan system nilai, serta <em>Weltanschauung </em>bangsa Indonesia yang multi-etnik, multi-agama, dan multi-sejarah. Dua bagian lain dari pokok bahasan ini ialah uraian tentang humanisme Barat dan humanisme Cina. Harus diakui dan tidak bias diingkari bahwa ide-ide kemanusiaan, kemasyarakatan dan kebudayaan yang berkembang dalam kehidupan bangsa Indonesia tidak lepas dari ide-ide yang berkembang dalam agama Hindu-Buddha, pengaruh kehadiran bangsa tonghwa dan ajaran agama Islam, di samping ide-ide dari peradaban Eropa.</p>
<p>Pepatah mengatakan “Tak kenal maka tak sayang.” Pepatah ini juga berlaku terhadap  Pancasila seperti digagaskan dan dipahami oleh bapak pendiri bangsa (<em>founding father)</em> Bung Karno, Bung Hatta, K.H. Agus Salim, Abdul Kahar Muzakkir, K. H. Wahid Hasyim, Muhammad Yamin dan lain-lain yang menandatangani Piagam Jakarta pada bulan Juni 1945, dua bulan sebelum Proklamasi NKRI.  Terus tinjauan ini bersifat ideal normative, sedangkan analisis empiric dan sosiologisnya memang harus dbahas di tempat lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Akar Humanisme Islam</strong></p>
<p>Di dalam Piagam Jakarta (22 Juni 1945) dinyatakan sebagai sebagai berikut:  “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.</p>
<p>Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang Negara Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur.</p>
<p>Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan didorong oleh keinginan yang luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya.”</p>
<p>Nyatalah bahwa kemanusiaan atau humanisme yang dimaksudkan dalam Piagam Jakarta/Pancasila itu adalah suatu bentuk dari humanisme religius yang dijiwai oleh ajaran agama yang dianut penduduk Indonesia. Humanisme ini bukan hanya mengacu pada nasionalisme dan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia, tetapi juga suatu bentuk humanisme yang mengandung peri-keadilan di dalamnya terhadap segenap rakyat Indonesia (lihat sila kelima Pancasila). Keadilan tidak mungkin wujud tanpa pengakuan terhadap martabat manusia dan persamaan derajat manusia di depan hukum universal.</p>
<p>Piagam Jakarta mengindikasikan bahwa martabat manusia adalah sangat mendasar dan esensial dalam membangun masyarakat madani yang menghargai hak asasi manusia. Segala hak politik, ekonomi dan sosial serta seluruh nilai-nilai demokrasi pada hakekatnya adalah untuk melindungi martabat manusia dan mengembangkan kepribadian manusia.  Seorang budak yang dirampas hak asasinya, seorang kulit berwarna yang hidup di bawah kebiadaban masyarakat <em>apartheid,</em> sekelompok masyarakat pribumi yang hidup dibawah penindasan pemerintahan kolonial baik hak-hak politik, ekonomi dan kulturalnya seperti dialami bangsa Indonesia pada masa penjajahan dahulu, seorang wanita yang menderita karena tidak mendapat perlakuan setara dengan kaum pria, atau seorang anak/sekelompok generasi muda yang dibesarkan dalam kondisi tidak sehat, miskin dan tidak menguntungkan bagi pengembangkan potensi dirinya, semua ini tidak akan bisa memperoleh martabatnya sebagaui manusia dan tidak akan pula pribadinya berkembang,</p>
<p>Untuk itu harus disusun suatu sistem nilai yang mengakui keunggulan manusia sebagai hakikat kemanusiaannya, dan martabatnya sebagai dasar sistem tersebut. Inilah yang dikandung Piagam Jakarta/Mukadimah UUD 45 beserta Pancasila yang ada di dalamnya. Ternyata apa yang disusun oleh para pendiri NKRI itu sesuai dengan Piagam PBB 1948  tentang  Hak-hak Asasi Manusia. Dalam mukadimahnya Piagam PBB menegaskan:</p>
<p>“Kami rakyat Persatuan Bangsa-bangsa memutuskan untuk menegaskan kembali keyakinan kami terhadap hak-hak asasi manusia, terhadap martabat dan kelayakan pribadi-pribadi manusia, terjadap hak-hak persamaan antara kaum wanita dan pria dan antara bangsa-bangsa, besar atau kecil”  Selanjutnya dinyatakan, “Mengingat pengakuan terhadap martabat yang padu dan hak-hak persamaan yang tidak dapat diganggu gugat dari seluruh anggota keluarga umat manusia adalah dasar kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia…” Kalimat yang sama diulang da;am mukadimah Perjanjian Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya 1966 dan Perjanjian Internasional Tentang Hak-hak Sipil dan Politik 1966.</p>
<p>Pada peringatan Tahun Hak-hak Asasi Internasional 1968 di Teheran, peserta konferensi  memaklumkan deklarasi: “Adalah wajib bagi masyarakat ionternasional untuk menunaikan kewajiban yang sungguh-sungguh menjunjung tinggi hak asasi manusia serta kebebasan dasar bagi semua orang, tanpa membeda-bedakan golongan, ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik atau lainnya…Pelanggaran besar-besaran terhadap hak asasi manusia timbul dari diskriminasi ras, agama dan kepercayaan, atau pernyataan pendapat yang melukai hati umat manusia serta membahayakan dasar-dasar kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia”.</p>
<p>Piagam Teheran juga menyebutkan bahwa <em>aparheid, rasialisme</em> dan <em>kolonialisme</em> merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Hak asasi manusia dapat direalisasikan melalu pembangunan kebijakan-kebijakan besar sehingga hak asasi ekonomi, sosial dan budaya dapat dinikmati semua orang, bahwa buta hurud adalah pengingkaran terhadap hak asasi manusia, dan komersialisasi pendidikan oleh negara merupakan penyebab dari kebodohan yang bertentangan dengan kemanusiaan.</p>
<p>Marilah kita bandingkan dengan Hadis yang berbunyi: “Wahai Tuhan, Pemelihara hidupku beserta seluruh semesta alam: Aku menegaskan bahwa sekalian manusia adalah saling bersaudara” (Sunan Abi Daud I, 1369:211). Dalam Pidato perpisahan di Padang Arafah, Nabi Muhammad s.a. w. juga menyatakan sebagai berikut:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seluruh manusia bagi Islam sama..</p>
<p>Orang Arab tidak lebih mulia dari yang lain</p>
<p>Orang Persia tidak lebih mulia dari orang Arab</p>
<p>Si Kulit Putih pun tak lebih mulia dari si Kulit Hitam</p>
<p>Tidak pula sebaliknya</p>
<p>Kecuali atas derajat <em>taqwa</em> jua,</p>
<p>Serta kebajikan terhadap sesamanya</p>
<p>…</p>
<p>Jangan beri daku darah nenekmoyangmu</p>
<p>Yang kuinginkan ialah kebajikan”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(Ahmad Imam dalam <em>Musnad</em>)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pengakuan terhadap Keesaan Tuhan secara tersirat merangkumi pengakuan terhadap adanya saling keterkaitan antara persaudaraan dan persamaan umat manusia.</p>
<p>Sebuah syair sufi Melayu karangan Hamzah Fansuri pada abad ke-16 M menyatakan:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hamzah Fansuri orang `uryani</p>
<p>Seperti Ismail jadi qurbani</p>
<p>Bukannya `Ajami lagi Arabi</p>
<p>Senantiasa washil dengan Yang Baqi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Suatu kali Ali bin Abi Thalib r.a. bertanya kepada Rasululllah tentang asas-asas yang mendasari perilaku utama dan kebajikan-kebajikan beliau, dan Rasulullah menjawab: “Ilmu pengetahuan adalah modalku, akal pikiran adalah dasar dasar agamaku, ingat kepada Allah adalah sahabatku, cemas adalah kawanku, sabar adalah bajuku, pengetahuan adalah tanganku, kepuasan adalah harta perolehanku, menolak kesenangan (yang berlebihan) adalah profesiku, keyakinan adalah makananku, kebenaran adalah saranak, taat adalah perbekalanku, <em>jihad</em> adalah kebiasaanku dan kesenangan hatiku ialah dalam mengerjakan ibadah.”</p>
<p>Dengan bertitik-tolak dari pernyataan-pernyataan yang telah dikutip tersebut, kita ingin membicarakan gagasan humanisme dalam Islam. Pertama, berkenaan dengan kedudukan dan martabat manusia di alam dunia selaku khalifah Tuhan dan hamba-Nya.; Kedua, manusia dalam pandangan para filosof Muslim sebagai <em>al-haywan al-nathiq</em> dan implikasi-implikasinya bagi kehidupan intelektual dan moral; Ketiga, hubungan gagasan humanisme dengan etika dan <em>adab.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kedudukan Manusia</strong></p>
<p>Untuk mengetahui dasar-dasar humanisme dalam Islam, kita harus berpaling kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Kitab suci al-Qur’an menegaskan, “Sungguh, telah Kujadikan manusia dalam keadaan/susunan sebaik-baiknya (<em>ahsan taqwim</em>) (Q 94:4). Demikian, dalam pandangan Islam, manusia itu merupakan makhluq yang mulia dan paling tinggi derajatnya di antara sekalian ciptaan Tuhan. Bahkan kitab suci umat Islam itu  menegaskan bahwa derajat manusia itu lebih tinggi dari malaikat, dan manusia diciptakan dengan maksud agar malaikat bersujd kepadanya dan segala yang ada di bumi berbakti kepadanya”. Al-Qur’an juga juga menyatakan bahwa manusia dicipta sebagai khalifah (wakil) Tuhan di atas bumi dan memberinya <em>amanat</em> atau tanggungjawab untuk memelihara bumi.</p>
<p>Bumi merupakan tempat terbaik bagi manusia untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi makhluq yang paling mulia. Bumi bukanlah penjara atau tempat manusia dihukum disebabkan dosa-dosa asal yang dibuatnya selama menjadi penghuni Taman Eden.  Tetapi Tuhan dapat pula menjerumuskan manusia ke dalam keadaan <em>afsal safilin</em>, keadaan yang serendah-rendahnya apabila melakukan kesalahan dan mendatangkan kerusakan di bumi yang merugikan umat manusia dan kemanusiaan. Agar manusia selamat, ia tetap berpegang pada petunjuk Tuhan (<em>wahyu</em>) dan memiliki pengetahjuan tentang dunia dan seluk beluk kehidupan tentang dirinya dan sesamanya.</p>
<p>Prinsip dasar ajaran Islam ialah keimanan atas tauhid, bahwa tidak ada yang patut disembah selain Alah. Prinsip ini tidak hanya menciptakan doktrin monotheistic Islam yang khas dan utuh, tetapi juga menjamin bahwa di dunia ini tidak ada yang lebih tinggi derajatnya dari manusia. Kedudukan istimewa yang diberikan Tuhan kepada manusia ini diterangkan dalam al-Qur’an, yakni bahwa hukum kehidupan ini  telah ditetapkan oleh Tuhan kepadanya.  Hukum itu ialah bahwa sementara Tuhan menanamkan bakat bawaan yang murni (<em>fitrah</em>) kepada manusia untuk dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, Tuhan juga memberi kebebasan bagi manusia sebagai pribadi untuk mengembangkan dan menguji fikirannya antara kedua hal itu (salah dan benar, buruk dan baik, jelek dan indah) hingga mencapai kesimpulan akhir.</p>
<p>Perbuatan dan ikhtiar manusia merupakan tanggungjawab pribadi manusia itu sendiri. Firman Allah dalam al-Qur’an: “Jika mereka mendustakan kamu (ya Muhammad), katakanlah: Aku bertanggungjawab atas apa yang aku kerjakan, dan kalian pun beranggungjawab atas apa yang kalian kerjakan, sehingga kalian tidak perlu mempertanggungjawabkan perbuatan aku dan aku pun tidak perlu mempertanggungjawabkan perbuatan kalian.”( Q 10:41)</p>
<p>Dalam ayat lain dikemukakan,  “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum, sampai mereka sendiri mau merubah dirinya” (Q 13:11). Jadi al-Qur’an dan Nabi Muhammad s.a.w. menegaskan pentingnya <em>ikhtiar</em> dan kemauan bebas (<em>freewill</em>), kebebasan berbuat serta kemandirian bagi manusia. Dalam Islam setiap individu bisa berhubungan spiritual dengan Tuhan tanpa perantara. Kedudukan manusia begitu tingginya dalam Islam.</p>
<p>Hendaklah dicatat di sini bahwa ayat yang telah dikutip, khususnya berkenaan dengan kata-kata ‘diri’ dihubungkan dengan ‘keadaan’ atau ‘dunia’ di dalam diri manusia, jadi bersifat spiritual atau diri spiritual manusia. Nurcholis Madjid menerjemahkan dunia dalam diri manusia itu sebagai ‘pemikirannya’ (tentang segala sesuatu), sedangkan Kuntowijoyo memperluasnya dengan pemahaman lain. Mengubah diri adalah juga mengubah pandangan dunia (<em>weltanschauung</em>) , orientasinya pada nilai-nilai dan cara-cara memahami ajaran agama serta cara-cara mengaktualisasikannya dalam kehidupan pribadi dan sosial. Iqbal, sebelumnya, mengatakan bahwa yang dirubah mestinya bukan sekadar pemikiran, sistem nilai dan pandangan dunia, tetapi juga cita-cita, kehendak dan pemahamahan terhadap  diri kulturalnya. Jadi yang dirubah bukan hanya alam pemikirannya, tetapi juga kkondisi-kondisi sosial politik, ekonomi dan budayanya.</p>
<p>Perubahan itu tertuju pada kemajuan dan dalam Islam yang disebut kemajuan ialah “Kembali kepada asas-asas ajaran Islam yang sejati dan benar”, sebab kemajuan ke arah yang bersifat material semata-mata bukanlah tujuan bagi Islam melainkan semata-mata sebagai ‘kendaraan’ atau ‘sarana’ untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi lagi.</p>
<p>Kini kita kembali pada persoalan kedudukan dan martabat manusia. Para filosof Muslim seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Tufayl, al-Ghazali dan lain-lain, dalam rangka menyelaraskan falsafah Yunani yang mereka pelajari dengan ajaran Islam, telah berusaha merubah pemahaman para filosof Yunani mengenai manusia dengan memberinya dimensi-dimensi spiritual yang lebih luas dan mendasar. Ini tampak dalam perkataan <em>al-hayawan al-nathiq</em><em>ا</em><em> </em>[user1]  sebuah kata-kata Arab yang diterjemahkan dari perkataan Yunani <em>animal rational. </em>Di sini manusia diberi definisi formal sebagai ‘animal rational’ atau ‘binatang yang berpikir”.</p>
<p>Definisi ini sekurang-kurangnya mengandung gagasan tentang arti ‘rasional’ sebagaimana dipahami secara umum, yaitu ‘nalar. Dalam sejarah intelektual di Barat konsep tentanng ‘rasio’ telah mengalami perubahan sedemikian rupa dalam perkembangannya, bahkan menjadi penuh dengan kontroversi dan problematic. Seacara bertahap ia dipisahkan dari ‘intelek’ (<em>intelectus</em>), kemampuan tertinggi manusia untuk membedakan yang salah dan benar, serta untuk mengenal kebenaran tertinggi. Para filosof Muslim tidak memahami rasio sebagai terpisah dari apa yang disebut <em>intellectus</em> atau <em>al-`aql.</em> Bagi mereka <em>`aql </em>merupakan kesatuan organic dari rasio dan intelectus (al-Attas 1980:37). Dengan cara demikianlah filosof Muslim mendefinisikan manusia sebagai <em>al-hayawan al-nathiq.</em> Di sini kata <em>al-nathiq</em> menunjuk pada fakulti bati manusia berkenaan dengan nalar atau kemampuan berfikir secara rasional dan intelektual, yaitu ‘merumuskan makna-makna’ (<em>dzu-nuthuq</em>).</p>
<p>Akar kata <em>nathiq </em>dan <em>nuthuq</em> mempunyai makna dasar ‘pembicaraan’, yaitu ‘pembicaraan manusia’. Setelah dibentuk menjadi kata-kata <em>nathiq</em> dan <em>nuthq</em> maka ia berarti sebagai kekuatan, atau kesanggupan dan kemampuan tertentu dalam diri manusia untuk ‘menyampaikan kata-kata dalam sebuah pola yang bermakna’. Kepada pengertian inilah apa yang diucapkan Nabi Muhammad s.a.w. kepada Ali bin Abi Thalib r.a. dapat kita rujuk,</p>
<p>Dari apa yang telah dikemukakan kata-kata <em>al-hayawan al-nathiq </em>itu dapat diartikan sebagai ‘binatang berbahasa’ sebab bahasa merupakan hasil pemikiran manusia dan berbahasa dengan baik hanya mungkin dapat dicapai dengan kecerdasan berpikir. Berbahasa berarti menyampaikan simbol-simbol linguistik ke dalam suatu pola bermakna. Penyampaian itu hanya dapat dimengerti dengan sarana kerohanian yang tertinggi yang disebut <em>`aql. </em>Menurut Muhmmad Naquib al-Attas, kata <em>`aql </em>itu sendiri pada sasrnya bermakna sejenis ‘ikatan’ atau ‘simpul’, sehingga ia bisa diberi arti sebagai ‘atribut batin manusia yang mengikat dan menyimpulkan obyek-obyek ilmu dengan menggunakan sarana kata-kata’. Ingatlah bahwa al-Qur’an juga mengatakan bahwa hanya Adam (manusia) yang dikaruniai ‘pengetahuan tentang nama-nama’ oleh Allah. Dan pengetahuan tentang nama-nama itu tidak adalah pemahaman atau pengetahuan tentang obyek-obyek menyangkut perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaannya, cirri-ciri atau sifat-sifat khususnya, keadaan dan bentuknya, serta tempatnya dalam tatanan wujud metafisis dan fisis kehidupan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ladangsastra.com/humanisme-dalam-islam-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lomba dan Pameran Foto Kebudayaan Indonesia 2011</title>
		<link>http://www.ladangsastra.com/lomba-dan-pameran-foto-kebudayaan-indonesia-2011/</link>
		<comments>http://www.ladangsastra.com/lomba-dan-pameran-foto-kebudayaan-indonesia-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 00:13:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lia Salsabila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[lomba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ladangsastra.com/?p=487</guid>
		<description><![CDATA[kawan..bagi yang berminat mengikuti lomba Lomba dan Pameran Foto Kebudayaan Indonesia 2011 dengan memperebutkan piala presiden dan uang ratusan juta rupiah..lihat info selelngkapnya: http://www.situseni.com/tanding/lomba/1477-lomba-dan-pameran-foto-kebudayaan-indonesia-2011 Hadiah 1. Pelajar mendapatkan hadiah: - Juara I : Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp 10.000.000 - Juara II : Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp 5.000.000 - Juara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>kawan..bagi yang berminat mengikuti lomba Lomba dan Pameran Foto  Kebudayaan Indonesia 2011 dengan memperebutkan piala presiden dan uang  ratusan juta rupiah..lihat info selelngkapnya: <a rel="nofollow" href="http://www.situseni.com/tanding/lomba/1477-lomba-dan-pameran-foto-kebudayaan-indonesia-2011" target="_blank">http://www.situseni.com/tanding/lomba/1477-lomba-dan-pameran-foto-kebudayaan-indonesia-2011</a></p>
<p>Hadiah</p>
<p>1. Pelajar mendapatkan hadiah:<br />
- Juara I : Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp 10.000.000<br />
- Juara II : Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp 5.000.000<br />
- Juara III : Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp 4.000.000<br />
- Harapan I : Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp 3.000.000<br />
- Harapan II : Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp 2.000.000</p>
<p>2. Mahasiswa mendapatkan hadiah:<br />
- Juara I : Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp 15.000.000<br />
- Juara II : Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp 8.000.000<br />
- Juara III : Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp 6.000.000<br />
- Harapan I : Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp 4.000.000<br />
- Harapan II : Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp 2.000.000</p>
<p>3. Umum mendapatkan hadiah:<br />
- Juara I : Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp 20.000.000<br />
- Juara II : Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp 10.000.000<br />
- Juara III : Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp 7.500.000<br />
- Harapan I : Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp 5.000.000<br />
- Harapan II : Piala Presiden, piagam dan uang sebesar Rp 3.000.000</p>
<p>Kriteria Penilaian</p>
<p>- Kesesuaian Tema (isi foto)<br />
- Daya tarik<br />
- Keunikan<br />
- Harmonisasi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ladangsastra.com/lomba-dan-pameran-foto-kebudayaan-indonesia-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuseduh Rindu</title>
		<link>http://www.ladangsastra.com/kuseduh-rindu/</link>
		<comments>http://www.ladangsastra.com/kuseduh-rindu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 04:39:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lia Salsabila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[kuseduh rindu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ladangsastra.com/?p=478</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Lia Salsabila Kuseduh rindu di temaram rembulan Reguklah Biarkan kunangkunang dan gemintang luruh di rahim jiwamu Aku akan datang menyulam hingga fajar Dan malam tak akan diam karena benang tlah kupintal Juni 2011]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Lia Salsabila</p>
<p>Kuseduh rindu</p>
<p>di temaram rembulan</p>
<p>Reguklah</p>
<p>Biarkan kunangkunang dan gemintang</p>
<p>luruh di rahim jiwamu</p>
<p>Aku akan datang</p>
<p>menyulam hingga fajar</p>
<p>Dan malam tak akan diam</p>
<p>karena benang tlah kupintal</p>
<p>Juni 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ladangsastra.com/kuseduh-rindu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teknik Budidaya Tembakau</title>
		<link>http://www.ladangsastra.com/teknik-budidaya-tembakau/</link>
		<comments>http://www.ladangsastra.com/teknik-budidaya-tembakau/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Apr 2011 08:10:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lia Salsabila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[Nicotin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ladangsastra.com/?p=475</guid>
		<description><![CDATA[TEKNIK BUDIDAYA TEMBAKAU (Nicotiana tobacum L) Penanaman dan penggunaan tembakau di Indonesia sudah dikenal sejak lama. Komoditi tembakau mempunyai arti yang cukup penting, tidak hanya sebagai sumber pendapatan bagi para petani, tetapi juga bagi Negara. Tanaman Tembakau merupakan tanaman semusim, tetapi di dunia pertanian termasuk dalam golongan tanaman perkebunan dan tidak termasuk golongan tanaman pangan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>TEKNIK BUDIDAYA TEMBAKAU (<em>Nicotiana tobacum L</em>)</strong></p>
<p>Penanaman dan penggunaan tembakau di  Indonesia sudah dikenal sejak lama. Komoditi tembakau mempunyai arti  yang cukup penting, tidak hanya sebagai sumber pendapatan bagi para  petani, tetapi juga bagi Negara.</p>
<p>Tanaman Tembakau merupakan tanaman  semusim, tetapi di dunia pertanian termasuk dalam golongan tanaman  perkebunan dan tidak  termasuk golongan tanaman pangan. Tembakau yang digunakan adalah daunnya,  sebagai bahan pembuatan rokok. Usaha Pertanian  tembakau merupakan usaha padat karya.</p>
<p>Luas areal perkebunan  tembakau di Indonesia, diperkirakan hanya sekitar 207.020 hektar,  namun  jika dibandingkan dengan penanaman tanaman padi,  penanaman tanaman tembakau memerlukan  tenaga kerja hampir tiga kali lipat. Untuk mendapatkan produksi tembakau dengan mutu yang baik, banyak faktor yang harus diperhatikan yaitu tanah, iklim, pemupukan dan cara panen.</p>
<p>Tanaman tembakau umumnya dibudidayakan karena memiliki arti ekonomi penting. Spesies yang sering dibudidayakan adalah Nicotiana tobacum dan Nicotiana rustika.</p>
<p><em>Nicotiana tobacum</em> memiliki ciri-ciri : daun mahkota  bunganya memiliki warna merah muda sampai merah, mahkota bunga  berbentuk terompet panjang, habitusnya piramidal, daunnya berbentuk  lonjong dan pada ujung runcing, kedudukan daun pada batang tegak,  tingginya 1,2 m.</p>
<p><em>Nicotiana rustika</em> memiliki ciri-ciri : daun mahkota bunganya berwarna  kuning, bentuk mahkota bunga seperti terompet berukuran pendek dan  sedikit bergelombang, habitusnya silindris, bentuk daun bulat yang pada  ujungnya tumpul, kedudukan daun pada batang agak terkulai.</p>
<p>Sistematika tanaman tembakau</p>
<p>Klass                : Dicotyledonaea<br />
Ordo                : Personatae<br />
Famili              : Solanaceae<br />
Sub Famili      : Nicotianae<br />
Genus              : Nicotianae<br />
Spesies           :Nicotiana tabacum L.</p>
<p><strong>Akar</strong><br />
Tanaman tembakau merupakan tanaman berakar tunggang yang tumbuh tegak ke pusat bumi. Akar  tunggangnya dapat menembus tanah hingga kedalaman 50- 75 cm, sedangkan akar  serabutnya menyebar ke samping. Selain itu, tanaman tembakau juga  memiliki bulu-bulu akar. perakaran akan berkembang baik jika tanahnya  gembur, mudah menyerap air,dan subur.</p>
<p><strong>Batang</strong><br />
Tanaman Tembakau memiliki bentuk batang agak bulat, agak lunak tetapi kuat, makin ke ujung, makin kecil. Ruas-ruas batang mengalami penebalan yang ditumbuhi daun, batang tanaman  bercabang atau sedikit bercabang. Pada setiap ruas batang selain  ditumbuhi daun, juga ditumbuhi tunas ketiak daun, diameter batang  sekitar 5 cm.</p>
<p><strong>Daun</strong><br />
Daun tanaman tembakau berbentuk bulat lonjong (oval) atau bulat, tergantung pada varietasnya. Daun yang berbentuk bulat lonjong ujungnya meruncing, sedangkan yang berbentuk  bulat, ujungnya tumpul. Daun memiliki tulang-tulang menyirip, bagian  tepi daun agak bergelombang dan licin. Lapisan atas daun terdiri atas  lapisan <em>palisade parenchyma</em> dan s<em>pongy parenchyma </em>pada bagian bawah.  Jumlah daun dalam satu tanaman sekitar 28- 32 helai</p>
<p><strong>SYARAT TUMBUH</strong></p>
<p><strong>Iklim</strong><br />
Tanaman tembakau pada umumnya tidak menghendaki iklim yang kering ataupun iklim yang  sangat basah. Angin kencang yang sering melanda lokasi tanaman tembakau  dapat merusak tanaman (tanaman roboh) dan juga berpengaruh terhadap  mengering dan mengerasnya tanah yang dapat menyebabkan berkurangnya  kandungan oksigen di dalam tanah. Untuk tanaman tembakau dataran rendah, curah hujan rata-rata 2.000 mm/tahun,<br />
sedangkan untuk tembakau dataran tinggi, curah hujan ratarata 1.500-3.500 mm/tahun. Penyinaran  cahaya matahari yang kurang dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman  kurang baik sehingga produktivitasnya rendah. Oleh karena itu lokasi  untuk tanaman tembakau sebaiknya dipilih di tempat terbuka dan waktu  tanam disesuaikan dengan jenisnya. Suhu udara yang cocok untuk pertumbuhan tanaman tembakau berkisar antara 21-32,30 C.<br />
Tanaman  tembakau dapat tumbuh pada dataran rendah ataupun di dataran tinggi  bergantung pada varietasnya. Ketinggian tempat yang paling cocok untuk  pertumbuhan tanaman tembakau adalah 0 &#8211; 900 mdpl.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ladangsastra.com/teknik-budidaya-tembakau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Angela dan Petualangan Kecilnya</title>
		<link>http://www.ladangsastra.com/angela-dan-petualangan-kecilnya/</link>
		<comments>http://www.ladangsastra.com/angela-dan-petualangan-kecilnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Apr 2011 00:58:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lia Salsabila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Angela]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ladangsastra.com/?p=464</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Sayuri Yosiana Angela berlari-lari kecil menyusuri jalan setapak di sepanjang lorong kota tua di sudut kota Marbella yang cantik. Pipinya bersemu merah, kedua tangannya penuh dengan bunga-bunga liar yang dipetiknya di kaki bukit Kupu-Kupu, sebutan para warga kota untuk bukit kecil di sebelah utara. Matanya berkejap-kejap menahan pancaran mentari di pagi hari yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="../wp-content/uploads/2011/04/6580_1131547062482_1641434560_320995_5407247_a.jpg"><img title="6580_1131547062482_1641434560_320995_5407247_a" src="../wp-content/uploads/2011/04/6580_1131547062482_1641434560_320995_5407247_a.jpg" alt="" width="180" height="181" /></a></p>
<p><strong>Oleh : Sayuri Yosiana</strong></p>
<p>Angela berlari-lari kecil menyusuri jalan setapak di sepanjang lorong  kota tua di sudut kota Marbella yang cantik. Pipinya bersemu merah,  kedua tangannya penuh dengan bunga-bunga liar yang dipetiknya di kaki  bukit Kupu-Kupu, sebutan para warga kota untuk bukit kecil di sebelah  utara. Matanya berkejap-kejap menahan pancaran mentari di pagi hari yang  cerah itu.</p>
<p>Tiba-tiba, &#8220;aduh !&#8221; Angela menjerit kecil.</p>
<p>Kakinya  terantuk batu-batu kerikil yang bertebaran di sudut lorong yang mulai  melebar. Angela meringis. Bunganya berserakan di jalan, dan lututnya  agak memar. Seorang kakek menghampirinya sambil menggunakan tongkat.</p>
<p>“Mengapa kau, Nak? Sakitkah? Coba kakek lihat apakah ada yang terluka.”</p>
<p>Sang  kakek membantu Angela berdiri, wajah gadis cilik itu hampir menangis.  Namun dia membiarkan si kakek yang baik hati itu menolongnya. Biasanya  Angela tak suka ada orang asing yang memegangnya. Dia terkenal pendiam  dan pemalu di lingkungannya.</p>
<p>Sang kakek tersenyum lega. Di  usap-usapnya kepala Angela sambil berkata, “Tak ada luka serius, Nak.  Hanya lututmu yang harus diobati sedikit. Agaknya kau hanya kaget tadi.  Mengapa berlari begitu cepat? Tak lihatkah banyak batu-batu yang  berserakan di sepanjang jalan ini?”</p>
<p>Angela hanya  menggelengkan kepala sambil memunguti bunga-bunga liarnya. Ah,  bunga-bunga ini tak apa-apa kok, batinnya sedikit lega.</p>
<p>Setelah  terkumpul semua bunga yang dipetiknya di bukit Kupu-Kupu tadi, dia  menganggukkan kepalanya ke arah di kakek yang masih berdiri di dekatnya.  Angela tak lupa mengucapkan terima kasih sambil tersenyum tipis.</p>
<p>Sang  Kakek tertawa. “Nah, sebaiknya kau berjalan saja kalau rumahmu sudah  tak jauh dari sini, Nak. Di manakah rumahmu? Sepertinya aku belum pernah  melihatmu di lingkungan ini.”</p>
<p>Angela menatap Kakek yang baru dikenalnya, sebelum akhirnya menjawab.</p>
<p>“Aku  baru tiba di sini seminggu yang lalu, Kek,” jawab Angela malu-malu.  “Aku menengok Tante Michelle yang baru melahirkan anaknya. Namanya  Jessica. Kan sekolahku sedang libur.”</p>
<p>Kakek mengangguk-angguk.</p>
<p>“Oh,  begitu ya. Jadi nanti kau akan melihat juga festival bunga di kota ini  bukan? Pasti kau akan senang berlibur di kotaku ini. Ini kota kuno Nak,  sudah berabad-abad. Mungkin sudah ratusan atau ribuan tahun berdirinya.  Pernahkah kau dengar tentang zaman romawi, Nak?” tatap Kakek dengan  senyum penuh kebanggaan.</p>
<p>Angela menganggukkan kepala. Kakek melanjutkan ceritanya.</p>
<p>“Nah,  sejak zaman romawi itulah kota kecil kuno yang indah ini telah berdiri.  Tentu saja kita semua belum ada waktu itu hehe. Kota ini pernah  mengalami peperangan. Diperintah oleh raja dan ratu silih berganti.  Banyak kesenian rakyat yang berkembang dari masa lalu yang tetap di  abadikan di kota ini sampai sekarang,” jelas si Kakek.</p>
<p>Angela  terpaku mendengarkan cerita Kakek. Ia senang akan cerita sejarah.  Bahkan buku-buku sejarah milik kakaknya pun sudah dibacanya, meski ia  belum memahami isinya. Usianya 12 tahun, namun minatnya amat banyak.  Angela senang bermain piano, suaranya indah kalau bernyanyi.</p>
<p>Angela  juga senang memelihara hewan seperti kucing, kelinci, dan kuda-kuda. Ia  punya seekor kuda poni yang mungil namun tangkas kalau berlari. Namanya   Jules. Angela pun punya seekor anjing pudel yang lucu dan suka tidur  di bawah tempat tidur, di kamarnya yang mungil, di rumahnya yang  terletak di ibukota.</p>
<p>“Kau belum mau pulang, Nak?” tanya Kakek membuyarkan lamunan Angela.</p>
<p>Angela tersenyum, “Makasih Kek ceritanya. Aku mau pergi lagi. Rumah Tante Michelle sudah agak dekat kok.”</p>
<p>Si  Kakek menyipitkan matanya menatap Angela. Karena matahari pagi itu  terlalu bersinar. “Nak, mengapa kau berjalan-jalan sendirian? Apakah  kamu sudah minta izin?”</p>
<p>Angela memerah mukanya, menunduk sedikit. Sang kakek memandangnya agak cemas.</p>
<p>Kakek  menghela napas dengan berat. “Baiklah, lain kali kau harus minta  diantar salah satu keluargamu kalau mau jalan –jalan di kota ini ya,  Nak?”</p>
<p>Angela mengangguk pelan, lalu pamit pada sang kakek  sambil berjalan ke arah selatan seraya membawa bunga-bunga liarnya. Sang  kakek yang baik hati itu masih menatapnya sampai menghilang di kelokan  lorong jalan.</p>
<p>Angela berjalan sambil melihat lihat sisi  sepanjang lorong kota yang berkelok-kelok itu. Banyak penduduk kota  berjualan aneka kerajinan, seperti manik-manik yang membuat mata Angela  berbinar- binar melihatnya. Dia teringat kalung manik manik pemberian  almaruh ayahnya di ulang tahunnya yang ke sepuluh. Sampai sekarang  kalung manik-manik itu masih tersimpan rapi di laci kamarnya. Jarang  dipakai kecuali bila ada acara-acara keluarga. Angela tak ingin  kehilangan kalung indah pemberian ayahnya tersebut.</p>
<p>Pandangannya  berpindah ke sisi sebelah kirinya. Ada penjual es krim. Kerongkongannya  terasa haus. Ia berhenti sebentar untuk membeli sebatang es krim rasa  vanila yang dingin menyegarkan.</p>
<p>Sepanjang jalan lorong itu  Angela menikmati pemandangan kehidupan penduduk kota yang serba sibuk.  Kota ini cantik, jalannya berbatu-batu, penuh batu granit yang sangat  kokoh. Kupu-kupu berterbangan, hingga wajar kalau kota ini dijuluki Kota  Kupu-Kupu. Namun tak banyak pohon-pohon tumbuh karena kota ini sempit.  Pohon-pohon hanya ada di sisi luar kota seperti di dekat bukit  Kupu-Kupu.</p>
<p>Meskipun tidak ada pepohonan, di rumah maupun  di kedai makan, banyak bunga geranium yang ditanam di pot dekat jendela.  Indah berwarna-warni. Sehingga dari kejauhan, jendela kota Marbella  penuh bunga aneka warna yang berjejer di seantero jalan.</p>
<p>Seorang gadis kecil kumal tiba-tiba menghalangi jalan Angela. Dia menatap Angela dengan pandangan ingin tahu.</p>
<p>“Kamu anak yang kabur itu ya?” tanyanya sambil menatap Angela dengan seksama.</p>
<p>Angela terkejut.</p>
<p>“Ya  ya pasti kamu. Tadi ada dua orang yang bertanya padaku tentang anak  kecil seusiaku yang pergi dari rumah tak bilang-bilang. Pasti kamu ya?”</p>
<p>Angela  melongo. Dia merasa bersalah. Benar kata si kakek yang menolongnya  tadi. Keluarganya pasti cemas dan mencarinya ke mana-mana. Karena dia  memang menyelinap lewat pintu samping saat keluarganya sedang sibuk  menyiapkan sarapan. Angela yang sejak dua hari lalu datang, sudah tak  sabar ingin berjalan-jalan di seputar kota. Namun ibunya melarang ia  pergi, bahkan sekedar bermain di seputar pekarang rumah Tantenya pun  tidak boleh.</p>
<p>Sejak ayahnya meninggal, ibunya sangat ketat  menjaga dirinya. Kecuali ke sekolah, Angela tak bisa lagi leluasa  bermain jauh-jauh kecuali di lingkungan sekitar rumahnya.</p>
<p>Angela  sangat suka berjalan-jalan. Meski pendiam dan pemalu, Angela termasuk  anak yang cukup nekad. Ia berani memanjat pohon, dan membuat Ibunya  cemas. Ia juga pandai bersalto di halaman rumahnya. Satu hal yang juga  disukainya adalah mendampingi ayahnya, seorang pianis, untuk konser di  mana-mana, termasuk memenuhi undangan ratu Negeri tetangga sebelah. Ada  fotonya, lho! Ah, Angela selalu merindukan suasana dulu di saat ayahnya  yang humoris itu masih ada.</p>
<p>Angela menyukai dunia  petualangan yang dikenalkan Ayahnya. Betapa ia sedih karena kehilangan  ayahnya. Ia merindukan dongeng-dongeng ayahnya, yang tidak mungkin  didapatkannya dari ibunya yang hobi memasak, menyulam, dan berdandan.</p>
<p>Sosok  gadis cilik kumal itu mengingatkan Angela pada sosok teman rahasianya  di ibukota. Seorang anak pengemis yang hidup di jalan-jalan ibukota.  Angela mengenalnya saat dia sedang belajar berkuda di tengah kota. Anak  itu mencuri dompet mungilnya yang lucu dan warna warni. Angela tak marah  saat anak itu akhirnya tertangkap. Ia merelakan dompetnya, dan bahkan  memberi anak itu roti dan air minum. Entah mengapa Angela yang pemalu  itu ternyata bisa juga berteman dengan anak lain tanpa canggung seperti  yang dialaminya selama ini.</p>
<p>Mungkin karena dia ingin tahu  lebih banyak tentang anak yang aneh itu, atau karena merasa tertarik  dengan kehidupannya yang bebas, tidak seperti dirinya yang penuh aturan.</p>
<p>Sejak  saat itu, keduanya berteman baik. Mereka suka bertemu secara rahasia di  taman kota. Angela bertualang dengan teman barunya ke daerah kota yang  kumuh. Hal ini tidak membuatnya risih, malah Angela merasa bebas  merdeka. Sayang sekali seekor kuda hitam penarik kereta telah mengakhiri  hidup teman Angela yang singkat. Angela tidak akan pernah melihatnya  lagi.</p>
<p>Baginya itu tragedi kedua yang dialaminya,  kehilangan orang yang mampu membuatnya tertawa gembira. Sang ayah dan  sang teman. Diam-diam Angela kehilangan gadis pengemis itu, melebihi  kehilangan akan kebebasan dirinya. Ia sering mendoakan sahabatnya,  meminta Tuhan menyampaikan salamnya. Setelah itu, barulah Angela merasa  lega, dan bisa tertidur dengan senyum.</p>
<p>Kini, seakan waktu  bergulir ke masa lalu, tiba-tiba saja gadis pengemis itu sekan menjelma  kembali di hadapannya. Keduanya tentu berbeda secara fisik. Gadis ini  keturunan gipsi. Warga kota suka mengusir kaum gipsi karena dianggap  pengganggu ketentraman kota. Anehnya, mereka sering pula dipanggil untuk  menghibur masyarakat dalam acara-acara festival kota. Dan kaum gipsi  biasanya suka menari, bersalto, akrobatik, atau sulap.</p>
<p>Angela  tersenyum pada gadis cilik yang masih menatapnya tersebut. Rambut  ikalnya tertutup bandana lebar yang warna warni. Pakaiannya tak jelas  lagi warnanya. Matanya hitam kelam dengan bulu mata yang panjang dan  lentik. Gadis ini manis sekali. Angela membandingkannya dengan dirinya  yang berkulit putih kecokelatan, dengan rambut cokelat tua dari garis  keturunan Eropa Selatan.</p>
<p>“Aku bilang kalau aku tidak kenal dirimu. Kamu pasti anak baru ya di sini?” tanya anak gipsi itu dengan nyaring</p>
<p>Angela mengangguk. Gadis itu mengajak Angela duduk.</p>
<p>“Kenapa sih kamu pergi dari rumah? Kamu dimarahi ibumu ya?” tanyanya.</p>
<p>“Tidak.  Hanya ingin jalan-jalan. Aku selalu dilarang pergi jauh. Ibuku memang  begitu,” sahut Angela kesal. Tanpa disadari Angela terus berceloteh.</p>
<p>Gadis  itu mendengarkan curahan hati Angela tanpa menyela. Angela merasa  nyaman didengarkan. Selesai bercerita, Angela menyodorkan sebatang  permen berbentuk panjang. Gadis gipsi itu sumringah kegirangan. Mereka  makan permen dan minum es krim. Berjam-jam dihabiskan mereka untuk  mengobrol. Angela lupa kalau ia harus pulang. Ia terlalu sibuk menyusuri  jalan kota yang berlorong-lorong dengan teman barunya.</p>
<p>Menjelang  siang, gadis gipsi mengingatkan Angela untuk pulang. Tiba-tiba saja  seorang polisi berbadan besar datang dan menangkap tangan Angela.</p>
<p>“Hei, kamu Angela ya?” tanya Polisi.</p>
<p>Tiba-tiba dari balik kerumunan, dua orang dewasa menerobos dan menghambur ke pelukan Angela.</p>
<p>“Ke mana saja kau, Angela? Ibunya menangis terus mencarimu. Kenapa pergi tak bilang-bilang?” tanya yang wanita cemas.</p>
<p>Sementara itu sang pemuda berbicara pada polisi. Oh, keduanya adalah kakak sepupu Angela.</p>
<p>Setelah  menceritakan alasan kepergiannya, Angela diajak pulang. Sebelum pergi,  ia ingin menyalami teman barunya. Namun tangannya ditarik oleh kakak  sepupunya.</p>
<p>“Jangan sentuh anak gipsi itu. Mereka suka mencuri roti,” dengus kakak sepupunya.</p>
<p>Anak  gipsi itu memerah mukanya, dan segera berlari menjauh. Angela merasa  sedih. Dalam hatinya ia berjanji untuk mencari teman barunya kembali  untuk minta maaf.</p>
<p>Sampai kepulangannya, Angela tidak  pernah bertemu gadis gipsi itu lagi. Ia sudah berkeliling kota untuk  mencarinya. Katanya orang gipsi sudah diusir keluar kota karena tentara  Jerman telah memasuki kota. Angela tidak ingin larut dalam kesedihannya.  Ia percaya bisa menemui teman barunya kembali suatu saat nanti. Namun  tiba-tiba ia terkejut.</p>
<p>“Oh, aku tak pernah menanyakan namanya? Bagaimana aku bisa mencarinya kelak?” sesal Angela.</p>
<p>Angela  diam kesal pada kecerobohannya sendiri. Ternyata ia telah melupakan  sesuatu yang penting, meski kelihatannya sepele. Sebuah nama!</p>
<p>Catatan:</p>
<p>Ini  adalah salah satu karya  selama mengikuti kelas &#8220;Menulis Cerita Anak&#8221;  di Sekolah Online Visikata dengan mentoring oleh Glory Gracia  Christabelle.</p>
<p>Karya ini telah dimuat di Jurnal Perempuan Edisi Januari 2010)</p>
<p>Pic  diambil dr internet, dari kisah Heidi cerita anak anak favoritku sejak  kecil. Ini adalah salah satu cuplikan gambarnya yg diangkat disalah satu  film nya. Kisah Heidi yg menginspirasiku utkmengikuti kelas menulis  cerita anak di visikata.com</p>
<p>30 Juli 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ladangsastra.com/angela-dan-petualangan-kecilnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AKU BERTANYA PADA PUISI</title>
		<link>http://www.ladangsastra.com/aku-bertanya-pada-puisi/</link>
		<comments>http://www.ladangsastra.com/aku-bertanya-pada-puisi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 11:48:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lia Salsabila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ladangsastra.com/?p=460</guid>
		<description><![CDATA[/indra nara persada/ AKU BERTANYA PADA PUISI Berenang di perutmu ketipak ladam memanggil-manggilku Bayangan berlalu. Satu-satu kupetik buah dadamu Setelah sepi masihkah ada hati? Mengapung di jantungmu genta pedati mengimbau-imbauku Sipongang berlalu. Satu-satu kurangkai tulang rusukmu Setelah ruh masihkah ada tubuh? Melantun di rimbun rimbamu sayatan bansi mengiris-irisku Sikumambang berlalu. Satu-satu kubuhul bulu rambutmu Setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>/indra nara persada/</p>
<p><strong>AKU BERTANYA PADA PUISI</strong></p>
<p>Berenang di perutmu ketipak ladam memanggil-manggilku<br />
Bayangan berlalu. Satu-satu kupetik buah dadamu<br />
Setelah sepi masihkah ada hati?</p>
<p>Mengapung di jantungmu genta pedati mengimbau-imbauku<br />
Sipongang berlalu. Satu-satu kurangkai tulang rusukmu<br />
Setelah ruh masihkah ada tubuh?</p>
<p>Melantun di rimbun rimbamu sayatan bansi mengiris-irisku<br />
Sikumambang berlalu. Satu-satu kubuhul bulu rambutmu<br />
Setelah makna masihkah ada luka?</p>
<p>2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ladangsastra.com/aku-bertanya-pada-puisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HAIKU DANAU</title>
		<link>http://www.ladangsastra.com/haiku-danau/</link>
		<comments>http://www.ladangsastra.com/haiku-danau/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 11:23:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lia Salsabila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ladangsastra.com/?p=456</guid>
		<description><![CDATA[/indra nara persada/ HAIKU DANAU matamu danau tempat pepohon tumbuh membatang tubuh dadamu danau tempat ikan berenang menjala kenang lembahmu danau tempat elang istirah melerai lelah . 2010]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>/indra nara persada/</p>
<p><strong>HAIKU DANAU</strong></p>
<p>matamu danau<br />
tempat pepohon tumbuh<br />
membatang tubuh</p>
<p>dadamu danau<br />
tempat ikan berenang<br />
menjala kenang</p>
<p>lembahmu danau<br />
tempat elang istirah<br />
melerai lelah</p>
<p>. 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ladangsastra.com/haiku-danau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>rinduku</title>
		<link>http://www.ladangsastra.com/rinduku/</link>
		<comments>http://www.ladangsastra.com/rinduku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 08:44:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lia Salsabila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ladangsastra.com/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[rinduku tak terbasuh meski hujan tak henti mengguyur tubuh, aroma tubuhmu menyayat jantung juga jiwaku melukai setiap nadi hingga darah tumpah meruah kesegala arah. kau di mana&#8230;..???? hanya terdiam di ujung entah yang tak kutau namanya. tak sampaikah pesan rindu yang kutitip pada angin. bukankah derunya tak henti menyapu seluruh penjuru jagat raya. itulah kau&#8230;. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>rinduku</p>
<p>tak terbasuh meski hujan tak henti mengguyur tubuh, aroma tubuhmu menyayat jantung juga jiwaku melukai setiap nadi hingga darah tumpah meruah kesegala arah.</p>
<p>kau di mana&#8230;..????</p>
<p>hanya terdiam di ujung entah yang tak kutau namanya. tak sampaikah pesan rindu yang kutitip pada angin. bukankah derunya tak henti menyapu seluruh penjuru jagat raya.</p>
<p>itulah kau&#8230;.</p>
<p>yang hanya bisa menanam benih cinta tanpa mau menyirami bahkan menuai hasil panennya. pengecut bukan hal yang pantas kusebutkan untukmu karena bukan juga maumu kau memperlakukanku tak menentu.</p>
<p>apapun adanya dirimu, rindu di rahim jiwaku tak pernah bisa lahir dan pecah berkeping</p>
<p>tepi jiwa</p>
<p>6 april 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ladangsastra.com/rinduku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Yang Gaptek hehehehe</title>
		<link>http://www.ladangsastra.com/aku-yang-gaptek-hehehehe/</link>
		<comments>http://www.ladangsastra.com/aku-yang-gaptek-hehehehe/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 01:11:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lia Salsabila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Gaptek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ladangsastra.com/?p=448</guid>
		<description><![CDATA[pagi diaryku&#8230;.. nyenyak ga&#8217; tidurmu semalam&#8230;pastinya donk&#8230;kan ga&#8217; aku gangguin hehehhehe&#8230;. kalau aku sih ga bisa nyenyak&#8230;banyak penyebabnya pertama, gara-gara batuk yang belum sembuh-sembuh kedua, boboknya kemaleman gara-gara masih jilid proposal ketiga, ni yang paling parah, gara-gara jengkel n frustasi mikirin catridge epsonku yang bocor karena sembarangan kutusuk &#8220;maklum GAPTEK&#8221; ceritanya gini : tinta hitam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>pagi diaryku&#8230;..</p>
<p>nyenyak ga&#8217; tidurmu semalam&#8230;pastinya donk&#8230;kan ga&#8217; aku gangguin hehehhehe&#8230;.</p>
<p>kalau aku sih ga bisa nyenyak&#8230;banyak penyebabnya</p>
<p>pertama, gara-gara batuk yang belum sembuh-sembuh</p>
<p>kedua, boboknya kemaleman gara-gara masih jilid proposal</p>
<p>ketiga, ni yang paling parah, gara-gara jengkel n frustasi mikirin catridge epsonku yang bocor karena sembarangan kutusuk &#8220;maklum GAPTEK&#8221;</p>
<p>ceritanya gini :</p>
<p>tinta hitam printerku habis, padahal aku butuh banget untuk print proposal yang harus selesai hari ini (temen-temen udah pada teriak minta&#8230;..&#8221;ga sopan kan&#8221; hehehehe)&#8230;.ya udah dengan pedenya aku beli tinta dan bermaksud mengisi tinta sendiri. waktu catridge kubuka aku langsung bingung cari lubang buat nyuntikin tinta (kebiasaan isi tinta printer merk canon), nha.. karena ga&#8217; ketemu ntu lubang, ya.. aku maen tusuk-tusuk aja, walhasil catridgeku langsung bocor dan tinta tumpah ke baju &#8220;hiks&#8221;. sampe sekarang printerku belum bisa dipakai. akhirnya semalam ngeprint deh di warnet. untung yang empunya warnet baik banget. aku dikasih diskon gede-gedean hahahahahhaha.</p>
<p>hikmah yang bisa aku ambil dari kejadian semalem</p>
<p>&#8220;JANGAN PERNAH SOK TAHU KALAU EMANG GA&#8217; TAU&#8221;&#8230;&#8230;OK&#8230;</p>
<p>diary, udah dulu yaa, aku mau kerja. ni dah dimintain data lagi&#8230;.</p>
<p>dadadadadadadadada&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>muachhhh&#8230;.!!!!!  <img src='http://www.ladangsastra.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ladangsastra.com/aku-yang-gaptek-hehehehe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hai Sobatku Tercinta &#8220;my diary&#8221;</title>
		<link>http://www.ladangsastra.com/hai-sobatku-tercinta-my-diary/</link>
		<comments>http://www.ladangsastra.com/hai-sobatku-tercinta-my-diary/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Apr 2011 04:34:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lia Salsabila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ladangsastra.com/?p=442</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum hai sobatku tercinta, apa kabarmu hari ini. maaf ya udah lama aku tak mengunjungi dan mengisi lembar halamanmu &#8220;sok sibuk hehehehe&#8221; aktifitasku selama ini se biasa-biasa aja (udah gak berkutat ama jagung lagi) tapi ganti  berkutat dengan anak-anak di taman baca yang sedang kukelola. nha di sini yang asyik. tiap hari aku bisa bermain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum</p>
<p>hai sobatku tercinta, apa kabarmu hari ini. maaf ya udah lama aku tak mengunjungi dan mengisi lembar halamanmu &#8220;sok sibuk hehehehe&#8221;</p>
<p>aktifitasku selama ini se biasa-biasa aja (udah gak berkutat ama jagung lagi) tapi ganti  berkutat dengan anak-anak di taman baca yang sedang kukelola. nha di sini yang asyik. tiap hari aku bisa bermain dan bercanda dengan mereka. sangat menyenangkan walaupun kadang ada juga yang bandel dan nyebelin, tapi disintulah letak kenikmatannya.</p>
<p>dunia anak menurutku dunia yang paling indah. dunia dengan emosi yang paling murni tanpa tendensi. dunia yang  penuh dengan warna-warni seindah pelangi. memang ada pertengkaran tapi pertengkaran yang indah, kecurangan yang indah, dan yang paling penting adalah tawa dan tangis mereka begitu tulus. (aih, jadi pengen kecil lagi hehehehe)</p>
<p>ups, udah dulu ya diary&#8230;.ntar dilanjut lagi&#8230;&#8230;kerja dulu&#8230;.</p>
<p>daaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.muachhhhhhh&#8230;:)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ladangsastra.com/hai-sobatku-tercinta-my-diary/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PUISI-PUISI PALESTINA DAN LIBANON (1)</title>
		<link>http://www.ladangsastra.com/puisi-puisi-palestina-dan-libanon-1/</link>
		<comments>http://www.ladangsastra.com/puisi-puisi-palestina-dan-libanon-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 01:09:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lia Salsabila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[murka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ladangsastra.com/?p=434</guid>
		<description><![CDATA[PUISI-PUISI PALESTINA DAN LIBANON (1) Abdul Hadi W. M. Mahmud Darwish BANGGA DAN MURKA Kampung halamanku! Bagai rajawali kau Menukik lewat jeriji sel Paruh runcingmu mencucuk mataku! Di ambang ajal, yang kumiliki Adalah rasa bangga dan murka. Kuwariskan jantungku Biar ditanamnya jadi pohon kayu Dahiku, tempat unggas bertengger Tak pantas aku jadi kobaran api Kampung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PUISI-PUISI  PALESTINA DAN LIBANON (1)</p>
<p>Abdul Hadi W. M.</p>
<p>Mahmud Darwish</p>
<p>BANGGA DAN MURKA</p>
<p>Kampung halamanku! Bagai rajawali kau<br />
Menukik lewat jeriji sel<br />
Paruh runcingmu mencucuk mataku!<br />
Di ambang ajal, yang kumiliki<br />
Adalah rasa bangga dan murka.<br />
Kuwariskan jantungku<br />
Biar ditanamnya jadi pohon kayu<br />
Dahiku, tempat unggas bertengger<br />
Tak pantas aku jadi kobaran api<br />
Kampung halamanku!<br />
Kami lahir dan besar dalam lukamu<br />
Dan makan buah dari pepohonmu<br />
Seraya memandang lahirnya fajar<br />
Wahai rajawali yang terbelenggu<br />
Wahai maut yang dicari sejak dulu<br />
Paruh runcingmu masih membenam di mataku<br />
Serasa pedang menyala<br />
Tak pantas aku jadi sayap anggunmu<br />
Di ambang ajal, milikku<br />
Hanya rasa bangga dan murka</p>
<p>KEPADA IBUKU</p>
<p>Aku merasakan kerinduan ibuku<br />
dan bau harum kopinya<br />
serta semua yang ia sayangi<br />
Anak kecil membesar dalam diriku<br />
hari demi hari<br />
Dan aku begitu mencintai diriku<br />
sebab jika aku mati<br />
aku akan malu disebabkan air mata ibuku<br />
Jika suatu kali aku kembali<br />
jadikan aku kerudung bulu matamu<br />
Selubungi tulang belulangku dengan tetumbuhan<br />
karena sorga ada di telapak kaki ibu</p>
<p>Kembalikan kepadaku bintang-bintang masa kecilku<br />
supaya aku bisa berhimpun<br />
Dengan burung-burung kecil<br />
dalam perjalanan pulang<br />
ke sarang di mana engkau menanti</p>
<p>BURUNG TAK BERKELEPAK</p>
<p>Anak-anak kami berserakan<br />
Tanpa rumah, tanpa sandal<br />
hilang, semua jalan menuju kesesatan<br />
padam, dalam derita dan kemiskinan<br />
Demi mereka, demi masa depan mereka<br />
aku belajar berjuang!</p>
<p>Hingga musim bunga mereka kembalih<br />
hingga mereka pulang dengan keranjang<br />
berisi segala jenis hasil tanaman<br />
Karena itu matahari teruntuk anak-anak<br />
teruntuk hari esok, teruntuk kebenaran<br />
dan angan-angan</p>
<p>Samir al-Qasem</p>
<p>JIKA KAU</p>
<p>Jika kau<br />
Rabunkan mataku<br />
Jahit bibirku<br />
Cerca nafasku<br />
Belenggu deritaku<br />
Palsukan uangku<br />
Cabut senyum anakku<br />
Dirikan tembok seribu<br />
Pakukan mataku di situ<br />
Jika begitu<br />
Kita akan terus berkelahi<br />
Sehabis-habis<br />
Kelahi</p>
<p>DARAH DI TELAPAK TANGAN</p>
<p>Tuan-tuan!<br />
Biarkan mulut beruk berputar-putar<br />
menurut maunya!<br />
Ayo!<br />
Akan kuhancurkan jembatan dunia<br />
Darahku mengalir pucat<br />
Hatiku terdampar di lumpur janji-janji</p>
<p>Hai tuan-tuan dari segala penjuru!<br />
Biar maluku berubah jadi wabah penyakit<br />
dukaku menjelma ular berbisa</p>
<p>Hai sandal hitam berkilat<br />
dari segenap pelosok dunia!<br />
Pembalasanku lebih besar<br />
dari suaraku dan usia pengecut<br />
dan diriku…kekuatanku<br />
hanya sepasang tangan.</p>
<p>Ali Ahmad Said</p>
<p>BARAT DAN TIMUR</p>
<p>Ada sesuatu yang membentang<br />
sepanjang jalan kuburan sejarah<br />
Sesuatu yang dibuat indah serta dipiara pula<br />
Memikul anaknya di pundak yang diracuni minyak<br />
Dengan seorang pedagang yang mulutnya berbisa<br />
menyanyikan lagu mengerikan</p>
<p>Di situ Timur mirip seorang bocah<br />
Yang mengemis dan menjerit minta tolong<br />
dengan Barat sebagai tuannya yang tak merasa pernah bersalah<br />
Peta kini berubah<br />
Seluruh dunia menjelma kobaran api<br />
Dan dalam abunya<br />
Timur dan Barat berkumpul<br />
Satu  liang kubur.</p>
<p>Said Aql</p>
<p>SUMBER</p>
<p>Manusia adalah Isa Almasih, putra dari negeri Timur<br />
Semua ini terjadi di kota suci Yerusalem<br />
Manusia tak bisa berhenti seinci pun dalam perjalanannya<br />
Menuju Yang Gaib, Yang Tak Dikenal, begitulah nasibnya<br />
Manusia mestilah melangkah ke depan, begituan ribuan ombak<br />
Mengalun tanpa mengacuhkan pantai<br />
Jika ada kawasan baru untuk hidup dijumpai<br />
Akan muncul pula persoalan baru baginya<br />
Pikiran lantas menjelma tindakan<br />
Dan inilah yang terjadi di Antiosa<br />
Sesudahnya pikiran sarat dengan ilmu pengetahuan dan politik<br />
Di dalamnya gagasan Yunani dan pelaksanaan hukum ala Romawi<br />
Jika Timur memberi anaknya kepada Barat, itu wajar<br />
Jika Timur menerima kembali ssuatu dari Barat<br />
Itu hanya pernyataan saling memberi antar keluarga<br />
Perjalanan inipun khatam begitu tiba di tahap menentukan<br />
Sumber segera menyebar dan meluas ke seluruh dunia<br />
Sumber itu mengandung segala pancuran dari sumber pertama<br />
Mereka bertemu dan bersatu dalam Islam.</p>
<p>Fauzi Makluf</p>
<p>NYANYIAN BUDAK</p>
<p>Aku adalah budak<br />
Budak hidup dan mati<br />
Sejak buaianhingga liang kubur<br />
Jalan memaksaku luntang lantung</p>
<p>Apa saja yang dilakukan budak<br />
Selalu salah dan melanggar hukum<br />
Undang-undang ditulis untuk si kuat<br />
Yang lemah dibiarkan kebingungan</p>
<p>Yang kuat mencelupkan pena<br />
Ke dalam genangan darah si lemah<br />
Penglihatan kelabu orang-orang malang<br />
Menengadah ke angkasa</p>
<p>Aku budak bagi nasib:<br />
Tubuhnya yang kurus menyemburkan kegembiraan<br />
Dan meramalkan sakit akan mencincang<br />
Mencekik jantungku penuh rasa takut</p>
<p>Aku budak bagi zaman ini<br />
Bagi peradaban kini<br />
Aku buta kepada isinya yang gemerlapan<br />
Tapi bersorak dicincang-cincang</p>
<p>Aku budak bagi kemakmuran dunia<br />
Andilku adalah kerja dengan upah rendah<br />
Apa milikku selain erangan<br />
Di bawah telapak kaki penindasan?</p>
<p>Aku budak bagi namaku:<br />
Telah kutebus itu dengan tubuh dan nyawa<br />
Namun yang beroleh kemasyhuran<br />
Selamanya adalah si tamak</p>
<p>Aku budak bagi cintaku<br />
Kubelai ia dalam hatiku penuh harapan<br />
Hingga kobaran api menyala<br />
Mengirim kutukan neraka</p>
<p>Lihat, dalam cengkraman perbudakan<br />
Kucucurkan darah hingga bersimbah<br />
Khayalan telah menyesatkan aku<br />
Menyesatkan aku</p>
<p>Abdul Hadi W. M.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ladangsastra.com/puisi-puisi-palestina-dan-libanon-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengeja Indonesia</title>
		<link>http://www.ladangsastra.com/mengeja-indonesia-2/</link>
		<comments>http://www.ladangsastra.com/mengeja-indonesia-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 08:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lia Salsabila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[mengeja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ladangsastra.com/?p=431</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Moh. Ghufron Cholid Indonesia Aku mengeja Sebelum kau merdeka Bunga-bunga tak ragu gugur Demi menghadiahkan sinar Karena cinta Sudah merasuk sukma Indonesia Aku mengeja Setelah kau merdeka Langit-langit saling mendaki bukit Lupa pada lembah-lembah yang telah menyangga menahan sakit Karena surga sendiri Sudah menjadi motto diri Kini Aku mengeja Antara sebelum dan setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Moh. Ghufron Cholid</p>
<p>Indonesia<br />
Aku mengeja<br />
Sebelum kau merdeka<br />
Bunga-bunga tak ragu gugur<br />
Demi menghadiahkan sinar<br />
Karena cinta<br />
Sudah merasuk sukma</p>
<p>Indonesia<br />
Aku mengeja<br />
Setelah kau merdeka<br />
Langit-langit saling mendaki bukit<br />
Lupa pada lembah-lembah yang telah menyangga menahan sakit<br />
Karena surga sendiri<br />
Sudah menjadi motto diri</p>
<p>Kini<br />
Aku mengeja<br />
Antara sebelum dan setelah kau merdeka<br />
Nusantara akan saling berpeluk mesra<br />
Setelah kita mengubur perihluka bersama<br />
Sepanjang masa berganti rasa</p>
<p>Al-Amien, 23 Juli 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ladangsastra.com/mengeja-indonesia-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

