PANTUN SEBAGAI CERMIN KEHIDUPAN MASYARAKAT MELAYU

(BAGIAN DUA – KEBUDAYAAN DAN AGAMA)

Oleh : Abdul Hadi W.M.

Kapan pantun muncul dalam sejarah kesusastraan Melayu? Tidak ada sarjana dapat memastikan. Namun ada sebuah bukti tertulis yang saya ketahui yaitu dalam risalah tasawuf Hamzah Fansuri Asrar al-`Arifin (Rahasia Ahli Makrifat). Risalah itu ditulis oleh sang Sufi pada abad ke-16 M, namun naskah yang ada merupakan salinan yang ditulis pada akhir abad ke-17 M. Ada dua rangkap puisi yang mirip pantun dijumpai dalam naskah tersebut:

Kunjung kunjung di bukit tinggi
Kolam sebuah di bawahnya
Wajib insan mengenal diri
Sifat Allah pada tubuhnya

Nurani hakikat khatam
Supaya terang laut maha dalam
Berhenti angin ombak pun padam
Menjadi sultan kedua alam

(al-Attas 1970:235)

Pada pantun pertama pembagian sampiran dan isi jelas. Sampiran berupa lukisan alam. Sedangkan isinya berupa gagasan. Begitu pula pola sajak akhirnya a b a b seperti pantun pada umumnya. Namun pada pantun kedua perbedaan antara sampiran dan isi samara-samar, sedangkan pola sajak akhirnya a a a a. Yang menarik bahwa hubungan atau kesejajaran makna antara sampiran dan isi cukup jelas pada pantun pertama. Hubungan ini tersirat dalam citraan bukit yang tinggi dengan gagasan tentang diri yang hakiki. Apabila manusia mengenal dirinya yang hakiki atau hakikat dirinya ia akan memperoleh kemuliaan. Kolam merupakan citraan yang dapat dihubungkan dengan cermin, sedangkan tubuh manusia menurut pandangan sufi adalah tempat kita bercermin untuk mengenal sifat-sifat Tuhan.

Sampiran dan Isi
Hooykaas adalah salah seorang dari sarjana yang meyakini ada kaitan tersembunyi antara sampiran dan isi. Begitu pula Noriah Mohamed. Namun tidak sedikit yang berpendapat bahwa antara sampiran dan isi hanya dihubungkan oleh kesejajaran bunyi. Sutardji Calzoum Bachri (2006) termasuk yang berpendapat demikian. Malah ia mengatakan bahwa puisi yang sebenarnya dalam pantun adalah sampirannya. Isinya adalah tambahan yang tidak terlalu diperlukan secara estetik. Pantun seperti itu memang tidak sedikit. Kecuali itu terdapat pula pantun yang perbedaan antara sampiran dan isinya samar-samar seperti yang terdapat dalam teks risalah tasawuf Hamzah Fansuri.
Untuk membuktikan bahwa antara sampiran dan isi memiliki kaitan makna yang sifatnya tersembunyi, saya ingin memberi contoh beberapa pantun. Pantun yang mengandung nasehat ini terdapat dalam Hikayat Awang Sulung Merah Muda. Pantun ini lahir ketika dia bersemayam dengan istrinya Tuan Putri Dayang Seri Jawa di magun di atas sebuah peterana. Sang putri bertanya nama-nama pulau yang dilihatnya. Setelah menjelaskan pulau Tapai, pulau Keladi dam pulau Sembilan, ada sebuah pulau lagi yang agak jauh yang ditanyakan namanya. Seperti sebelumnya dia menyebut nama pulau itu seraya berpantun sperti berikut:

Pulau Pandan jauh di tengah
Di balik pulau Angsa dua
Hancur badan dikandung tanah
Budi baik dikenang jua

Dalam pantun ini jelaslah bahwa sampiran merupakan lukisan tentang alam. Fungsinya ialah sebagai citraan yang membangkitkan cita rasa akan keindahan lahir. Namun bagaimana pun juga citra pulau Pandan jauh di tengah memiliki kaitan arti dengan badan yang hancur dikandung tanah. Yaitu sesuatu yang tersembunyi dari penglihatan mata. Lebih jauh dinyatakan bahwa di depan pulau Pandan terdapat pulau Angsa dua, yang disebabkan lebih dekat mudah dilihat. Begitu pula dengan budi baik seseorang yang kita kenal, walaupun sudah tiada. Contoh lain ialah pantun berikut:

Pisang emas dibawa berlayar
Masak sebiji di dalam peti
Hutang emas dapat dibayar
Hutang budi dibawa mati

Kata-kata “Masak sebiji dalam peti” memberi gambaran sesuatu yang tersembunyi seperti budi. Sedangkan kata “Pisang emas dibawa berlayar” menunjukkan sesuatu yang kelihatan seperti halnya orang berhutang emas. Lihat pula pantun berikut ini:

Sudah puas kutanam ubi
Nenas juga dipandang orang
Sudah puas kutanam budi
Emas juga dipandang orang

Dalam pantun ini hendak dinyatakan bahwa orang gemar melihat martabat seseorang berdasar penampakan lahir yaitu kekayaan yang dimiliki. Tetapi lupa kepada sesuatu yang lebih penting yaitu budi sebab tersembunyi, tersembunyi seperti halnya ubi yang tersembunyi dalam tanah. Jadi beda dengan nenas yang tampak di mata. Selain itu pantun memiliki konteks sosial budaya. Ubi adalah tanaman domestik atau pribumi yang sudah dikenal lama oleh orang Melayu dan tidak sukar mendapatkannya. Tetapi nenas adalah tanaman yang didatangkan dari Amerika Latin pada zaman kolonial. Harga buah nenas jelas lebih mahal dari ubi. Itu sebabnya ia lebih dipandang dibanding budi.
Kelap kelip kusangka api
Kalau api mana puntungnya
Hilang gaib kusangka mati
Kalau mati mana kuburnya

Citraan kelap-kelip pada sampiran masih berkaitan dengan perkataan gaib. Teka-teki apakah orang hilang yang dibicarakan sudah mati atau belum dinyatakan melalui pertanyaan: “Kalau mati mana kuburnya?” Baris pada isi ini punya kaitan dengan baris kedua pada sampiran, “Kalau api mana puntungnya?” Api adalah tanda kehidupan dan puntung tanda kematian. Kubur begitu pula adalah tempat orang mati dikuburkan. Yang menarik ialah sampiran dan isi sama-sama indahnya kendati sederhana.
Contoh lain ialah pantun yang tergolong pantun nasehat atau pantun agama seperti berikut ini:

Kemumu dalam semak
Terbang melayang selaranya
Meski ilmu setinggi tegak
Tidak sembahyang apa gunanya

Kemumu adalah burung yang tidak dapat terbang tinggi seperti burung yang lain pada umumnya. Ia dapat dijadikan perumpaman bagi ilmu dunia, yang walaupun kelihatannya memiliki kekuatan tetapi tidak dapat menangkat derajat manusia di sisi Tuhan. Di sini pandangan hidup orang Melayu yang jiwanya sudah diresapi ajaran Islam terserlah. Bagi sufi Melayu misalnya sembahyang atau shalat dipandang sebagai mikrajnya orang Islam. Mikraj berarti pendakian atau penerbangan menuju hakikat tertinggi, yaitu Tuhan, yang tidak dicapai semata melalui ilmu pengetahuan rasional
Contoh pantun lain mengenai kaitan tersembunyi sampiran dan isi dapat ditemui dalam buku Hooykaas (1965) seperti berikut:

Orang berladang orang berhuma
Sebulan sekali pergi ke gereja
Jika kucing tidak di rumah
Tikus menari di atas meja

Menurut Hooykaas ini lahir ketika seorang sarjana sastra Melayu dari Inggris Overbeck pulang ke rumahnya setelah lama bepergian. Ia melihat keadaan rumah yang berantakan. Lantas dia berkata kepada pembantunya seorang pemuda: “Jikalau kucing tidak di rumah, tikus menari di atas meja.” Pernyataan itu secara spontan dilontarkan Overbeck dan didasarkan atas kenyataan bahwa di dekat rumahnya tinggal beberapa orang Kristen yang bertani. Sebulan sekali mereka pergi ke gereja. Ketika itulah pemuda tersebut mengambil kesempatan untuk melihat-lihat apakah ada gadis cantik di sana. Jika ada ia akan dirayu untuk bercumbu-cumbuan di rumah tuannya, sehingga rumah tuannya itu berantakan. Sebelum sempat dirapikan kembali, tuannya sudah pulang ke rumah. Isi pantun itu jelas adalah sebuah gagasan yang dinyatakan dalam bentuk perumpamaan. Setelah tahu keadaan di rumah orang Kristen itu setiap bulannya, maka pemuda itu berkata kepada Overbeck: “Orang berladang orang berhuma, sebulan sekali pergi ke gereja”. Setelah digabung dengan apa yang sebelumnya diucapkan Overbeck kepada pemuda pembantu rumahnya, maka jadilah pantun di atas.

Speak Your Mind

*