PANTUN SEBAGAI CERMIN KEHIDUPAN MASYARAKAT MELAYU

(BAGIAN TIGA – ESTETIKA)

Oleh : Abdul Hadi W.M.

Sebelum dijelaskan betapa pantun mencerminkan kehidupan masyarakat Melayu termasuk alam pikiran dan perasaaan, pandangan hidup dan kepercayaan serta adat istiadatna, perlu kita lihat cirri-ciri estetik pantun. Melalui hasil penelitian sarjana seperti Winstedt, Wilkinson, van Ophuysen, Hooykaas, Harun Mat Piah dan Noriah Mohamed, dan lain-lain, kita dapat menjelaskan seperti berikut:
Pertama, pantun pada umumnya terdiri dari empat baris dengan pola bunyi akhir a b a a b atau a a a a. Kendati demikian terdapat pantun yang terdiri dari dua, enam, dan delapan baris. Yang terakhir ini disebut talibun.
Kedua, setiap baris merupakan kesatuan yang terpisah, walau tidak jarang berkesinambungan dengan baris berikutnya. Baris pertama dan kedua merupakan sampiran, yang membayangi isi yang akan dihadirkan. Baris ketiga dan keempat disebut isi, berupa gagasan dan tanggapan yang hendak dinyatakan.
Ketiga, baris sampiran dan isi kerap memiliki kaitan arti di samping kesejajaran bunyi.
Keempat, tiap baris pada umumnya mengandungi empat kata dasar dengan jumlah suku kata antara delapan sampai sepuluh.
Kelima, sering terdapat klimaks berupa perpanjangan atau kelebihan jumlah unit suku kata atau perkataan pada bait isi.
Keenam, sampiran pada umumnya berisi lukisan alam yang terdapat lingkungan sekitar. Ia sering hadir sebagai citraan-citraan simbolik yang dapat menjelaskan pandangan estetik orang Melayu, kedekatan dengan alam dan budaya masyarakatnya.
Adapun ciri batinnya dapat dirasakan melalui makna simbolik dari citraan dan gagasan yang hendak dihadirkan yang merujuk pada pandangan hidup, alam perasaan, gagasan, kepercayaan, dan sistem nilai yang dihayati masyarakat Melayu setelah mereka menganut agama Islam. Ciri batin inilah yang secara keseluruhan mencerminkan kehidupan masyarakat Melayu, khususnya berkenaan dengan adab, estetika, metafisika, dan sistem sosial dan kekerabatan bangsa Melayu. Bagi orang Melayu semua itu saling terkait dan merupakan kesatuan yang tidak terpisah. Ini tercermin dalam dalam pantun ringkas seperti berikut:

Yang kurik kundi, yang merah saga
Yang baik budi, yang indah bahasa

Tidak mengherankan jika Daillie (1988:6) mengatakan bahwa pantun memberikan gambaran ringkas kehidupan dan alam orang Melayu dalam sebutir pasir. Di dalamnya tergambar semua unsur kehidupan manusia Melayu meliputi tanah, rumah, kebun, ladang, sawah, sungai, laut, gunung, huta, pepoohonan, buah-buahan, binatang, burung, ikan dan lain sebagainya; hal-hal bersahaja dalam kehidupan keseharian. Pantun juga mengekspresikan adapt istiadat dan kebiasaan, kearifan, kepercayaan dan perasaan orang Melayu tentang segala hal, termasuk cinta mereka kepada sesama manusia, cinta kasih lelaki dan wanita, serta cinta kepada Tuhan dan Nabi.

Estetika
Telah diketahui bahwa sampiran dalam pantun sering merupakan lukisan alam yang berfungsi sebagai citraan yang hidup. Gunanya untuk membangun cita rasa puitik. Ia merupakan hal-hal yang karib dan memiliki arti tertentu dalam kehidupan orang Melayu. Ia juga dipilih dengan pertimbangan tertentu yang matang, jadi tidak sembarangan. Demikian juga gagasan yang disampaikan dalam isi, melekat dalam pandangan hidup orang Melayu yang berakar daam agama Islam. Misalnya dalam contoh seperti berikut:

Sarung Bugis jadikan selimut
Dibawa orang dari Bintan
Sudah tertulis di Lauhul Mahfud
Di dunia ini kita berkawan

Pulau sembilan tinggal delapan
Satu merajuk ke Kuala Kedah
Sudahlah nasib permintaan badan
Kita di bawah kehendak Allah

Sarung Bugis umumnya dibuat dari sutra dan merupakan sarung paling mahal dan prestisius di Nusantara. Ia tentu sudah tidak asing bagi orang Melayu karena kehadiran orang Bugis sudah terjadi sejak lama di kepulauan Melayu. Mereka telah hadir di Aceh sebagai pelaut ulung, bahkan salah seorang laksamana mereka Datuk Seri Maharaja Lela pernah dirajakan di Aceh pada akhir abad ke-16 M. Pada saat yang sama sampiran ini menggambarkan kegiatan pelayaran orang Melayu dan Bugis di masa lampau yang terkait dengan penyebaran agama Islam.
Citraan pada sampiran pantun juga sering merupakan perbandingan dan perumpamaan, dan tidak jarang merupakan lambing yang merujuk kepada suatu. Kehadiran agama Islam membuat orang Melayu kian yakin bahwa apa yang terbentang di alam semesta dan dalam diri manusia itu merupakan ayat-ayat-Nya, artinya tanda-tanda yang menakjubkan dari keagungan, keindahan dan kemahakuasaan-Nya. Dengan itu obyek-obyek dalam alam yang dihadirkan sebagai citraan hadir untuk melambangkan sesuatu. Contohnya bunga kemboja adalah lambang kematian karena pohonnya biasa di tanam di komplek pekuburan. Buah limau yang masam melambangkan rasa tidak senang atau penolakan seseorang kepada orang tertentu, misalnya apabila ia diberikan kepada utusan seorang pemuda yang ditolakm permitaannya untuk meminang anak gadisnya. Buah delima adalah lukisan tetap bagi seorang gadis yang cantik muda. Sebuah kelapa yang dikorek kumbang adalah tanda seorang perempuan yang telah berhubungan badan dengan seorang lelaki.
Marilah kita lihat pantun yang mengandung perbandingan seperti berikut ini. Yang diperbandingkan ialah gadis yang sudah ternoda keperawanannya dengan mumbang yang dikerat tupai:

Buah kembang buah bidara
Masak seruntai dua runtai
Bersubang disangka dara
Bagai mumbang ditebuk tupai

Buah mengkudu atau jenisnya yang lain pacae, bukanlah buah yang lezat. Karena itu tidak disukai orang kendati mengandung obat. Tetapi buah kandis sangat disukai karena manis.

Buah mengkudu kusangka manis
Kandis terletak di dalam puan
Gula madu kusangka manis
Manis lagi senyuman tuan

Ada juga pantun yang isinya adalah pembelaan diri seorang pemuda bagi perbuatannya yang tidak baik. Dalam sampiran dinyatakan agar menghindari teritip yang tidak berguna untuk dipakai pergi mengail ikan. Pantun ini juga mengandung kritik terhadap seseorang yang mestinya menjadi teladan banyak orang, tetapi ternyata sering melakukan perbuatan tidak baik:

Teritip di tepi kota
Mari berkayuh sampan pengail
Imam khatib lagi berdosa
Bertambah pula kita yang jahil

Buah bidara bukan makanan utama dibanding pisang. Tetapi nasi makanan utama yang diperlukan. Apalagi nasi lemak. Ia merupakan hidangan istimewa seperti halnya nasi uduk di Jakarta, nasi liwet di Jawa Tengah, dan nasi rawon di Jawa Timur. Tetapi sayang dalam pantun berikut ini kelezatan dan arti nasi lemak menjadi berkurang sebab dimakan dengan buah bidara, bukan misalnya dengan mentimun.

Nasi lemak buah bidara
Sayang selasih saya turutkan
Buang emak buang saudara
Karena kasih saya turutkan

Demikianlah karena berahinya kepada seorang wanita seorang pemuda sanggup memutuskan hubungan dengan orang tua dan sanak saudaranya. Hal itu memang tidak jarang terjadi, padahal betapa pun hubungan seorang anak dengan ibu dan saudaranya patut dipelihara dibanding menurutkan hawa nafsu.
Lagi sebuah pantun melukiskan pentingnya galah untuk mengambil buah di dahan pohon yang tinggi dan buah yang dimaksud ialah cempedak, yang merupakan buah istimewa bagi orang Melayu dibanding buah sejenis seperti nangka.

Buah cempedak di luar pagar
Ambil galah tolong jolokkan
Saya anak baharu belajar
Kalau salah tolong tunjukkan

Kata tunjukkan ada kaitan dengan jolokkan. Nasehat atau kritik atas suatu perbuatan yang salah adalah ibarat galah yang kegunaannya dapat dijadikan alat untuk mengambil buah yang berharga dan lezat seperti cempedak, yaitu ilmu pengetahuan. Dalam Hikayat Malim Deman terdapat pantun seperti berikut:

Malam ini merendang jagung
Malam esok merendang serai
Malam ini kita berkampung
Malam esok kita bercerai

Makan rendang serai tentu tidak enak dibanding makan rendang jagung. Begitu pula dengan bercerai tidak enak dibanding hidup bersama satu kampung. Di dalam pantun ini tidak dikatakan berumah tetapi berkampung. Ini memperlihatkan bahwa orang Melayu lebih mengutamakan kebersamaan dalam komunitas dibanding hidup tercerai dalam privasi. erhatikan pula pantun yang mengandung kritik seperti berikut ini:

Apa guna asam paya
Kalau tidak menggulai ikan
Apa guna lagak dan gaya
Kalau bahasa tidak dibicarakan

Bagi orang Melayu budi bahasa lebih penting dibanding lagak dan gaya. Ini selaras dengan adab Islam. Dalam adab Islam orang menjadi terhormat bukan disebabkan kekayaan dan lagak lagunya. Tetapi karena memiliki pengetahuan, mengenal kearifan, dan dapat menuturkan pikirannya melalui bahasa yang bagus. Kecuali itu dalam mengemukakan pendapat selalu didasarkan pengetahuan yang benar, dan pertimbangan pikiran yang matang. Pantun yang baru saja dikutip menunjukkan pula betapa pentingnya bahasa sebagai sarana untuk meningkatkan kecerdasan. Sayangnya pengajaran bahasa Indonesia sekarang ini diabaikan dan banyak orang lupa bahwa asal-usul bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu.
Pantun berikut ini mengandung ulangan kata-kata lengkap. Isinya adalah pandangan orang Melayui bahwa tidak patut seseorang itu menyalahkan kelahiran. Penyebab burukya nasib seseorang bukan disebabkan takdir, melainkan karena seseorang terlalu jauh berangan-angan dan menurutkan hawa nafsu:

Tidak salah bunga lembayung
Salahnya pandan bila menderita
Tidak salah bunda mengandung
Salahnya badan salah meminta

Pandan menderita karena durinya. Badan menderita karena duri angan-angan dan hawa nafsu. Bunga lembayung dan bunda mengandung sangat serasi. Bunga lembayung sangat indah. Seorang anak lahir dari kandungan ibu berkat cinta dan kasih sayang. Dalam pandangan ahli tasawuf, cinta terkait dengan keindahan. Sesuatu dicintai karena memancarkan keindahan. Kata-kata al-rahman dan al-rahim yang kit abaca setiap harinya dalam kalimat Basmalah mengandung arti cinta. Yang pertama, al-rahman atau Maha Pengasih adalah cinta Tuhan yang asasi (dzatiyah), yang diberikan kepada semua makhluq-Nya. Sedangkan al-rahim atau Maha Penyayang adalah cintanya yang wajib (wujub), artinya wajib diberikan kepada orang yang benar-benar beriman, bertaqwa dan beramal saleh di jalan Allah. Kata-kata al-rahim diserap ke dalam bahasa Melayu dan diberi arti rahim ibu. Cinta seorang ibu kepada anaknya memang wajib diberikan.
Banyak pantun Melayu berisi paparan tentang nama pulau, gunung, bukit, tanjung, muara, pelabuhan, negeri, dan lain-lain. Misalnya seperti dalam Hikayat Awang Sulung Merah Muda seperti telah diuraikan. Tidak jarang keindahan pulau-pulau itu dihubungkan dengan keindahan seorang gadis yang dicintai atau budi baik seorang sahabat yang disayangi. Misalnya seperti tampak dalam pantun berikut ini:

Tanjung Katung airnya biru
Dibuat anak cerminan mata
Sedang sekampung lagi rindu
Apalagi jika jauh di mata

Kadang pantun dijadikan selingan dalam sebuah cerita, seperti misalnya dalam pantun berikut ini:

Mabuk buaya karena kesumba
Destar sebalik ditudungkan
Mabuk hamba karena bercinta
Sebagai penyakit ditanggungkan

Tidak jarang pula pantun dijadikan pembuka cerita. Misalnya seperti terdapat dalam pemulaan kisah Sabai Nan Aluih dari Minangkabau:

Kait berkait rotan saga
Sudah terkait di akar bahar
Terbang ke langit berberita
Tiba di bumi jadi kabar

Pantun-pantun yang saya contohkan ini memperlihatkan wawasan estetika yang tumbuh di dunia Melayu. Di sebalik keindahan lahir itu tersembunyi keindahan batin. Penciptaan sastra terjadi bukan semata disebabkan pengamatan cermat terhadap kehidupan sosial, tetapi didasarkan atas pemikiran dan kearifan. Seperti tersirat pada pantun pembuka kisah Sabai Nan Aluih, keindahan dan kebenaran dicapai oleh seorang penulis melalui proses pengilhaman setelah seorang penulis menempuh jalan ilmu suluk.
Demikian pembahasan saya tentang pantun sesuai dengan pengetahuan saya yang terbatas. Semoga tidak mengecewakan dan selaras dengan tema yang diminta panitia seminar ini.

Jakarta 10 Desember 2008

Daftar Pustaka:

Al-`Attas, Syed M. Naquib (1970). The Mysticism of Hamzah Fansuri. Kuala
Lumpur: University of Malay Press.

Daillie, Francois-Rene (1988). Alam Pantun Melayu: Studies on the Malay Pantun.
Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Harun Mat Piah (1989). Puisi Melayu Tradisional: Suatu Pembicaraan Genre dan
Fungsi. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Hooykaas, C. (11965). Perintis Sastra. Kuala Lumpur: Oxford University Press.

Iskandar, Teuku (1995). Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad. Brunei:
UBD.

Noriah Mohamed (2006). Sentuhan Rasa dan Fikir Dalam Puisi Melayu Tradisional.
Bangi Selangor: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia.

Dan lain-lain.

Speak Your Mind

*