Oleh : Abdul Hadi W. M.
ANGIN SELATAN
Sehela nafas: di ketinggian langit dengan tenang
Awan ngikut awan dan di bumi bermula pula
Sebuah kebangunan dan bisikan, seperti riak ombak berlari
Atas rumput hijau dan air kolam di tengah padang
Kembang-kembang pun menyingkap kelopak, di celah
Lembah-lembah kecil gelap: setiap kuncup daun mengalun, dan menuju
matahari
Kupu-kupu terbang tersentuh jemarimu, sebuah sosok gaib
Pembawa bangau dan tekukur, srigunting dan burung layang-layang
Berhembuslah dan biarkan ombak hangatmu yang pengasih membelai
Padang-padang dan alas belantara. Mereka gemetar dan menggigil
Dan padaku harapan datang pula, agar benih-benih yang tidur dalam
diriku
Tahu, jiwa selembut kau, sebuah sungai yang mengalirkan
Nafas, mengalir deras, tumbuh menjulang, akar menghunjam dalam
Hingga di musim gugurku ini, sebagai pemberi yang berkelimpahan
BURUNG-BURUNG
Kami nyanyikan musim panas, batang kayu atas balok kayu
Sungai kecil yang pasang, lautan hutan yang kusut dan ranggas
Kami nyanyikan pepohonan tinggi, rumput-rumput yang benihnya
disebar angin
Dan kumbang pengumpul madu di tengah ssuara genta dan lonceng
yang tersembunyi
Yang damai adalah surga, di sana kesunyian bertahta di atas kita
Matahari, pemasak buah beri dan kacang polong pun beringas,
Penabur dedaunan, helai demi helai, begitu teduhnya
Agar pedas tanaman obat-obatan terbang garang menuju selokan
dan lembah kecil.
Kami nyanyikan musim panas, aku si burung tekukur yang letih,
adalah cahaya
Dan suara merdu; dan aku si burung larkan, adalah penyanyi dan
penari
Di langit luas; dan kami si burung layang-layang, dengan penerbangan
indah meliuk-liuk
Menyusuri padang-padang dan terbang dari subuh hingga petang
Kami semua berada di tengah hutan temaram, tersembunyi dari
pandangan
Bertanya dan menjawab, di pucuk-pucuk pohon, bertanya dan menjawab
MAKLUMAT
Malaikat kudus, surga di tanganmu:
Pohon hayat meminjamkan dahan padamu
Kembang-kembang lili kini mendapatkan hidupnya lagi.
Lantas semerbak wanginya tersingkap bagi Hawa.
Kaukah yang mengepakkan sayapmu di atas jurang ini?
Wanita kami akan surut dari dunia ini, kau Titahkan
Pada dunia: Namun melalui Puncak Gunung kau meninggalkannya,
Rahasia mereka pun membelah cermin wajahmu
Seolah-olah penerbanganmu dari Arasy ke Arasy
Hanya perputaran kehampaan belaka
Kefanaan, lihat: penglihatan kami akan dibayar
Dengan penglihatan yang lebih tajam lagi.
Kami adalah dua ombak dari Lautan Yang Maha Pengasih
Surut adalah pantang bagi kami
Sebab Diri Lautan telah meluapkan pasangnya:
Aku ini adalah Utusan. Surga, dengan surga tersingkap
Dan ke surga pula aku akan kembali.
Dia adalah semerbak ini: “Tuhan selalu bersamamu!”
Kutegaskan ini, O Kebenaran, O Cahaya!
O Rahasia, semua ini tak pernah surut dari wajahku!
TAMAN
Tiada lagi hembusan, kecuali dari timur. Terasa langka
Namun kuat. Sahabat baik musim panas menjanjikan
Hal yang sama dari hari ke hari. Tidakkah awan itu
Yang tahu menunjukkan tanah baru.
Kau adalah Jalan; dan dia yang berdiri
Di Lingkaran Kudus ini
Sempurna di antara dua Tangan-Mu
Hapus dari hasrat dunia, kepada-Mu hampir
Aku dan Aku dan Aku, kaki terbelenggu
Menari mati demi memenuhi kesukaan-Mu
Dari kebebasan dan terbebaskan
Bebas bergerak dalam ruang maha luas
Yang menggerakkan bumi ke kutub-kutubnya
Planet mrlalui garis edarnya
Berkumpul, mengarahkan angin, dan memutar
Pasang dan surutnya laut
Sebuah keselarasan semesta yang agung
Berpacu dengan keselarasan jiwa –
Sesaat lenyap, namun melalui tarian didapatnya lagi.
Kau adalah Kebenaran – menyatu dengan-Mu
Karena suling-Mu malam gelap jiwa
Pecah berhamburan, memberi jalan bagi keyakinan
Demian setiap irama adalah seberkas cahaya
Apakah arti tarian jika bukan permohonan
Jika bukan jembatan, laluan, alamat
Bagi yang rendah menuju ke tampat yang tinggi?
Agar yang satu berimbang dengan yang lain
Tubuh penari adalah sebilah pedang
Yang dihunuskan oleh-Mu. Dalam tarian
Pencuri harta karun kita terbunuh
Terkapar dekat barang curiannya.
Tubuh penari adalah sebuah kuil
Untuk menyimpan harta tersembunyi, pembangunnya Kau
Pintu-pintu masuknya dibukakan
Yang datang dan yang pergi bergerak karena kehendak-Mu
Sebuah suara menghampiri suling dan Kau dinyanyikan
Kami mendengar dan menyimaknya, serta berseru
Setiap dahan adalah telinga, kemudian lidah
Bagi kaki penari untuk menyebut nama-Mu
Tangan mereka menyampaikan isyarat agar mata melihat
Tangan mengambil rahmat-Mu dari manik-manik berkah
Dan jari jemari karam bersama-Mu
Ketika tangan didekapkan bagi-Mu
Sayap-sayapmu mengatasi matahari dan hujan
Dengan riang mereka umumkan kemurnian
Penari adalah bunga yang sedang mekar
Kelopak-kelopaknya terbuka ke delapan penjuru angin
Kepada siapa Nama-Mu meletakkan tandanya
Darinya semua gerak muncul dan terentang
Dia adalah sumbu roda yang berputar
Dia adalah pasak dan tiang dunia
Keindahannya mengguncang, namun tak bisa membunuh
Gerak dan diamnya yang nyata, kerjapan matanya
Menyingkap tempat persembunyian dalam dirinya
Melalui jari-jemari tarian yang indah
Di situ di Altar: Kau adalah
Penuang anggur dan peminumnya: demi Kau sendiri
Kau tuang anggur, penari adalah cawan-Mu
Anggurnya ialah zikir mengingat-Mu, o yang Haqq!
Kau adalah Hayat: untukmu kendang
Ditabuh, ketika nama-Mu bergetar dalam hati.
Pesannya: “Jangan berupaya untuk menjadi
Namun mengadalah di kedalaman wujud Yang Ada”
Setiap langkah, setiap lompatan,
Sungguh adalah akhir ziarah.
Kuilnya ada di sini. Apakah makna tarian
Jika bukan ketukan pada pintu?
Kau biarkan kami berikrar dalam seni
Maka kami pun menari, sebab tiada pilihan bagi tubuh
Ketika jiwa mengucapkan sebuah ikrar
Dan menari-nari dalam diri kami, bergembira
Tidak hanya di langit pada perputaran angkasa
Ayat-ayat-Mu terbentang, tapi juga
Dalam hati pada keluasan cakrawala
Namun kami, bukan itu semmua, selain awan gemawan
Lantas dari ketinggian itu, wahai Ruh
Biar angin sejuk bertiup, di Hati yang terjaga
Biarlah mata kalbu ini terbelalak
Dan bersamanya wujud kami hanyut dan karam
Terikat pada lautan wujud, sebuah sungai
Hayat, tertuang kembali padamu, O Pemberi Hidup!
O Kau, disebabkan sentuhanmu bumi bertukar siang dan malam
Matahari terjaga dan tidur, takjub dan damai, terik dan temaram
Kau yang menafasi permukaan air, hingga air diberkahi
Yang mengemudikan angin, udara yang kami hirup, tiada selain
Nafas pertama itu jua. Begitulah tarian bergerak dari-Mu
Kembali kepada-Mu, bermula dan berakhir dalam Ketakterhinggaan.
KESEDIAAN
Jiwa separoh terbelah, keduanya kalut bersitegang
Perkara apa pun tak didengar dan sia-sia, O yang sebelah!
Apa saja dicampakkannya kecuali yang tak tercampakkan
Hanya yang telah ada, yang ada dan akan ada yang diakuinya:
Namun yang lama berkehendak menjelma diri yang baru
Maka jadilah ia dirimu, tidak lebih dari itu
Namun jiwa yang kaya selalu baru, unik, tiap tali kendalinya
Mendapat kekuatan darimu, dan jika kebenaran datang
Segera terucapkan, karena itu ia unik, begitulah kesediaan
Lantas, atas lautan sajak yang tidak terbendung
Seraya menyebutkan temuan barunya ini
Kapalmu berlayar dengan muatan sarat
Biar mereka jadi putih cerlang atau hitam kelam karena pilu
Atau sekaya suasana hati, jiwa dapat mencelupkan warna
Rata atau penuh pola dari kisah-kisah suci
Biarkan mereka memiliki mutu dan harga, agar angin
Bisa sepenuh hati menghembuskan nafas
Dan ruh kepadamu, dari pantai ke pantai

Recent Comments