Apa yang Kau Pikirkan, Cinta

apa yang kau pikirkan cinta!?
kanvas yang belum tertutup utuh itukah
atau lukisan merah menyala di dinding jiwa

apa yang kau risaukan cinta!?
senyum yang terasa hambarkah
atau luka menganga di kelopak rasa

**
kanvas itu memang belum sepenuhnya tertutup cat, cinta, sebab jemariku mendadak kaku, tak mampu menarikan rasarasa yang biasa menggelegak di kawah jiwa.

bukankah lukisan merah menyala itu engkau yang mengirimkannya, cinta. “sebagai pengganti wujudku”, katamu. dan tahukah engkau, jika lukisan itu semakin memerah bara di jiwaku.

tak perlu juga engkau risau, cinta. jangan kau lihat senyumku jika itu terasa hambar di rasamu. tapi melongoklah lebih dalam di dasar rasaku, maka engkau akan menemu apa penyebabnya. dirimukah!?

tentang luka, bukankah itu sudah biasa bagi yang mencinta. terlebih bagi orang yang tak mampu menekan egonya. itu sudah samasama kita tahu, namun tetap tak mudah memahaminya.

apapun itu cinta, tak perlu risau atau gulana. mari kita nikmati semuanya sebagai proses pendewasaan pemikiran. bukankah itu sebuah puisi yang indah.

Gejolak Jiwa

Dalam kesendirian membuat ku tersadar
Dalam penantian panjang tercipta sebuah ruang hampa
Tanpa tersadar tiada sengaja
Jiwaku bergolak mencipta TANYA tanpa JAWAB

Aku terpekur ngilu
Mencoba berdamai dengan gejolak kalbu
Menekan tanya yang kian menggebu
Menuntut sebuah jawab suci dari dasar sanubari

Satu persatu tanya ku cerna
Raga bergetar jiwa luluh lantak tak berdaya

[Read more...]