Sajak-Sajak Abdul Hadi W.M

HIDANGAN ROHANI

MIMPI

Aneh, tiap mimpi
membuka kelopak mimpi yang lain,
berlapis-lapis mimpi, tiada dinding
dan tirai akhir, hingga kau semakin
jauh dan semakin dalam tersembunyi
dalam ratusan tirai rahasia
membiarkan aku asing pada wujud
hampa dan wajah sendiri. Kudatangi kemudian
pintu-pintu awan, nadi-nadi cahaya
dan kegelapan, rimba sepi dan kejadian –
di jalan-jalannya, di gedung-gedungnya
kucari sosok bayangku yang hilang
dalam kegaduhan. Tetap, yang fana
mengulangi kesombongan dan keangkuhannya
dan berkemas pergi entah ke mana
gelisah, asing memasuki rumah sendiri
menjejakkan kaki, bergumul benda-benda
ganjil yang tak pernah dikenal, menulis
sajak, menemukan mimpi yang lain lagi
berlapis-lapis mimpi, tiada dinding
akhir sebelum menjumpai-Mu.

1990

NYANYIAN HAMZAH FANSURI

Tiada yang lebih kurindu selain Dia
Dan mendirikan kemah di padang kehendak-Nya
Menjadikan Dia satu-satunya matahari
Dan hujan bagi bumi kerontang dalam jiwa

Demikian ayat orang asyik masyuk bercinta
Tak terikat apa pun selain kungkungan hasrat-Nya
Merdeka berjalan di antara taring ajal dan raung serigala
Tak takut apa pun kecuali bila tercerai dari-Nya.

BARAT DAN TIMUR

Barat dan Timur adalah guruku
Muslim, Hindu, Kristen, Buddha,
Pengikut Zen atau Tao
Semua adalah guruku
Kupelajari dari semua orang saleh dan pemberani
Rahasia cinta, rahasia bara menjadi api menyala
Dan tikar sembahyang sebagai pelana menuju arasy-Nya
Ya, semua adalah guruku
Ibrahim, Musa, Daud, Lao Tze
Buddha, Zarathustra, Socrates, Isa Almasih
Serta Muhammad Rasulullah
Tapi hanya di masjid aku berkhidmat
Walau jejak-Nya
Kujumpai di mana-mana.

DOA AYUB

Kau topan dahsyat
Beratus kali kaupatahkan dayung dan kemudiku
Tapi dalam sekarat kalbuku tambah liat
Dilimpahi beribu tenaga dan zat

Nyala api neraka-Mu yang berkobar-kobar
Merobek dinding dan layar kapal
Dengan nafas tersengal-sengal
Kusingkap ratusan tirai

Kejatuhan adalah kebangkitan kembali
Di atas reruntuhan terbangun menara tinggi
Tanpa kuasamu langit dan bumi
Tak bisa menampikku

Lihat ke dada koyak ini
Angin pun dapat membaca kisah yang marak
Dari derita ini akan lahir seekor singa
Dan istana-Mu kian megah dalam jiwa.

1981

Mengejar Mimpi di Pasar Pagi

Oleh : Lia Salsabila

Krieeet….krieeet…..
Sayup kudengar suara itu
Suara yang sama pada jam yang sama pula
Bunyi sepeda onthel Bu Narni
Ah….Ibu yang tak kenal lelah dan takut
Berjuang demi ketiga anaknya
Hatiku miris…..
Dia berjuang sendiri meski punya suami
Huuuft…..hanya desah nafas yang keluar dari mulutku
Dan hanya untaian kata sederhana ini yang mampu ku rajut

Pada malam malam panjang
Kau telah merancang
Saat semua lena dalam mimpi
Kau sibuk menguntai lembar demi lembar mimpi

Semua masih terlelap
Jalan jalan pun lengang dan gelap
Kau lempar kantuk banting lelah
Diatas sepeda tua
Kau berpacu dengan waktu
Mengejar asa
Dengan sekeranjang rebung dan daun ketela

Kau menunggu dengan sabar
Diantara teriakan pembeli dan penjual yang hingar bingar
Bibirmu lirih bergumam
Ikuti sayup rapal do’a dikejauhan
Sambil sesekali ikut berteriak tawarkan dagangan
Wajahmu tersenyum nanar
Antara harap dan cemas
Akankah ikatan ikatan yang kau jalin terjual amblas

15 Juli ’09

# Terilhami dari tetanggaku yang tiap jam 2 pagi
berangkat ke pasar tanjung berjualan sayuran