Oleh : Abdul Hadi W. M.
Selama ini dunia telaah sastra dikuasai oleh teori Barat. Ini menggambarkan betapa mendalamnya pengaruh pandangan bahwa di luar teori yang lahir dan berkembang di Barat, tidak ada teori yang absah dan relevan untuk digunakan sebagai acuan telaah atau kritik sastra. Dalam upaya menyangkal pandangan tersebut, karangan ini akan mencoba memperkenalkan salah satu teori sastra penting yang muncul dalam sejarah kesusastraan Asia, dan mulai mendapat perhatian kembali pada akhir abad yang lalu.
Teori tersebut diasaskan oleh Wang Fu-chih, seorang filosof dan kritikus sastra Cina yang hidup pada abad ke-17 M dalam zaman awal pemerintahan Dinasti Manchu (Ch’ing). Teorinya dapat disebut Asas Ch`ing dan Ching, karena dua konsep kunci ini yang dijadikan dasar olehnya dalam menelaah dan membahas puisi. Di Cina sendiri teori Wang sudah cukup lama tidak memperoleh perhatian sewajarnya di kalangan sarjana sastra. Namun belakangan teorinya mendapat perhatian lagi bersamaan dengan bangkitnya kembali hermeneutika dan kajian terhadap filsafat serta kesusastraan Timur.
Baik dilihat dari lingkait (konteks) zamannya maupun dilihat dalam konteks perkembangan sastra kita sekarang, teori Wang Fu-chih memiliki relevansi yang tidak kecil. Bagi Wang, puisi penting terutama sebagai hasil dari perenungan atau kontemplasi mengikuti suatu disiplin keruhanian atau bentuk spiritualitas (jalan kerohanian) tertentu separti Taoisme dan Zen Buddhisme di Cina dan Jepang. Sedangkan dalam masyarakat kita sekarang, puisi lebih dipandang sebagai ungkapan perasaan individual atau sebagai ungkapan yang mencerminkan kenyataan sosial. Dalam kenyataan dalam sastra modern Indonesia, seperti di bagian dunia yang lain, tak kurang muncul pula puisi-puisi bagus dan berbobot yang tidak ditulis dalam rangka dua pandangan tersebut, melainkan merupakan hasil perenungan seperti dikemukakan Wang Fu-chih.
Para pendahulu Wang sendiri di Cina, secara garis besar dapat dibagi ke dalam tiga kelompok dalam memandang puisi. Pertama, yang memandang puisi sebagai sarana pengajaran moral dan penyampaian soal-soal kemasyarakatan. Pandangan ini berakar dalam Konfusianisme, yang berkembang sejak zaman Kon Fu-tze pada abad ke-6 SM. Kedua, yang memandang puisi sebagai ungkapan perasaan dan pikiran individual penulisnya. Pandangan ini juga telah berkembang lama, seperti tersirat dalam pandangan Kon Fu-tze yang menyatakan bahwa puisi harus mampu memberi ilham terhadap perasaan. Ketiga, yang mamandang puisi sebagai hasil ketrampilan teknis dalam mengolah kata-kata. Pandangan ini dipegang oleh kaum formalis (James Liu 1962:63-89).
Pandangan yang mirip dengan yang berkembang dalam sejarah sastra Cina, juga ditemui dalam sejarah sastra India, Arab, Persia, dan Melayu. Dalam sastra Melayu pandangan bahwa puisi juga merupakan hasil perenungan terhadap kehidupan dan pengalaman batin tampak dalam pemikiran penyair sufi abad ke-16 Hamzah Fansuri. Pandangan ini berakar dalam tradisi sufi, di mana puisi yang baik pada umumnya lahir melalui proses pengilhaman yang dicapai setelah seseorang melakukan olah batin seperti tafakur atau musyahadah. Karya-karya penyair modern seperti Sanusi Pane, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Subagio Sastrowardojo, Sitor Situmorang, Sapardi Djoko Damono, dan Sutardji Calzoum Bachri juga tidak sedikit yang lahir sebagai bentuk renungan yang dalam terhadap kehidupan, alam sekitar, dan pengalaman batin penulisnya.
Akar Falsafah Teori Wang
Wang Fu-chih (1619-1692 M), juga ditulis Wang Fu-zhi adalah seorang filosof Neo-Konfusianis terkemuka. Dia hidup pada zaman awal pemerintahan Dinasti Ch`ing. Teorinya tentang puisi dipengaruhi oleh pemikiran filsafatnya. Neo-konfusianisme sebagai aliran filsafat yang tumbuh dari Konfusianisme, memadukan dalam dirinya anasir-anasir dari aliran-aliran besar lain seperti Ch`an Budhisme (Zen Buddhisme), Yin Yang, dan Taoisme. Teori Wang sendiri tentang puisi cenderung dipengaruhi pandangan Ch`an Buddhisme yang berkenbang pada zaman Dinasti Sung abad ke-13 M, Yen Yu. Tak kurang juga dipengaruhi oleh pandangan Kon Fu Tze, yang dalam Shih-ching (Kitab Sajak) mengatakan bahwa “puisi harus juga memberi ilham kepada perasaan’ (Sui Kit Wong 1978).
Dalam filsafat Neo-Konfusianisme konsep utama kehidupan manusia dan alam semesta disebut ch`i, energi atau kekuatan tersembunyi yang terdapat dalam segala sesuatu yang maujud. Karena mendasari semua keberadaan maka ia dianggap sebagai asas kehidupan (li). Dalam konsep filsafat li juga diartikan sebagai idea dan bentuk. Sebab-sebab maujudnya alam semesta dipandang karena adanya kekuatan tersembunyi, dalam bentuk halus, di dalam segala sesuatu yang disebut ch`i. Kekuatan tersebut bisa berupa idea (cita-cita) dan bentuk, dan bisa merupakan prinsip-prinsip yang mendasari keberadaan sesuatu yang hidup.
Dalam sejarah telaah sastra, kata-kata ch`i awal mulanya digunakan oleh Ts’ao P’i (187-228 M) dalam bukunya Lun Wen. Dalam kosmologi Cina ch’I diartikan sebagai kekuatan dalam atau energi benda asali yang membuat dunia maujud di alam ciptaan. Ia juga sering disebut sebagai uap air yang darinya benda-benda yang terindera menjadi padat. Pada manusia ia dihubungkan dengan nafas yang kita hela. Bila dihubungkan dengan darah ia berarti daya hidup jasmani (hsueh-chi’i). Diartikan secara metafisik berarti anasir alam pilihan. Seorang filosof heterodoks mengatakan misalnya, “Bila ch’i merasuki sesuatu maka darinya muncul kehidupan, pada manusia hidup memunculkan pikiran, dengan pikiran timbul pemahaman, dengan pemahaman berakhir beraguan.” (Chan Wang-tsit 1963:764).
Dalam Nei Yeh disebutkan bahwa anasir murni dari ch’i ialah ching, yang salah satu pengertiannya ialah keindahan alam yang penuh misteri dan pesona sebagaimana kelak dipakai oleh Wang Fu-chih. Ching juga diartikan sebagai bentuk paling halus dari ch’i yang berasal dari langit, sedang hsing ialah bentuk paling kasar yang berasal dari bumi. Berdasar pandangan ini bagi Ts’iao P’I, yang paling penting dalam sastra ialah ch’i. Penjelmaannya tampak dalam kejernihan pengucapan dan keremang-remangan.
Han Yu (768-824 M) membandingkannya dengan air yang mengalir. Katanya, ch’i adalah air dalam alam yang membuat benda teraping-apung di atasnya. Kata-kata dalam puisi seperti air. Jika jumlah air besar. Begitu juga kata-kata dalam puisi, maka benda besar atau kecil dalam jumlah besar bisa terapung di atasnya. Istilah ch’i dielaborasi lebih jauh oleh filosof Neo-Konfusianis pada kurun-kurun berikutnya. Liu Ta-k’uei (1698-1779 M) membedakan ch’i dari shen atau spirit yang ada manusia, termasuk kreativitas. Namun shen tidak hanya merangkumi kreativitas, melainkan juga segenap kemampuan mental dan moral. Shen inilah yang membimbing ch’i dalam proses penciptaan karya seni termasuk puisi.
Dalam konteks sastra, shen sering disamakan dengan semangat puitik. Sedangkan ch’i dapat disamakan dengan kekuatan puitik dari kata-kata. Menurut Liu yang menggerakkan penulisan puisi ialah shen, sedang ch’i hanya bagian darinya. Ch’i berubah bilamana shen berubah. Bilamana shen penuh, maka ch’i meluas dan menggelembung seperti lautan. Bilamana shen menjauh, maka ch’i tak terkendali, dan bilamana shen agung maka ch’i mulia. Bilamana shen mengalami perubahan besar, maka ch’i akan menakjubkan. Bilamana shen dalam, maka ch’i tenang. Dengan demikian shen adalah guru yang membimbing ch’i (David Pollard 1978).
Akar teori Wang tentang puisi ialah pandangan-pandangan yang mulai tumbuh subur pada akhir zaman Dinasti Sung abad ke-13 M, sebelum munculnya Dinasti Yuan (Mongol). Pada masa itu mulai muncul kritikus sastra yang memandang puisi sebagai penjelmaan dari renungan penyair terhadap dunia dan pikiran atau perasaannya sendiri. Pandangan ini timbul sebagai pengaruh dari filsafat Ch’an Buddhisme. Jurubicara terkemuka dari aliran ini ialah Yen Yu, yang menerapkan pandangan filsafat Ch’an terhadap puisi.
Bagi Yen Yu, untuk melahirkan puisi yang baik dan indah, seorang penyair melakukan olah batin seperti meditasi dan kontemplasi agar pikirannya jernih dan tercerahkan. Keadaan itu dicapai jika hatinya hening dan bening. Kala keadaan itu dicapai, maka seorang penyair akan mampu menangkap spirit (shen) dari kehidupan dan alam. Menurut Yen Yu, “Keunggulan sebuah puisi terletak dalam satu hal: kemampuannya memasuki shen. Jika puisi berhasil mencapai hal itu, maka ia akan sampai pada puncaknya.” (James Liu 1962:81).
Yang dimaksud Yen Yu dengan “memasuki shen” ialah memasuki kehidupan obyek-obyek dan menjelmakan intipati atau rohnya ke dalam sebuah puisi. Oleh karena itu, walau dia mengakui bahwa puisi berkaitan dengan dunia perasaan, ia juga mencela luapan perasaan yang berlebih-lebihan dalam puisi. Di sini dia merujuk kepada pendapat Kon Fu Tze dalam bukunya Shih-ching seperti telah dikemukakan.
Puisi yang ideal bagi Yen Yu ialah yang mengambil bentuk renungan dan sekaligus gambaran (image) tentang dunia atau alam. Dunia yang dimaksud ialah dunia yang menyerupai Alam di dalam kebebasannya menyatakan diri atau keterbebasannya dari pengaruh perasaan pribadi, serta menyajikan keadaan batinnya secara estetis. Bagi Yen Yu puisi bukanlah sarana penyampaian ajaran moral atau sekadar hasil ketrampilan teknis mengolah kata-kata. Juga bukan sekadar ekspresi keseorangan, melainkan penjelmaan visi penyair tentang dunia atau dengan kata lain, dunia yang terefleksikan dari kesadaran penyair yang sedalam-dalamnya (James Liu 1962: 80; Birch 1974; Owen 1985:98).
Diilhami oleh pandangan Yen Yu, dan ajaran Neo Konfusianisme yang dianutnya itulah Wang Fu-chih mengembangkan teorinya tentang puisi. Dia berpendapat bahwa puisi tidak hanya berkenaan dengan ungkapan perasaan atau pengalaman estetik (ch’ing) tetapi juga renungan terhadap alam di luar dirinya (ching) yang penuh pesona dan keindahan, yang merupakan kekuatan dan daya tariknya. Puisi terbaik ialah memadukan dalam dirinya ch’ing dan ching, dunia dalam dan dunia luar. Perpaduannya merupakan persatuan mistis atau persatuan rahasia antara alam spiritual dan alam visual (James Liu 1962:82). Dia mngutip puisi Wang Wei “Sung Yuan Erh Shih Ah-hsi” sebagai berikut:
Wei ch’eng chao yu yi ch’ing ch’en (d’en)
K’o she ch’ing liu se hsin (sien)
Ch’uan chun keng chin yi pei chiu
His ch’u Yang Kuan wu ku-jen (nsien)
Terjemahan harfiah:
Wei kota pagi hujan basah cahaya berdebu
Tamu rumah hijau hijau pohon persik warna segar
Membujukmu lagi mengakhir satu gelas anggur
Sebelah barat Yang gapura tak ada teman tua
Cahaya kota Wei berdebu, basah oleh hujan pagi hari
Depan pesanggrahan pohon persik tampak hijau dan segar kembali
Habiskan segelas anggurmu Kawan, sebelum dituang lagi
Di sebelah barat Gapura Yang takkan kaujumpai sahabat lama
Dikatakan bahwa ch’ing (perasaan) dan ching (pemandangan alam) menyatu dalam sajak Wang Wei tersebut.
Ch’ing dan ching
Telah dikemukakan bahwa teori Wang dibangun atas asas ch’ing dan ching. Dua istilah ini untuk pertama kali dijumpai dalam buku Shih-ko karangan Wang Chang-ling, kritikus sastra abad ke-8 M. Penggunaan dua istilah ini semakin sering dilakukan pada masa berikutnya hingga mencapaii puncaknya di tangan Wang Fu-chih. Dia gunakan istilah-istilah tersebut ketika menelaah puisi-puisi klasik Cina yang dianggapnya terbaik seperti karangan-karangan Li Po, Wang Wei, Tu Fu, Li Shang Yin, dan lain-lain. Dalam puisi mereka, menurut Wang, hamper tidak dapat dibedakan apa yang disebut pengalaman estetik penyair (ch’ing) dan lukisan alam (ching) (Sui Kit-wong 1978).
Telah dikemukakan bahwa ching merupakan pancaran ch’i yang ada pada alam. Sedangkan ch’ing adalah pancarannya yang dijumpai dalam diri manusia. Seorang penyair yang baik, menurut para estetika Neo-Konfusianis, memiliki tiga jenis ch’i yang terpadu dalam dirinya. Tiga ch’i itu ialah ch’i bakat, ch’i ide, dan ch’I kata-kata. Ketiga ch’i inilah yang membuat pengalaman estetik atau ch’ing terjelma dengan baik dalam sebuah pengucapan puitik (David Pollard 1978). Tetapi ch’i sebagai kekuatan puitik yang dimiliki penyair tidak dapat bergerak tanpa shen, yaitu semangat puitik, kreativitas, dan inspirasi yang hidup dalam bentuk imaginasi.
Sebagai asas penciptaan puisi, ch’ing dan ching dikatakan sebagai titik tolak membangun bahasa figuratif (majaz) puisi. Secara hargiaf dapat diartikan bahwa ch’ing merupakan asas batin puisi dan ching ialah asas lahirnya atau surahnya. Wang menggunakan asas ini untuk menerangkan sifat, kodrat, dan asal usul puisi, serta fungsi pembacaan dan penafsiran dalam memahami puisi. Menurut Wang, di aam semesta ini tidak sesuatu yang sebenarnya saling bertentangan. Aspek lahir dan batin saling mengisi, melengkapi, dan memerlukan, serta saling menjelaskan dan menggambarkan. Begitu juga dalam uisi seharusnya tidak terlalu dibedakan antara form dan meaning, antara surah dan ma`na, antara bentuk dan isi.
Ch’ing adalah dunia batin yaitu ‘pengalaman perasaan’ (emotional experiences) dan ching ialah ‘pengalaman inderawi’ (visual experiences). Ch’ing ialah perasaan secara keseluruhan, khususya yang ada di dalam diri penyair, dan ching ialah pemandangan alam, yang ada di luar diri penyair. Menurut Wang Fu-chih puisi dicipta oleh penyair yang pikiran/perasaannya menyatu dengan alam sekitarnya. Jiwa penyair ini sering disebut yi, hsin, ch’ing atau wo, dan dunia sekitar disebut wu. Di antara hal-hal di dari alam yang paling memiliki kekuatan atau pesona untuk dijadikan pembangkit perasaan estetik ialah pemandangan alam. Pemandangan alam sangat mudah merangsang bangkitnya ilham penyair untuk mencipta puisi. Dalam teori sastra Cina puisi lahir bila ch’ing dan ching berkembang atau tumbuh bersama-sama menjadi suatu keseluruhan tersendiri.
Wang Fu-chih memandang ch’ing dan ching sebagai dua perkataan yang merujuk kepada dua daerah kenyataan yang berbeda, yaitu kenyataan batin yang tidak tampak atau pengalaman yang dirasakan oleh jiwa penyair. Sedangkan ching berkaitan dengan pengalaman visual di luar jiwa penyair. Dalam bukunya Chiang-chai shih-hua Wang mengatakan, “Jika anda tidak menguasai bahasa ching, dapatkah anda menguasai bahasa ch’ing.” Pengalaman visual sangat penting dalam penciptaan puisi. Wang memberi contoh bahwa puisi-puisi penyair Cina yang terbaik memperlihat baris-baris ching (pengalaman visual) yang kuat. Perasaan (ch’ing) bertempat tinggal dalam baris-baris puisi yang menggambarkan ching. Katanya, “Hanya dengan mengekspressikan perasaan anda dalam dalam semangat pemandangan alam (ching) maka anda berhasil membangkitkan pengalaman lahir dan jiwa tertentu.” Katanya lagi, “Melahirkan pemandangan alam dan kejadian itu gampang, tetapi menuliskan perasaan dalam puisi itu sangat sukar.”
Puisi tidak hanya mengandung lukisan pemandangan atau kejadian, tapi semestinya juga ch’ing (perasaan) yang hendak diekspresikan. Ching menemukan bentuknya berkat ch’ing, dan ch’ing diberi hayat oleh ching. Karena itu keduanya tak tercerai, karena keduanya mengikuti keadaan jiwa penyair. Kalau seseorang memecah ch’ing dan ching menjadi dua bagian yang terpisah, maka ching tidak akan dapat membangkitkan perasaan pembaca, dan tidak dapat lagi disebut ching. Dengan demikian dalam proses penciptaan puisi hubungan antara manusia dan dunia sekitar sangat penting. Inilah asas teori dan telaah sastra Wang Fu-chih.
Tidak ada garis pembatas yang harus dibuat antara ch’ing dan ching, sebab jika demikian berarti perasaan tidak berbuat apa-apa. Jadi perasaan (ch’ing) hanya dapat timbul bilamana ada sesuatu di luarnya, yaitu ching, yang membangunkan dari tidurnya. Hal yang sama dikatakan oleh Abhinavagupta pada abad ke-11 M di India dan Imam al-Ghazali di Persia pada abad ke-12 M. Seorang tidak dapat melahirkan puisi apabila perasaannya lemah dan tidak hidup atau tak ada gairah. Pengalaman visual (ching) harus ada sebagai tenaga pendorong bagi hidupnya perasaan. Dia mengambil contoh puisi Pao Tao-yu (abad ke-4 M), di mana unsur asas (‘tuan rumah’) dan unsur pelengkap (‘tamu’) terjalin hubungannya dengan indah, yang membuktikan bahwa ch’ing dan ching saling mendukung untuk berkembang, dan tak ada pembatas yang memisah keduanya.
Linked peaks of several thousand li
Stretches of tress and, further down, a ford
Passing clouds darken those mountains lying across
And winds descend to make the wilds more desolate.
Somewhere there must be a cottage hidden from view–
You can tell from the cockcrow that men live here.
Yes, I walk on, treading human paths,
Seeing firewood dropped here and there.
There I know that in these modern days
Still live subjects of the primeval king
(Terjemahan Siu Kit Wong)
Wang Fu-chih juga mengambil contoh puisi Li Po dan mengatakan: “Nadanya merupakan satu kesatuan. Baris 3 dan 4 sangat indah. Inilah yang dipanggil double stroke, kemahiran menulis yang canggih.”
Travelling to the ranges of the Magic Mountains
I climb the ridge anciently known as the Sun Terrace
Tinted clouds in the broad expanse of the sky seem dead;
In my direction from lands far away blows a strong wind of sorrow
It’s been a long time since the goddes took her departure;
As for the more mortal Prince of Ch’u she offered to please,
Can he still be expected to be around?
The pleasures of the flesh usually come to the end;
Let innocent woodcutters and cowherds continue to bemoan the miseries
of life.
(Terjemahan Siu Kit Wong)
Menjelajahi gugusan pegunungan Keramat
Kudaki tanjakan, dulu disebut Teras Matahari
Di langit luas awan kelabu seolah mati
Dalam perjalananku dari negeri jauh angin kepiluan bertiup kencang
Sudah lama itu terasa sejak si molek bergegas pergi;
Masihkah dapat kutunggu di sini, seperti pada zaman Chu?
Rasa nikmat daging ah, biasanya cepat sekali menghilang
Biar tukang ayu dan gembala tak berdosa itu saja
Tak henti-hentinya menyesali murungnya kehidupan
Penekanan kepada perlunya perpaduan ch’ing dan ching menunjukkan bahwa dunia batin dan dunia lahir berjalan bersama-sama dalam proses penciptaan, bahwa perasaan (marah, sedih, gembira, dan lain sebagainya) yang dialami penyair di dalam puisinya harus diperkuat dengan merujuk kepada objek-objek alam dan kejadian di dalam alam, kemudian dihubungkan dengan pikiran dan perasaan sehingga mendapatkan makna (yi) dan dirasa kehadirannya. Dalam perpaduannya dengan alam jiwa tidak boleh berbuat zalim, merusak dan mengacaukan sekendak hati. Demikian pula, mengalirnya hubungan jiwa dan dunia di luarnya tak boleh dihalang-halangi
Kata Wang, “Walaupun ch’ing dan ching menghubungkan jarak antara ‘yang ada di dalam jiwa’ dan ‘yang ada bersama benda’, keduanya saling mengisi dan yang satu tinggal di dalam yang lain.” Untuk contoh dia mengambil puisi Tu Fu:.
The lake cleaves the lands of Wu and Ch’u to east and south
Day and night the world floats in its changing waters
Of friends and family I have no word.
Old and ill I have only my solitary boat.
(Terjemahan Siu Kit Wong)
Danau membelah negeri Wu dan Ch’u arah ke timur dan selatan
Siang malam danau terapung-apung di atas air yang berubah selalu
Tentang kawan-kawan dan keluarga tak perlu diceritakan
Tua dan sakit-sakitan milikku hanya perahu kesunyian
Dalam puisi Tu Fu baris 1 dan 2 merupakan ching dan baris 3 dan 4 merupakan ch’ing. Baris 3 dan 4 yang merupakan baris terakhir bertindak terhadap dua baris pertama, baris 1 dan 2. Wang Fu-chih memperlihatkan bahwa di dalam puisi Tu Fu itu tak mungkin ada garis pemisah antara perasaan alami (t’ien = t’ien-ch’ing) dan sifat objek luar (wu = wu-li). Jika ada garis pemisah itu adalah ilusi semata. Ch’ing dan ching hanya dua di dalam nama, tapi tak tercerai dalam hakekat. Di dalam puisi yang baik keduanya menyatu. Sama halnya dengan keadaan pengalaman kita atau pemahaman kita terhadap sesuatu di luar diri kita, tak terpisah dari sesuatu di luar diri kita yang kita alami.
Menurut Wang puisi tidak dapat disamakan dengan kata-kata dan tidak boleh dikelirukan dengan perasaan yang ada di sebalik kata-kata. Di dalam puisi penyair mengekspressikan chih (pikiran/perasaan) dan di sebalik puisi ialah spirit (shen)yang tinggal ‘di sebalik kata-kata’ (James Legge dalam Sui Kit Wong 1978). Makna (yi) yang sebenarnya dari sebuah puisi berada di tempat ‘di mana tidak ada kata’. Puisi yang baik adalah suatu keseluruhan organis dengan hidup, gerak dan kesatuan sendiri. Makna (yi) dikomunikasikan dengan menyembunyikannya di dalam citra dan rima yang serasi.
Uraian Wang tentang puisi menekankan pentingnya sifat-sifat puisi seperti: kesatuan, gerak dalaman, kehidupan batin, dan juga logika puisi yang berbeda dari logika prosa. Tentang kesatuan Wang mengatakan bahwa kalau kita membaca sebuah puisi yang baik, ia tampak seperti lukisan pada gulungan sutra yang baik dan sempurna dari awal sampai akhir, seluruh yang dilukis berada dalam satu nada dan irama. Sebuah puisi mungkin dapat dibagi ke dalam dua bagian, tetapi tidak ada baris yang benar-benar menjadi tanda pemisah antara bagian-bagian yang dipisah. Awal, tengah dan akhir merupakan satu kesatuan. Dalam menjelaskan sifat-sifat puisi Wang menggunakan perumpaman, misalnya ‘urat nadi’ atau ‘pembuluh darah’ dan ‘denyut’, dan ‘gerakan awan’. Katanya, “Puisi memiliki urat nadi dan denyut sendiri, tetapi ini tak ada hubungannya dengan baris; makna batin atau dalaman (yi) dari awal sehingga akhir bebas mengalir dan tidak pernah berhenti menghidupkan urat nadinya.”
Puisi yang baik memiliki nilai transenden, ia bukan semata-mata merupakan hasil daripada keupayaan manusia, tetapi anugerah T’ien-shou (Sang Maha Wujud). Untuk menyebut semangat puisi Wang menggunakan istilah Shen. Dalam shen terkandung kekuatan T’ien, wujud tertinggi kehidupan. Shen tidak terbayang, tetapi pembaca puisi yang baik akan dapat merasa kehadiran shen. Shen ialah suatu kekuatan yang membuat keindahan yang ada dalam T’ien-shou dapat diperoleh oleh seorang penyair. Keindahan tertinggi yang diperoleh dari alam benda ialah ching dan di dalam manusia ialah shen. Puisi tercipta karena kesadaran terdalam penyair yang memperoleh shen, dan kemahiran teknis dengan begitu menjadi nomor dua dalam penulisan puisi. Puisi ialah hasil perpaduan perasaan (ch’ing) dengan ching (alam benda). Apabila perasaan menyatu dengan alam benda atau fenomena alam, maka alam akan menjadi juru bicara perasaan melalui sugesti-sugesti yang disampaikannya. Dengan itu shen menerbitkan ch’ing. Tugas seorang penyair ialah ‘mengambil’ ching dari alam atau dunia luar dengan tangkas. Kata Wang, “Puisi yang baik dicipta dengan mengambil pengalaman visual dari dunia luar secara tangkas dan menjelmakannya ke dalam kata-kata, bukan mengambilnya dari bingkai sebuah lukisan.” (Legge dalam Sui Kit Wong 1978). Wang memberi contoh sajak Li Po, yang terjemahannya adalah seperti berikut:
Bulan terang di langit kota Ch’ang-an
Dari rumah-rumah bunyi penumbuk padi terdengar
Angin musim gugur bertiup tanpa henti
Mengungkap rasaku jauh ke Puncak Permata Hijau
Kualitas puisi ini terletak pada baris-barisnya yang tidak memiliki garis pemisah. Keseluruhan merupakan suatu persembahan utuh. Kita boleh menukar baris 1 dan 3 tanpa merusak keutuhan seluruh puisi. Di dalam puisi ini ada tatanan dalaman tersembunyi. Puisi ini tidak ada kena mengenanya dengan tehnik penulisan. Ia hadir untuk mempersatukan penglihatan mata dengan rasa dalam jiwa agar kedua-duanya, indra dan hati, bangun melakukan aktivitas yang padu. Menurut Wang Fu-chih penyair ialah dia yang dapat mempersatukan dirinya dengan alam semesta (t’ien-ti). Dalam persatuan ada pergerakan hidup yang mengalir. Kalau hubungan ini berlangsung intens maka keduanya menyatu, sehingga dalam kesadaran penyair identitas dirinya seolah-olah hapus, begitu pula identitas alam semesta.
Ch’ing ialah aktivitas antara yin dan yang, sedangkan alam benda (wu) adalah segala yang tumbuh di antara langit dan bumi. Bilamana aktivitas antara yin dan yang mengambil tempat di dalam wujud batin manusia (hsen) segala yang telah tumbuh antara bumi dan langit akan berespon kepadanya dari luar. Segala sesuatu yang ada di luar diri manusia, dapat merupakan pasangan atau padanan bagi yang ada di dalam jiwa manusia (perasaan, fikiran). Kalau kita pergi kepada benda-benda di luar, akan kita lihat bahwa perasaan apa pun yang ada dalam diri kita tidak akan dapat disampaikan tanpa objektif/sasaran yang sesuai (Sui Kit Wong 1978). Pandangan Wang ini sejalan dengan pandangan Jalaluddin Rumi (1207-1273) di dalam tradisi Islam. Rumi mengatakan bahwa setiap perasaan dan kesadaran dalam diri manusia mempunyai padanan dengan apa yang ada di dalam alam, setiap ‘yang batin’ (makna) mendapat padanan di dalam ‘yang zahir’ (surah). Di dalam alam ada anggur yang memabukkan, di dalam jiwa manusia ada juga anggur yang memabukkan, yaitu ‘ekstase mistikal’.
Menurut Wang semua penyair itu mengambil sesuatu obyek dari dunia luar dan merakam kesadaran kosmik di dalam puisi. Dengan itu Wang memandang bahwa ch’ing dan ching tidaklah bertentangan, namun merupakan dua perkara yang saling memberi kelengkapan. Pandangan ini didasarkan atas filsafat bahwa alam semesta itu tidak kenal awal dan akhir, dan sesungguhnya tidak ada kelahiran dan kematian dalam arti sesungguhnya. Yang ada hanyalah perubahan dan perubahan merupakan transformasi, pengubahsuaian yang berterusan. Perubahan merupakan aktivitas, dan sesuatu maujud karena adanya aktivitas. Begitu pula puisi adalah hasil dari aktivitas atau keadaan jiwa yang terus mengalir dalam rangka transfromasi atau perubahan-perubahanb. Puisi selalu dalam keadaan mengalir, “Poetry is in a fluid state”.
Puisi Indonesia
Apakah teori Wang dapat diterapkan dalam telaah puisi Indonesia? Tentu saja dapat, karena memang cukup banyak terdapat puisi-puisi Indonesia lama dan baru yang merupakan hasil perenungan pernyairnya terhadap baik alam maupun pikiran serta perasaannya sendiri. Contoh terbaik yang memperlihatkan betapa ch`ing dan ching menyatu ialah bait sajak Chairil Anwar “Derai Cemara” seperti berikut:
cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan cepat jadi malam
di tingkap ada dahan merapuh
dipukul angin yang terpendam
aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
Contoh lain yang juga demikian tepat ialah sajak “Dibawa Gelombang” Sanusi Pane, yang menggambarkan persatuan rahasia (mistis) jiwa penyair dengan alam. Citra lihatan dan dengaran yang diambil dari berperan efektif dalam melukiskan pengalaman unio-mystica penyair:
Alun membawa bidukku perlahan
Dalam kesunyian malam waktu
Tidak berpawang tidak berkawan
Entah kemana aku tak tahu
Jauh di atas bintang kemilau
Seperti sudah berabad-abad
Dengan damai mereka meninjau
Kehidupan bumi yang kecil amat
Aku bernyanyi dalam suara
Seperti bisikan angin di daun
Suaraku hilang dalam udara
Dalam laut yang beralun-alun
Mengenai penerapan teori Wang dalam puisi Indonesia yang lain dapat dilakukan dalam sebuah pembahasan lain.
Jakarta 29 Juli 2009
Daftar Rujukan
Birch, Cyril (1974). Studies in Chinese Literary Genres. Berkeley, Los Angeles dan
London: University of California Press.
Chang Wing-tsit (1963). Source Book in Chinese Philosophy. Princeton: Princeton
University Press.
Chang Yun-min & Lewis Walsey (1958) Poems by Wang Wei. Rutland and Tokyo:
Chawrles E Turtkle & Co.
Owen, Stephen (1985). Traditional Chinese Poetry and Poetics. Madison, Wisconsin:
The University of Wisconsin Press.
Pollard, David (1978). “Ch`i in Chinese Literary Theory”. Dalam Chinese
Approaches to Literature from Cnfucius to Liang Chi’i-ch’ao. Princeton: Princeton University Press (h 43-66).
Sui Kit Wong (1978). “Ch’ing and Ching on the Critical Writings of Wang Fu-
chih”. Dalam Chinese Approachs…(h.121-50).

Recent Comments