Oleh : Lia Salsabila
Bu….
Ketika malam menjelang, aku selalu mencari bayang, wajahmu yang tak pernah kukenal dalam kenang, apalagi kasih sayang, belaian serta dekapan yang setiap saat tak lekang, walau aku tak pernah tahu apakah benar begitu.
Bu….
Di jalanan ini aku tumbuh hingga besar, dengan belas kasih sekadar, dari orang-orang yang kebetulan sadar. Menjalani kehidupan keras dan liar, tanpa satu pun kata dan lelaku santun yang diajar, hingga aku menjadi seorang anak yang bengal.
Bu….
Hingga saat ini, kata tanya itu bertalu dan kian menderu dalam kepalaku, kata tanya yang seharusnya tak pernah terucap dari bibir seorang anak.
Mengapa kau begitu tega meninggalkanku, membuangku di tempat yang tidak seharusnya aku tinggal?
Apakah karena kau satu dari wanita penghibur itu hingga kau membuangku, karena tak ingin membesarkan aku yang kau sendiri tak pernah tahu siapa bapakku?
Atau kau satu dari wanita-wanita kaya dan cantik itu, yang dengan alasan harga diri dan malu lalu membuangku, karena memang tak pernah ditunggu dan tidak harus lahir pada saat itu?
Atau kau sebenarnya wanita sederhana, yang terpaksa membuangku karena terhimpit kebutuhan hidup yang kian mencekikkan derita?
Namun, apakah alasan pembuanganku yang menurutmu benar pada waktu itu harus dibenarkan? Tidakkah seharusnya hal itu kaufikirkan sebelum aku menjadi janin dan seorang bayi, yang nantinya terpaksa engkau lahirkan dan kemudian kau tak peduli?
Bu…
Aku selalu membayangkan sosokmu begitu lembut, penuh kasih. Memimpikan kau benar-benar ada di dekatku, menjadi cahaya ketika matahari gerhana dan rembulan tak purnama.
Namun mimpi-mimpi itu tak pernah menjadi nyata. Yang terlihat di mataku adalah sosok-sosok ibu yang jauh dari lembut, jauh dari kasih. Sosok ibu yang sering berkata kasar pada anaknya, sibuk dengan karir dan bisnisnya, mendewakan kecantikannya.
Dalam hati aku bersyukur tidak dibesarkan oleh ibu seperti mereka, walaupun sebenarnya kehidupanku tidak lebih baik dari anak-anak mereka. Dan aku berpikir, bukankah anak-anak itu sama juga terbuangnya denganku. Terzalimi oleh ibu yang nyata berada di dekat mereka, namun tak pernah mampu menjadi cahaya.
Bu….
Banyak orang bilang bahwa surga itu ada di telapak kakimu. Bagaimana aku bisa menggapainya, sedangkan bayangmu pun aku tak punya. Dan, bagaimana seorang ibu bisa benar-benar menjadi jembatan surga bagi anak-anaknya kelak, ketika dia sendiri tak mampu menjadi seorang ibu yang sebenar-benar ibu dengan kelembutan dan keindahan surga.
Bu….
Hari ini semua anak berlomba membahagiakan ibunya dengan berbagai cara, karena hari ini adalah harimu, Hari Ibu. Aku hanya terpaku dengan bibir kelu dan hati pilu, karena aku tak tahu harus turut merayakannya atau justru berharap hari ini tak pernah ada.
Bu….
Aku tak tahu apakah aku begitu merindukanmu, ataukah marah dan bahkan membencimu. Namun aku tetap berdoa bahwa sosok ibu yang selalu kuimpikan itulah ibuku, seorang perempuan yang memang layak mendapat julukan seorang Ibu.
“Ibu yang berhati malaikat
Tak pernah mengeluh meski lelah dan penat
Tetap sabar ketika aku nakal
Tetap santun walau emosi di luar akal”
Bu….
aku sungguh ingin bertemu
meski hanya dalam mimpi semu
tuntaskan persoalan dalam titik temu
hingga aku dapat merasakan surgamu
. 22 Desember 2009

seakan aku adalah “aku” puisi itu.
membawaku kedalamnya.
keren!!
trim ya hidabilagila apresiasinya
xixi, blog yang indah, bilahidasalsa…
sungguh aku ikut hanyut dalam puisimu … keren … keren …